07 Februari 2019

Berani Berkata Benar dari Yunani Antik: Pharresia


Judul : Pharresia: Berani Berkata Benar
Penulis : Michel Foucault
Penerjemah : Haryanto Cahyadi
Penerbit : Marjin Kiri
Tahun Terbit : Mei 2018
Tebal : 209 Halaman
ISBN : 978-979-1260-78-7

Pertama patut diapresiasi atas usaha Haryanto Cahyadi sebagai penerjemah mengingat buku ini bisa dikatakan sebagai teks filsafat. Bahasanya yang ringan dan mudah dicerna membuat pembaca merasa nyaman membacanya. Apalagi ini adalah Michel Foucault, filsuf yang lumayan berat pemikirannya –setidaknya bagi saya— lewat tangan Cahyadi dapat lebih mudah mengurai pokok-pokok gagasan yang ditranskip dari ceramah seminarnya di tahun-tahun belakangan sebelum ia wafat.

Diambil dari rangkaian kuliah Foucault di Universitas California, Berkeley, buku ini mengelaborasi hubungan wacana dan kebenaran dari suatu tilikan risikonya. Dengan kata lain, buku ini menawarkan suatu sikap keberanian –yang jarang dijumpai—dalam mengungkapkan kebenaran di saat banyak wacana menutupinya, dan tentu saja ketika semua pihak takut menyatakannya.

Merupakan suatu keberanian ketika mengungkapkan kebenaran di samping harus menanggung risiko, seperti, kehilangan nyawa, mungkin. Bukankah disebut keberanian, seperti Sokrates, misalnya, yang menghadapi risiko difitnah dan kemudian dibunuh, dari pekerjaannya sebagai filsuf untuk mengungkapkan kebenaran? Galileo Galilei, misalnya, atau, di tanah air ada seorang Munir?

Sokrates, Galileo Galilei, dan Munir –begitu juga orang seperti mereka—ketika tanpa khawatir menyatakan kebenaran walaupun risiko menghadang disebut –dalam istilah Yunani Antik—sebagai parrhesia.

Tapi tidak semata-mata risiko. Parrhesia yang secara etimologi berarti “mengatakan segala sesuatu” memiliki kekhususan yang khas karena tidak semua pernyataan yang dinyatakan dalam rangka mengatakan sesuatu disebut pharresia.

Secara peyoratif pharressia hanyalah sikap tanpa bobot ketika seseorang sekadar mengungkapkan apa saja yang terlintas di pikiran dan hatinya. Bukankan seseorang selalu mengatakan sesuatu melalui apa yang ia pikirkan dan rasakan? Apakah sesuatu yang dinyatakannya memang perlu diungkapkan karena dirasa benar atau memang benar? Apakah mengatakan yang memang benar itu disebut pharresia?

Di bagian awal buku ini, Foucault menerangkan beberapa kualifikasi yang dimiliki pharresiastes (pengungkap kebenaran) ketika mengambil sikap pharresia.

Artinya selain risiko, tanpa tiga kualifikasi yang disebut di antaranya adalah kewajiban, keberanian, dan posisi, seseorang belum disebut sebagai pengungkap kebenaran. Dengan kata lain yang bersangkutan belum menempuh sikap pharresia.

Sebagai contoh: risiko sudah pasti menuntut keberanian, tapi bukannya disebut pharessia ketika seorang raja menyatakan kebenaran terhadap rakyatnya mengingat posisinya sebagai penguasa. Risikonya pun nyaris muskil. Tidak ada yang menghalang-halanginya apalagi membatasinya dalam mengungkapkan kebenaran. Raja adalah raja sejauh ia menggunakan hak istimewanya sebagai penguasa absolut.

Bagi si raja, tidak ada juga kewajiban yang menjadi dorongan etik untuk menyatakan sesuatu. Ia bahkan dalam banyak kasus tidak dikenai kewajiban dalam menyatakan sesuatu. Mengingat ia adalah raja, justru ia dalam hubungannya dengan wacana sering kali bukan pihak yang memiliki kewajiban sebagai pengungkap kebenaran.

Tapi, berbeda bagi seorang hamba. Dilihat dari situasinya seorang hamba adalah pihak yang tidak memiliki kekuasaan. Meski terkadang kekuasaan yang justru menindasnya. Ia juga dari segi profesi bukan siapa-siapa dalam struktur kekuasaan kerajaan. Tapi, ketika ia mampu menyatakan ketidakadilan kepemimpinan ketika diperhadapkan kepada sang raja, dan di baliknya ia akan menerima risiko kemurkaan raja, bahkan kehilangan nyawanya, maka ia sesungguhnya sedang menerapkan pharresia.

Jika dilihat dari statusnya, posisi si hamba jauh di bawah sang raja. Ini yang menyebabkan keterusterangan sang hamba menjadi pharresia. Pharessia dengan kata lain tidak sama sekali datang dan diungkapkan dari “atas”, tetapi ia dimunculkan dari “bawah”.

Dari penjelasan di atas, pharessia berhubungan pula dengan posisi. Dalam kasus di atas pharessia tidak dimiliki seorang raja karena statusnya sebagai orang yang berkuasa, ia juga dari awal memiliki kebebasan berbicara. Namun kepada si hambalah pharessia itu ditemukan. Ia meski tidak memiliki hak berbicara, namun dari sisi posisinya dalam menyatakan kebenaran bermakna keberanian.

Yang patut diperhatikan adalah pada bagian-bagain awal buku ini. Dengan runut Foucault menjelaskan makna asal kata pharessia beserta konteksnya dalam bidang politik dan filsafat. Setelah itu pharessia diterangkan dengan lugas oleh Foucault melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam naskah sastra Yunani Antik.

Di dalamnya kita akan banyak menemukan pengertian lain parrhesia dari naskah-naskah drama semisal Euripides yang berpusat pada tokoh-tokoh seperti Phoinissai, Hippolytos, Bakhai, Elektra, Ion, dan Orestes. Melalui kisah merekalah Foucault menerangkan berbagai sisi arti parrhesia.

Terlepas dari tahu tidaknya kita terhadap naskah-naskah drama itu, uraian Foucault yang mengikutkan sedikit demi sedikit latar belakang dan kejadian-kejadian demi menerangkan parrhesia dalam naskah itu sedikit banyaknya ikut menolong orang seperti saya yang asing dengan cerita-cerita drama dalam buku ini dapat lebih mudah dipahami.

***

Kiwari, ketika semua orang memiliki kesamaan hak berbicara, pharessia berangsur-angsur kehilangan momentumnya. Nyaris pharessia atau keberanian berbicara benar sulit dibedakan dengan semakin banyaknya orang berbicara. Semakin bebas alam demokrasi, semakin tidak relevan lagi pharresia mendudukkan posisinya sebagai bagian dari kritiknya terhadap tatanan yang mengancam.

“yang paling pertama, mereka bebas. Kebebasan dan berbicara bebas (pharresia) marak di mana-mana; siapa pun diperbolehkan melakukan apa yang ia sukai… Begitulah, setiap orangakan menata cara hidupnya sendiri dengan kesenangannya.” (hal. 93)

Demikianlah, ucapan Sokrates dalam Politeia-nya Platon berkaitan dengan hubungan kebebasan yang menjadi ciri demokrasi dengan pharresia yang banyak disalahgunakan oleh warga negara. Sesuatu yang dialami oleh banyak negara demokrasi modern sekarang ini.

Platon dalam konteks yang tidak jauh berbeda dari Sokrates juga menyatakan bahwa berbahayanya pharresia bukan karena ia bisa dilakukan oleh setiap warga negara paling buruk sekalipun, melainkan kebebasan berpendapat yang dimiliki setiap warga negara berpeluang besar menjadikan negara kehilangan konsesus mengenai apa yang baik dan ideal bagi dirinya karena setiap warga negara bebas mengekspresikan kemauannya dengan bebas.

“Bahaya utama kebebasan dan berbicara bebas dalam demokrasi adalah hasil yang timbul manakala setiap orang punya cara hidupnya sendiri,gaya hidupnya sendiri…karena tidak ada logos (wacana) bersama, tidak mungkin ada persatuan demi polis.”(Hal.93)

Berkaca kepada perkataan Sokrates dan Platon, rasa-rasanya di sini di waktu sekarang ruang publik penuh disesaki wacana dari setiap orang. Masing-masing atas nama demokrasi dengan bebas tanpa kualifikasi moral tertentu dapat berkata apa saja, mengkritik apa saja seturut isi hati dan pikirannya. Keadaan yang tidak mencerminkan sebagai pelaku pengungkap kebenaran. Keadaan yang sama sekali bukan pharresia.

24 Januari 2019

Literasi Desa Labbo: Dari Desa, Oleh Desa, dan Untuk Desa


Ini bocoran saja: dua hari lalu saya didadak Sulhan Yusuf agar segera meresensi buku teranyar dari salah satu desa di Bantaeng --kabupaten di Sulawesi yang mencuri perhatian kita 1 dekade belakangan--"Literasi Dari Desa Labbo". Buku kumpulan tulisan yang tempo hari sudah saya ketahui cikal bakal kedatangannya. Tapi, berhubung masih diikat kesibukan lain, saya akhirnya baru bisa menulis ini di sela-sela pertemuan akhir kelas kuliah yang saya ampu. Sembari memberikan final mahasiswa, saya mencuri waktu agar tulisan yang dibuat ini dapat rampung dan dinikmati sesuai pesanan.

Bukan rahasia lagi, cara untuk mengapresiasi buku-buku yang diterbitkan orang-orang dekat atau komunitas yang sevisi, kami-kami sering saling "memesan", saling mendukung, dan juga saling menyemangati entah dengan cara apa. Resensi ini salah satu wujudnya.

Saya yakin di balik terbitnya buku ini, "pesanan" adalah kekuatannya. Seperti dituliskan dari catatan penyunting, buku ini lahir atas dasar inisiatif warga Desa Labbo yang ingin mengabadikan ingatan, pengamatan, dan pengalamannya mengenai apa saja yang berkaitan dengan Desa Labbo.

"Buku ini merupakan hasil dari proses panjang aktivitas literasi di Desa Labbo, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Sejak kepala desa dijabat oleh Subhan Yakub, saya sudah ikut mendorong program-program literasi yang dicanangkan Pemerintah Desa Labbo, mulai dari pembenahan perpustakaan desa hingga pelatihan literasi untuk Karang Taruna."

Di atas, kutipan saya ambil untuk membunyikan makna "pesanan" yang dimaksud. Yakni hasil kalkulasi tukar tambah pengetahuan dan pengalaman dari siapa pun yang terlibat dari macam-macam kegiatan di atas.

Mulai dari kepala desa, kepala dusun, mahasiswa, ibu rumah tangga, aktivis, pendamping desa, dan warga desa, adalah orang-orang yang gotong royong mengafirmasi "pesanan" dari aktivitas bermatra literasi.

Dengan kata lain, "pesanan" itu berwujud pemberdayaan dari desa, oleh desa, dan untuk desa. Ya, buku ini bisa dibilang adalah hasil rembukan warga desa untuk menghasilkan sesuatu bagi desa mereka.

Itulah sebabnya, kalau ada yang mengetahui gerak-gerik para penulis di buku ini, mereka bergerak atas "pesanan" yang sama, visi yang sama, dan beruntungngnya bisa bertahan dalam frekuensi yang sejajar.

Mereka, walaupun datang dari beragam profesi, latar belakang pendidikan berbeda, usia, dan kecenderungan politik yang saling membelakangi, bisa demikian kejadiannya karena lahir dari hasil ijtimak bersama: menerbitkan buku.

Dari sisi ini, imajinasi tentang desa mesti digugat. Kadang desa diidentikkan terbelakang, tidak dinamis, dan sulit berkembang. Bahkan, desa dari kacamata ilmu-ilmu sosial mainstream, didudukkan sebagai lokasi pinggiran dengan kota sebagai pusatnya. Sebab dari itu, desa selalu dipandang wilayah yang tidak layak diperjuangkan dan tidak mesti diprioritaskan.

Hadirnya buku ini ibarat gugatan tentang semua itu. Bukan padi, buah-buahan, atau hasil ternak saja, melainkan buku sebagai penanda signifikan yang menjadi catatan kritis mengenai pergeseran aktivitas warga desa.

Buku yang identik bagi kalangan terdidik, di Desa Labbo diusahakan menjadi lebih liberal lagi. Ia didudukkan sama dengan sawah, kebun, dan ladang sebagai area atau benda yang menjadi pusat pikiran warga desa.

Seketika warga desa bertransformasi bukan saja akrab dengan perkakas pertanian dan perkebunan, tapi juga dengan laptop, jaringan wifi, buku, jurnal, catatan koran, laporan desa, dan siaran televisi yang semuanya menjadi semesta baru membentuk wacana di keseharian mereka.

Dengan kata lain, sebagian warga desa yang akrab dengan pekerjaan-pekerjaan tanah, berubah ikut naik ke ketinggian bagaimana mengabsraksi ide dan gagasan dalam dunia literasi --sesuatu yang demikian jauh dari keseharian mereka.

Berkat itu semua, Desa Labbo berhasil meraih penghargaan Perpustakaan Desa terbaik dari seluruh perpustakaan desa se-Tanah Air. Tentu ini hanya salah satu program dari sekian banyak program desa yang bergerak dengan visi literasi.

Sekarang konteks masyarakat desa tidak jauh berbeda keadaannya dengan masyarakat kota, para kontributor di buku ini masih mempertahankan oleh apa yang disebut sosiolog Prancis, Emile Durkeim sebagai "kesadaran kolektif". Ihwal inilah yang memandu hal-hal di atas dapat mewujud menjadi satu buku seperti ini.

Patut dicurigai jangan-jangan warga kota sudah tidak mampu lagi memiliki kemampuan seperti warga Desa Labbo. Selain berwatak individualis dan dinamisnya aktifitas profesi, sulit rasanya membayangkan, satu kelurahan, misalnya, mau keluar sejenak dari spekulatifya hidup kiwari demi melakukan kerja kultural semacam menerbitkan buku.

Di sisi ini kita mesti mengacungi jempol buat warga Desa Labbo. Kendati tidak semua, mereka yang menulis untuk buku ini telah memosisikan dirinya sebagai figur-figur publik, walaupun untuk desa mereka saja. Figur publik di sini, tentu mereka yang mengedepankan urusan umum sebagai urusan pribadi mereka.

Dengan kata lain, mereka bekerja dan menulis tentu untuk kemajuan bersama. Kemajuan Desa Labbo sendiri.

Walaupun tema tulisan buku ini macam-macam, tapi barangkali kecintaan terhadap desa mereka-lah sehingga buku ini dapat terbit di hadapan khalayak. Itulah sebabnya, sulit menemukan narasi yang mampu mengikat keseluruhan dan keberagaman tulisan di buku ini yang juga mengikutkan fiksi di dalamnya.

Literasi Dari Desa Labbo terdiri16 artikel, 16 esai, 11 cerita, 4 puisi. Editor atau penyunting buku ini, barangkali sedikit kesulitan mengkamar-kamarkan baik genre, tema, isi dan jenis tulisan dalam buku ini. Dari sisi ini mungkin pembaca bisa menilai dan mengkritisinya, bahwa akan jauh lebih baik jika sebuah buku mesti berdiri di dalam satu genre tulisan saja.

Satu hal yang pasti, kehadiran buku ini yang merupakan buah tangan langsung para warga Desa Labbo, walaupun sifatnya tidak umum, adalah gejala tersendiri bahwa di desa-desa sekarang, terutama di Sulawesi Selatan, tengah terjadi perubahan senyap memformulasikan ulang modal utama apa yang bisa dimaksimalkan di desa bersangkutan. Uniknya semua itu tidak lagi didasakan kepada tradisi lisan, sesuatu yang khas masyarakat desa, melainkan beralih menjadi tradisi tulisan.

Perubahan tradisi keberaksaraan ini besar kemungkinan akan mengubah pola pikiran, sumber daya, mengikut hasil-hasil apa saja yang lahir dari potensi desa. Bukan lagi hasil-hasil bumi saja, tapi bisa saja bakal lahir potensi lain yang lebih besar karena ditunjang dengan kegiatan-kegiatan literasi.

Dilihat dari sisi ini, walaupun demikian masih jauh, kegiatan literasi adalah salah satu syarat terjadinya transformasi masyarakat agar lebih maju dan kreatif. Merupakan teka-teki, apa yang nanti bakal terjadi, bukan saja di Sulawesi saja, jika semua desa di Indonesia bergeliat yang sama seperti Desa Labbo. Menarik mengamati perkembanganya.

Terakhir, jika Anda sudah sampai di bagian ini, Anda bakal mengerti bahwa tulisan ini bukanlah sepenuhnya resensi. Biarlah pembaca lain yang melakukannya, atau warga Desa Labbo sendiri yang mengisi tugas itu. Tulisan ini hanya berusaha menempatkan dirinya pada keberpihakan yang sama, bahwa --meminjam istilah Alwy Rachman-- gerak-gerik perababan yang baik, tidak dimulai kecuali dari aktifitas literasi di dalamnya. Ihwal yang menjadi modal sejarah Bugis-Makassar, seperti sudah kita ketahui selama ini.

Judul                         : Literasi dari Desa Labbo
Penulis                     : Sulhan Yusuf, dkk.
Penerbit                   : Liblitera
Edisi                         : Pertama, Desember 2018
Tebal                        : 374 hal
ISBN                        : 9786026646170

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...