31 Desember 2018

Dengarlah Nyanyiaan Angin dan Akar-Akar Modernisme di Dalamnya


Identitas Buku:
Judul: Dengarlah Nyanyian Angin
Penulis: Haruki Murakami
Tebal Buku: IV + 119 halaman
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: Keempat, Oktober 2018
ISBN: 978-602-424-407-1

DENGARLAH Nyanyian Angin ditulis Murakami dengan pembukaan yang jitu. Dimulai dengan pernyataan yang singkat tapi sekaligus menggoda: “Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.”

Bagi saya, kalimat ini pertaruhan Murakami dengan para pembacanya. Ibarat sedang berjudi, ia menaruh taruhan tinggi sejak di kalimat pertamanya. Jika ia kalah, si pembaca akan berhenti dan memikirkan hal lain tinimbang melanjutkan membacanya.

Namun jika menang –dan ini terjadi di setiap karangan-karangannya yang lain— ia layak menguasai benak pembacanya dengan dunia yang dikarangnya.

Kemenangan Murakami melalui kalimat pembukanya ibarat lubang hitam. Ia menarik dan sekaligus menyedot. Membawa arus perhatian pembaca masuk jauh lebih dalam kepada kalimat-kalimat apa yang bakal membawa pembaca merasakan dunia yang dibentangkan si pengarang. Dan seperti karangannya yang lain, dunia Murakami adalah dunia yang tidak biasa, dunia yang diliputi pernak-pernik emosi, kemuraman, gairah, kegelisahan, dan sekaligus ketidakpastian.

Dunia Dengarlah Nyanyian Angin berpusat kepada sosok Aku. Figur sentral tanpa nama namun menjadi pusat yang menggiring pembaca kepada kehidupannya yang khas anak muda: foya-foya, alkoholic, dan hidup dengan segala cara boleh.

Sang Aku adalah mahasiswa perguruan tinggi di Tokyo. Ia mengambil biologi sebagai disiplin ilmunya dan menyukai binatang. Memiliki hubungan cinta dan benci kepada dunia tulis menulis.
Suatu ketika si Aku berlibur di kota tempat tinggalnya di sebuah kota pelabuhan. Liburannya dimulai pada tanggal 8 Agustus 1970 dan berakhir pada 26 Agustus 1970. Di masa inilah batang tubuh kisah Dengarlah Nyanyian Angin bertopang.

Sadar tidak sadar disepanjang novel ini pembaca hanya diombang-ambingkanke dalam 18 hari sang aku ketika menghabiskan waktu liburnya dengan tipikal kehidupan anak muda yang sarat idealisme kebebasan.

Nezumi adalah figur kedua dalam kisah ini. Seorang pemuda kaya raya yang dikenal sang Aku di musim semi ketika di tahun pertama memasuki perguruan tinggi. Nezumi mengaku tak suka membaca buku, namun bercita-cita ingin menulis novel tanpa adegan seks dan kematian. Ketika sedang duduk di café ia lebih suka memesan panekuk dengan coca cola sebagai kuahnya. Mereka berkenalan dengan cara khas anak-anak muda pemuja kebebasan: mabuk-mabukkan.

Tanpa sengaja setelah menghabiskan berbotol-botol bir mereka sudah berada di dalam mobil Fiat hitam 600 milik Nezumi dengan kecepatan tinggi. Dalam keadaan mabuk mereka kecelakaan setelah memporak-porandakan pagar tanaman, halaman penuh bunga-bunga azalea, dan ringsek menabrak pilar bangunan.

Mereka berdua selamat. Sambil duduk di atas kap mobil sesaat setelah tubuh mereka hampir dilumat kematian, tanpa merasa ada yang perlu dikhawatirkan, mereka melanjutkan perkenalan itu dengan kembali menenggak bir di bibir pantai yang tak jauh dari lokasi kecelakaan.  Setelah peristiwa ini mereka semakin akrab.

Seperti kisah ditulis Murakami lainnya, semisal Norgewian Wood atau Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya, seringkali memiliki sosok perempuan yang dekat dengan tokoh utamanya. Di novel ini figur itu hanya ditulis sebagai seorang perempuan, tanpa nama dan usianya dibiarkan mengambang. Dengan kata lain sosok perempuan ini dikemukakan hanya sebagai seorang perempuan dengan karakter uniknya sebagai identitasnya.

Perempuan ini hanya memiliki sembilan jari setelah di masa kecil jari kelingkingnya putus dibabat mesin pemotong rumput. Dia bekerja di toko musik yang menjual piringan hitam. Dia tanpa segan mengaborsi janinnya setelah bercumbu dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya.

Pertemuan sang Aku dan si perempuan juga terbilang unik. Mereka bertemu dalam suasana yang hampir sama seperti pertemuan sang Aku dengan Nezumi. Hanya saja si perempuan ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri setelah mabuk berat di lantai kamar toilet.

Kesamaanpertemuan antara si Aku dan Si perempuan dengan si Aku dengan Nezumi adalah mereka bertemu di café Jay’s Bar, tempat mereka bertiga sering menghabiskan waktunya.

Setelah mencari alamat si perempuan melalui tas yang dibawanya, si Aku membawa sang perempuan pulang. Esoknya gadis ini marah menemukan dirinya dan si Aku telanjang di atas tempat tidur. Dia mengira mereka sudah saling bercinta. Tapi setelahnya, hubungan mereka membaik setelah gadis ini menelepon sang Aku dan mulai mengajaknya makan dan jalan-jalan. Seperti Nezumi, sang Aku juga kian dekat dengan si gadis dari waktu ke waktu.

Suatu ketika gadis ini memberitahukan kepada Aku kalau dia akan berpergian. Lama kemudian gadis ini mengakui bahwa dia sebenarnya tak berpergian tetapi menjalani aborsi sehingga dia membutuhkan beberapa waktu untuk berpisah dengan Aku.

Kisah ini diakhiri dengan sang Aku yang melanjutkan hidupnya dengan menikahi seorang perempuan dan hidup langgeng di Tokyo. Berkat perubahan polah membaca, Nezumi menjadi penulis novel, Jay’s Bar menjadi jauh lebih luas dari tahun-tahun sebelumnya dan si Gadis berjari empat tak tahu kemana rimbanya.

Terakhir si Aku kemudian pergi ke Amerika untuk mengunjungi makam penulis yang dikaguminya: Derek Heartfield. Penulis ini mati bunuh diri dengan menerjunkan dirinya dari balkon gedung Empire State Building, New York.

Sang Aku sosok kebebasan tipikal modernisme


Figur sang Aku adalah sosok yang hidup di era 70-an. Di masa ini paham modernisme sedang jaya-jayanya di seantero dunia. Jepang di masa itu mengalami tarik ulur antara nilai-nilai tradisionalisme dan semangat modernisme. Singkatnya Jepang sedang mengalami transformasi besar-besaran dari kehidupan berbasis tradisionalisme dengan keinginan untuk maju dari ide-ide progresif modernisme.

Dalam konteks ini figur sang Aku yang menjadi sosok sentral menjadi suara Murakami untuk menunjukkan risiko kebaruan yang ditawarkan paham modernisme.

Sang Aku sebagai tokoh dinarasikan sama dengan semangat ke-aku-an modernisme yang otonom, bebas, dan merdeka. Ia menunjukkan simbol pembebasan dari belenggu tradisi, norma-norma, dan pandangan hidup masa lalu yang banyak membatasi ruang gerak masyarakat.
  
Kehidupan sang Aku jelas memperlihatkan semangat pemberontakan terhadap itu semua, dan persis seperti inilah risikonya. Sang Aku menjadi manusia merdeka namun sekaligus juga kehilangan pegangan.

Itulah sebabnya, kehidupan sang Aku ditunjukkan dengan semangat kebebasan yang meluap-luap tapi tanpa jaminan masa depan. Toh jika ada masa depan maka itu diwujudkan dengan cara menjalani hidup saat ini dengan segenap kebebasannya tanpa ada kekuatan lain yang mengikat.

Nezumi juga tipikal lain dari semangat modernisme, terutama sikap anti kemapanannya. Ini ditunjukkannya dengan pendiriannya yang sangat membenci orang kaya walaupun ia sendiri adalah anak orang kaya. Semangat Nezumi adalah semangat generasi pasca baby boomers yang menginginkan keterputusan kebiasaan, tradisi, dan pandangan dunia dari generasi di atasnya.

Dengan kata lain seperti juga sosok sang Aku, Nezumi adalah wujud kebebasan modernisme terutama dari kaum mudanya yang hidup dengan cara berbeda dari generasi tua yang lebih patuh dan kaku terhadap aturan moralitas entah agama maupun tradisi.

Bagaimana dengan si gadis yang menjadi teman sang Aku? Ia, terutama saat dikisahkan mengaborsi janinnya, adalah risiko kebebasan yang lain. Jika tindakan ini dilakukan di luar dari konteks penceritaan barangkali akan berdampak lain.

Si gadis, yang tidak sama sekali menunjukkan guncangan moral pasca mengaborsi, menandai tindakannya itu hanyalah peristiwa biasa saja. Tidak ada implikasi moralitas yang mesti dipikirkan di situ. Artinya aborsi atau jenis tindakan semacamnya sangat biasa dilakukan oleh wanita yang hidup dengan semangat yang sama di masa itu.

Jari kelingking yang hilang dari tubuh si Gadis menunjukkan secara tersirat eksistensi perempuan seperti pendakuan scholar psikoanalisis dan filsuf Yunani purba Sigmund Freud dan Aristoteles, misalnya.

Kedua pemikir ini berpandangan perempuan merupakan makhluk tak lengkap atau seperdua manusia.

Berdasarkan asal usulnya, sebagai eksistensi, perempuan tidak diciptakan dalam bentuk yang final dan lengkap. Perempuan tidak sesempurna laki-laki dengan tubuh dan akal yang pasti, fix dan sehat. Jari tangan yang cacat dari si Gadis adalah penanda metaforik yang mencerminkan itu semua.

Pencarian Identitas

Hampir semua tokoh karangan Murakami adalah anak muda. Dalam Dengarlah Nyanyaian Angin tokoh-tokohnya adalah pemuda-pemuda dalam masa transisi menuju dunia dewasa.

Mereka adalah orang-orang di dunia antara, yakni di sisi lain ada dunia generasi tua dengan sistem kehidupan yang mengusung tradisionalisme sebagai dasar moralitasnya, dan di sisi seberang ada dunia baru yang menjanjikan perubahan seperti yang ditawarkan ide-ide modernisme.

Tokoh-tokoh dalam Dengarlah Nyanyian Angin disimbolkan sebagai masa transformatif yang sedang dialami masyarakat Jepang. Anak-anak muda dengan kata lain adalah representasi keinginan untuk maju dan berubah namun sekaligus gamang untuk kembali kepada pangkuan ajaran generasi tua yang dianggap kolot dan anti perubahan.

Kegamangan ini menunjukkan sifat khas yang ditimbulkan paham modernisme yang memiliki implikasi terhadap identitas kebudayaan Jepang.

Baik sang Aku maupun Nezumi merupakan perlambangan dari dialektika ini. Keduanya adalah sosok simbolik cermin masyarakat Jepang yang dilanda kegamangan atas pencarian identitas di antara dua sumber paradigma yang saling beradu di lapangan kebudayaan Jepang.

Walaupun demikian, pencarian identitas ini bukan berarti tidak membawa konsekuensi apa-apa, melainkan suatu tanggungan yang mendatangkan benturan antara nilai lama dan paham baru. Efeknya jelas kelihatan ketika kebebasan yang diadopsi tokoh si Aku dan Nezumi merupakan jenis “kebebasan dari” dan belum menyentuh sama sekali tahap yang disebut “kebebasan untuk”.

“Kebebasan dari” adalah semangat yang bertolak dari tatanan sistem yang mengikat dan imperatif. Kehidupan si Aku, dengan gaya hidup a la anak muda yang memuja kebebasan, tanpa aturan, dan tanpa tujuan menjadi suatu model pemberontakan yang dikatakan tanggung.

Tiadanya cita-cita, tujuan, atau harapan menandai alam kebebasan si Aku masih diliputi ruang yang masih samar-samar. Tidak ada tanggungan moral, risiko perjuangan, maupun pengorbanan atas idealitas masa depan menjadikan pemberontakan si Aku hanya bermain-main tanpa pernah bertanya “kebebasan untuk” apa yang sedang diperjuangkan?

Syahdan, seperti di awal tulisan ini, Murakami telah memenangkan perjudiannya. Buktinya, nyaris tanpa disadari buku ini mengusung ujung cerita yang hampir tanpa klimaks. Ia mengalir begitu saja dan tiba-tiba pembaca sudah berada di halaman terakhir, persis suara angin yang mengalun ringan tanpa pernah dipertanyakan. Mengalir dan mengalir.

---

Telah terbit di Kalaliterasi,com

27 Desember 2018

Vendredi si Teledor dan Revolusi di Pulau Harapan


Judul : Kehidupan Liar
Penulis: Michel Tournier
Penerjemah: Ida Sundari Husen
Penerbit: Gramedia Pustaka
Edisi: Pertama,  November 2016
Tebal: VII+ 135 halaman
ISBN: 978-602-424-142-1

REVOLUSI di sini hanya berarti kiasan. Yang terjadi sebenarnya adalah rontoknya bertahun-tahun kehidupan yang telah dibangun Robinson Crusoe di pulau tempatnya terdampar. Dinding gua-gua, kebun-kebun, peternakan, sejumlah alat rumah tangga dan harta karun yang disimpannya di dalam ceruk-ceruk gua luluh lantak akibat ledakan dahsyat.

Ledakan itu berawal dari simpanan mesiu yang disembunyikan Robinson di bawah dinding gua. Tanpa sengaja Vendredi si Indian, pembantu Robinson yang diselamatkannya dari upaya ritual pembunuhan, melempar pipa rokok secara asal-asalan.

Tanpa mereka duga, pipa itu malah jatuh di atas gentong-gentong bubuk mesiu. Dan seperti sudah diceritakan di atas, kejadian sepele itu menimbulkan ledakan maha dahsyat memakan hampir seperdua pulau itu. Apa boleh buat ternyata peristiwa itu akan berdampak serius bagi keberlanjutan kehidupan mereka di pulau asing yang tidak tercetak peta itu.

Awal mula cerita

Kisah Robinson Crusoe yang dikarang Michel Tournier, dibuka dari karamnya kapal La Virginie di sekitar perairan Chili, Amerika Selatan. Saat itu abad 18, masa ketika kapal-kapal dari benua Eropa mulai menarik jangkar dan berlayar menuju negeri-negeri jauh di sebelah Selatan dan Timur Eropa. La Virginie –kapal yang ditumpangi Robinson Cruose—diceritakan akan menuju Chili dalam rangka perdagangan.

Tapi apa daya, di tengah lautan badai menyergap. Kapal LaVirginie karam setelah menghantam gugusan batu karang. Dari kejadian itu hanya Robinson Crusoe yang selamat. Ia kemudian terdampar di suatu pulau tak berpenghuni yang tak diketahui siapa pun.

Seketika siuman dan berbulan-bulan membuat perahu penyelamatan dan kemudian gagal, Robinson menyadari bakal hidup lama dan jauh dari kehidupannya semula. Dengan kata lain, ia satu-satunya manusia di pulau itu, dan tak ada satupun alat yang mampu menghubungkannya dengan dunia luar. Seolah-olah yang namanya kehidupan harus dimulai lagi dari titik nol. Dan satu-satunya manusia yang diberikan tugas untuk memulainya adalah Robinson sendiri.

Dengan bekal apa adanya setelah lolos dari depresi dan halusinasi Robinson mulai  terbuka dengan kehidupan pulau itu. Pertama-tama ia membangun tempat tinggal di dalam gua, membangun benteng pertahanan, menetapkan sumber-sumber makanan, beternak, bercocok tanam, dan membuat peraturan-peraturan dan mengangkat dirinya sebagai gubernur di pulau itu dan berbagai hewan liar dan tumbuhan sebagai penduduknya.

Setelah merasa mantap Robinson kemudian  menamai pulau itu Speranza yang berarti harapan.

Vendredi si teledor pencetus revolusi

Vendredi mulanya datang tanpa sengaja bersama sekelompok suku Indian yang dipimpin seorang dukun. Mereka singgah di pulau tempat Robinson tinggal untuk melakasanakan ritual penebusan. Tanpa diduga, setelah  melalukan jampi-jampi, sang dukun menunjuk Vendredi sebagai tersangka baru dan juga harus segera dibunuh ke dalam api unggun. Dengan kaget Vendredi tidak terima dan berusaha kabur ke dalam hutan pulau. Di dalam hutan, tanpa sepengatuan mereka peristiwa itu diintip Robinson di balik semak-semak.

Dengan sekali tembakan Robinson menyelamatkan Vendredi dari kejaran orang Indian di belakangnya. Sontak melihat ada yang mati karena letusan tembakan membuat orang Indian tersisa  kabur meninggalkan pulau. Vendredi selamat dan berhutang budi kepada Robinson.

Peristiwa itu membuat keduanya seperti menemukan oase di padang pasir. Robinson setelah bertahun-tahun hidup sendiri akhirnya menemukan seseorang yang bisa diajaknya berbicara. Bagi Vendredi, Robinson adalah juru selamat yang menyelamatkan nyawanya dan oleh karena itu ia rela dipertuan Robinson.

Maka untuk pertama kalinya pulau itu diisi dua sosok manusia. Sebagai gubernur pulau Speranza, Robinson banyak mengajari tata krama dan aturan main selama hidup di pulau kepada Vendredi. Memberinya tugas memerah susu kambing, bercocok tanam hingga membuka ladang baru dan memetik buah-buahan. Selama hidup di pulau tak sedikit pun Vendredi menunjukkan gelagat perlawanan. Ia patuh dan taat kepada Robinson. Bahkan hanya untuk menunjukkan sikap orisinilnya sebagai suku Indian pun tidak.
Sampai akhirnya terjadi peristiwa  yang sudah diceritakan di awal. Suatu ledakan mengubah segalanya. Mirip-mirip ledakan revolusi, ledakan di pulau Speranza  membalikkan keadaan 180 derajat dan mengaturnya kembali.

Tidak ada lagi hunian yang pernah didirikan Robinson, peternakan dan ladang-ladang hangus terbakar. Kambing-kambing lepas menjadi liar kembali. Dan gua-gua tempat penyimpanan harta benda yang disembunyikan Robinson raib ditelan reruntuhan dinding gua. Singkatnya, semuanya  di pulau itu dimulai dari nol kembali.

Perubahan drastis ini juga berdampak dari bebasnya Vendredi terhadap tuntutan-tuntutan yang semula dibebankan kepadanya. Ia tidak lagi bekerja rutin seperti biasanya lantaran tidak ada lagi yang patut dikerjakan.


Robinson juga sudah legowo menerima keadaan yang baru ini. Dan Vendredi untuk pertama kalinya bebas melakukan apa saja sesuai keinginannya.
Ledakan itu dengan kata lain telah membebaskan Vendredi dari aturan main yang dibuat Robinson.  Tidak ada lagi siapa tuan siapa hamba. Tidak ada lagi Robinson yang superior menentukan gerak gerik Vendredi. Begitu pula Vendredi bukan lagi objek tindakan yang inferior.  Berkat ledakan itu Vendredi dan Robinson mengawali suatu hubungan yang cenderung aneh untuk ukuran saat itu: mereka setara secara kemanusiaan.

Dialog peradaban

Hidup bebas yang diterima Vendredi membuat Robinson banyak belajar dari dirinya. Jika sebelum ledakan Vendredi cenderung pasif menerima belajar apa saja dari Robinson, kali ini malah Robinson-lah yang banyak belajar dari Vendredi.

Seolah olah dalam interaksi Robinson dan Vendredi sama-sama mewaliki dua pengalaman kebudayaan yang saling belajar satu sama lain. Semula Venderi diajarkan bahasa inggris agar bisa berkomunikasi dengan Robinson. Dia diajarkan cara memerah susu, bercocok tanam, dan lain sebagainya agar dapat hidup harmonis di dalam pulau. Tapi itu saja tak cukup, di luar pemahaman Robinson, Vendredi malah memiliki segudang pengalaman yang bersumber dari pengalaman kolektifnya selama hidup sebagai seorang Indian.

Misalkan saja, Vedredi mengajarkan pengetahuan kuliner kepada Robinson, sesuatu yang tidak ia temukan dalam hidup orang-orang Eropa. Bagaimana membuat burung bakar tanpa repot-repot mencabuti bulunya dengan membakarnya setelah digulung menggunakan lumpur basah. Bagaimana memanfaatkan getah tanaman manis untuk membuat gula cair dan karamel. Bagaimana membuat makanan kaya rasa dengan mencampur buah-buahan yang berlainan rasa…

Robinson juga ditunjukkan cara membuat panah unik dari batang pohon yang menjadi mainan bagi Vendredi. Cara membuat busurnya, dengan apa ekornya dibuat, dan menggunakan bahan apa untuk membuat mata anak panah agar memiliki laju yang baik ketika di udara…

Di lain waktu dengan memanfaatkan tulang-tulang kambing, Vendredi berhasil membuat takjub Robinson ketika menciptakan alat musik menyerupai harpa. Dan yang tak kalah uniknya berkat kulit kambing yang dikeringkan, Vendredi membuat layang-layang yang dapat diterbangkan untuk memancing ikan.

Semua hal itu adalah hal-hal baru yang dilihat Robinson. Selama ini melalui peradaban Eropa-nya ia mengira telah menjadi satu-satunya wakil kebudayaan. Tidak diduga, di luar dari jangkauan pengetahuan Eropanya, masih banyak jenis pengetahuan yang berasal dari kebudayaan-kebudayaan yang beraneka ragam.

Kritik modernisme

Setelah lebih 30 tahun—Robinsont tidak mengetahui hal ini karena tidak ada kalender dan alat hitung waktu semacamnya—untuk pertama kalinya sebuah kapal singgah di pulau Speranza. Peristiwa langka itu juga menunjukkan untuk pertama kalinya Robinson melakukan kontak dengan orang-orang luar.

Pertemuan itu serasa ganjil dan aneh di mata Robinson. Setelah hidup bertahun-tahun oleh alam liar, hati Robinson sangat peka terhadap perilaku yang tidak menunjukkan rasa hormat dan  sopan santun. Hal ini dirasakannya dari sifat awak kapal yang semaunya mengobrak-abrik isi pulau karena dianggap masih liar; mengambil air semena-mena, memotong pohon tanpa sikap hormat, dan menyembelih kambing tanpa rasa kasihan.

Semua itu membuat Robinson merasa sanksi terhadap peradaban yang melahirkan orang-orang semacam itu. Dalam hatinya ia mempertanyakan kehidupan macam apa yang telah membuat orang-orang menjadi beringas dan tak bersopan santun.  Ia lebih baik hidup di alam liar dan jauh dari peradaban jika itu satu-satunya model kehidupan yang lebih manusiawi.

Itulah sebabnya,  di akhir cerita Robinson memilih untuk tinggal di Speranza selama-lamanya. Peradaban di luar sudah tidak cocok dengan jiwanya. Ia lebih merasa manusiawi hidup di alam liar dari pada harus dituntut ini-itu oleh perabadan yang ia nilai penuh keangkuhan.

Bagaimana dengan Vendredi? Setelah tercengang oleh arsitektur kapal yang baru pertama kali dilihatnya, ia melarikan diri di malam hari dan ikut berlayar bersama kapal di pagi hari yang masih kental. Ia kali kedua berbuat teledor. Itu artinya Vendredi akan ikut bergabung ke dalam kehidupan peradaban yang makin saklek, imperatif, dan tidak manusiawi. Setidaknya dari mata seorang Robinson.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...