22 September 2018

Pengetahuan Abnormal a la Jurgen Habermas


Jurgen Habermas
filsuf dan sosiolog Jerman.
Ia adalah generasi kedua dari Mazhab Frankfurt.
 Jurgen Habermas adalah penerus Teori Kritis oleh para pendahulunya:
Max Horkheimer, Theodor Adorno, dan Herbert Marcuse


Jurgen Habermas membedakan dua jenis pemahaman, yakni pemahaman yang normal dan pemahaman abnormal.  Pemahaman yang normal menurut Habermas adalah jenis pengetahuan saling mengerti antara dua orang yang berkomunikasi. Kesalingpengertian ini bisa dimungkinkan lantaran berasal dari titik berangkat yang sama berupa bahasa yang sama-sama saling dipahami sebagai medium komunikasinya.

Contoh misalnya, dua warga Indonesia yang setiap hari berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Dua warga ini tidak bakal menemukan kesulitan saat  menyatakan pikirannya  dan menangkap maksud percakapan lantaran sama-sama mengerti  setiap arti dari bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi.

Bagi Habermas, dua warga Indonesia ini kecil kemungkinan terjerumus ke dalam kesalahpahaman. Hal ini akibat sejauh dua warga ini “sadar” dan “memahami” sendiri “bahasa” yang dia utarakan, maka “kesalahpahaman” akan terhidarkan. (Habermas juga mengingatkan dalam kasus dua orang yang saling memahami dengan perantara dua bahasa yang berbeda bukan merupakan soal akibat pengertian yang ada dapat diartikan melalui penerjamahan.)

Masalah akan muncul jika ada jenis pemahaman yang berangkat dari bahasa dan tindakan yang tidak diketahui penutur itu sendiri. Dalam hal ini pengguna bahasa (penafsir) akan menghadapi kebuntuan akibat tidak mengenali sendiri bahasa dan tindakan yang digunakannya.

Berdasarkan penelusuran Habermas, ada kondisi-kondisi tertentu manusia yang mengalami pengetahuan yang abnormal. Pertama adalah kasus psikopatologis, atau gangguan kejiwaan. Seperti umumnya orang mengalami gangguan jiwa, sang penutur adalah orang yang tidak mengerti dan memahami bahasa dan tindakan yang ditunjukkannya. Akibat terjadi gangguan di dalam kesadarannya, proses saling memahami dengan sendirinya menjadi tidak mungkin.

Dalam skala yang lebih luas  jauh lebih rumit karena ditemukan di dalam kondisi ketika bukan lagi individu, melainkan kelompok yang kehilangan kesadaran. Hal ini dijelaskan Habermas terkait pemahaman masyarakat yang salah kaprah akibat indoktrinasi. Dalam kasus ini, pemahaman akan mengalami gangguan akibat sang penutur  dan lawan bicara tidak menyadari efek indoktrinasi yang terjadi dalam proses komunikasi.

Yang lebih kompleks dikatakan Habermas walaupun sang penutur dan penafsir sama-sama mengetahui bahasa dan tindakannya, namun mereka tidak menyadari adanya gangguan bersifat internal yang terjadi di dalam kesadaran mereka. Melalui ungkapan lain, ini seperti efek dari kesadaran palsu yang dikemukakan Marx, bahwa orang yang mengalaminya kehilangan kontak dari kenyataan yang sebenarnya akibat proses indoktrinasi.

Bila argumentasi di atas ditelusuri dalam kehidupan sehari-hari, betapa banyaknya peluang jaringan kekuasaan mengintrodusir jenis pengetahuan yang berpotensi menjadi pengetahuan abnormal.

Ambil kasus di negara sendiri berkaitan dengan peristiwa 30 September. Walaupun kedengarannya klasik, contoh ini paling baik menjelaskan bagaimana kekuasaan memutus hubungan pemahaman masyarakat tentang sejarah ril yang terjadi dengan pengetahuan yang sesuai format kekuasaan. Dengan kata lain, pengetahuan yang diciptakan kekuasaan melalui indoktrinasi menjauhkan masyarakat dari sumber-sumber pengetahuan yang lebih terpercaya berkaitan dengan peristiwa 30 September.

Dalam perspektif cultural studies, iklan yang beroperasi melalui bahasa dan simbol merupakan contoh yang juga dapat diajukan di sini. Melalui elemen bahasa dan simbol, hampir semua iklan membentuk cakrawala pemahaman yang tidak sesuai kenyataan. Analisis Jeang Baudrillard tentang simuklarum adalah model penjelasan yang dapat menerangkan betapa iklan dapat juga membentuk pemahaman abnormal sebagaimana pendakuan Habermas.

Kata “santri” dan “ulama” dalam konstelasi pilpres belakangan ini yang menguat dan menyedot perhatian publik merupakan kasus lain dan unik lantaran sifat dan prosesnya dapat dikembalikan kepada analisis Habermas di atas.

Kata “santri” dan “ulama” dalam ruang kebudayaan masyarakat merupakan terma kultural yang mengakar kuat dan dalam sebagai kata yang secara semantik berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Namun, dalam kontestasi politik tanah air, belakangan dua kata ini menjadi lebih politis dan justru menciptakan pemahaman baru yang bermakna lain dari makna asalnya.

Perubahan dari makna asal menjadi makna yang diprakarsai jaringan kepentingan politik pada akhirnya menjadi pemahaman yang ditangkap masyarakat. Masalah semakin menjadi runyam karena pemahaman yang sudah terlanjur terbentuk di sosialisasikan berulang-ulang melalui jaringan media sosial secara massif.

Akhirnya pemahaman masyarakat di seputar makna “santri” dan “ulama” menjadi terdistorsi atau bahkan berlainan dari maknanya yang sebenarnya akibat terjadi pemutusan secara semantik melalui perulangan makna baru yang diciptakan melalui perangkat media sosial.

Diputusnya pemahaman masyarakat dari pengetahuan asli menjadi pengetahuan abnormal diistilahkan Habermas sebagai “komunikasi yang terdistorsi secara sistematis.”

Frase “secara sistematis” di sini merujuk pada pengertian ketika terjadinya isolasi informasi sang pelaku dari akal sehatnya, sehingga pengetahuan yang dihasilkan tidak sesuai dengan kaidah-kaidah akal sehat itu sendiri. 

Dalam kasus-kasus di atas, terutama dalam kasus kelompok yang terindoktrinasi terjadi bukan tanpa permasalahan setelahnya, melainkan akan berdampak sampai kepada ranah sosial yang lebih luas, semisal terhapusnya ingatan masyarakat kepada sejarah asli negaranya.

11 September 2018

5 Jenis Mahasiswa Senior Bakal ditemui ketika Menjadi Mahasiswa Baru

Menjadi mahasiswa baru adalah pengalaman tersendiri bagi sebagian orang. Selain merupakan masa transisi dari kehidupan “pra-pencerahan”, ia juga menjadi penanda bertambahnya tanggung jawab sebagai pelanjut generasi bangsa.

Dunia kemahasiswaan adalah semesta pengalaman yang unik. Ketika jemenjadi mahasiswa baru, je bakal menemukan dunia yang berbeda dari masa SMA dulu. Mulai dari beban sks,  gonta-ganti jadwal mata kuliah, teman nongkrong kece-kece(le), aneka ragam dosen kelas bulu sampai kelas berat, pembayaran ini itu, aktifitas organisasi macam-macam, hingga tentu senior-senior kegatelan ingin mendekati je seperti calo tiket terminal.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan amatiran eike, tulisan ini ingin menyajikan 5 jenis mahasiswa senior yang bakal je temui ketika menjadi mahasiswa baru.

1. Senior tipe ustaz/ustazah

Tipe pertama senior ini banyak bermunculan ketika kampus dikepung organ-organ berhaluan agama. Mulai dari organ tipe liberal sampai konservatif. Namun, sekira lima tahun belakangan organ agama kemahasiswaan yang dominan adalah ah-je-tahu-sendiri-yang-eike-maksud.

Ciri-ciri organ ini gampang diidentifikasi ketika mereka sedang menguasai masjid-masjid kampus. Dalam suatu artikel, Azyumardi Azra seorang cendikiawan muslim Indonesia sekaligus mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah mengatakan, organ-organ ini bisa merebak bak bakteri akibat tidak ada wacana Islam tandingan yang lebih moderat.

Yups, benar sekali. Mereka gampang dikenali dari paham keagamaan mereka yang menghendaki berdirinya negara agama.

Mahasiswa senior macam begini punya strategi rekuitmen kader bekerja sama dengan dosen-dosen buta politik. Dengan dalih kajian keagamaan banyak mahasiswa baru kepincut ikut organ ini yang berafiliasi dengan ormas-ormas keagamaan berhaluan konservatif.

Yang unik dari organ tempat jenis mahasiswa senior ini berkecamba,  mengikuti kegiatan mereka ikut menentukan bagus tidaknya nilai mata kuliah agama di kurikukulum tingkat jurusan.

Senior tipe ustaz/ustazah sangat gampang ditemui di lingkungan sekitar masjid-masjid kampus. Mereka getol berdakwah bahkan sampai berburu di rumah kos-kosan mahasiswa baru.

2. Senior ala kadarnya

Senior ala kadarnya adalah mahasiswa akhir yang tidak terlalu ambil pusing ketika mahasiswa baru pertama kali menginjakkan kakinya di aula-aula kampus.

Senior tipe ini adalah satu jenis mahasiswa yang sehari-harinya mempraktikkan etika mahasiswa 3K: kampus, kamar kos, dan kakus. Di tiga semesta inilah senior tipe ini mengekalkan kehidupannya.
Karena prinsip etika 3K, senior seperti ini lebih mengedankan kehidupan akademik yang layak. 

Kuliah hanyalah satu-satunya aktivitas mereka. Bagi mahasiswa tipe ala kadarnya nilai A+ di atas ijazah adalah satu-satunya summum bonum yang mesti diperjuangkan seluruh mahasiswa.

Itulah sebabnya, kehadiran mahasiswa baru ketika masa PMB dan setelahnya, tak sedikit pun mengalihkan perhatian mereka.

Oh iya, senior jenis ala kadarnya  adalah mahasiswa yang paling banyak berkembang biak di dalam kampus. Mereka kelas mahasiswa mayoritas yang paling banyak memenuhi isi kantin jika rehat dari jam perkuliahan.

3. Senior masih dunia lain

Senior masih dunia lain adalah senior yang misterius. Tidak banyak informasi dapat diketahui dari senior jenis ini. Namanya juga senior masih dunia lain! Kampus bukanlah alam hidup mereka.

4. Senior aktivis sampai mampus

Nah, kalau yang ini adalah senior yang sering gagah-gagahan menggunakan Pakaian Dinas Harian (PDH) organisasi. Ibarat pegawai negeri sipil, baik kuliah atau sedang ee di kamar mandi seragam PDH adalah satu-satunya busana yang dikenakan. Mirip tentara, PDH adalah lambang kesetiaan kepada organisasi.

Senior dari klasifikasi ini merupakan mahasiswa penghuni sekretariat-sekretariat sebagai kantor mereka. Di masa OSPEK PMB tiba, mereka inilah yang paling sibuk menyiapkan penyambutan mahasiswa baru.

Di masa itu kadang mahasiswa senior dari kelas ini jarang sekali pulang ke rumah hanya untuk menghibahkan waktunya demi dedek-dedek mahasiswa baru.

Tidak jarang, dari senior seperti inilah lahir macan-macan kampus. Kelas mahasiswa minoritas yang garang di jalanan tapi malas membaca buku.

Berkat kehidupan altruis mereka, mantan macan kampus yang sudah lebih dahulu diusir dari kampus menitipkan tanggung jawab kelembagaan di atas pundak mereka. Kadang lantaran tanggung jawab ini mereka sampai mampus hidup abadi di dalam kampus.

5. Senior ala KRS (Korban Retorika Senior)

“Sepertinya kita hidup di waktu yang salah,” seloroh kawan eike ketika ngopi di salah satu kampus di Makassar. Ucapannya itu dia maksudkan kepada mahasiswi-mahasiswi yang saat itu asik merumpi di sudut kantin. Tapi bukan isi obrolan yang ia sasar dari mahasiswi-mahasiswi itu, melainkan paras mereka yang cantik rupawan.

Waktu itu kami sudah lama meninggalkan kampus, dan ketika datang bertandang dalam suatu kegiatan di kampus, kawan eike terkesima melihat mahasiswi-mahasiswi generasi milenial yang lebih fesyienebel dari zaman kami sebelumnya. Dengan paras rupawan dan tampilan yang lebih stelish mahasiswi sekarang jauh lebih sadar penampilan dari generasi sebelumnya.

Kepada mereka inilah sekaum mahasiswa senior menjadikan mereka sebagai calon gebetan. Bagi mahasiswa senior yang sering ikut kajian retorika walaupun tidak tuntas-tuntas, sering menggunakan disiplin ilmu ini sebagai senjatanya.

Melalui obral kata-kata, mahasiswi-mahasiswi yang masih polos kerap menjadi korban senior jenis kelima ini. Sejak dijadikan pacar unyu-unyu, mahasiswi seperti mereka menjadi bamper bertahan hidup mulai dari ongkos ngerokok sampai belanja quota data mingguan.

Karena semua itulah mahasiswi-mahasiswi yang termakan kata-kata senior seperti ini sering disebut mahasiswi KRS (korban retorika senior).

Kadang, lantaran saking KRS-nya, mereka sering diPHP-kan di akhir semester nanti. Cinta akhirnya tak seawet empat belas semester.

Seperti senior tipe aktivis, senior ala KRS sering cari-cari muka ketika  mahasiswa baru pertama kali menjalani hari-hari pertamanya di selasar kampus.

Itulah 5 jenis mahasiswa senior yang bakal kamu temui saat menjadi mahasiswa baru. Tidak ideal, memang. Hidup mahasiswa.

---

Telah tayang di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...