01 September 2018

Pertanyaan untuk Sang Pengarang

Cerpen bukan hanya keterampilan seni bercerita. Atau sekadar menyusun urutan-urutan peristiwa berdasarkan hukum kausalitas tertentu, dan menempatkan ”peristiwa kunci” di akhir cerita yang sering membuat orang merasa kaget.

Cerpen juga bukan seolah-olah menceritakan belaka pengalaman-pengalaman di sekitar sang pengarang sembari ikut mengubahnya berdasarkan kreatifitas imajinasinya.

Cerpen, sejauh yang dipahami juga adalah media penceritaan yang menggambarkan seberapa tekun sang pengarang mau ikut serta menciptakan kehidupan yang bermartabat dan bebas dari beban sosial yang melingkupinya.

Akhir-akhir ini situasi masyarakat banyak mengalami anomali-anomali. Semakin ke sini, dilatarbelakangi globalisasi, menguatnya masyarakat pos industrial, merebaknya pemahaman ekstrim politik keagamaan, maraknya hoax, serta kemunculan generasi mutakhir digital native, kehidupan kita banyak dibebani dan diharuskan menyelesaikan persoalan-persoalannya dengan cara yang jauh lebih bijak dari cara-cara sebelumnya. Termasuk bagi pengarang, seperti beragam profesi lainnya, harus turut serta ikut memperbaiki keadaan yang banyak membuat orang terkaget-kaget.

Melalui konteks demikianlah, seorang pengarang tidak sekadar ”bercerita”, tapi juga lebih afdol jika karangan-karangannya sedikit banyak mampu mendesak pemahaman pembaca untuk mau menyadari kehidupannya.

Hal terakhir di atas itulah yang menurut saya mesti muncul dalam karya sastra seseorang. Tentu pemahaman ini tergantung dari pertanyaan, semisal, untuk apa seorang pengarang menuliskan karyanya? Apa hikmat yang mau disampaikan melalui cerita-cerita yang ditulisnya? Jawabannya sudah pasti akan beragam, dan ini akan lebih mudah jika dipertanyakan langsung kepada hadapan pembaca.

Kiwari, mengabadikan karya tulis dalam bentuk buku merupakan keistimewaan. Sekaligus itu cara cepat menamakan diri sebagai seorang pengarang/penulis. Yang mesti diingat, kemudahan ini sekaligus liang kubur bagi seseorang yang sudah terlanjur menyebut diri sebagai penulis. Kemudahannya terdapat dalam betapa banyaknya penerbit-penerbit yang sukarela mau menerbitkan karya-karya pemula dengan menghadapi risiko pasar yang lumayan berat.

Namun, liang kuburnya adalah pasca penerbitan itu sendiri. Ketika karya telah dicetak, itu berarti telah menjadi produk siap saing dengan ratusan, ribuan, atau jutaan karya serupa yang beredar memenuhi jagad literasi. Pertanyaannya, apa keistimewaan karya yang sudah go publik? Apa keunggulannya? Kelebihannya? Kalau hanya mengandalkan kemampuan sekadar bercerita, lalu apa perbedaannya?

Kiwari semakin banyak bermunculan pengarang-pengarang yang andal bin kreatif. Bahkan pakem-pakem penceritaan konvensional dicoba direnovasi dengan temuan gaya penceritaan yang semakin maju dari sebelumnya. Bukan saja itu, menyangkut tema juga demikian. Ada-ada saja tema kehidupan yang belakangan banyak diangkat menjadi cerita yang unik.

Kembali kepada pertanyaan awal. Bagaimanakah maksud dari pengarang yang ikut pula menciptakan kehidupan yang bermartabat dan bebas dari beban sosial? Alih-laih menemukan terobosan baru terhadap pakem-pakem sastra, tanggung jawab sosial atas karya sang pengarang seharusnya menjadi lebih utama ketimbang soal-soal estetis lainnya. Tapi apakah ini berarti bermaksud menciptakan karangan yang sarat nilai-nilai etis, atau seperti yang sudah-sudah, yakni sastra gigantis yang penuh dengan ide-ide besar.  

Tentu jawaban pertanyaan ini akan ikut serta di saat sang pengarang menuliskan karyanya?

28 Agustus 2018

Membela Suara Meiliana


Erich Pinchas Fromm. 
Seorang Psikolog sosial, 
psikoanalis, sosiolog, dan filsuf berkebangsaan Jerman. 
Fromm  dikenal dengan pandangan Psikologi humanistiknya

Malangnya, becermin dari kasus ibu Meiliana, wanita asal Tanjung Balai, Sumut yang dihukum 18 bulan bui karena mengeluhkan volume azan di masjid, jangan-jangan religiusitas yang kita perjuangkan selama ini adalah jenis religiusitas yang angkuh. Namun juga sekaligus ringkih.

Religiusitas yang angkuh, entah bagaimana caranya, seolah-olah melenyapkan suatu ciri yang sudah menjadi tulang sumsum bangsa kita: kepedulian.

Dulu kepedulian itu senantiasa dipegang sama-sama, dipikul  di atas pundak bersama yang kiwari sudah kedengaran klise: tenggang rasa.

Tapi, kini semuanya kian menegang.

Semua dimulai dari suatu keyakinan yang monolitik. Suatu jenis pandangan agama yang berdiri di atas menara-menara gading dan bukan didudukkan di dalam rumah-rumah sesama.

Sudah merupakan hukumnya, di atas ketinggian, apa pun menjadi kecil. Bahkan, suara-suara hilang dibawa angin. Di ketinggian, seseorang bakal lupa diri.

Alkisah, hiduplah seorang muazin nun jauh di suatu negeri. Melalui azan, ia terobsesi menyiarkan Islam di negeri orang kafir. Tapi sayang suaranya cempreng. Dengan percaya diri, sampai juga suaranya ke telinga seorang wanita yang sedang tertarik mempelajari Islam. Lantaran penasaran bertanyalah sang wanita kepada ayahnya yang kebetulan seorang pendeta:

“Suara jelek apakah ini, Ayah?”

“Ini panggilan orang Islam untuk melaksanakan ibadah shalat, Nak,” jawab sang Ayah.

“Alangkah buruknya cara mereka memanggil kaumnya beribadah.”

Mendengar ucapan anaknya itu sang ayah yang sebelumnya khawatir anaknya masuk Islam lantas menjadi senang.

Di kisah itu, seperti sudah diketahui endingnya, sang gadis urung masuk Islam lantaran suara cempreng sang muazin. Sementara sang muazin berbangga diri merasa sudah melakukan perbuatan terpuji. Menyiarkan Islam di seantero negeri kafir.

Memang niat saja tak cukup. Yang tidak kalah utama adalah cara bagaimana niat itu direalisasi.

Terkadang banyak salah mengira tindakan dengan niat baik otomatis melahirkan perbuatan baik pula. Padahal, beda niat berbeda pula tindakan. Niat mungkin saja baik tapi belum tentu dengan caranya.

Mungkin, kini suara sang muazin itu bisa jadi adalah suara kita yang kerap merasa jemawa. Barangkali adalah hasrat kita yang kita letakkan di atas ketinggian bukit-bukit ego tanpa sedikitpun mau menyadari betapa seringkali iman kita ternyata memangkas sesuatu yang berbau kejamakan.

Namun, begitulah adanya. Iman yang berpas-pasan dan tumbuh di zaman ini memang kerap menjelma menjadi iman tanpa kepedulian sosial. Iman yang individualistik, dan bahkan formalistik.

Bukankah iman sebenarnya adalah sesuatu yang mengandung cinta. Unsur yang tidak terjebak bentuk-bentuk formal. Senyawa yang menurut Erich Fromm, scholar ilmu jiwa dapat menghidupkan empat gejala manusia: care (kepedulian), responsibility (bertanggung jawab), respect (penghormatan), dan knowledge (ilmu pengetahuan).

Dengan empat gejala ini, cinta tidaklah seperti yang dibayangkan orang-orang, buta dan nyaris tanpa akal sehat.

Kepedulian adalah gejala pertama cinta. Kepedulianlah yang rela membuat pemeluk agama mau mengorbankan sesuatu terhadap sesamanya. Kepedulian bahkan menjadi salah satu nafas utama dari religiusitas agama-agama di muka bumi.

Kedua adalah tanggung jawab. Misi agama-agama adalah melahirkan manusia-manusia yang bertanggung jawab berdasarkan posisi dan perannya secara individual maupun sosial. Rasa tanggung jawab tidak akan mungkin lahir kalau sebelumnya tidak diikutkan dari kepedulian antara sesama.

Ketiga, dalam Islam ada pengakuan terhadap pemeluk agama lain yang bersumber dari surah Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi: “Lakum diinukum waliyadiin” (Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku). Tidak saja pengakuan, ayat ini juga bermakna pentingnya penghormatan kepada pemeluk agama lain ketika menjalankan keyakinannya.

Ilmu pengetahuan adalah gejala terakhir dari cinta. Artinya cinta mustahil menempatkan seseorang di dalam lorong kegelapan. Cinta dengan sendirinya mencerahkan. Melalui ilmu pengetahuan, atau sebaliknya, cinta, membuat seseorang mengalami pencerahan. Dengan kata lain, barang siapa mencintai, cintanya membuatnya terbebas dari kejahiliyaan.

Akhir kata, apabila konsep iman demikian dipraktekkan dalam kehidupan ril, besar kemungkinan tidak akan muncul kasus-kasus seperti yang menimpa ibu Meiliana di Tanjung Balai. Semoga.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...