03 Mei 2018

Idola

IDOLA. Eike agak kesulitan mencari cara tepat menuliskan perbedaan idola dan kebenaran. Mengingat belakangan, idola dan kebenaran dianggap identik. Bahkan dalam politik, idola dilihat sebagai representasi kebenaran itu sendiri.

Padahal idola kadang mengecoh. Ia bahkan tidak pernah bermakna apa-apa selain empity: kekosongan.

Dalam ilmu sosial (sosiologi), ada teori dramaturgi yang diperkenalkan Erving Goffman. Teorinya membilangkan setiap manusia menarasikan dirinya berdasarkan peran yang ingin ia bangun di atas panggung. Dunia sosial adalah panggung dunia peran. Begitu pendakuan Goffman.

Sayangnya, manusia memiliki sisi yang sering ia sembunyikan di belakang panggung. Di atas panggung barangkali ia memainkan peran protagonis, tapi sebaliknya berbeda ketika di belakang panggung. Ia menjadi mahluk yang sama sekali berbeda dari perannya di atas panggung.

Idola adalah peran yang disesuaikan di atas panggung. Ia disusun, dibentuk dan direkayasa. Di hadapan sorot mata orang-orang, idola adalah persona yang mengidealkan ekspektasi orang banyak. Ia kasatnya sedang bermain peran sesuai harapan orang-orang yang melihatnya.

Ketika dibelah, dunia interaksi manusia ditopang melalui dua panggung peran. Pertama, Erving Goffman menyebutnya front stage; ia adalah sisi depan panggung. Ruang pertunjukkan yang disaksikan banyak orang. Di front stage inilah, setiap idola bermain peran. Ibarat teater; sang idola mempermainkan karakter ciptaan sebagai image. Kedua adalah back stage: ini adalah sisi panggung yang tersembunyi dari pantauan orang-orang. Di sisi inilah, peran berhenti dimainkan. Sang idola kembali kepada karakter dasarnya.

Akibat panggung depan dan panggung belakang sama sekali berbeda, maka ia sesungguhnya merepresentasikan dua sosok yang juga berbeda. Ia menampilkan dan menyembunyikan dua sosok sekaligus di atas panggung. Di atas panggung sang sosok menampilkan “aku ideal” sekaligus menyembunyikan “aku real” bersama-sama. Sementara di belakang panggung “aku real” menunda “aku ideal” yang banyak berperan di atas panggung.

Dua panggung ini dengan kata lain adalah medan kontradiktif yang menunda sekaligus mengacaukan peran sesungguhnya “aku ideal” dan “aku real”. Saling bertukarnya dua peran ini pada akhirnya mengacaukan juga siapa yang sebenarnya menjadi image sesungguhnya.

Itulah sebabnya kamus Meriram-Webster’s menguraikan sembilan makna idola sebagai representative or symbol of an object of worship (perwujudan atau simbol dari sebuah objek peribadatan). False god (tuhan palsu), a likeness of something (sesuatu yang menyerupai), retender (orang yang suka berpura-pura), impostor (penipu yang lihai), a form or appereance visible but without substance (bentuk atau penampilan yang terlihat namun tak bermateri), an enchanted phantom (momok, hantu, setan yang memesonakan), an object of extreme devotion (obyek yang sangat digemari), ideal (idaman), a false conception (konsep yang salah), fallacy (pikiran yang keliru).

Asal usul kata idola berasal dari bahasa Yunani eidolon yang berarti “image” atau “form”. Dalam filsafat Yunani, filsuf yang memandang rendah “image” adalah Platon. Dia menganggap, filsafat harus menangkap “isi” bukan “image”. Kebenaran hakiki dalam hal ini menurut Platon bukanlah “citra” atau “penampakan” benda-benda melainkan “substansi” benda itu sendiri.

Itulah sebabnya, di masa Platon hidup, dirinya memandang sinis pekerjaan seorang seniman. Seorang seniman, menurut Platon hanyalah orang-orang yang mempertunjukkan “image”, “citra” dan “bentu-bentuk” di atas panggung. Teater mereka hanyalah “menduplikasi” substansi dari segala sesuatu.

Alkisah, di masa hidup Nabi Musa, pengikutnya pernah “dikritik” Al Quran akibat menciptakan tuhan palsu berupa lembu emas. Kala itu, ketika Musa pergi selama 30 hari, seseorang bernama Samiri menciptakan patung lembu untuk mengembalikan keyakinan umat Musa kepada keyakinan sebelumnya. Singkat cerita tidak sedikit yang teperdaya ajakan Samiri untuk menyembah patung buatannya.

Konsep idola jika ditelusuri asal usulnya, ditemukan dari kisah umat Nabi Musa di atas. Di kisah itu, Tuhan direplika Samiri melalui patung lembu emas. Bahkan tidak sekedar direplika, lembu emas justru menjadi Tuhan itu sendiri. Momen ini juga diabadikan Al Quran untuk menarasikan suatu pengertian yang kelak disebut idolatry.

Idolatry dalam kisah Nabi Musa adalah pembendaan tuhan melalui pencitraan lembu emas. Tuhan diidentikan menjadi lembu emas. Pemujaan terhadapnya disebut pemberhalaan. Era kiwari, idolatry tidak sekedar memuja benda-benda, melainkan sosok minus pokok. Sosok tanpa pokok itulah yang disebut idola.

Dengan kata lain, ia adalah empity: kekosongan.

Tapi, sayangnya sudah dibilang sebelumnya, dunia sosial adalah dunia peran. Idola yang hari ini tampak di panggung-panggung hanyalah “bentuk-bentuk”, “citra-citra” semata. Dia bukanlah wakil absah dari suatu keyakinan. Ia, sekali lagi hanyalah kekosongan.

Lalu bagaimanakah keyakinan dapat dibuktikan keabsahannya sebagai suatu prinsip kebenaran? Dalam kitab Raudhah Al-Wa’idhin Imam Ali bin Abi Thalib menyeru: “Kebenaran tak dikenal dari orangnya (pelakunya). Kenalilah kebenaran maka kau akan mengenal pelakunya.”


12 April 2018

Ideologi

IDEOLOGI. Dua unsur penting ideologi: edios dan logos. Unsur pertama dari edios mengandaikan terbangunnya tatanan ide, gagasan, konsep pemikiran, atau sekumpulan cita-cita yang menjadi dasar harapan dari sekumpulan atau sekelompok masyarakat.

Sementara logos ditandai dari artinya sebagai kata atau ilmu yang secara sistematis menjadi basis rasional dari edios yang berfungsi sebagai sistem pengetahuannya.

Ideologi yang hanya menitikberatkan kepada unsur edios semata akan menjadi cita-cita utopis. Atau mungkin sekadar menjadi harapan kosong. Hanya sebatas angan-angan belaka.

Tanpa dasar logos, dia hanya menjadi sekumpulan visi tanpa realisasi. Cita-cita tanpa isi, bagai mimpi di siang bolong. Dia menggerakkan, tapi hanya sekadar bergerak.

Sebaliknya jika ia mengandalkan unsur logos saja, ia menjadi sains belaka. Ilmu an sich. Persis seperti kedudukan ilmu-ilmu positivistik yang tidak memiliki visi dan semangat. Dan mungkin saja gairah.

Ilmu tanpa edios, menjadi ilmu yang tak memiliki harapan, tanpa gelora dan cita-cita. Tanpa telos tertentu.

Malangnya, belakangan masyarakat banyak terkonfigurasi oleh ideologi-ideologi politik dan agama yang cacat. Ada ideologi yang hanya mengedepankan unsur edios, dan ada yang sebaliknya lebih mengedepankan unsur logos. Atau malah justru ada yang tanpa kedua-duanya.

Kelompok masyarakat yang mengonsumsi ideologi tanpa logos mudah diidentifikasi dari caranya mengampanyekan ide-idenya: janji-janji semata. Ibarat hidup di atas halimun, hanya mengandalkan surga-surga eskapisme. Jalan pelarian dengan mengandalkan imajinasi semata.

Sementara kelompok-kelompok kepentingan yang mengandalkan unsur logos semata hanya menjadi elit-elit masyarakat tanpa mampu mencium bau harapan-harapan terdalam masyarakatnya. Dia ibarat hidup di menara gading dengan kecanggihan ilmunya, tapi kaki-kakinya tidak pernah melangkah bersama di "tanah" sebenarnya.

Syahdan, ideologi tanpa logos akan menjadi penjual harapan-harapan semu. Hanya akan menjual doktrin-doktrin imajinasi yang membuat masyarakat ibarat katak yang hidup dalam tempurung.
Dan, jika tanpa edios, ideologi hanya menjadi pengetahuan minus inspirasi. Pengetahuan tanpa cita-cita dan tentu saja: cinta.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...