09 April 2018

Doxa


Platon adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis Philosophical Dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates. Pemikiran Platon pun banyak dipengaruhi oleh Socrates. Platon adalah guru dari Aristoteles.


DOXA. Doxa pertama kali diucapkan Platon dari antipodanya: episteme. Doxa dan episteme, bagi Platon dua kategori yang kontradiktif. Doxa, bagi Platon adalah jenis pengetahuan yang menyesatkan, atau opini yang tidak berbasis kebenaran. Sementara episteme, adalah tatanan ideal mengenai pengetahuan sejati. Bahkan, bagi Platon episteme adalah kebenaran itu sendiri.

Platon menarasikan doxa dan episteme melalui dua tatatanan dunia: intelligible world (dunia idea) dan visible world (dunia fisik). Melalui “pergerakan” jiwa manusia mampu mengakses tatanan intellegible world untuk menemukan pengetahuan sejati. Menurut Platon, jiwa sebelum disandera jasad, bebas bergerak di alam intelligible world. Menurut Platon, di alam visible world, jiwa mengalami keterbatasan akses akibat terbatasnya modalitas jasadiah ketika mengarahkan perhatiannya kepada alam dunia idea.

Bagi Platon, pengetahuan yang lahir dari dunia visible world bukanlah pengetahuan sesungguhnya tentang sesuatu. Ia hanyalah “replika” sesuatu yang berasal dari dunia intelligible world. Karena karakter ruang dan waktu dunia visible world, seluruh pengetahuan yang berasal dari sana hanyalah imitasi, semu, dan mudah lenyap.

Itulah sebabnya, untuk mengetahui sesuatu yang sesungguhnya manusia mesti membebaskan jiwa dari tatanan visible world. Platon menganjurkan perhatian manusia menuju tatanan intelligible world. Membebaskan jiwa dari doxa yang menjadi karakter visible world menuju episteme hakikat dari tatanan intelligible world.

Hanya di dalam intelligible world-lah pengetahuan sejati sebenarnya ditemukan.

Teori alegory of cave Platon adalah narasi yang paling banyak dirujuk untuk mengilustrasikan peran doxa dan episteme.

Manusia menurut Platon adalah mahluk yang terjebak alegori; pengetahuan yang masih samar-samar. Manusia bisa jatuh dan terjebak ke dalam “bayang-bayang” realitas jika dia tidak keluar melampaui “api” sebab bayang-bayang itu berasal. Manusia mesti membebaskan dirinya keluar dari mulut gua, menuju tepi batas dan merangkak naik menuju satu-satunya sumber segala cahaya di luar gua.

Doxa adalah bayang-bayang, pantulan api yang dikira pengetahuan yang benar. Sementara, episteme adalah sumber yang dilupakan dalam narasi “mahluk gua” Platon. Suatu sumber di mana perhatian mesti ditempatkan.

Kisah manusia gua Platon adalah kisah betapa jiwa manusia begitu rentan terperangkap alegori. Dia bisa jatuh dan mendera sakit akibat terjebak doxa. Atau sebaliknya, mengoptimalisasi jiwanya menuju episteme sebagai sumber kebenaran.

Teori alegory of cave Platon sebenarnya salah satu part dari teori pengetahuannya. Bagi Platon, sesungguhya jiwa manusia adalah manifes episteme. Dengan begitu dia menyimpan pengetahuan dalam dirinya semenjak asal. Namun, akibat jiwa mengalami “kejatuhan” ke dalam jasad. Seketika manusia kehilangan akses untuk mengetahui episteme segala sesuatu.

Melalui narasi inilah Platon sebenarnya mengingatkan, jalan pulang manusia menuju dunia sejati hanya mampu ditempuh melalui jalan pengetahuan. Kembalinya jiwa tidak seperti narasi yang dikembangkan agama-agama bahwa ia akan kembali dengan membawa amal-amalnya ke alam “pertanggung jawaban” akhirat. Bagi Platon, jiwa kembali hanya dengan satu syarat: episteme.

Dengan kata lain, dunia pasca kematian adalah dunia pengetahuan. Ia hanya bisa diakses dan ditempuh oleh satu-satunya modal yang dimiliki manusia: penalaran.

Itulah sebabnya, masih menurut Platon, bukan doxa, melainkan penalaran episteme, yang mampu mendudukkan kembali jiwa ke asalnya. Dunia pertama tempat jiwa-jiwa bercengkerama dengan hakikat ilmu-ilmu.

Malangnya, tidak semua jiwa manusia mampu menempuh dan mengakses dunia episteme. Bahkan ada jiwa-jiwa yang tak mampu kembali ke dunia episteme lantaran tidak memaksimalkan daya penalarannya. Akibatnya manusia justru bertungkuslumus di dalam doxa akibat sulit membedakan yang mana sebenarnya doxa dan yang mana sejatinya episteme. Dia akhirnya menjadi mahluk yang terjebak alegori, atau karena minimnya penalaran ia bahkan jatuh disekap doxa.

Doxa banyak mengalami transformasi di dalam pengalaman masyarakat modern. Iman agama yang sebelumnya dianggap doxa akibat bersandar kepada mistisme dan mitos mengalami pasang surut lantaran evolusi pemikiran manusia melalui momentum renaisance. Seketika seluruh artikulasi pengalaman manusia mesti diterjemahkan melalui pendekatan sains.

Dalam tinjauan sains, doxa adalah seperangkat pemahaman yang tidak memiliki bukti-bukti empiris. Dia opini yang berkembang tanpa melibatkan penyelidikan kritis. Atau keyakinan umum yang dipegang begitu saja tanpa diketahui sumber dan bagaimana dia mesti diyakini.

Diskursus marxian menyinonimkan doxa dengan false consciousness (kesadaran palsu). Kesadaran palsu dicurigai pemikir marxian sebagai “wacana” yang dikembangakan elit masyarakat borjuis untuk mengibuli masyarakat umum. Kesadaran palsu karena demikian dia bersifat ideologis.

Kesadaran palsu bekerja melalui dua modus pengalaman manusia: politik dan ekonomi. Melalui politik doxa berkembang menjadi ideologi. Sementara melalui interaksi ekonomi masyarakat, doxa berperan dalam membentuk pasar. Ideologi dan pasar adalah dua modus pengalaman yang berkembang dan membentuk struktur kapitalisme modern.

Itulah sebabnya, kapitalisme adalah produk pemikiran yang paling dicela pemikir marxisme. Hal ini karena secara politik kapitalisme menjadi sumber berkembangnya praktik-praktik penjarahan di muka bumi. Melalui modus pasar bebas, kapitalisme membelah masyarakat menjadi dua tatanan: proletar dan borjuis. Kapitalisme-lah satu-satunya ideologi yang sampai hari ini masih bertahan akibat mampu menyembunyikan praktik penindasan atas nama hak-hak asasi individu.

Belakangan, doxa berkembang pesat di dalam struktur masyarakat informasi. Doxa dalam era kiwari mudah dikenali dengan nama hoaks. Hoaks adalah pemahaman khas dari jaringan kompleks informasi media massa. Ciri utama hoaks adalah informasi yang tidak ditopang oleh dua syarat: bukti empiris dan analisis logis.

Bagi masyarakat yang belum melek literasi, dua syarat di atas belum menjadi syarat utama ketika mengonsumsi informasi. Hilangnya dua syarat di atas diakibatkan lumpuhnya modalitas utama manusia berupa penalaran logis yang dikendalikan dua arus utama: fundamentalisme agama (ekstrimisme agama) dan fundamentalisme pasar (kapitalisme).

Melalui fundamentalisme agama, tradisi pemikiran keagamaan menjadi tidak bermakna apa-apa selain berupa doktrin, dan melalui fundamentalisme pasar, kehidupan sosial ekonomi masyarakat hanya menjadi arena saling berebut keuntungan.

Lantas bagaimanakah fundamentalisme pasar dan fundamentalisme agama bisa menjadi langgeng?

Hoaks. Hanya lewat hoaks-lah jaringan kesadaran masyarakat dipertahankan sedemikian rupa demi mempertahankan relasi kekuasaan.

Itulah sebabnya, akhir-akhir ini hoaks berkembang pesat melalui dua modus utama (politik dan ekonomi) dengan memanfaatkan dua arus besar yang paling banyak bersentuhan langsung dengan masyarakat: agama dan pasar.

Syahdan, di masa sekarang ketika informasi menjadi salah satu variabel penting bagi interaksi masyarakat, hoaks banyak tersebar dan dikonsumsi masyarakat. Bahkan ia adalah doxa yang memerangkap pemahaman manusia menjadi pengetahuan palsu. Malangnya, doxa di era pasca-kebenaran banyak menyekap jiwa manusia dengan simbol-simbol agama sekalipun.

28 Maret 2018

Badaruddin Amir: Esai itu Tulisan yang Genit


Esai itu tulisan yang genit. Dia diibaratkan seseorang yang datang dan mencubit pipimu dan kemudian pergi. Begitulah esai di mata Badaruddin Amir. Pendakuan ini ia sampaikan saat menyampaikan materi dalam pelatihan menulis esai bagi Guru-Guru Bahasa se-Kabupaten Sidrap beberapa waktu lalu.

Badaruddin Amir seorang sastrawan Sulsel. Dia tangkas menghidupkan suasana forum. Sebelumnya, forum ibarat ruang tunggu yang sepi lantaran materi yang cenderung teoritis. Kaku. Dan mungkin membosankan.

Sebelum Pak Badar, begitu ia disapa, eike yang berkesempatan pertama kali memberikan materi. Begitulah, semenjak Pak Badar mendapatkan giliran, dengan pengalamannya yang segudang mengampu pelatihan-pelatihan menulis, forum berubah 180 derajat.

Sebenarnya slide-slide materi yang disampaikan Pak Badar tidak jauh berbeda dari apa yang sudah eike sampaikan. Tapi, dari cara penyampaian, dan beragamnya contoh pengalaman yang ia ajukan, membuatnya menjadi bintang forum. Ya, semenjak mengetahui akan dipanel dengan beliau, dari awal eike sudah memosisikan diri sebagai peserta kesekian yang kebetulan duduk di sebelah Pak Badar.

Kalau mau jujur, selama ini Badaruddin Amir tidak familiar di telinga eike. Ini bukan karena Pak Badar tidak tenar dalam dunia kesusastraan maupun literasi di Sulawesi Selatan, melainkan lingkaran pergaulan eike yang masih selebar daun kelor. Juga jelajah bacaan eike yang tidak meningkat-meningkat sehingga belum sempat membaca tulisan-tulisannya.

Nama Badaruddin Amir pertama kali eike temukan di dunia maya. Secara tidak sengaja eike melihat postingan cerpen beliau yang kebetulan nongol di beranda Fb. Karena merasa ganjil, kala itu eike memberanikan diri mengomentari beberapa kata dalam cerpennya. Tidak disangka komentar itu memancing pendiskusian yang lumayan panjang. Bahkan mengundang orang-orang dekat Pak Badar turut berkomentar.  Akibat saling kritik, eike mencoba mengintip-intip dinding Pak Badar. Setelah beberapa saat, rasa-rasanya beliau ini bukan orang biasa.

Tak disangka kami dipertemukan dalam kegiatan yang sama.

“Rival saya ini,” canda Pak Badar sambil menyalami eike ketika pertama kali bertemu. Sebelum forum dibuka kami sempat terlibat diskusi ringan. Pak Jamal selaku pihak yang mengundang heran. Dia mengira kami sama sekali belum saling mengetahui. Ternyata aksi “kritik-mengkritik” di Fb beberapa waktu lalu cukup berkesan bagi Pak Badar. Dia tidak semata-mata lupa dengan eike.

“Dulu di Pedoman Rakyat tradisi kritik diapresiasi. Saling kritik itu baik, yang penting tidak membawa personalitas di dalamnya” begitu seingat eike perkataan Pak Badar ketika kami duduk berdiskusi ringan. Dia juga menerangkan posisinya terkait “polemik” yang ditimbulkan Denny JA yang belakangan booming. Bahkan dia menilai usaha Denny JA dalam memperkenalkan  “puisi esai-nya” sudah tidak wajar.

“Di Sulawesi Selatan saya yang pertama kali dihubungi Denny JA untuk ikut mengapresiasi puisi esainya,” ucap Pak Badar di saat mengatakan penolakannya. “Dampak-dampaknya kelak berbahaya,” sambungnya.  Apa yang dikatakan Pak Badar ini jelas merujuk kepada upaya yang dilakukan Denny JA menghimpun sastrawan-sastrawan di seluruh daerah Tanah Air dengan memberikan bayaran sebanyak lima juta dengan catatan mau menulis puisi-esai dalam rangka ikut mempromosikannya.
Bahkan kalau tidak salah ingat, ia juga sempat mengatakan sudah menulis beberapa pandangannya tentang puisi-esai dalam esai yang diikutkan dalam kelompok penulis yang tidak sepakat dengan sepak terjang Denny JA.

Di siang itu forum berjalan lancar-lancar saja. Walaupun sebelumnya eike mesti bergegas dari Makassar semenjak Subuh agar sampai di lokasi kegiatan pukul 8 pagi. Langit yang tidak berubah cerah dan hujan yang awet ikut menemani selama perjalanan.

Apa boleh buat, keadaan tidak bisa dilawan sepenuhnya. Eike tiba pukul delapan lewat. Hampir pukul sembilan, bahkan.

Ketika naik ke lokasi kegiatan di lantai dua, sepintas eike melihat seorang pria paruh baya duduk mengenakan topi hitam melalui celah pintu. Tidak langsung masuk, eike memilih duduk sebentar di bagian depan sambil mengatur napas. Dengan terkejut eike bertemu seorang senior semasa di kampus. Sekarang ia menjadi seorang guru sejarah. Ternyata ia salah satu peserta di kegiatan ini. Tak dinyana, sekarang eike yang bergantian memberikan materi seperti yang pernah ia lakukan di masa masih mahasiswa dulu. Ah, begitulah, dunia bekerja.

Pria paruh baya itulah Pak Badaruddin Amir. Ia datang lebih awal dengan menggunakan topi dan duduk sembari menengok layar gawainya. Nampaknya Pak Badar lumayan aktif di dunia maya. Cerpen maupun esainya, sering ia posting di sana.

“Tulisan yang kamu komentari itu sebelumnya sudah saya kirim di Fajar, tapi saya enggan memotongnya menjadi lebih pendek,” ungkap Pak Badar. Ia nampaknya tidak setuju jika karya tulisnya mesti dipermak sampai harus memenuhi kolom “sempit” yang disediakan koran-koran selama ini. Itulah sebabnya ia lebih memilih memostingnya di dunia maya yang jauh lebih banyak memberikan ruang bagi karya tulis yang panjang.

Di tengah pemaparan materi memang ada sedikit pembahasan tentang apa yang dimaksudkan “pendek” ketika mengartikan cerpen. Apakah ia ditentukan oleh faktor internal semisal jumlah karakter? Atau jalan cerita yang sekali dibaca sudah dapat menangkap karakter tokohnya? Atau memang lebih ditentukan oleh faktor eksternal semisal medium cerita itu diterbitkan, yang dalam hal ini sangat ditentukan oleh space yang ada pada setiap koran, majalah, atau junal?

Pertanyaan ini akan makin membingungkan jika tradisi kepenulisan cerpen dikaitkan dengan tradisi tulis menulis di luar negeri. Pengalaman Eka Kurniawan ketika menerjemahkan karya-karya cerpennya ke bahasa asing  misalnya, menggambarkan ternyata cerpen-cerpen yang ditulis penulis-penulis luar negeri jauh lebih panjang dari apa yang dituliskan cerpenis-cerpenis dalam negeri. Kala itu seperti yang dituliskan Eka melalui blognya, editor yang menerbitkan tulisannya sempat membandingkan cerpen-cerpennya yang lebih pendek dari cerpen-cerpen yang pernah diterbitkan.

Menurut Eka, cerpen-cerpen yang ditulis di Tanah Air selama ini lebih banyak ditentukan oleh kolom yang disediakan media cetak. Sehingga ikut memengaruhi cara bercerita cerpenis ketika membangun narasinya. Menurut eike, efek paling membahayakan bagi pembaca adalah batas kemampuan membaca yang akhirnya tidak tahan membaca narasi yang panjang. Kata “pendek” dengan kata lain sudah pertama kali mendikte pembaca sehingga sulit memiliki energi lebih ketika berhadapan dengan narasi yang lumayan panjang.

Salah satu yang menarik selama pemaparan, menulis diibaratkan Pak Badar seperti berenang. Semua orang tahu seluruh gaya berenang, mereka tahu perbedaan di antara gaya kupu-kupu dengan gaya punggung, tapi itu hanya sebatas pengetahuan. Berenang yang sesungguhnya adalah ketika seseorang sudah di dalam air. Ketika dia sudah berpraktik. Sudah mau melakukannya. Begitulah yang dimaksudkan Pak Badar, menulis hanya disebut menulis ketika dia dilakukan.

Sebelumnya, eike sempat malu sendiri. Pasalnya tidak ada tandamata berupa buku yang eike hadiahkan kepada Pak Badar. Sebaliknya, sebagai pamungkas dan tanda karya, eike diberikan buku kumcer beliau Latopajoko & Anjing Kasmaran. Di sini kelihatan kan, siapa sebenarnya penulis?

---

Terbit sebelumnya di Kalaliterasi.com


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...