03 Februari 2018

Menjinakkan Harimau Kata-Kata

Mulutmu adalah harimaumu. Ungkapan ini jelas maknanya: mulut bisa melukai dengan kata-kata kasar. Atau sebaliknya, mulut bisa berbalik membuat si pengucap mendapatkan “terkaman” orang lain.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi hari ini sudah “menyulap” harimau tidak saja menjadi metafora bagi mulut, tangan, bagian tubuh yang lain juga bisa menjadi “cakar” bagi orang lain.  Zaman ketika mulut lebih banyak dialihfungsikan kepada sentuhan tangan di layar gadget, membuat daya jangkau “harimau” kata-kata jauh lebih luas dari masa sebelumnya.

Era informasi seperti sekarang memang zaman penuh “harimau-harimau” yang leluasa meloncati batas-batas kultural, keyakinan, dan kebiasaan masyarakat. Melalui layar sentuh, siapa saja bisa melepaskan “harimau-nya” sesuai dengan keinginan dan harapan si pemilik. Entah ingin membuat takut orang-orang, atau –seperti dialami dari fenomena hoax—membuat luka sayatan yang membelah dan menyakiti perasaan orang-orang.

Kata-kata memang licin karena itu sulit untuk dikendalikan. Seperti harimau, dia mesti “dijinakkan” sebelum “dipentaskan” ke hadapan khalayak. Ibarat sang pawang harimau, sang pengucap mesti “melatih” terlebih dahulu kata-katanya agar tidak membahayakan dirinya dan orang lain. Bahkan demi kebaikan bersama, harimau kata-kata mesti terlebih dahulu “dikandangkan.”

Ada peribahasa dari sahabat, sepupu, menantu, sekaligus pengikut setia Rasulullah, Ali bin Abi Thalib: lidah orang berakal berada di belakang hatinya, dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya. Kalimat ini begitu cerkas mensituasikan bagaimana sebaiknya kata-kata mesti didudukkan tanpa memperkeruh dan menyinggung batin dan pikiran lawan bicara.

Di situ orang-orang dianjurkan agar berhati-hati mengucapkankan kata-kata dengan menempatkan “lidahnya” di belakang “hatinya.” Kata-kata yang mesti diucapkan, dengan kata lain adalah kata-kata yang sudah sebelumnya dipertimbangkan matang-matang melalui perantaraan “hati.”

Di situ kedudukan “hati” jauh lebih utama di saat berkata-kata demi menjaga perasaan orang lain.

Di era “perang” kata-kata seperti sekarang, “lidah harimau” mesti dijinakkan terlebih dahulu. “Hati” sebagai metafora perasaan, kelembutan, dan ketenangan, adalah “kunci” dari bagaimana orang-orang mengontrol “harimau” kata-katanya.

Dalam khazanah tasawuf, “hati” tidak saja didudukkan sebagai organ biologis semata. Dari sisi epistemologi, “hati” adalah sumber pencerahan. “Hati” bahkan didudukkan menjadi fakultas penting sebagai sumber dan alat pengetahuan. Bagi seorang sufi-pesuluk, “hati” adalah sumber ilmu dan kearifan paling paripurna dibandingkan sumber-sumber pengetahuan lainnya.

Di titik ini, “lidah” yang diletakkan di belakang “hati”, dengan kata lain adalah suatu cara untuk mengatakan tanpa pertimbangan ilmu, kata-kata yang diucapkan hanyalah bunyi-bunyian tanpa makna. Kata-kata tanpa penyelidikan ilmu lebih banyak mudharatnya daripada faedahnya.  

Itulah sebabnya, jika “lidah” lebih didahulukan selama berkata-kata tanpa mengikutkan “hati”, seperti pendakuan Ali bin Abi Thalib: itulah orang-orang yang bodoh. Itulah harimaunya.

Yang menarik jika ditelisik, “mulutmu harimaumu” juga bisa jadi adalah ungkapan yang secara simbolik mau menerangkan sisi instingtif-naluriah yang dimiliki manusia. Sisi binatang dari diri manusia. Para ahli ilmu-ilmu jiwa menyepadankan sisi animalitas yang dipunyai manusia ini dengan istilah id.

Sigmund Freud, psikoanalisis yang mempopulerkan id melalui trikotomi id, ego, dan super ego-nya menyatakan, di balik kesadaran manusia yang mencerminkan sisi normatifitas nilai-nilai, menyembunyikan sisi chaotic-libidinal yang sulit dibendung dan dikendalikan. Id dalam hal ini adalah dasar libidinal yang sulit terpuaskan dan bahkan tidak akan pernah terpuaskan. Akibatnya, demi memenuhi hasrat bawaannya, id yang berwatak chaotik sering kali menyilang dan menyeroboti normatifitas yang dikendalikan unsur ethic manusia.

Dengan kata lain, sisi ethic yang kehilangan kendali atas sisi chaotic, mengakibatkan leluasanya sisi animalitas manusia menyimpang dari sisi manusiawinya. Di saat itulah melalui peran tutur lisan (atau tulisan), kata-kata justru berubah menjadi medium hasrat yang menerabas tatanan keharmonisan. Mulutmu akhirnya menjadi harimaumu.

Implikasi secara sosial dan kultural, kata-kata yang berhasrat dengan demikian mampu mengancam integritas yang sudah ada di dalam komunitas masyarakat. Bukannya menjadi medium pemersatu, justru kata-kata yang tidak “jinak” menjadi pemicu lahirnya perpecahan.

Syahdan, masyarakat hari ini dipenuhi anomalitas atau penyimpangan yang ditandai dari berubahnya keadaan ethic manusia menjadi situasi chaotik. Di medan bahasa, banyak sekali kata-kata beterbaran yang belum sempat dijinakkan. Kebudayaan akhirnya menjadi kawasan yang mirip hutan rimba; tanpa kendali dan karut marut. Bahkan tidak sedikit liarnya kata-kata, memakan banyak korban akibat dominannya sisi animalitas manusia.

Maka jangan heran, belakangan ini jika kita menengok di sekitar kita akan banyak kita temukan orang-orang yang memelihara harimau sebagai sarana wicaranya. Tak jarang bahkan tutur katanya lebih tajam dari sebilah pisau.

Nampaknya memang betul, sekarang banyak orang-orang menempatkan “hatinya” di belakang “lidahnya”.  

--

Terbit sebelumnya di Locita.co

22 Januari 2018

Revolusi a la Gabriel Garcia Marquez


Cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik yang dapat ia lakukan. Begitu pendakuan Gabriel Garcia Marquez, sastrawan masyur yang menulis One Hundred Years of Solitude. 

Marquez tidak seperti para pengkotbah di negeri ini yang meyakini perubahan hanya bisa disandarkan kepada kebutuhan untuk bersuara. Tentunya ini bukan sekedar trik Marquez untuk menyeret orang-orang dari “pusaran suara” menuju “pusaran aksara.” Apalagi menganggapnya sebagai strategi untuk menarik minat orang-orang agar menyenangi quote-quote inspiratif.

Sebaliknya,  menurut eike ini cara Marquez untuk menyampaikan suatu pengertian yang jauh lebih ke belakang, jauh lebih fundamental: menghayati aksara dengan beragam risikonya.

Pertama-tama, ini mungkin spekulatif: tidak ada penghayatan terhadap aksara tanpa sebelumnya beririsan dengan dirinya sendiri. Dalam konteks dunia yang mengakomodir publisitas sebagai indikator kemajuan, seseorang mesti pertama kali menaklukkan dirinya untuk mau menepi di pesisir kesunyian.

Konon Orhan Pamuk, sebelum menjadi penulis seterkenal sekarang, kurang lebih banyak mengurung dirinya selama delapan tahun di perpustakaan tanpa diganggu peristiwa sehari-hari. Entah apa yang terjadi di kala itu.

Tapi, dari pengalamannya macam demikian, kita bisa menarik faedah kira-kira apa yang terjadi jika Anda mengurung diri selama bertahun-tahun di dalam ruangan yang penuh buku-buku? Mungkin Anda mampu menghapal pelbagai macam judul buku beserta deretannya di atas almari. Atau mengetahui hampir semua isi buku yang mengelilingi Anda? Apakah Anda akan menjadi Orhan Pamuk yang lain? Mungkin.

Secara ilustratif, model hidup semacam itu kemungkinan besar akan dicela sebagai kehidupan yang mengingkari kehidupan bermasyarakat. Seperti kaum sufi yang mentalak dunia demi pencapaian spiritualitas tingkat tinggi. Namun, dunia justru membuktikan, jalannya sejarah perabadan manusia kadang sangat ditentukan dari pencapaian orang-orang yang bercengkrama dengan kesendirian.

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu sebagai suatu pernyataan sampai sekarang masih sering membuat eike takjub terhadap kandungan makna yang ada di baliknya. Bagaimana mungkin seorang bisu mampu bernyanyi? Situasi apakah yang mendorong seorang bisu harus bernyanyi di dalam kesunyian? Dalam situasi itu, jenis suara seperti apakah yang dihasilkan dari nyanyian seorang yang bisu?

Terlepas dari eksposisi di atas, di situ sunyi dan bisu bagi eike adalah dua situasi yang extraordinary. Melalui situasi itulah sunyi dan bisu  yang dimaksud dari buku Pramoedya Ananta Toer menemukan momentum pemakanaannya.

Biografi Pamuk dan terlebih lagi Pram adalah biografi orang-orang yang dipapar kesunyian. Mereka adalah orang-orang yang mengelola kesunyian menjadi kekuatan. Bagi eike, di titik inilah momen revolusioner diciptakan. Dan menulis adalah strategi mereka untuk melancarkan suatu gema, suatu suara. Barangkali inilah suatu cara terbaik yang dikatakan Marquez sebagai jalan untuk menjalankan revolusi.

Kedua, dilihat dari konteks abad ini, menulis adalah pekerjaan yang sama berartinya dengan pekerjaan-pekerjaan teknis lainnya. Dia sama revolusionernya dengan penggunaan gadget dewasa ini. Dengan kata lain, menulis memiliki pengaruh yang cukup signifikan di dalam menciptakan perubahan sosial.

Sebagai perbandingan, setelah tradisi lisan dipentaskan di atas podium-podium agama, tulisan-tulisan Martin Luther yang ditujukan untuk mengkritik doktrin gereja abad pertengahan menjadi medium baru dan mampu mengkonsolidasikan suatu pandangan baru sebagai basis keimanan. Semenjak kritik teologi yang ditulisnya disebarluaskan, sejarah kekristenan berubah dengan  munculnya aliran baru yang hari ini dikenal sebagai Protestanisme.

Memang agak klise, tapi perubahan sejarah kekristenan itu sepakat atau tidak, ditengarai melalui medium tulisan. Dengan sokongan revolusi mesin cetak Guttenberg, tulisan semenjak itu mulai mengubah bentuk kesadaran yang beralih dari suara menjadi aksara. Dengan cepat terjadi liberalisasi ilmu pengetahuan dengan menerobos sekat-sekat kelas masyarakat saat itu.

Di masa sekarang, kejelian ramalan Alvin Toffler mengenai kedudukan sejarah di masa akan datang menemukan momentumnya. Dengan tesis yang pernah ia ajukan tentang buta huruf, secara patologis menggambarkan kebutaan secara informatif masyarakat gelombang ke tiga ditunjukkan bukan dari mereka yang tidak bisa baca tulis, melainkan ketidakmampuan orang-orang mengelola informasi dan keengganan untuk belajar seiring perubahan yang terjadi.

Dengan kata lain, keberlimpahan informasi yang mengepung kehidupan masyarakat hari ini tidak menjamin kemajuan secara epistemik masyarakat itu sendiri.

Justru kenyataan sebenarnya adalah, banyak orang-orang yang masih buta huruf akibat tidak mampu mendudukkan informasi sebagai data penting untuk memajukan kehidupannya.

Dari konteks di atas, dengan begitu menulis sama berartinya sebagai pekerjaan yang memukul buta huruf. Suatu upaya melawan kebodohan. Di situ ada kegiatan pengelolaan informasi menjadi data, membaca pelbagai referensi, membandingkan data-data, dan menganalisis hasil bacaan. Dengan kata lain, suatu tindakan revolusioner.

Ketiga, menulis dengan sebaik yang dapat ia lakukan berbeda dengan hanya sekedar menulis. Sebaik yang dapat  dilakukan adalah kuncinya. Frasa itu menandai pentingnya segala upaya dan tenaga sebagai daya dorong bagi seseorang untuk memberikan yang terbaik dari kemampuan menulis yang dimilikinya.

Sebaik yang dapat  dilakukan dengan kata lain adalah parameter yang memisahkan mana penulis yang mau berjibaku dengan mengerahkan seluruh kemampuannya, dan yang mana penulis yang pada akhirnya berhenti dan menyerah dengan hanya memberikan kemampuan ala kadarnya.

Ini artinya seperti seseorang yang melawan dirinya sendiri untuk menetapkan batas-batas terjauh dari kemampuan dirinya. Esok bukanlah hari ini, dengan sekaligus harus jauh lebih baik dari hari sekarang.

Dengan kata lain, ini adalah suatu ritme. Suatu tindakan keberlanjutan terus menerus.

Syahdan, perkataan Marquez di atas memang bukan frasa yang akrab ditemui jika berbicara mengenai perubahan sosial. Apalagi jika itu mau dikatakan sebagai anjuran-anjuran revolusioner yang kerap mengundang orang-orang agar mau berkumpul di jalan raya. Revolusi Marquez dengan kata lain bukan jenis revolusi yang berbasis barisan orang-orang. Dia sesuatu yang lain, sesuatu yang membutuhkan ruang tersendiri untuk menyusunnya. Suatu pekerjaan soliter.

Akhir kata, ketika hari ini banyak pekik suara-suara yang mengepung di atas udara, bisa jadi itu hanya jenis suara yang banal. Mungkin itu bukanlah sumber perubahan?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...