22 Desember 2017

Rendra dan Kota


W.S. Rendra
Sastrawan berkebangsaan Indonesia
Penyair yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak"ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta yang melahirkan seniman semisal Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain.



Orang-orang miskin di jalan,
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan

(W.S. Rendra)

KOTA. Penggalan puisi Rendra di atas mungkin adalah ungkapan yang satire sekaligus sebuah sinisme. Yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, adalah perantara untuk memahami kemiskinan, biar bagaimanapun adalah bagian sebelah dari tubuh masyarakat. Orang-orang kaya, tubuh sebelah lainnya, dalam puisi itu diingatkan Rendra: “janganlah mereka ditinggalkan.” Sampai di sini, kita mesti mengandaikan masyarakat adalah peristiwa interaktif tinimbang sebagai substansi satuan atomik. Itu artinya, masyarakat sebagai peristiwa interaktif mesti melibatkan “yang lain” sebagai bagian yang setara dan mesti ada. Bukan dibayangkan sebagai entitas atomik: satuan yang mampu berdiri sendiri. “Janganlah mereka ditinggalkan”, juga barangkali di situ adalah ungkapan yang menyitir masyarakat yang atomistik; suatu entitas tanpa relasi. Hilangnya social relationship. Cara berpengalaman hidup yang kukuh dengan semangat individualistik. Di titik ini-lah, yang satire dan yang sinis dari syair Rendra itu. Belakangan, jaringan interaksi masyarakat tumbuh dan berpusat kepada satu centrum: kota. Masyarakat berkembang, sekaligus membuat kota ikut berkembang. Tapi, ditilik dari sejarah perkotaan, seperti pendakuan Max Weber, kota tidak selamanya berarti jalinan interaksi semata. Kota dikatakan kota karena di dalamnya terjadi interaksi ekonomi. Dengan kata lain, dasar rasionalitas masyarakat kota hanya bisa dimengerti ketika dia dilihat sebagai relasi yang bergerak di bidang ekonomi. Itulah sebabnya, mengapa kota, kata Weber, disebut sebagai kawasan yang mendukung perdagangan ketimbang pertanian. Di kota, birokratisasi yang didorong oleh rasionalitas intrumental, mendudukkan kota sebagai tempat yang modern dibanding kawasan lainnya. Suatu pusat yang mewadahi interaksi sosial berdasarkan relasi ekonominya. Itulah sebabnya pula kota memiliki daya tarik tersendiri. Apa yang modern bagi kota dengan sendirinya menarik imajinasi masyarakat untuk dapat ikut berpartisipasi di dalamnya. Terutama jika kota dalam hal ini dilihat sebagai pasar ketimbang lainnya. Dengan kata lain, kota tidak sekadar menjadi pusat perekonomian yang didukung infrastruktur perindustrian, namun juga membentuk suatu pengalaman baru yang berbeda dari pengalaman masyarakat pedesaan. Nampaknya dari sisi itu, pengalaman baru yang hanya ditemukan di kawasan perkotaan sekaligus juga membentuk kebiasaan-kebiasaan kultural yang menandai berubahnya cara hidup masyarakat. Kota dengan kata lain adalah produk kebudayaan yang lahir dari heterogenitas masyarakatnya berdasarkan hukum transaksional. Kata Emile Durkheim, di kota, yang identik dengan modernisasi adalah entitas kehidupan sosial yang terspesialisasi dan terdiferensiasi. Pengalaman atas kerja di kota, adalah jenis pengalaman baru dan khas yang membagi-bagi masyarakat berdasarkan profesinya, umurnya, pendapatannya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, pandangan hidupnya, dlsb., yang semua itu –seperti umumnya— didudukkan dalam konteks perdagangan. Kota juga adalah tubuh raksasa yang sedang berkembang. Pengalaman atas ruang kota ketika diterjemahkan oleh pengambil kebijakan bukan semata-mata melihat melalui kaca mata ekonomi, tapi juga mengubah ruang materialnya dengan pembangunan-pembangunan berskala besar. Fenomena berubahnya ruang kultural yang bernilai sejarah, misalnya, tidak memiliki dasar ekonomis yang kuat jika sebelumnya tidak diwujudkan ke dalam “hitung-hitungan perdagangan.” Artinya, fenomena industrialisasi yang menjadi karakteristik kota di abad milenial, berubah fungsinya menjadi kawasan yang bernilai jual beli ketika ruang itu “dikapitalisasi” dengan membangun gedung-gedung berdaya tarik investasi. Dengan kata lain, kota tidak saja menyandarkan dirinya kepada sektor industri, tapi juga di era kiwari mengubah setiap ruang yang dimilikinya menjadi sektor perdagangan dan pariwisata. Dengan cara itu, kota akhirnya tidak saja mengubah karakternya yang semula menjadi pusat religiusitas seperti kota-kota yang lahir di abad-abad sebelumnya, atau pusat-pusat industri seperti di awal abad 20, dan atau sebagai produk kebudayaan yang mengafirmasi nilai-nilai ideal kebudayaan, namun mengubah seluruh basis material dan nonmaterial yang dicakupnya. Saat itu kelak, kota adalah ruang geografis yang dekat tapi juga sekaligus asing. Menjadi ruang yang berkebudayaan namun juga dekaden, dan sekaligus menjadi kawasan maju tapi di saat bersamaan meninggalkan jejak-jejak anomali di belakangnya. Singkatnya, kota menjadi momok berparas ganda. Dia realitas yang kontradiktif. Nampaknya, siapa pun harus kembali menafsirkan pengalaman hidupnya ketika bermukim di dalam kota. Ketika kota hanya dipandang sebagai daerah yang menampung hasrat ekonomi tanpa melihat dan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan nonmaterial masyarakatnya. Ketika ruang sosial menjadi jauh lebih berjarak akibat pengalaman atas kerja, pengalaman atas ilmu pengetahuan, pengalaman atas ekonomi, pengalaman atas agama, pengalaman atas politik, dan pengalaman atas budaya, dibelah dan dipecah-pecah atas pembagian waktu dan ruang yang justru terbagi-bagi. Di saat itu-lah seperti kata W.S Rendra di atas: yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, menjadi realitas yang dekat sekaligus diacuhkan. Mereka akhirnya dipandang sebagai sisa-sisa interaksi yang dianggap manusiawi. Masyarakat kota akhirnya berubah menjadi satuan-satuan yang atomistik, satuan yang individualistik sekaligus anehnya, disebut berperadaban. Malangnya, di tengah keadaan demikian, kota-kota dalam pengalaman benak kita tidak berbeda jauh ketika pengalaman di atas dilihat sebagai realitas yang terpisah. Bahkan kota dalam imajinasi masyarakat perkotaan adalah realitas subjektif yang tak memberikan peluang atas hadirnya kelompok lain; suatu dunia yang dilihat atas dasar kepentingan kelompoknya. Karena itulah –sekali lagi— yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, atau yang hancur remuk hidupnya digilas kemiskinan, menjadi orang-orang yang tersisih dan disisihkan. Sekarang mari kita lihat, di balik gedung-gedung megah itu, di tengah-tengah  hutan beton di kota kita, adakah yang sekarang sedang berujar seperti penggalan sajak Rendra di atas: Janganlah mereka ditinggalkan!

21 Desember 2017

Setelah Muhammad


Asghar Ali Engineer
Seorang reformis-penulis dan aktivis sosial India 
Dikenal secara internasional karena 
karyanya tentang teologi pembebasan dalam Islam

Barangkali dua hal ini agak jauh korelasinya: Rasulullah dan kapitalisme. Tapi, siapa pun yang menghayati sepak terjang kehidupan Nabi Muhammad  Saw., akan berkesimpulan: kelahiran dan keberadaannya adalah suatu momen revolusioner, dan kelak, memiliki dampak serius bagi sistem ekonomi masyarakat jahiliah tempat ia hidup.

Bahkan, bukan saja bagi sistem sosial ekonomi, tapi seluruh sistem kehidupan manusia. Hingga kini.

Ya, hidup Rasulullah adalah antitesa dari kapitalisme. Ide yang belakangan mensegregasi dan memarginalisasi umat manusia ke dalam kelas-kelas subordinat.

Narasi hidup Rasulullah bukan sekadar kisah. Kisah hidup Rasulullah adalah narasi pertentangan. Sejak kecil ia sudah mendapat gelar As Siddiq, suatu kualitas kemanusiaan yang sulit didudukkan di dalam ide kapitalisme. Kejujuran, anak kandung keadilan, mustahil menemukan momentumnya ketika kapitalisme menganut sistem yang bertentangan dengannya.

Kisahnya tentang batu Hajar Aswad menceritakan kepercayaan (al Amin) adalah modal utama bagi keberlangsungan interaktif masyarakat. Integrasi masyarakat hanya mungkin jika pertama-tama setiap kelompok saling percaya.

Di kisah itu, Muhammad muda menjadi penengah bagi suku-suku Quraisy yang saling bertentangan. Dengan mediasi selembar kain, dia dipercaya dan mengajukan cara agar semua pemuka suku punya kesempatan yang sama untuk bertindak sama ketika memindahkan batu Hajar Aswad. Cara yang langka, sekaligus cerdas.

Bukan saja kepercayaan, tapi juga egaliter. Di peristiwa itu, Rasulullah menempatkan semua suku memiliki kesempatan dan kedudukan yang sederajat. Di hadapan Ka’bah, semua orang sama. Tiada kelas lebih dominan atas kelas lainnya.

Kapitalisme  merupakan fenomena khas masyarakat Eropa, fenomena yang datang belakangan jauh setelah masa hidup Rasullullah, tapi model sosial yang sama juga dialami masyarakat Arab saat itu. Selalu ada relasi kuasa  antara seorang bangsawan dan budak, hamba sahaya dan seorang tuan tanah, juga laki-laki dan perempuan.

Tanah Arab di masa Rasulullah hidup adalah tanah yang terbuka, namun juga asing. Makkah adalah pusat sekaligus tempat yang jauh dari horizon orang-orang. Berbeda dari jazirah kawasan “bulan sabit subur”: Mesopotamia, Syiria dan Palestina, Makkah dipenuhi sahara tandus dan gersang. Makkah hanyalah koordinat yang menjadi kawasan singgah saling silang, pertemuan dan kepergian masyarakat Arab.

Bertani adalah pekerjaan yang musykil tinimbang berdagang. Makkah dengan karakter tanah berupa sahara  membentuk struktur kehidupan sosial yang adaptatif dengan perdagangan. Pertemuan antara kabilah-kabilah, singkatnya, mengubah Makkah menjadi kota dagang. 

Otomatis Makkah di dalam tradisi sejarah masayarakat Arab tidak saja didudukkan sebagai kota keagamaan, tapi juga menjadi kawasan yang lambat laun menjadi pasar. Aktivitas yang seketika memformat lahirnya rulling class berupa pedagang-pedagang Arab.

Dengan kata lain, kota yang di dalamnya berdiri Ka’bah, tidak saja ramai sebagai pusat ziarah, orang-orang datang ke sana juga punya satu tujuan: melipatgandakan keuntungan.

Sementara itu, kabilah-kabilah, suku-suku, diikat dengan ikatan yang dalam istilah sosiolog bernama Ibn Khaldun sebagai asyabiah: suatu perasaan intim antara anggota suku melalui ikatan darah. Di bawah kepemimpinan yang disebut “syekh-syekh”, ikatan asyabiah menjelma menjadi dua tipe: masyarakat nomadik (badawah) dan masyarakat menetap (hadarah). Dua tipologi yang ditandai Khaldun sebagai masyarakat gurun dan masyarakat perkotaan.

Makkah dengan begitu juga kota yang mendudukkan bangsawan sebagai kelas elit masyarakat menetap. Pelan-pelan dengan siklus yang panjang, itu diawali ketika masyarakat nomadik sudah memulai hidup menetap dan memiliki kebiasaan baru dengan mempertahankan otoritas kepemimpinannya kepada tokoh-tokoh tertentu sebagai pimpinannya di sekitar Makkah. Kota yang kelak dituliskan Ibn Khaldun dipenuhi  orang-orang yang mencari kesenangan, dan kemewahan hidup lantaran meninggalkan laku hidup pengembaranya.

Itu artinya, Makkah, secara ekonomi adalah kota yang hidup. Perniagaan adalah cara kota Makkah bertahan dari minimnya sumber daya yang bisa dikelolanya.

Secara politik, otoritas dan wewenang ada di tangan para pemuka-pemuka kabilah yang mampu mengintergrasikan suku-suku sebelumnya, dan tentu para pesohor yang lahir dari sistem ekonominya sendiri: para pedagang.

Di tengah-tengah itulah Rasulullah tumbuh sehari-hari. Situasi yang identik dengan dekadensi moral, carut marut budaya dan saling rebut kuasa politik. Tapi secara kontradiktif, di tengah masyarakat dekaden itu, seorang nabi bakal diutus.

Sampai akhirnya wahyu kenabian yang datang kepadanya adalah tanda yang khas. Tiada nabi sebelumnya yang diutus dari bangsa di luar bangsa Arab. Kenabiannya dengan sendirinya adalah pemutusan mata rantai tradisi. Suatu momen yang disebut Asgar Ali Engginer, seorang ilmuwan sosial India, sebagai momen yang revolusioner.

Itulah sebabnya, kedatangannya bukanlah diperuntukkan bagi kawasan yang terbatas. Wahyu yang diembannya bukan untuk bangsa tertentu seperti nabi-nabi sebelumnya, dia datang bukan untuk kelas tertentu, atau golongan tertentu, melainkan untuk seluruh umat manusia.

Tapi, dia dikucilkan. Agama baru yang diperkenalkannya mengalami banyak hambatan. Terutama dari pemuka suku Quraisy, secara sosial politik, Rasulullah mengajarkan nilai yang sulit diterima tradisi. Dia mengajarkan persamaan hak manusia di hadapan Tuhan.

Dengan kata lain, struktur feodal masyarakat Arab-Makkah saat itu terancam karena ide egalitarianisme yang diperkenalkan Rasulullah.

Tiada tuhan selain Allah. Kalimat ini meruyak tatanan, menimbang ulang kebiasaan-kebiasaan. Mengganti alam berpikir masyarakat Arab-Makkah dengan paradigma yang jauh lebih canggih. “Tiada tuhan” memiliki dampak serius dengan mengubah interaksi masyarakat di bidang ekonomi: tiada lagi patung-patung yang harus disembah, yang berarti tidak ada lagi patung-patung yang diperjualbelikan oleh pedagang-pedagang untuk disembah di rumah-rumah.

Di peristiwa itu bersama sepupunya, Ali As, Nabi Muhammad Saw. sering terlihat menyisir Ka’bah dengan membersihkan patung-patung yang dipajang di atasnya. Tuhan bukanlah apa yang mampu direpresentasikan dari patung-patung tanah yang dipajang dan disembah. Dia tidak menyerupai mahluk dan bukan mahluk. Tuhan bukan eksistensi yang ada akibat transaksi jual beli. Itulah sebabnya, makna “la ilah” adalah hal paling pertama yang diwartakan Rasulullah.

Dengan kata lain, kalimat tauhid itu tidak sekadar mengubah alam berpikir masyarakat Arab-Makkah tentang Tuhan, melainkan juga jauh merembesi dan mengubah total alam tradisi masyarakat Arab-Makkah di bidang sosial, ekonomi, dan politik. Secara sosial dia memutus tradisi perbudakan, secara ekonomi dia menghentikan tuhan-tuhan transaksional, dan secara politik dia mengubah hubungan tuan dan budak.

Beberapa waktu lalu umat Islam baru saja memperingati kelahirannya. Itu sekaligus cara kita mengindentifikasi diri sebagai umat yang mengakui bahwa kelahirannya tidak sekadar peristiwa biologis semata, melainkan juga sebagai peristiwa ideologis.

Lahirnya Rasulullah sebagai manusia menandai bahwa kelak ia akan menjadi sosok hidup yang menyejarah dan memiliki konsekuensi sejarah. Kelahirannya, menjadi momen pertama suatu risalah bakal menjadi rahmat, hikmah, gagasan, dan semangat, betapa kehidupannya diperuntukkan untuk masyarakat yang berperadaban.

Sejarah Nabi Muhammad Saw. tidak seperti sejarah manusia lainnya. Sejarahnya sejarah revolusioner. Begitu juga kelahirannya bukan peristiwa biasa. Itulah sebabnya, mengapa kelahirannya mesti disambut seperti kelahiran anak-anak bayi manusia. Ia membawa kabar gembira.

Tapi, kabar yang ia bawa kelak mesti didudukkan sebagai gagasan dan semangat ketimbang sekadar tradisi. Suatu kisah hidup berupa antitesis terhadap seluruh tradisi global yang hari ini menjerat umat manusia.

Salam sejahtera atasmu ya Rasulullah.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...