15 Desember 2017

Buku dan Mawas Diri


Rene Descartes 
Matematikawan dan Filosof Prancis 
Ditangannyalah Filsafat Modern lahir
Dikenal dengan adagiumnya: 
Cogito Ergu Sum “Aku Berpikir Maka Aku Ada


BUKU. Ada petitih yang justru terlanjur sering diabaikan: book is a window of the world. Buku ibarat jendela dunia. Dikatakan di situ buku bukan sebagai ”pintu”, mengingat ”jendela” lebih mewakili kegiatan memandang daripada pintu yang menyiratkan suatu jalan kepada suatu ruang. Pintu di situ bermakna jalan atas sesuatu keputusan. Tapi, sebelum sebuah keputusan diambil, seseorang mesti memandang dengan cara menengok, melihat dengan teliti suatu keputusan. Dengan kata lain, seseorang mesti mengambil suatu titik mula melalui ”jendela” atau cara pandang tertentu. Di situ, kata jendela lebih mewakili sikap semacam kehati-hatian, kewaspadaan, dan kecermatan. Seperti sikap ”mencurigai” sebelum berhadapan dengan sesuatu. Ibarat sang pemilik rumah yang mencermati pendatang baru melalui jendela sebelum membuka pintu. Kehati-hatian, dengan kata lain, sikap yang perlu ketika kedatangan sesuatu hal baru yang dianggap tidak familiar. Artinya tidak sekadar kegiatan memandang, tapi ikut pula di situ kewaspadaan, kecermatan, dan ketelitian terhadap segala ihwal yang baru. Dengan kata lain, pepatah itu menganjurkan suatu dunia mesti dilihat pertama kali dengan menggunakan sikap yang mawas diri. Bahkan, setiap dunia mesti dibingkai melalui sekotak pigura jendela: ilmu. Itulah sebabnya, buku lebih identik dengan sebuah jendela: suatu kotak bingkai yangmemberi fokus pemandangan. Dunia, biar bagaimanapun adalah realitas tak terpemanai, di mana di mata manusia, dia tetaplah entitas yang mesti diberikan batas agar mudah dimengerti, dan tak sulit untuk didefenisikan. Barangkali ada kesamaan makna ”jendela” dalam petitih itu dengan arti ”theoria” sebagai asal kata ”teori”, yang berarti ”memandang”, ”melihat”, dan juga bermakna “visi”. Selain bingkai jendela dengan sendirinya memancang batas penglihatan, dia juga --seperti arti teori-- memberikan ”penglihatan ke depan”: sifat prediktif sebagaimana yang dimiliki ilmu-ilmu. Dengan kata lain, dari titik suatu ”jendela”, pertama kali seseorang harus melihat sesuatu melalui gagasan atas, bukan yang lain. Atau dengn semacam sikap yang diperkenalkan filsuf bernama Rene Descartes dengan nama ”kesangsian metodelogis”, suatu cara yang sudah jauh hari diperagakan oleh seorang filsuf Islam. Kini, orang-orang nampaknya mulai kembali menghargai buku-buku seperti mereka mengharapkan lahirnya kehidupan yang baru. Itu berarti tiada dunia sebelumnya selain dipandang melalui sikap yang hati-hati, tidak tergesa-gesa ketika menghadapi suatu soal. Tapi, yang ironi dari itu masih banyak pula orang-orang seperti menolak pandangan dunia dari sebuah ”jendela” dengan tergesa-gesa memasuki sebuah ”pintu” kepastian tanpa pertimbangan: suatu keputusan yang tidak disertai kecermatan dan hati-hati. Di situ sebuah ”pintu” jauh lebih penting dibanding ”jendela”, akibat kehendak buta yang sulit dibendung untuk mencari jawaban. Artinya suatu soal tidak mesti dilihat dengan cara cermat, tidak mesti lagi ditimbang-timbang, dan tidak perlu lagi perlu sikap sabar. Hari ini bagi mereka suatu ”kepastian” jauh lebih penting di balik sebuah “pintu” dari pada sebuah buku yang menawarkan pelbagai macam panorama dunia.


14 Desember 2017

Bagaimana Buku-Buku dihidupkan Kembali


Carlos María Domínguez. 
Penulis dan jurnalis Argentina. 
Ia dikenal salah satunya dari noveletnya “Rumah Kertas”.

KADANG saya terkesima melihat pose foto orang-orang yang sedang membaca buku. Melihat itu, sepertinya khotbah-khotbah agama masa kini tidak lagi dibutuhkan. 

Nampaknya dengan cara foto seperti itu, semua orang diam-diam sedang bergabung dalam persekutuan suci untuk membuat dunia jauh lebih baik.

Dengan foto-foto itu, saya seperti diberikan harapan generasi masa mendatang tidak akan cepat punah hanya dengan kebodohan yang berpangkal dari debat soal jumlah massa dalam suatu pagelaran politik baris-berbaris berkedok agama.

Bukankah itu suatu kemajuan mengingat kita jarang menemukan penulis-penulis yang kita baca tulisannya, kecurian dijepret kamera sedang membaca buku. Mana ada penulis buku mau diambil atau mengambil gambarnya sedang membaca buku! Paling-paling yang kita temukan pose mereka yang sedang merokok, atau menyesap secangkir kopi, atau yang paling sering terjadi adalah pose ketika mereka sedang berbicara di suatu seminar.

Pose orang-orang yang sedang membaca seperti itu mungkin menandai suatu kegairahan tertentu kepada ilmu pengetahuan, dengan alih-alih segera mengambil gambar. Atau bahkan, itu merupakan kegilaan terhadap buku-buku.

Jika layak disebut gila, orang-orang seperti itu nyaris menjadi seperti Carlos Brauer atau seorang Delgado, tokoh karangan Carlos María Domínguez dalam Rumah Kertas yang memiliki puluhan ribu buku hingga memenuhi rumahnya.

Bayangkan Carlos Brauer saja memiliki buku hingga berserakan di kamar mandi. Tergeletak rapi bercampur dengan sabun, sikat gigi, shampo, sikat kloset dst, dst, dst. Bahkan, hingga ke loteng-loteng, yang di mulai dari dapur, juga almari.

Ibarat perpustakaan yang dikatakan Jorge Luis Borges, surga yang diidam-idamkannya berhasil diciptakan Carlos Bruer di dalam rumahnya menyerupai istana yang bergelimangan permata.

Sehingga dengan keadaan rumah seperti itu, kepala seseorang otomatis tersugesti dengan keberadaan buku-buku sebanyak itu. Ahli psikologi dan sosial punya dalil untuk ini: isi kesadaran seseorang sangat bergantung dari lingkungannya. Ingat, manusia juga species hewan yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Buku-buku sebanyak itu bisa memaksa seseorang seketika menjadi pembaca buku. Sehingga berpose foto sambil membaca buku merupakan kegiatan yang agak sulit terhindarkan.

Kadang kegilaan macam itu dibawa juga sampai ke toko-toko buku yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan.  

Walaupun demikian, mereka di satu sisi tidak segila Brauer yang demi mengisi garasinya dengan buku, rela memberikan mobilnya kepada temannya agar memiliki ruang baru untuk menempatkan buku-bukunya. Ini mustahil terjadi mengingat kebanyakan dari mereka belum memiliki garasi.

Tapi itu jauh lebih baik sekali pun itu ironi jika dibandingkan dengan rumah-rumah kumuh yang dindingnya ditempeli koran. Hidup akan menjadi mengerikan dengan dikelilingi dinding koran yang berisi berita politik, kriminal, atau teka-teki silang dengan gambar-gambar porno. Setiap hari terbangun dengan terkepung dinding beralaskan koran  dengan berita yang tak pernah berubah sedikit pun. Sungguh menjemukkan.

Tapi apa boleh buat, kegilaan muncul di mana-mana seperti foto seorang anak-pemulung “kedapatan” sedang membaca buku dalam sebuah lapakan. Ini lebih berharga dibanding berita hoax beberapa waktu lalu tentang seoang pria Jepang yang mati akibat terlindas 6 ton koleksi buku-buku pornonya.

Penelitian lawas di Rhode Island Hospital, Amerika Serikat, berhasil melihat perbedaan mendasar dari dua kelompok balita berusia delapan bulan yang dibiasakan dibacakan buku cerita oleh orang tuanya. Kelompok pertama jauh signifikan peningkatan kosa kata dan pemahamannya dibanding kelompok kedua yang tidak diberikan tindakan yang sama. Cara seperti ini kira-kira di masa depan mampu mencegah anak-anak tumbuh dari gejala berbicara yang belepotan seperti pengalaman salah satu wakil gubernur di tanah air.

Sekarang coba bayangkan jika semua anak-anak dibiasakan dengan cara demikian, kemungkinan besar di masa mendatang tidak akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang mudah digerakkan dan berduyun-duyun datang dari pelbagai tempat dan mau dipimpin oleh orang-orang yang mirip seperti penjual obat.

Di satu sisi tentu ini hanya mungkin jika para orang tua sebelumnya memiliki kebiasaan membaca yang baik pula.  Sehingga mustahil untuk hari-hari esok kita tidak gampang lagi menemukan anak-anak atau bahkan seorang remaja yang berjempol gempal dengan volume otak tidak lebih besar dari kacang polong.

Lalu, bagaimana buku-buku dapat terus hidup? Saya kira jawaban pertanyaan ini tergantung dari pertanyaan semacam ini: bagaimana agar Anda dapat terus hidup?

“Os livros mudam o destino das pessoas.” Buku mengubah takdir hidup orang-orang.

---

*Kutipan diambil dari buku Rumah Kertas

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...