12 Desember 2017

TEKNOLOGI.  Eike lupa apa judul film yang diputar kala itu. Tapi garis besar ceritanya masih eike ingat: tentang kehidupan manusia yang dimanja kemajuan teknologi, hingga urusan makan si manusia tinggal duduk bersandar di atas kursi dilengkapi alat menyerupai tangan manusia untuk menyuapinya. Kepada lain-lain, persis seperti saat makan, sang manusia hanya duduk di atas kursi canggihnya dan membiarkan robot-robot dan perangkat mutakhir mengurusi segala urusan yang sebenarnya bisa dilakukan manusia itu sendiri.

Di film itu, dihubungkan dengan panel-panel di bawah kursi, kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada mesin-mesin canggih. 

Film itu, dengan gampang, adalah potret atas fenomena abad milenial ketika kemajuan teknologi menyeroboti sisi praktis masyarakat.  Tapi, juga sebenarnya adalah sisi kognitif manusia.

Di film itu nyaris tak ada tenaga manusia yang dikeluarkan, selain dari pada kemampuan menekan tombol-tombol untuk mengaktifkan mesin-mesin canggih agar berfungsi mengganti seluruh pekerjaannya. 

Secara paradoks, akibat diambil alih mesin berteknologi canggih, semua manusia di film itu menjadi mahluk gempal betubuh gemuk.

Mungkinkah itu ironi? Tapi, justru itu sebenarnya tragedi: sang manusia kehilangan kemampuan manusiawinya, yang asali menjadi hilang, saat tubuh kehilangan ruang geraknya, otot yang menjadi kendur, dan otak yang berhenti bekerja. 

Manusia boleh saja merayakan kemajuan peradabannya, tapi dia tidak bisa bermain-main dengan ciptaan dirinya sendiri. 

Di film itu, sang manusia tanpa disadari menjadi mahluk yang teralienasi dari dirinya sendiri. Agak sedikit menyerupai Marx, manusia tertawan dari apa yang dia hasilkan sendiri. 

Jika film itu dapat disebut potret bagi masa kini, maka dunia hari ini adalah fenomena yang berhasil ditangkapnya. Walaupun tidak sepenuhnya juga benar, tapi garis besarnya masih juga sama: pertautan manusia dengan mesin teknologi nyaris mengambil seluruh pekerjaan manusia. 

Dari itu, di sini kita perlu kembali mendudukkan sejarah kelahiran teknologi ketika diciptakan untuk mengatasi alam dan membantu keterbatasan manusia. Teknologi  dalam kedudukannya yang demikian dinyatakan oleh para ahli sebagai bagian manusia untuk survival. Yakni, ihwal yang masih menjadi satu kesatuan dengan manusia secara alamiah.

Kata Heidegger, teknologi sebagai mode kehidupan adalah cara manusia mengungkap makna Ada, meneroka arti dunia untuk menemukan hal ihwal kebaruan. Arti ini diambil dari makna poesis yang sepadan dengan kata techne itu sendiri sebagai makna dari to create (bagaimana mencipta).

Namun dalam situasi sekarang, teknologi tidak lagi dinyatakan hanya dalam rangka survival, melainkan menjadi praxis teknis yang jauh berkembang menghancurkan fondasi esensialitas manusia. Dia bukan dalam kedudukannya sebagai poetik sebagaimana dalam seni, tapi berubah menjadi “sistem mandiri” yang mengamputasi sisi alamiah manusia.

Teknologi berupa benda-benda canggih, seperti ditunjukkan film itu, memang sangat dominan mendeterminasi manusia. Membuat orang-orang hanya duduk dengan sekotak layar kaca sebagai dunia kehidupannya, persis seperti seorang bayi yang diperlakukan tanpa memiliki kehendak dan kemauan.

Di film itu, nyaris semua kemampuan kodrati manusia luruh dan hilang semata-mata demi kenyamanannya sendiri

Tapi, jauh sebelum digambarkan melalui film itu, teknologi dalam pengertiannya yang paling mengancam adalah apa yang sudah dikemukakan Max Weber di akhir abad 19 sebagai gejala dari rasio instrumental.

Seperti didakukan Val Dusek, teknologi sebagai cara berpikir, diperantarai dengan alur logika rasionalisasi atas tujuan. Efektifitas dan efesiensi, dua hal yang menjadi pokok di dalamnya, adalah faktor utama yang melandasi suatu cara pandang yang kelak disebut cara pandang teknoratis. Cara pandang ini praktis menyingkat, memotong, dan memperpendek suatu proses pekerjaan demi tercapainya tujuan secara intrumental.

Seperti yang dinyatakan Weber, sebagai tanda dari modernisasi, cara demikian juga menandai peralihan daya kerja kognitif manusia menjadi jauh lebih praktis dan pragmatis.

Itulah sebabnya, melalui cara berpikir demikian, benda-benda teknologis diperlakukan dengan cara dalil efektifitas dan efesiensi, bahkan sebaliknya seperti pendakuan Jurgen Habermas secara intensif hukum dan logika teknologi mendudukan rasio manusia menjadi sekadar alat teknis belaka.

Di titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri. Persis seperti yang diceritakan dalam film itu.

Secara apik, pendakuan Habermas juga melihat implikasi rasio yang bekerja dengan sistem kerja teknologi (efektifitas dan efisiensi) dalam memberlakukan ilmu-ilmu. Pendakuannya menyasar kepada bahwa ilmu-ilmu selama ini hanya alat kontrol atas alam. Dengan kata lain, kerja fungsional ilmu-ilmu selama ini hanya demi memenuhi hasrat penundukkan dan manipulasi alam.

Alam dengan kata lain hanyalah objek taklukan daripada ilmu tinimbang dilihat sebagai posisi yang setara dengan manusia.

Belakangan, makna teknologi diidentikkan dengan kemajuan di bidang informasi dan  komunikasi. Melalui jaringan alat komunikasi, manusia menjadi terhubung satu sama lain. Keterhubungan ini ditandai dengan luruhnya batas-batas wilayah geografis. Tiba-tiba dunia hanya sebesar dan semungil telapak tangan.

Di satu sisi hilangnya sekat-sekat secara geografis memunculkan masalah-masalah di bidang kultural, sosial dan politik berupa terancamnya lokalitas masyarakat melalui globalisasi, migrasi besar-besaran akibat konflik sosial, dan pudarnya pesona negara bangsa melalui hilangnya integritas nasionalisme .

Bukan saja itu, majunya dunia informasi melalui basis internet, melalui screen menghilangkan pula batas antara dunia real time (realitas ril) dan dunia maya (realitas simulakrum).

Melalui kemajuan teknologi komunikasi pula, teknologi mendapat dasar kedudukan yang menyatukan beragam komponennya ke dalam satu sistem tunggal. Dilihat dari sisi inilah, teknologi bukan lagi artefak berupa benda-benda ciptaan manusia, melainkan secara integral sudah menjadi sistem kebudayaan manusia.

Masa kini teknologi sebagai artefak tidak lagi sebatas instrumen peradaban untuk memahami dan mencandrai dunia. Secara ontologis teknologi telah meluas dan membentuk dunianya sendiri. Dengan kata lain, secara teknis fungsional teknologi tidak saja terkait langsung pengalaman kongkrit manusia, melainkan dirinya menjadi “tatanan” dunia baru yang berjarak dengan manusia.

Tepat di titik itulah, sebagaimana cerita dalam film The Matrix, kita mesti bertanya-tanya, di mana posisi manusia dalam kebudayaan teknologis saat ini: diakah yang menjadi subjek otonom atau sebaliknya, teknologilah yang berbalik memperalat manusia?

Eike rasa jawabannya kita sudah sama-sama tahu: di titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri.

04 Desember 2017

Meneroka Tutur Jiwa

--Apresiasi Kritis atas buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf

Tutur Jiwa
Pertama, pendakuan Alwy Rachman berkaitan dengan penamaan bentuk dan gaya kepenulian dalam buku terbaru Sulhan Yusuf “Tutur Jiwa” yang disebutnya “literasi paragraf tunggal” nyatanya tidak memberikan signifikansi apa-apa selain –menurut hemat penulis- hanya untuk membedakannya dengan bentuk atau gaya kepenulisan lainnya. Dengan kata lain, penamaan ini hanya berupa hipotesis akibat belum teruji melalui pelbagai forum pembicaraan selain daripada penilaian sepihak Alwy Rachman.

Kedua, walaupun demikian, “Tutur Jiwa” dapat diteroka bukan saja dari sekadar perilaku tulis paragraf tunggalnya, melainkan sisi lain berupa gaya kepenulisan epigram yang berisikan nasihat, petunjuk dan petuah-petuah untuk melakukan hal-hal yang dianggap baik.

Eike berusaha berhati-hati memberikan pegamatan terhadap buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf. Pertama soal objektifitas. Kedua, eike harus menempuh semacam jalan "kesangsian" agar tidak terjebak kepada glorifikasi terhadap teks Sulhan Yusuf. Biar bagaimana pun penjarakan terhadap teks Tutur Jiwa bisa meminimalisir pandangan yang bersifat mengelu-elukan sang penulis. Berikut beberapa hasil pengamatan eike setelah menggunakan dua cara di atas.

Totalitarian

Jika relasi Sang Guru dan Han dilihat sebagai dua titik yang berhubungan, maka relasi itu gampang kita katakan tak seimbang. Kenapa demikian? Sederhana, Sang Guru adalah sosok yang maha tahu, maha bijak, dan maha memahami segala soal. Sementara Han, figur pasif tak berdaya jika berhadapan dengan Sang Guru. Ibarat relasi hirarkis, ketika tidak ada persilangan di antara keduanya, maka itu disebut totalitarian.

Penggunaan dialog (kata dialog agak rentan karena dalam Tutur Jiwa tidak satu pun terjadi pertukaran informasi antara Sang Guru dengan Han) dengan kata lain hanyalah strategi. Walaupun cara itu implisit menunjukkan adanya suatu interaksi yang seolah-olah proporsional. Padahal, jika diamati dengan baik, strategi sang penulis justru menggunakan dialog demi mempertahankan semacam relasi yang tidak mudah goyah oleh pertukaran pikiran. Artinya relasi dialogis Sang Guru dengan Han, adalah hubungan yang mempertahankan status quo Sang Guru. Relasi yang secara halus anti kritik.

Dari  cara demikian, Sang Guru menyimbolkan sosok The Big Father yang banyak dicela sebagai pusat, poros, norma, sistem pengetahuan, dan jaringan kekuasaan, yang tidak memberikan kesempatan sekalipun kepada “yang lain” untuk mengemuka dan menyatakan pendapatnya. Itulah sebabnya, mengapa Han hanya figur subordinat menerima begitu saja apa-apa yang disampaikan Sang Guru.

Melalui konteks di atas, “aku” sebagai kata ganti dipakai untuk menunjuk diri Han hanyalah hasil kontrusksi Sang Guru sebagai The Big Father. Han kehilangan otonominya dengan hanya mengamini setiap tutur yang keluar dari mulut Sang Guru. Dengan kata lain, “aku” yang kerap muncul menggantikan Han, hanyalah pseudo-aku, yang tidak sama sekali mencerminkan makna “aku” itu sendiri sebagai subjek yang merdeka dengan mengajak Sang Guru bertikai pikiran.

Alat bahasa

Dari gaya penuturan sang penulis, dapat dilihat bahwasannya strategi literer yang dipakai melalui dialog hanyalah cara untuk menyampaikan pesan-pesan dari mulut sang penulis itu sendiri. Dengan kata lain, Sang Guru hanyalah alat dari sang penulis untuk menyampaikan hikmah-hikmah yang diberolehnya dari beragam kejadian.

Namun di situlah masalahnya, figur Sang Guru hanyalah tokoh imajiner yang menduplikasi sang penulis. Sang penulis dengan posisinya yang demikian, menjadi sosok penutur yang selalu ada dan hadir di balik setiap teks dalam Tutur Jiwa.

Konsekuensinya apa? Sang Guru hanya medium, dan bahasa hanya alat untuk meredam sisi heroisme sang penulis. Meminjam istilah dari A.S Laksana, seorang esais dan cerpenis, perilaku tulis seperti ini disebut sebagai kecenderungan kenabian.  

Kecenderungan kenabian ini menjadi penting karena menurut eike ini salah satu konsep kunci untuk membedakan Tutur Jiwa sebagai teks otonom setelah melewati proses kreatif sang penulis, atau sekadar teks yang diperalat untuk menjadi corong suara sang penulis. Implikasi dari pilihan yang pertama seperti yang didadukan Roland Barthes akan menghilangkan jejak sang pengarang, dengan konsekuensi teks menjadi merdeka.  Implikasi dari pilihan yang kedua, sebaliknya, sang pengarang kerap membuntuti sang pembaca untuk mengarahkan maksud dari setiap tuturannya.

Dua konsekuensi di atas akan bermuara pada “terlindunginya” sang penulis dari kritik, masukan, atau bahkan cibiran dengan mengandalkan kredo the death of author. Dengan kata lain, melalui dalil otonomi teks, sang pengarang kebal kritik akibat bersembunyi di balik teks walaupun di waktu yang bersamaan, sang pengarang itu sendiri masih hadir dalam teksnya ketika menyampaikan pesan melalui mulut Sang Guru.

Syahdan, di bagian akhir (hal. 209), berangkat dari pemahaman Sang Guru dan Han yang sebenarnya adalah orang yang sama, yakni sang penulis itu sendiri, mesti dipersoalkan penasbihan Han yang diangkat menjadi Guru Han oleh Sang Guru. Tindakan ini walaupun terjadi dalam dunia teks “Tutur Jiwa”, malah menguatkan kecurigaan orientasi perilaku “diktator” yang menghinggapi hampir setiap orang ketika menasbihkan dan “memilih” dirinya sendiri sebagai seorang penguasa. Bukankah ini semacam legitimasi untuk mendapatkan pengakuan? Mudah-mudahan tidak. 

---
Dimuat di Harian Fajar, Minggu 3 Desember 2017 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...