BURHANUDDIN. Faktanya belum bisa
entas dalam benak anaknya, Burhanuddin yang saban hari memandikannya dengan
merek sabun yang turun temurun dipakai hingga zaman sekarang. Di atas susun
bilah kayu yang mirip batang kelapa, tiga empat drum penampungan air, dan
dinding kamar mandi dibuat seadanya dari triplek dan bekas karpet plastik. Di
bawahnya saluran air yang anaknya yakin digali tangan Burhanuddin kala masih
muda. Di ujungnya ada galian lubang selebar hampir dua meter, yang dijadikan
saluran akhir pembuangan air. Airnya berwarna cokelat. Kadang di situ tempat
Burhanuddin mencelup mati tikus yang masuk perangkap besi yang dibuatnya
sendiri. Faktanya, peristiwa itu memang masih terekam baik. Saban pagi geliat
tangan Burhanuddin yang meliuk-liuk di tubuh anaknya. Dengan sabun yang anaknya
hafal betul harumnya. Air yang dingin, dan rengekan anaknya yang menolak
dimandikan. Burhanuddin seorang yang sabar. Burhanuddin memiliki kebiasaan
berkumpul dengan teman-teman kerjanya di kala malam tiba. Entah dari mana
datangnya pria-pria berkulit legam itu. Tapi, yang anaknya ingat, mereka senang
mendatangi rumah Burhanuddin demi bermain kartu remi atau domino. Meja-meja
berkaki besi sering kali mereka pakai dengan puntung-puntung rokok yang semakin
malam semakin bertambah. Burhanuddin kala itu perokok yang kuat. Suatu waktu,
anaknya dan Fajar, adiknya, senang mengumpulkan puntung-puntung rokok yang
ditinggal semalaman ke dalam kaleng bekas Blueband. Hampir penuh bahkan. Siangnya,
setelah pulang sekolah, mereka berusaha membakarnya, mengisapnya di dalam kamar
mandi. Tak dinyana Burhanuddin mengetahuinya. Asapnya bergentayangan di atas
kamar mandi yang memang tak beratap. Hari itu, Burhanuddin murka. Kedua anaknya
digantung di terali jendela. Hari yang naas, belaka. Kebiasaan itu tidak
dilanjutkan anaknya, walaupun nanti pergaulan anaknya mengubahnya ketika
sekolah menengah pertama. Burhanuddin dianugerahi tangan yang terampil. Hampir
semua mainan anaknya dia yang membuatnya, termasuk membuat pesawat terbang yang
sepanjang hampir selengan anaknya sekarang. Bobotnya lumayan berat. Anaknya
sering kali menjadikannya sebagai kendaraan layaknya mobil truk. Tangan
Burhanuddin juga diberkahi semacam “mukjizat” tertentu. Belakangan anaknya
menyadari, bakat menggambarnya diwarisi dari tangan “seni” Burhanuddin.
Kesabaran Burhanuddin dilihat anaknya kala ia pergi mengirimkan hasil
menggambar kepada majalah Bobo melalui kantor Pos. Mungkin Burhanuddin merasai
gambar anaknya tak bakalan menang, tapi tetap saja ia pergi mengirimkannya
dengan motor bututnya berwarna merah. Di atas motor butut Suzuki-nyalah juga
yang kelak dipakainya mengebut ketika membawa anaknya ke rumah sakit lantaran
luka akibat terjatuh. Kini luka itu masih membekas di kaki anaknya dengan tujuh
jahitan. Dulu kakak anaknya sering kali mengejek luka itu mirip lintah kering
yang melekat kemana anaknya pergi. Sampai sekarang suara Burhanuddin masih
selantang seperti saat mengimami salat magrib berjamaah. Di waktu ia membangun
rumah baru, kamar Ima, anaknya yang tertua, yang ditinggal setelah dikirim ke
pesantren sengaja dijadikan mushola. Di tempat itu pula, kelak Fajar, anak
bungsunya tercium bau tembakau oleh istrinya. Burhanuddin kembali murka,
apalagi istrinya. Fajar sendirian dihukum walaupun kenyataannya di sorenya
Fajar bersama saudara laki-lakinya sama-sama merokok. Fajar baik ketika itu,
dia menanggung kesalahan saudaranya tanpa melapornya kepada Burhanuddin. Mulai
saat itu daun jeruk menjadi penting. Tanaman jeruk yang ditanam di halaman
rumah mereka akhirnya bermanfaat. Sehabis menghisap rokok, daun jeruk mereka
kunyah demi menghilangkan baunya. Sampai sekarang Fajar sang adik masih
merokok. Tapi, tidak lagi mengunyah daun jeruk setelahnya. Entah tahun berapa
Burhanuddin memutuskan berhenti merokok. Yang anaknya ingat, pembungkus
rokoknya sering dikoleksinya seiring disusunnya berjejer di dinding dekat
jendela. Yang pasti istrinya protes lantaran kebiasaan anehnya. Mungkin protes
istrinya juga sehingga Burhanuddin berhenti merokok. Yang pasti tubuh
Burhanuddin bertambah gemuk pasca memutuskan tidak merokok lagi. Makanya
anaknya sering membandingkan, mengapa tubuhnya masih seperti tubuh Bapaknya
yang ramping setelah tidak merokok lagi. Walaupun, anaknya sebenarnya khawatir
tubuhnya bertambah besar. Tubuh Burhanuddin yang kian bertambah beratnya pernah
terserang penyakit keras. Waktu itu sampai dia tidak mampu berjalan dan
beraktifitas. Hampir berminggu ia sakit keras di atas tempat tidurnya. Seisi
rumah khawatir lantaran sakitnya yang tiba-tiba dan tidak biasa. Hingga
diputuskanlah Burhanuddin harus dirawat di rumah sakit berhari-hari. Anaknya
sangat terpukul ketika melihat ia mesti digendong hanya untuk dinaikkan di atas
mobil. Itu pertama dan terakhir kalinya seingat anaknya, Bapaknya masuk rumah
sakit. Sekarang tubuh Burhanuddin sehat sentosa walaupun umurnya kian menua.
Anaknya sering cemas jika ia berkendara tidak menggunakan jaket. Itu kebiasaan
Burhanuddin yang anaknya lihat sampai sekarang masih dilakukannya. Di hari-hari
tuanya, Burhanuddin masih sering beraktifitas layaknya seorang yang berlatar
belakang pendidikan tehnik. Terakhir, anaknya membantunya mengecat pagar besi
pesanan temannya yang dibuat dan dilasnya sendiri. Anaknya juga melihat,
Burhanuddin membuatkan pesawat yang hampir sama yang pernah dibuatnya untuk
kedua anak lelakinya, kepada cucunya sekarang. Mainan pesawat itu tanpa
disadarinya, membangkitkan kenangan anaknya kepada ribuan hari silam. Di antara
ribuan hari itu, ada satu hal yang paling berkesan bagi anaknya, ketika ia
pulang dari pelatihan di tempat kerjanya selama beberapa hari di Bandung. Itu
peristiwa yang panjang bagi kedua anak laki-lakinya yang ditinggal
berhari-hari. Namun, hari kepulangannya menjadi hari yang istimewa bagi mereka.
Dari atas mobil angkutan diturunkan sebuah sepeda berwarna biru dengan ban yang
masih hitam mengkilat. Siang itu benar-benar spesial. Entah dari mana
Burhanuddin membelinya, kecil kemungkinan dibelinya jauh-jauh dari Bandung,
tapi mungkin juga sebaliknya. Sepeda itu benar-benar kejutan untuk kedua anak
laki-lakinya. Itu hadiah bagi kedua anaknya. Kelak, sepeda itu jugalah yang
membuat Burhanuddin cemas akibat anaknya yang mulai jauh jarak bermainnya.
Sepeda itu membuat kedua anaknya bisa pergi kemana-mana di luar jarak tempuh
hanya jika mengandalkan jalan kaki. Sampai sore hari tiba, cemas Burhanuddin
belum juga lesap. Anaknya masih asyik bersepeda hingga magrib tiba. Sebelumnya,
jika magrib tiba, Burhanuddin bersiap-siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke
suatu pasar yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Di pasar itulah bermukim
sepasang suami istri yang memiliki banyak murid mengaji. Entah info dari mana,
ia mengetahuinya. Yang pasti, jauhnya pasar dari rumahnya ditempuhnya dengan
sabar demi kedua anaknya agar pintar membaca huruf-huruf hijaiyah. Entah
diketahuinya atau tidak, kedua anaknya sering kali merasa takut kepada guru
mengajinya yang super galak. Dari magrib hingga jam sembilan malam tiap hari,
anaknya bersama puluhan anak-anak pasar mengaji di rumah yang sangat sederhana.
Rumah yang ditinggali sepasang suami istri itu dibagi menjadi tiga petak kamar
yang dihubungkan oleh satu lorong. Kamar pertama diisi murid campuran yang
masih pemula, kelas ini diasuh istri sang ustad. Kelas ini adalah kelas yang paling
ribut lantaran isinya adalah anak-anak yang berusia sekira kelas 4 SD. Di
tengah adalah kelas khusus perempuan yang sudah masuk ke tahap “al-Quran
besar”. Di sebelahnya, ruangan paling ujung adalah kelas yang diampu sang suami
khusus para ikhwan yang berusia setara dengan anak lelaki yang sudah siap
disunat. Dua anak lelakinya dititipnya di tempat itu. Tentu dimulai dari
ruangan paling kiri, kelas pemula, walaupun sebelumnya kedua anak lelakinya
pernah dibawanya ke Masjid Nurul Iman untuk belajar mengaji. Tapi di masjid itu
tidak cocok. Metodenya agak kaku dan tidak dinamis. Maka dibawalah kedua
anaknya ke tempat yang berlokasi di dalam pasar Inpres, ke kedua tangan besi
guru mengaji yang lumayan galak. Tapi tidak disangka, kedua anak Burhanuddin lumayan
cepat mengkhatamkan dan lancar membaca huruf-huruf hijaiyah tanpa terbata-bata.
Dengan cepat pula kedua anaknya menyeberang ke ruangan paling kanan, tempatnya
anak-anak yang sudah layak membaca al Quran dengan lancar. Hampir tiap hari
Burhanuddin mengantar kedua anaknya dengan tabah. Selepas isya dia sudah
bersiap-siap menjemput anaknya. Burhanuddin mungkin juga tahu, bahwa di tempat
mengaji anaknya, para murid baru bisa pulang jika selesai melaksanakan salat
isya berjamaah. Yang unik dari prosesi itu, sang guru mengaji akan berjalan
mondar mandir dari depan ke belakang melewati tiap saf mengawasi murid-muridnya
yang malas menjaharkan suaranya. Jika ada murid yang kedapatan tidak
membesarkan suaranya secara serempak mengikuti surah-surah yang dibaca, atau
mengantuk, maka tak segan-segan sang guru mengibaskan rotannya kepada bokong
atau betis muridnya yang malas. Burhanuddin mungkin saja tidak tahu kalau
anaknya sering kali menertawakan teman mengajinya jika melihat temannya
kedapatan mengantuk dan ditempelkan balsem di bawah pelupuk matanya. Jika sudah
begitu, sang anak bakal dipanggil dan mendapatkan juga hukuman dari istri sang
ustad. Burhanuddin sangat senang terhadap kemajuan anaknya membaca al Quran.
Dengan begitu dia tidak repot lagi mengajarkan mengaji kecuali rela menunggu
anaknya pulang bersamaan losmen-losmen kios yang mulai menutup jualan lantaran
malam kian larut. Kini Burhanuddin banyak menghabiskan waktunya di rumah.
Sesekali dia bersenda gurau dengan cucu keduanya. Sembari menikmati masa-masa
tuanya bersama istrinya, dia masih sering mencari kesibukan dengan hal-hal yang
mampu ia perbaiki dari rumahnya. Beberapa tahun lalu, saat cucu pertamanya
sudah dimasukkan ke PAUD, ia masih sering mengantar jemput cucunya seperti
ketika ia masih mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan menggunakan motor
bututnya. Anaknya masih mengingatnya ketika ia pertama kali dibawa ke suatu
tempat bermain yang disadarinya adalah taman kanak-kanak. Burhanuddin pula yang
mengantar dan menjemputnya. Kelak, ia tak akan mengetahui anaknya bakal
menceritakan sepenggal kisah hidupnya di hari yang biasa seperti sekarang ini.
Anaknya yang bertahun-tahun silam dia azani di kedua kuping mungil bayi
laki-lakinya. Anaknya yang dulu dia namai seperti nama eike.
13 November 2017
11 November 2017
"Adalah kata-kata
yang memberi bentuk pada sesuatu yang masuk
dan keluar dari diri kita.
Adalah kata-kata yang menjadi jembatan untuk menyeberang ke tempat
lain
Ketika kita diam, kita akan tetap sendirian.
Berbicara, kita mengobati rasa sakit.
Berbicara kita membangun persahabatan dengan yang lain.
Para penguasa menggunakan kata-kata untuk menata imperium diam.
Kita menggunakan kata-kata untuk memperbaharui diri kita…
Inilah senjata kita saudara-saudaraku."
(Subcomandante Marcos, 12 Oktober 1965)
Eike kira, intelektualisme adalah kata yang hari ini harus terus
diperjuangkan. Jika kata adalah senjata, seperti yang dinyatakan Subcomandante
Marcos, si pejuang nasional dari Mexico, intelektualisme-lah salah satu
senjatanya. Memang agak paradoks, kata sebagai wujud logos disepadankan
dengan senjata, alat yang kerap dipakai untuk melukai, atau bahkan membunuh.
Tapi, apa boleh buat, yang didakukan Marcos agaknya ada benarnya, walaupun
dalam sejarah intelektualisme, di mana-mana tradisi pemikiran seringkali
berhadap-hadapan dengan penggunaan senjata sebagai terornya. Kata-kata
adalah sesuatu yang masuk dan keluar dari diri kita. Ikut membentuk pemahaman
kita terhadap dunia. Kata-kata menjadi jembatan ke tempat lain kata Marcos,
ibarat sebuah buku yang menjadi jendela dunia. Bahkan, kata-kata, berbicara
untuk memperbarui dunia kita, diri kita. Marcos boleh saja percaya kepada
kekuatan kata-kata, sebagai suatu senjata, bahkan. Tapi bagi Platon, filsuf
Yunani antik yang dikenal keras kepala itu berkeyakinan sebaliknya. Kata-kata
hanya selubung, bahkan bayang-bayang. Dia tidak mewakili kenyataan, dan tidak
mampu menggambarkan kenyataan. Itulah sebabnya, Platon menganjurkan
berhati-hati dari kata-kata. Kata-kata bisa menipu. Dia gua yang memerangkap
pengetahuan. Gegar kebudayaan hari ini seperti fenomena yang dinyatakan
seorang sosiolog Amerika, Anthony Giddens: masyarakat sedang berlari tunggang
langgang, merupakan masyarakat gegar kata-kata. Narasi kebudayaan hanyalah
bunyi-bunyi bahasa tanpa makna, tanpa gagasan. Juggernaut adalah istilah
yang dipilih Giddens untuk mengilustrasikan bagaimana kebudayaan masyarakat
bergerak melesat tanpa kontrol. Bahasa sebagai matra kebudayaan, ibarat hewan
buas yang berlari tanpa sepenuhnya bisa dikendalikan. Bahasa
hanyalah lorong kosong tanpa suatu arah pengertian. Kata-kata akhirnya
ibarat jazad bahasa tanpa reaksi. Tergeletak begitus saja tanpa berarti
apa-apa. Narasi, lapis dunia simbolik yang memberikan asupan bagi sang manusia,
seperti yang didakukan Platon, tidak membuktikan apa-apa. Di titik itulah
narasi tidak tampak sebagai senjata. Dia hanyalah desakan tanpa daya. Peluru
tanpa efek. Selongsong kosong yang hampa pengertian. Reflektifitas,
kemampuan itulah yang belakangan kehilangan kedudukan dalam masyarakat a la
juggernaut Giddens. Masyarakat dikepung kata-kata banal,
simbol-simbol, kode-kode yang dekaden membuat setiap orang kehilangan ruang
permenungan. Reflektifitas, digantikan oleh -meminjam bahasa Jean Baudrillard-
simulakrum: dunia imajinatif yang tidak otentik. Itulah sebabnya, mengapa
kita mesti memperjuangkan apa arti intelek itu sebenarnya. Atau, bagaimana
menjadi bagian dari kehidupan yang berbau intelektual. Reflektifitas
dengan kata lain, setidaknya adalah kemampuan daya intelek manusia mengambil
jarak pengetahuan, untuk menimbang-nimbang, menakar kembali atas segala apa
yang telah dicapainya. Itu artinya, usaha mendudukkan intelektualisme
dalam konteks ini, sama artinya dengan membuka ruang reflektif agar terjadi
keadaan pemahaman yang sarat bobot dan bernas. Kadang memang, dari titik
itu semuanya mesti mengambil suatu langkah berpulang, melihat kembali dari
balik punggung kemajuan, tentang segala hal yang dilakukan secara
otentik. Setidaknya, di masa sekarang, daya intelek bukan saja berarti
bekerjanya fungsi kritis manusia, atau kemampuan khas manusia dalam
maksimalisasi peran logos, melainkan menjadi instrumen pembebasan martabat
manusia. Namun, untuk tidak menjadi logos yang sekadar instrumentalistik,
daya intelek mesti bersih dari kepentingan-kepentingan ideologis. Logos pada
akhirnya tidak sebagai ekspresi yang hanya menggambarkan tujuan jangka pendek,
melainkan juga tujuan jangka panjang. Kehidupan pasca kebenaran seperti
yang ditandai dari kacaunya dasar-dasar pemikiran dan betapa longarnya bahasa
dalam merujuk kepada suatu pemahaman, membuat relasi pemaknaan terhadap
kebenaran terhambat akibat-akibat sentimen-sentimen sempit. Di saat itulah daya
intelek manusia harus dimaksimalisasi sampai batas
terjauhnya. Intelektualisme dengan begitu tidak saja sepadan dengan logos,
tapi juga sebagai dasar pengetahuan yang menjadi kebiasaan etis, atau bahkan
politis, karena tanpa itu, belakangan kata-kata hanya menjadi kulit bawang,
seperti yang didakukan Platon, tidak ada inti di dalamnya. Makanya,
kata-kata tidak mudah untuk dipercaya. Dia bisa menjadi gua yang memerangkap
pemahaman, atau sebaliknya, seperti kata Marcos, “kita menggunakan
kata-kata untuk memperbaharui diri kita.” Eike kira dalam kalimat terakhir
itulah, mengapa intelektualisme mesti diperjuangkan.
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...