02 November 2017

Alwy Rachman: Membaca sama dengan Mendengarkan

Eike belakangan ini berusaha merenung-renungkan perkataan seorang budayawan sekaligus sosok penting bagi keberlangsungan pelbagai komunitas Literasi di Makassar, Alwy Rachman, pasca launcing dan diskusi buku Tutur Jiwa karangan Sulhan Yusuf tempo waktu di Dialektika Cafe. Saat itu Alwy Rachman mengatakan membaca adalah mendengarkan, suatu pengertian yang tidak biasa bagi eike. Bagaimana mungkin, membaca yang identik menggunakan indera penglihatan harus diartikan sama dengan mendengarkan, aktifitas yang lebih banyak melibatkan telinga. Kata yang secara literer di pengertian Alwy Rachman, seketika sepadan dengan bunyi.

Apakah ini sama berartinya bahwa tradisi literasi yang mendasarkan dirinya pada tradisi tulisan tidak berdampak signifikan terhadap masyarakat tinimbang tradisi lisan? Ataukah membaca sebenarnya tidak seperti pengertian hari ini yang hanya menyasar dimensi kognitif daripada mendengarkan yang lebih radikal menelusup hingga dimensi kejiwaan manusia? Atau jangan-jangan pengertian dari Alwy Rahcman yang dikatakannya malam itu adalah suatu strategi membaca untuk menemukan arti mendalam dari karangan yang kala itu berkaitan dengan buku Tutur Jiwa Sulhan Yusuf?

Namun ada clue yang dibeberkan Alwy Rahcman malam itu berkaitan dengan pengertian membaca. Membaca sama artinya dengan mendengarkan hanya bisa terlaksana jika melibatkan kepercayaan. Alwy Rachman mendaku, kepercayaan adalah kunci dari mendengarkan. Mendengarkan kata Alwy Rachman adalah pemberian kepercayaan kepada orang yang akan kita dengarkan suaranya. Dengan kata lain, tanpa kepercayaan sebelumnya, sulit bagi orang-orang mau mendengarkan perkataan dari orang lain.

Eike kira ilustrasinya juga dapat dipahami melalui aktifitas mendengarkan itu sendiri yang ikut menghadirkan orang yang bertutur sebagai wujud pentingnya. Berbeda dari membaca, mendengarkan mengharuskan kehadiran sang sosok sebagai satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan untuk menerbitkan pemahaman.

Suara dari sang sosok sangat menentukan dalam suasana mendengarkan, seperti sepenting “wajah” sang sosok sebagai bagian dari dasar pemaknaan. Mimik muka, gesture tubuh, warna wajah, pandangan mata, gerakan bibir adalah unsur fundamental dalam hal ini. Dengan kata lain, mendengarkan berarti sekaligus mau menerima personalitas sang sosok sebagai sumber pemahaman.

Sementara membaca, memiliki konteks pemaknaan yang berbeda. Membaca bukan mendasarkan dirinya pada bunyi teks, melainkan teks itu sendiri sebagai unsur terpentingnya. Artinya, teks tanpa bunyilah yang ditangkap di saat membaca. Di saat demikian, berarti pemaknaan atas suatu teks adalah suatu pengertian tanpa harus mengikutkan personalitas sang penutur atau sang sosok di balik teks. Dalam literasi kesusastraan kontemporer, sang penutur menjadi absen pasca teks diciptakan. Sang pengarang sudah mati kata Roland Barthes.

Itulah sebabnya mengapa Alwy Rachman lebih memilih cara membaca dengan mendengarkan “suara” penuturnya. Membaca yang baik adalah dengan cara mendengarkan sang penuturnya langsung. Membaca sama artinya dengan mendengarkan karena kita mau percaya kepada budi pekerti sang penutur. Tidak sekadar percaya kepada kata-kata, daku Alwy Rachman.

Dengan strategi demikian, eike menganggap Alwy Rachman sebenarnya sedang menghidupkan kembali strategi penuturan yang ditemukan dalam tradisi kelisanan. Melalui cara itu, seperti yang dikatakannya, Alwy Rachman dengan sendirinya menyeleksi kata-kata melalui kategorisasi mana kata yang hanya sekadar bunyi tanpa arti, dan yang mana sebenarnya-benarnya bunyi yang membawa pengertian mendalam.

Akhir 2016, demi kepentingan penelitian, eike sempat bertemu Ammatoa, pemimpin masyarakat hukum adat Kajang di Bulukumba. Seperti diketahui sebelumnya, tradisi lisan masih kukuh dipegang masyarakat hukum adat Kajang. Seperti yang dinyatakan Ammatoa kepada eike saat itu, tulisan memudahkan orang akan mengalami kelumpuhan ingatan di suatu titik hidupnya. Tulisan membuat rongga ingatan manusia menjadi tidak fleksibel, tidak berisi, mudah pecah, begitu kira-kira maknanya.

Pasang ri Kajang dikatakan Ammatoa dituruntemurunkan melalui ingatan berdasarkan pengucapan, bukan tulisan. Itulah sebabnya, tidak akan kita temukan selembar pun kitab Pasang ri Kajang selain daripada tersimpan dalam ingatan orang-orang Kajang.

Penuturan lisan dalam masyarakat hukum adat Kajang dengan begitu menduduki posisi penting dalam merawat ingatan. Lisan yang bersandar pada bunyi dan pendengaran sebagai media epistemiknya, merupakan dua hal yang secara kultural mampu mempertahankan komunitasnya melalui suatu kekerabatan tanpa jarak komunikasi yang renggang secara tempat dan waktu seperti masyarakat hari ini.

Orang-orang Kajang berbeda dari masyarakat hari ini yang sehari-harinya mengandalkan tulisan untuk berkomunikasi. Teks menjadi penting saat ini, sebagaimana pentingnya lisan dalam masyarakat era sebelumnya. Secara ambivalen teks memang mampu merenggang sampai batas waktu dan tempat yang panjang. Namun, akibat kehilangan sang sosok dan sifatnya yang mampu memperpanjang usia dan menembus batas-batas fisik, teks malah memperpendek daya ingat. Ingatan orang-orang modern malah mengkerut ibarat kulit jeruk yang mengering.

Sayangnya, di samping itu, cara masyarakat memberlakukan teks hari ini serta merta dengan cara memutus mata rantai pemakanaan yang menghubungkan teks dengan sang penuturnya. Sosok di balik teks diberlakukan tanpa melihat ia sebagai unsur utama dalam menangkap makna di balik teks.

Sang sosok memang bagian periperi dalam tradisi literasi masyarakat modern. Dia bukan pusat, apalagi sumber pemahaman. Makna dengan sendirinya dalam masyarakat sekarang tidak sama dengan kehadiran sang sosok sebagai lawan bicaranya. Dalam tradisi filsafat dan religiusitas, sang sosok seperti jiwa dan Tuhan tidak sendirinya hadir dalam usaha pencarian makna. Hidup seperti proyek pencarian pribadi, tidak harus melibatkan siapa-siapa di dalamnya.

Dalam wacana Deridean, misalnya, sang sosok hanyalah pecahan jejak yang tidak merujuk kepada siapa-siapa. Jika diibaratkan makna, arti dari suatu teks hanyalah menyisakan keterpautan dengan teks yang lain. Ibarat kamus, satu kata membutuhkan kata lainnya untuk menjelaskan dirinya. Dengan kata lain, makna suatu kata tidak pernah ada, selain hanya jalinan penandaan yang tak berujung merujuk kepada teks-teks baru. Sang sosok artinya, tidak pernah ada dalam praktik penandaan Deridean.

Sementara mendengarkan, yang akhir-akhir ini hanya bisa menangkap fhonem (bunyi), bukanlah praktik mendengarkan seperti yang diharapkan Alwy Rachman. Teks hanya sekedar teks, bunyi-bunyian yang lewat begitu saja. Bunyi-bunyian teks yang belakangan dapat ditemukan dalam dunia politik, misalnya, hanya suara bising tanpa kedalaman, tanpa gagasan, dan tanpa bobot.

Dengan maksud lain, mendengarkan sebagai strategi membaca adalah kritik terhadap bunyi-bunyian teks tanpa gagasan. Mendengarkan adalah cara suara ditransformasikan untuk memilih dan memilah bobot dari bunyi-bunyi pelbagai teks selama ini. Lewat aktifitas mendengarkan, kita mampu menelusuri siapa yang layak didengarkan, diterima dan ditolak akibat hanya menghasilkan bunyi yang banal.

Teks menurut eike dalam pemahaman Alwy Rachman, mesti disuarakan, dan didengarkan dalam-dalam. Ibarat wahyu dalam tradisi kenabian, Tuhan lebih memilih “bersuara” dalam kehanifan jiwa nabi-nabinya. Bukan memilih cara lain yang bisa saja berbeda dari “suara” Tuhan.

Sebab itulah bunyi suara sebenarnya begitu penting dibanding teks. Bukan saja penting, namun juga tinggi. Tiada sebenarnya “suara” ilahi ketimbang ia berbicara melalui ketinggiannya sebagai sang sosok, dan “bunyinya” yang ditangkap bagi jiwa-jiwa yang hanif.

Mendengarkan dengan kata lain, mau menempatkan sang jiwa manusia kepada suatu titik yang rendah, hanif, tanpa embel-embel kebesaran. Hanya dengan cara itulah suara mampu menembusi jiwa sang pendengar (pembaca). Hanya melalui itulah pemahaman dapat terbit. Melalui suatu kepercayaan. Melalui suatu pencerahan.

01 November 2017

Literasi Sampai Hati!

Tidak ada percakapan seperti belakangan ini yang getol dibicarakan selain dari pada literasi. Sulit dipastikan siapa yang memulainya menjadi percakapan publik sekaligus untuk menandai semenjak kapan literasi menjadi omongan banyak kelompok masyarakat. Namun, selain elit sastrawan dan ilmuwan yang selama ini secara terbatas menyokong pembicaraan ini melalui kelompok-kelompok kecil terbatas, literasi itu sendiri sudah semakin luas dibicarakan di hampir semua level masyarakat selama kurang lebih tiga tahun belakangan ini.

Tak bisa dimungkiri, belakangan literasi juga masuk menjadi isu utama bagi kalangan mahasiswa. Walaupun agak fatal dan terlambat, literasi memang mau tidak mau harus didorong ibarat gerbong tua agar mampu berjalan cepat dan berdampak efektif terhadap berubahnya paras pengetahuan kita.

Disebut agak fatal menurut pengalaman eike, akibat literasi diberlakukan sebagai tema baru dan bukan senyawa yang mudah menyatu dengan dunia akademik kemahasiswaan. Padahal, literasi sebagai suatu tradisi keilmuan adalah pekerjaan yang inheren dalam dunia perguruan tinggi. Dengan kata lain, dua kemampuan dasar dari literasi, yakni kemampuan mengolah informasi bacaan dan mengolah tulisan, adalah pekerjaan utama dalam dunia pendidikan tinggi.

Riset, seminar, workshop, diskusi, pembukuan, penerbitan, dan pengabdian adalah kerja ekslusif yang hanya ditemukan dalam dunia pendidikan tinggi yang kesemuanya ditopang oleh literasi sebagai modal utamanya. Disebut ekslusif karena bukan dalam dunia lain-lah kerja-kerja diskursif itu ditemukan. Itu artinya, sebenarnya literasi adalah pemahaman dan kebiasaan yang khas dari pendidikan perguruan tinggi.

Dikatakan agak terlambat karena seharusnya mahasiswa-lah garda paling depan yang menyuarakan literasi sebagai pekerjaan pokok pendidikan. Mahasiswa jika dilihat dari profesinya, adalah kelas masyarakat yang paling mungkin menunjang literasi untuk dikampanyekan. Selain disebabkan literasi yang sebenarnya adalah pekerjaan utamanya, juga hampir  keseluruhan waktu mahasiswa itu sendiri melibatkan literasi untuk menunjang kerja-kerja ilmiahnya.

Beberapa hari lalu, eike diundang suatu organisasi kemahasiswaan untuk membicarakan peran literasi dalam membangun gerakan mahasiswa. Menurut eike agak naif dan sekaligus ambisius jika melihat keterkaitan tema dengan realitas faktual tradisi keilmuan mahasiswa hari ini. Kenapa disebut naif, karena alasan di atas tadi, bahwa masih mengandaikan literasi sebagai bukan bagian dari pengalaman menjadi mahasiswa. Dalam konteks ini, literasi hanya dianggap sebagai penunjang, ibarat serabut akar yang bukan akar tunggal.

Artinya, literasi hanya dipahami secara teknis-metodelogis, bukan tradisi hidup yang membentuk pengalaman kultural perguruan tinggi.

Padahal, yang diharap literasi harus menjadi sebagai kebiasaan yang mendarah daging. Analoginya sepenting oksigen yang mau tidak mau menjadi kebutuhan biologis tubuh agar dapat bertahan hidup.

Eike mengatakan cenderung ambisius karena tidak sebelumnya melihat prasyarat-prasyarat materialnya untuk dikatakan literasi sebagai salah satu faktor dalam menentukan maju tidaknya suatu gerakan kultural kemahasiswaan. Sudah sejauh apakah sarana dan prasarana yang selama ini menunjang agar literasi menjadi kebiasaan bagi mahasiswa. Sudah tersediakah buku-buku, hasil riset, hasil diskusi, video-video inovasi, film dokumenter, makalah, jurna-jurnal, dlsb., yang memudahkan mahasiswa ketika membutuhkan data-data berkaitan dengan tugas-tugas akademiknya?

Dalam kesempatan itu, eike katakan saja, bahwa literasi adalah gerakan mahasiswa itu sendiri. Dia tidak bisa dipahami sebagai hanya penunjang yang bergerak di luar dari pengalaman gerakan mahasiswa, melainkan inti atau substansi yang melekat atau bahkan, ya itu tadi, gerakan itu sendiri.

Itu berarti, literasi dalam skema gerakan mahasiswa harus menjadi gerakan berbasis kultural. Dia mesti bergerak dari bawah dan hidup dari bawah. Dia mesti lahir dari rahim kehidupan sehari-hari mahasiswa itu sendiri.

Itulah sebabnya, eike kurang lebih dari tiga tahun lalu berusaha sebisa mungkin mengkampanyekan literasi sebagai isu kolektif untuk siapa pun agar mau memahami betapa pentingnya membaca dan menulis.

Namun, bukan saja itu membaca dan menulis hanyalah lapis kesekian dari literasi, lapis setelahnya adalah bagaimana menghubungkan dan mengontekstualisasikan beragam pengetahuan dari lapis sebelumnya bagi kehidupan kongkrit masyarakat. Membaca dan menulis, dengan kata lain bukan aktifitas mandiri tanpa sangkutpautnya terhadap nasib ril masyarakat, melainkan merupakan bagian dari tanggung jawab kita untuk ikut membangun masyarakat.

Berkaitan dengan pilihan literasi sebagai tema utama bagi eike selama ini, juga merupakan kritik kultural atas tradisi gerakan kemahasiswaan yang diidentikkan dengan model gerakan ekstraparlementariat. Malangnya, model gerakan ini mempersempit dirinya hanya sebatas jalan raya sebagai ruang pengajuan kritiknya. Sementara jalan raya, kita tahu adalah tempat paling ribut saat ini. Di situ tidak mungkin mendengarkan suara kebenaran. Bising.

Model gerakan jalan raya, sejauh eike ketahui sebenarnya bukan medan asyik untuk mengajukan kritik. Logika tindakan demonstrasi, dari pengalaman eike memang bukan untuk dijadikan sebagai sarana kritik, tapi dia memiliki harapan yang jauh lebih besar dari pemahaman sebagian mahasiswa saat ini, yakni untuk mengubah kebijakan publik.

Itulah sebabnya, barang siapa ingin menggelar aksi demonstrasi mesti memiliki kekuatan yang lumayan dan jauh lebih besar dari yang diketahui selama ini. Kita Harus memiliki gagasan yang kokoh, napas dan semangat yang panjang, strategi dan pengalaman yang sudah teruji, serta jaringan yang kuat dan menyentuh seluruh lini kepentingan, dan bukan saja jumlah massa yang besar.

Juga nampaknya ada yang salah dari paradigma gerakan mahasiswa saat ini. Aksi demonstrasi pada titik tertentu sudah dianggap satu-satunya cara dan tujuan dari kritik. Mayoritas mahasiswa agaknya lupa, demonstrasi hanyalah alat, dan demonstrasi adalah implikasi dari gerakan kultural yang menjadi sumber dan basis gerakannya.

Gerakan kultural itulah yang menurut eike adalah literasi. Melalui literasi, intropeksi panjang dilakukan, juga sekaligus suatu cara menyusun kembali kekuatan intelektual yang belakangan terabaikan. Artinya, literasi menjadi sarana inkubasi seluruh modal simbolik, kultural, kapital, dan struktural dari apa yang dipunyai gerakan mahasiswa untuk diperbarui dan diremajakan.

Harus diakui model gerakan ini cenderung reformis, atau bahkan agak evolusionis. Literasi memang bukan tipe gerakan massa rakyat yang revolusioner. Makanya dia agak kurang disukai bagi mahasiswa yang menyenangi tindakan-tindakan serba praktis dan cepat. Tapi apa boleh buat, untuk kebutuhan jangka panjang kita butuh tulisan yang revolusioner, bacaan dari buku-buku yang revolusioner, dan juga kesabaran yang jauh lebih revolusioner dari apa yang dirasakan selama ini. Ini memang perubahan pola, dari aksi menuju literasi.

Memang, ini gerakan literasi sampai hati!

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...