12 Oktober 2017

Keberanian Sipil
Sepertinya tidak cukup hanya keberanian teologis, atau keberanian filosofis yang dibutuhkan saat ini. Melainkan suatu keberanian yang disebut keberanian sipil. Je boleh saja memiliki keberanian teologis menyatakan iman religius dalam masyarakat pasca-kebenaran, atau memiliki kebebasan menyatakan keberanian berpikir melalui pernyataan-pernyataan cerkas di media sosial, tapi sejauh je belum melihat keberanian secara sipil, itu berarti tidak cukup untuk mengawal agenda-agenda penting dalam konteks masyarakat demokrasi modern. Belakangan banyak keberanian literasi yang meng-cover dua keberanian di atas, namun belum banyak yang mau mengawalnya dalam kerangka sipil. Keberanian sipil eike kira mesti dipahami dalam konteks politik secara legal formal. Itu artinya bukan saja secara teologi dan pengetahuan kebebasan itu dijamin hak dan kewajibannya, namun juga secara politik dan legal formal setiap kebebasan yang dimiliki individu dijamin dan dilindungi kedaulatannya. Keberanian sipil menurut eike berbeda dari keberanian teologis yang melibatkan sistem teologi-metafisika tertentu di belakangnya, melainkan keberanian sebagai warga negara yang mendasarkan dirinya terhadap aturan main kenegaraan. Secara praksis, keberanian teologis dan keberanian sipil tidak terlalu memiliki perbedaan, namun dari sisi epistem dan pendasaran politiknya sangatlah berbeda. Keberanian sipil adalah jenis keberanian yang spesifik didasarkan kepada etika kewarganegaraan dan kepublikan. Itu artinya, keberanian ini hanya dapat eksis jika seseorang mampu menuntut hak-haknya sebagai warga sipil di hadapan negara karena memiliki kedaulatan secara politik dan legal etis. Keberanian sipil dengan begitu setara dengan tindakan itu sendiri. Tiada kebebasan selain dari pada tindakan. Ini adalah karakter dasar dari konsep yang membedakannya dengan kebebasan teologi-filosofis yang diandaikan bersifat metafisis-abstrak. Kebebasan hanya bisa merekah melalui tindakan. Itulah prinsip dari keberanian sipil. Bahkan, keberanian sipil adalah tindakan itu sendiri. Menurut eike, dalam konteks melemahnya masyarakat sipil akibat dua kekuatan konservatif: fundamentalisme agama dan militerisme, keberanian sipil sangatlah diperlukan di dalam menyuarakan aspirasi dan kerangka nilai yang dianut oleh kelompok masyarakat. Itu artinya, keberanian sipil adalah prasyarat dari masyarakat sipil. Dengan kata lain, keberanian sipil-lah yang menjadi dasar moral dari masyarakat sipil itu sendiri. Karena itulah penting kiranya masyarakat memiliki keberanian sipil dalam rangka mengkritik tindak tanduk person, golongan, kelompok, atau bahkan negara jika ada yang melenceng dari etika publik dan kewarganegaraan. Hanya melalui tindakan yang diacu ke dalam kedaulatannya kritik itu dibangun. Itu artinya, secara politik legal formal, tindakan itu sendiri dijamin kedaulatannya melalui wahana politik kewarganegaraan. Malangnya, di sisi lain, eike kira contoh poligami oleh ustad Arifin Ilham bisa dijadikan contoh bagaimana melemahnya keberanian sipil dalam mengkritik polah ulama yang menyalahi etika publik. Akan sangat tidak elok jika urusan privat dinyatakan ke dalam urusan publik, atau sebaliknya. Dalam urusan kenegaraan, pencampuran antara "yang privat" dan "yang publik" adalah biang keladi dari munculnya penyakit korup yang merongrong sendi-sendi kehidupan publik. Dalam kasus ini keberanian publik untuk mengambil sikap kritis terhadap polah seseorang atau kelompok yang mencampuri urusan publik dengan urusan privatnya sangat diperlukan demi menjaga agar "yang publik" dapat terhindar dari urusan privat. Keberanian sipil juga diperlukan dalam konteks ketika mengerasnya polah pemimpin yang korup dan secara bersamaan mendapatkan legitimasi secara kultural dari nilai-nilai agama tertentu. Tidak bisa dipungkiri kasus Habib Rizieq misalnya adalah tidak adanya keberanian sipil untuk melihat kasus ini dalam kerangka konstitusi negara akibat masih kuatnya paham agama yang menetralisir "kesalahan" secara kepublikan akibat nilai agama itu sendiri. Itulah sebabnya, barang siapa melibatkan agama, maka dia akan kebal secara publik, walaupun secara legal formal seseorang dinyatakan bersalah. Hal ini setidaknya akibat masyarakat yang belum mampu menelaah soal-soal kepublikan dari perbedaannya dengan aturan main agama. Kuatnya maindset terhadap agama dan tidak diakuinya aturan legal formal sebagai aturan main kepublikan, juga menyebabkan masih sulitnya menciptakan keberanian publik dalam kehidupan masyarakat sipil saat ini. Keberanian sipil juga dirasa sangat diperlukan dalam menyuarakan hak-hak kewarganegaraan dari golongan minoritas yang didiskriminasi oleh kelompok mayoritas atau negara itu sendiri. Tanpa itu, kasus-kasus yang menimpa semisal kelompok Ahmadiyah, Syiah, korban G30SPKI, LGBTQ, yang selama ini diperlakukan semena-mena tanpa melihat hak-hak dasar dan hak-hak politik dan kewarganegaraannya hanya akan menjadi masalah bulan-bulanan tanpa ada proses penyelesaiannya. Terakhir, eike malah mengingat Machiavelli sebagai sosok yang merintis jalannya suatu pendasaran politik untuk merumuskan suatu tatanan masyarakat sipil berbasis kedaulatan negara. Dari pemikirannyalah secara kedaulatan masyarakat menemukan dasar moral-politiknya untuk menyatakan kebebasan secara sipil. Dengan kata lain, kebebasan sipil dinyatakan secara khas oleh Machiavelli sebagai kebebasan non dominasi. Itu artinya kebebasan sipil juga berarti tak ada dominasi atas dari golongan apa pun. Dan dengan cara seperti itulah keberanian sipil dinyatakan. Baiklah, awalnya eike tidak berkeinginan tulisan ini menjadi panjang seperti ini. Khawatir malah akan berbelit-belit. Dan, malah je menjadi bosan sendiri. Eike akhiri saja.

09 Oktober 2017

PB Syndicate
PB Syndicate
Momen seperti inilah yang eike kira mesti dipertahankan. Kelak, yakin dan percaya, momen-momen seperti ini yang bakal memberikan dan menjadi fondasi intelektual ketika je sekalian sudah melakoni beragam pengalaman kemanusiaan. Mau apalagi, eike harus berterus terang, kampus hari ini tidak banyak memberikan kemungkinan pengalaman yang lebih diskursif. Kebanyakan pengalaman belajar dalam kampus ibarat panggung sirkus yang berisi pawang singa dan gerombolan singa jinak yang mangut di ujung tongkat sang pawang. Sementara pengetahuan ibarat instruksi kepolisian yang tidak memberikan pilihan lain selain menjadi tersangka. Pendidikan a la kampus sekarang menurut eike lebih menyerupai apa yang dinyatakan Bourdieu sebagai penjajahan dengan gaya halus. Penyelenggaraan pendidikan di kampus umumnya bukan hal yang merangsang jiwa ingin tahu mahasiswa, melainkan menjadi ancaman yang menyiutkan nyali kritis mereka. Akibatnya, pendidikan kampus seperti pabrik pencetak kue. Bentuk dan macamnya mirip seratus persen. Berkenaan pengetahuan dengan motif ideologis di balik paham pendidikan, tak perlu eike jelaskan di sini. Je sudah pasti banyak mendengar tentang analisis Michele Foucault, Ivan Illich, atau Paulo Freire yang banyak menelaah secara kritis penyelenggaraan pendidikan beserta paham di belakangnya dalam setting masyarakat kapitalis. Kalau je belum banyak tahu, gugling saja sekalian. Lebih praktis, seperti gaya belajar mahasiswa masa kini. Sementara organisasi-organisasi kemahasiswaan sekarang memang dari kulitnya tampak kelihatan garang, tapi sebenarnya garing. Tak banyak harapan muncul dari sana. Kolektifitas organisasi di tangan generasi milenial akhir tidak tampak memperlihatkan organisasi yang mampu meng-cover kebutuhan mahasiswa generasi Z yang jauh sangat berbeda dari mereka. Itulah sebabnya, kesenjangan dari sisi pilihan-pilihan ideologis nampak benderang dalam dua generasi berbeda yang berbagi medan pengalaman sehari-hari yang sama. Kebutaan dalam merumuskan pengalaman bersama atas generasi milenial bagi senior-senior mereka adalah kegagalan pertama mengubah tradisi kemahasiswaan menjadi adaptabel dengan semangat zaman. Yang miris, pola-pola lama dari segi pengalaman, praktik berlembaga, visi pengetahuan, dan pilihan-pilihan ideologis masih menggunakan tradisi 90an yang sudah tidak cocok dengan minat mahasiswa generasi mutakhir. Sudah tentu idealisme mahasiswa generasi Z sangat bertolak belakang dengan generasi Y atau bahkan generasi X. Pengalaman hidup mereka sangat berbeda. Apa yang hari ini disebut idealisme sudah memiliki pemaknaan yang lebih baru dan variatif di tangan generasi Z. Idealisme di tangan mahasiswa generasi Y dan Z di waktu silam ibarat air kelapa yang mesti dijaga kemurniannya. Kini, apa arti idealisme bagi mahasiswa generasi Z? Tapi, memang idealisme itu masih ada. Ia tidak bisa diartikulasikan dari lisan dan gaya berpikir mahasiswa-mahasiswa produk zaman tua. Juga, bukan yang berasal dari dunia pengalaman senior-senior mereka. Melainkan idealisme itu harus dirumuskan sendiri oleh mahaiswa-generasi Z itu sendiri. Karena itulah model dan gaya, sampai bentuk organisasi harus segera dirumuskan sendiri oleh generasi Z. Jika keputusan penting organisasional masih dipegang generasi tua sudah seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini. Itu pun dengan syarat generasi tua harus legowo membuka barisan baru. Menghilangkan superioritas egonya atas mahasiswa-mahasiswa kekinian yang lebih maju dan fresh. (Sudahlah, eike mesti katakan masa-masa je sebagai senior tanggung sudah mulai habis dan bahkan bukan zamannya lagi. Lapangan je jauh lebih luas hanya sekadar teritori kampus. Je sebagai senior harus keluar pagar. Tempat je di dunia yang lebih luas hanya dari pada kampus. Berkarya-lah di dunia yang lebih "nyata"). Harus ada organisasi yang bisa menyerap aspirasi, semangat, dan gaya berpikir mahasiswa zaman sekarang yang nampak cuek bebek, individualis, hedonis, dan pragmatis. Juga, eike kira ini juga penting, adalah perlunya dosen-dosen memahami selera dan kecenderungan belajar mahasiswa mutakhir. Generasi Z adalah generasi yang khas abad kontemporer, mereka cenderung terbuka, dan lebih peka dengan geliat zaman milenial. Itulah sebabnya, jika je adalah dosen, penting untuk mengubah gaya belajar mengajar di dalam kelas. Mahasiswa generasi Z adalah mahasiswa yang sulit dirumuskan dengan etika lama. Mereka mesti diberikan pendekatan baru, gaya yang lebih adaptabel dan kreatif. Terakhir, ini yang sebenarnya eike ingin katakan, komunitas kreatif itu penting. Sepenting je merasakan jatuh cinta. Karena itu pandai-pandailah mengelola perkumpulan macam begini. Apalagi melihat kecenderungan mahasiswa generasi Z yang jauh berbeda dari karakter dan selera je sekalian. Mesti ada yang berubah.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...