19 Juli 2017

Narasi Imajinasi-sains Nirwan Ahmad Arsuka

Bagaimana mungkin dunia pada hakikatnya adalah narasi?

Tapi, begitulah yang dibilangkan Nirwan Ahmad Arsuka di suatu diskusi menjelang ramadan di Cafe Dialektika yang digelar Paradigma Institute Makassar. Dunia jika dikuak intinya, tiada lain adalah narasi.  Segala sistem pengetahuan manusia, entah itu filsafat, kosmologi, atau bahkan sastra, dibangun di atas sebuah narasi. Melalui “lidah” manusia, alam semesta mewujudkan dirinya melalui kisah.

Atau dengan kata lain, sepanjang manusia menciptakan narasi tentang hidupnya, maka sebenarnya itu adalah cara alam semesta mengungkapkan dirinya di hadapan manusia.

Suatu puitika-kah ini?

Meminjam kategori waktu Heidegger tentang destitute time, manusia di sepanjang sejarahnya selalu berusaha untuk menemukan orisinalitas dirinya di hadapan alam semesta yang melingkupinya. Segala upaya ilmu pengetahuan, yang juga dikatakan Nirwan sebagai percakapan dengan semesta, merupakan bentuk dasariah manusia menemukan relasi eksistensial antara dirinya dengan seluruh eksistensi yang mengitarinya.

Sesungguhnya apa yang dikatakan Nirwan sebagai percakapan dengan semesta merupakan pemapatan atas sejarah panjang manusia ketika mengekspresikan dirinya. Di dalam waktu, dengan waktu, dan melalui waktu, manusia “menyelam” di antara dan di dalamnya. Mencari hubungan kebermaknaan di antara relasi yang mereka ciptakan sendiri melalui konfirmasi dan afirmasi terhadap alam semesta demi menunjang kehidupannya.

Diperantai imajinasi, dimulai dari pemikir paling awal, sejarah kebudayaan manusia bergerak di antara pemahaman bahwa alam semesta memiliki archetype berupa air, udara, api, atom, hingga kebudayaan modern menyebutnya gelombang, demi mencari hakikat alam semesta di dalam kebudayaannya.

Dengan kata lain, percakapan dengan semesta adalah pekerjaan yang sudah dan sedang berlangsung hingga kini.

Kekuatan imajinasi, belakangan banyak ditemukan di setiap kebudayaan-kebudayaan masyarakat. Dimulai dari peradaban kuno Sumeria hingga abad modern, imajinasi adalah kekuatan paling fondasional yang membentuk kehidupan bersama.

Kaitannya imajinasi dalam narasi, dikatakan Nirwan juga dimiliki oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan epos I la Galigo-nya. I la Galigo dalam konteks masyarakat Sulawesi Selatan merupakan satuan pengetahuan kosmologi manusia Bugis untuk mengidentifikasikan dirinya dengan alam semesta. Melalui I la Galigo, alam semesta diimajinasikan dan diposisikan sebagai sistem penjelas bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Bugis-Makassar.

Itulah sebabnya, Nirwan mengatakan, peradaban yang tidak ditopang dengan narasi lambat laun akan berbalik punah. Tidak ada peradaban di mana pun tanpa narasi sebagai inti fondasionalnya.

Kebudayaan yang ditopang dengan pendidikan jika mesti direvolusi, dikatakan Nirwan juga mesti menempatkan narasi sebagai faktor utama agar manusia dapat bergerak maju. Bahkan Nirwan menyatakan bahwa kemampuan membuat dan memahami narasilah yang mesti dikembangkan di dalam sistem pendidikan. Melalui narasi, manusia diberikan peluang untuk mengembangkan imajinasinya. Bahkan, melalui imajinasi, manusia mampu menemukan dan menciptakan kenyataan baru demi mengatasi hambatan-hambatan yang dialaminya.

***

Malam itu, diskusi yang dikemas untuk memberikan apresiasi terhadap bukunya yang terbit beberapa tempo yang lalu, banyak menarik perhatian anak-anak muda Makassar yang banyak berkiprah dalam dunia literasi dan filsafat.

Salah satu yang menarik dari pokok diskusi Nirwan adalah konsep tiga dunia (Three Words) yang diperkenalkan Karl Popper di tahun 1978. Pidato yang dibacakan di Universitas Michigan itu membentangkan tiga tingkatan tatanan dunia secara ontologis berkenaan dengan dunia pengalaman manusia.

Berdasarkan pemahaman Karl Popper, dunia pertama adalah dunia fisik manusia yang terbentang di dalam medium ruang dan waktu. Segala apa yang tampak secara fisik merupakan bagian dari dunia pertama. Dunia kedua adalah dunia mental yang dimiliki manusia dalam perasaan dan dan proses berpikirnya. Sementara dunia ketiga adalah dunia objektif segala hasil pemikirian manusia berupa tamsil dari dunia seni, teknologi, filsafat dan agama.

Ketiga dunia ini disebutkan Popper saling berinteraksi dan saling memediasi sebagaimana misalnya dunia pertama hanya bisa berinteraksi dengan dunia ketiga melalui dunia kedua. Itu artinya, peran mediasi bahasa, yang dinyatakan sebagai objektifikasi mental manusia dari dunia kedua dan dunia objektif dunia ketiga sangatlah mendasar.

Itulah sebabnya Nirwan sangat menekankan betapa pentingnya sastrawan, atau orang yang bergerak dalam dunia bahasa banyak-banyak menggunakan pendekatan dunia ketiga ketika mengeksplorasi karya-karya pemikirannya. Dengan mengeksplorasi dunia ketiga, akan banyak memungkinkan bahasa selain menjadi medium pemaknaan, juga mampu memberikan kesan lahiriah yang bukan saja retoris estetis, tetapi juga mengandung kedalaman makna yang berbobot.

Hubungan dialektis, menurut Nirwan adalah kunci dari interaksi antara kategori-kategori yang bersifat fisikal dengan dunia imajinasi ketika ingin menghasilkan dunia ketiga, dunia objektif dalam pemikiran Karl Popper. Dengan kata lain, Nirwan mengatakan dunia yang baik adalah dunia yang senantiasa dibangun dengan imajinasi yang senantiasa berkembang untuk jauh lebih luas dari kenyataan.

Dari hubungan semacam inilah, yakni ketika setiap imajinasi berkembang lebih jauh dari kenyataan yang terjadi, maka perubahan dimungkinkan terjadi.

Gairah untuk menaklukkan kenyataan melalui imajinasi, dinarasikan Nirwan sebagaimana Karaeng Pattingalloang di beberapa abad lalu ketika ingin memesan bola dunia dari Keluarga Bleau di tahun 1644 dari dataran Eropa yang tidak pernah dibayangkan pembuatnya sekalipun. Dalam kasus Karaeng Pattingalloang, imajinasi tentang bola dunia yang belum pernah dipikirkan menduduki posisi yang sentral ketika “mengintervensi” dan “menciptakan” kenyataan baru.

Dengan kata lain, imajinasi yang dipercakapkan Nirwan bukan sekadar sekumpulan gambaran konseptual tentang sesuatu yang dipunyai manusia tentang kenyataan tertentu, melainkan upaya pelampauan kenyataan untuk mendorong terjadinya kenyataan baru dengan cara memperkarakan batasan-batasan yang selama ini diciptakan sendiri oleh umat manusia.

Artinya, kalau bisa dikatakan tidak ada yang tidak mungkin selama itu mampu dimajinasikan sejauh alam pikiran manusia. Bukankah kenyataan selalu dimulai dari narasi?

---

Terbit juga di Kalaliterasi.com

15 Juli 2017

The Heart is a Lonely Hunter, Carson Mc Cullers

Nasib adalah kesunyian masing-masing. Chairil Anwar

Di New York Café, Jake Blount, dengan mulutnya yang sering kali berbau gin atau bir, bakal menemukan pendengarnya yang paling setia: Dari mulutnya dia sering kali  membicarakan dunia yang tidak adil, pikirannya, sistem kapitalisme di mana pun selalu membuat orang-orang mengalami kehidupan yang terlunta-lunta. Membaca The Heart is a Lonely Hunter adalah membaca kisah orang-orang yang kesepian. Hidup di suatu kawasan yang terpinggirkan. Kehidupan masyarakat di kepung pabrik-pabrik. Perbedaan ras, dan pekerjaan yang menyita waktu tidak lebih dari 12 Dollar. Begitulah kisahnya. Segalanya di mulai dari jiwa-jiwa kesepian yang saling berinteraksi di sebuah kafé kecil di pinggiran kota. Kisah orang-orang yang terkucil dari lingkungannya. Suara-suara yang sering kali dipinggirkan begitu saja. Jake Blount seorang sosialis yang tidak diketahui asal usulnya, Biff Brannon sang pemilik kafe yang ditinggal istrinya yang mengalami kesepian kasih sayang, John Singer sang bisu yang kerap dianggap orang paling tenang tempat semua orang merasa dipedulikan, Mick Kelly gadis 12 tahun yang tumbuh dengan gaya tomboy dan tidak pernah jauh dari dua adiknya, Spiros Antonapoulus si Yunani yang gila, dan Benedict Copeland, dokter kulit hitam yang hidup di masa yang salah. Setiap jiwa adalah pemburu-pemburu kesunyian. Carson Mc Cullers menarik siapa pun yang membaca novel ini dengan tanpa terhindari dari jiwa yang selama ini terabaikan. Kita barangkali merasai sehari-hari tak ada yang luput dari pembicaraan, setiap kepala memilih mengutarakan semua isi kepalanya. Mengatakannya berulang-ulang, kepada semua orang. Tanpa henti-henti. Akhirnya semuanya sesak, dan setiap orang merasa telah menemukan kehidupan yang mampu menyelesaikan persoalan. Namun tanpa kita sadari tidak semuanya berharga. Di titik itu, saya merasa lebih baik bisu seperti nasib yang dialami John Singer. Lebih banyak mendengar dibanding berbicara. Karena itulah sosok seperti Singer menjadi semacam pusat bagi orang-orang yang ditimpa kesepian. Seperti Mick Kelly, seorang gadis yang merasa Singer adalah orang yang tepat ketika ia ingin menyampaikan setiap maksud yang terpendam di kepalanya. John Singer yang bisu bagi Jake Blount dan Benedict Copeland yang memercayai dunia mesti dibersihkan dengan setiap ide di kepala mereka, adalah ceruk dalam yang bisa diisi oleh benda apa saja. Tanpa suara ketika setiap benda masuk ke dalamnya. Juga bagi seorang seperti Briff Brannon, orang semacam Singer merupakan jenis manusia yang layak dijadikan seorang pendengar setia. Tapi ketika setiap orang menemukan pendengarnya masing-masing, tidak seluruhnya mampu mengusir setiap kesepian yang dialami masing-masing. Setiap pembicaraan yang dilakukan seperti menelan sendiri maksudnya dengan akhirnya meninggalkan kekosongan yang masih menganga. Pada akhirnya tidak semua bisa menemukan suatu pegangan. Semua pada asalnya harus menemukan sendiri “suara” dari dalam yang selama ini tergeletak entah di mana.  Novel ini telah menceritakan pertemanan atau mungkin semacam persahabatan yang ganjil antara orang-orang yang dirundung soal, yakni orang-orang yang membutuhkan perhatian ketika mereka memberikan perhatian kepada yang lain. Tidak semua yang memberikan perhatian seolah-olah adalah orang yang nampak bijak, tapi di balik perhatian masing-masing bersembunyi soal yang tak gampang untuk dibicarakan. Selalu ada bahasa yang sulit diucapkan. Walaupun novel ini bukan novel politik, tapi sesungguhnya ada bagian-bagian kecil dari obrolan yang mengikutkan pandangan politik atas suatu nasib umat manusia. Apalagi jika itu ditemukan dari tokoh Dokter Copeland yang sampai-sampai mencita-citakan pembebasan kaum negro dengan memberikan nama anak keduanya tokoh komunis dunia, Karl Marx. Juga seorang Blount, pekerja paruh waktu di komedi keliling yang memiliki pandangan-pandangan sosialis yang akut. Namun tetap saja, betapa pun dunia dihardik dari pikiran-pikiran yang kalut, kabut kesepian masih saja menjadi tembok pemisah antara setiap orang. Juga setiap tokoh di novel ini. Seperti dalam kutipan sinopsisnya kisah orang-orang yang merasa bersinggungan satu sama lain tapi tidak tidak terkait dan menyerah pada kenyataan atas kesendirian yang dirasakan. Jiwa yang terasing, tak didenagr dengungnya, juga keberadaannya. Nasib memang kesunyian masing-masing, kata Chairil Anwar.

  

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...