06 April 2017

Cantik itu Memang Luka

Malam itu  saya tidak sengaja menyaksikan pagelaran pemilihan Putri Indonesia 2017. 38 perempuan dari pelbagai provinsi menjadi finalisnya. Acara itu dibuka oleh dua master ceremoni, Choky Sitohang salah satu MC memulainya dengan berkata: “Selamat malam dan inilah perempuan-perempuan cantik…dan bla dan bla, bla, bla, sambil membuka acara. Mendengar kata cantik, pikiran saya tidak karuan. 

Apakah yang dimaksudkan cantik di situ? Bagaimanakah cantik dibayangkan seperti dalam acara demikian? Apakah itu berarti akan mewakili konsep cantik berdasarkan persepsi kebudayaan tertentu? Atau memang cantik yang dikatakan Choky, seperti yang hari ini diketahui, merupakan imajinasi yang banyak dibentuk media?

Kadang, cantik, menjadi kata yang obsesif diinginkan perempuan. Berbagai upaya  banyak dilakukan sebagian besar perempuan-perempuan untuk terlihat cantik. Tidak sedikit untuk memenuhi ambisi kecantikannya, banyak perempuan rela mengeluarkan uang yang banyak. Mulai dari uang perawatan kulit muka, hingga mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk operasi plastik.

Namun jika melihat secara fisik, seperti yang ditayangkan dari acara pemilihan Putri Indonesia, cantik diartikan sebagai ukuran yang disematkan kepada perempuan yang berkulit putih, tubuh tinggi semampai, murah senyum, berambut panjang, dan tentu berpenampilan seksi. Walaupun banyak ukuran cantik yang lebih variatif, di acara seperti itu jelas sekali menampilkan cantik melalui perspektif ideologi dominan: kekuatan modal.

Dalam masyarakat virtual, apalagi ketika semuanya sering lebih banyak dipresentasekan lewat layar kaca/screen gawai, kecantikan lebih dipandang sebagai estetika yang mengutamakan mata dibanding lainnya. Itulah sebabnya, cantik mesti senantiasa dicitrakan, bukan diverbalkan, apalagi beralih menjadi sikap. Cantik dengan demikian adalah nilai estetika yang disimbolkan, digambarkan, dipancarkan, dan dicitrakan.

Cantik dengan demikian akhirnya hanya konsep yang hanya bisa  diverifikasi melalui mata. Basis kecantikan yang mendasarkan hubungannya melalui panca indra, semakin masif akibat dunia manusia yang semakin hari semakin mendasarkan pemahamannya kepada dunia virtual.

Mesti disadari, kecantikan sebagai ukuran estetika bagi wanita merupakan persaingan ideologis dalam hubungannya dengan visi kebudayaan tertentu. Relasi kultural yang menghubungkan satu bangsa dengan bangsa lain, tidak bisa dinilai tanpa tegangan. Malah, di balik itu, memiliki tegangan dominasi untuk memberikan pengaruh kultural tertentu kepada bangsa yang dianggap rendah.

Hubungan dominasi ini pernah dan masih terjadi di dalam narasi berkedok modernisasi terhadap bangsa-bangsa di luar bangsa Eropa dan Amerika. Sebelum abad 21, tegangan antara dua kutub ini, selalu memandang kehidupan di luar bangsanya sebagai bangsa yang tidak berperadaban. Melalui berbagai macam proyek kolonialisasi, sampai sekarang hubungan ini masih terjadi.

Cantik sebagai bagian dari nilai estetis yang sering disematkan kepada perempuan, juga berlaku bagi kaum lelaki dengan bentuk yang disesuaikan dengan maskulinitas pria. Macho, ganteng, kekar, berotot merupakan pencitraan yang digunakan untuk mengukur seberapa “laki-laki” pria itu. Seperti halnya perempuan, penilaian semacam ini juga sarat dengan muatan ideologis.

Inferioritas kebudayaan nusantara di hadapan budaya asing, lebih kepada ketidakmampuan masyarakat menghayati kebudayaan yang lahir dari tradisi sendiri. Cantik, macho, etis, bermoral, berperadaban, dalam hal ini bukan semata-mata akibat perspektif imprealisme kebudayaan barat, melainkan rasa rendah diri masyarakat Indonesia ketika mengekspresikan nilai kebudayaannya.

Kita masih ingat ketika batik go internasional demi memperkenalkan budaya Indonesia, atau pertunjukan-pertunjukan musik di luar negeri dengan menggunakan alat-alat musik tradisional, yang membuat Indonesia dikenali dari macam-macam kebudayaannya, tapi hanya sekadar memperlihatkan kenekaragaman hasil-hasil budaya tanpa mengikutkan sumber-sumber pengetahuan yang mengitarinya, sama saja dengan mengamputasi kenekaragaman cara manusia indonesia membentuk kebudayaannya.

Artinya, nilai kebudayaan tertentu akan sangat jauh lebih penting jika ditopang dengan ekosistem di mana kebudayaan itu hidup. Dengan kata lain, masyarakat itu sendiri dengan kehidupannya yang  paling praktislah yang menjadi sumber-sumber kebudayaan itu berasal. Ini akan jauh lebih mudah jika kebudayaan itu bukan saja dipahami sebagai hasil pencapaian canonisasi kebudayaan tertentu, melainkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat itu sendirilah kebudayaan itu terbentuk.

Saya menjadi ingat Cantik Itu Luka, novel kepunyaan Eka Kurniawan, yang satir memberikan perspektif paradoks tentang cantik yang sebenarnya adalah luka. Di situ, cantik bukan sekadar nama yang disematkan kepada seorang anak perempuan (dalam hal ini nama anak terakhir dari Dewi Ayu yang berwajah buruk rupa), melainkan cara Eka membuka tegangan di antara perspektif kebudayaan yang sebenarnya tidak monoton dan universal.

Cantik yang dipahami perwujudan dari keindahan, keanggunan, kelenturan (ini juga persepektif kebudayaan tertentu), disandingkan dengan luka, adalah pengertian yang cenderung dibentuk sebagai akibat “kesakitan”, “keborokan”, ”kehancuran”, dan “kepahitan” yang menjadi korban dari satu pandangan, penindasan dan penjajahan sistem tertentu.

Apabila cantik dimaknai dengan cara demikian, jelas sekali bahwa makna yang berada dibaliknya menyiratkan inferioritas sekaligus korban dari kebudayaan tertentu. Melalui konteks ini, apabila diakaitkan dengan kajian-kajian cultural study, cantik (dan juga ukuran estetis, moral lainnya) merupakan korban dari imperialisme kebudayaan yang ditunjang dengan industri media sebagai perangkat utamanya.

Lantas jika muncul kata cantik dalam perhelatan semisal pemilihan Putri Indonesia, apakah itu sesungguhnya memang –seperti kata Eka Kurniawan—cantik itu luka?

05 April 2017

Kebangkitan Masyarakat Sontoloyo

Kata sontoloyo pernah populer di tahun 1940-an. Orang yang mengangkatnya menjadi bahasa publik tiada lain adalah presiden pertama Indonesia. Bahkan, Soekarno memadankannya dengan kata Islam dalam artikel yang ditulisnya. Di bawah judul Islam Sontolojo, Soekarno banyak menyitir perilaku ulama dan agamawan yang terlalu fiqih oriented, literer, dan bahkan sempit dalam berwawasan.

Menurut catatan sejarah, Islam Sontoloyo Bung Karno saat itu, juga “diusik” akibat ulah seorang guru agama yang dibui akibat memerkosa murid perempuannya. Kejadian itu dimuat dalam surat kabar Pemandangan 8 April 1940.

Sontoloyo juga punya sejarah unik. Konon sontoloyo adalah nama profesi bagi masyarakat Jawa yang sehari-hari menggembalakan itik atau bebek. Tapi, ada juga yang berpendapat, huruf “s” dalam sontoloyo merupakan plesetan dari kata yang merujuk kepada kelamin laki-laki.  Berdasarkan pengertian ini, sontoloyo sering dipakai untuk merendahkan seseorang yang memiliki “kelaki-lakian” yang lemah (loyo).

Tertanggal 30 Juli 2008 Media Indonesia menurunkan tulisan berjudul Menteri Sontoloyo dalam tajuknya. Tajuk itu membabar sifat plin-plan dan mencla-mencle pejabat negara akibat beragam kepentingan yang memang saat itu adalah tahun politik. Di bulan selanjutnya terbit opini di harian Kompas: Republik Sontoloyo. Tulisan itu jelas sekali meresahkan keadaan negara yang mencemaskan dengan merosotnya pertumbuhan ekonomi setelah naiknya harga BBM saat itu.

Konyol, tidak beres, bodoh. Begitu arti sontoloyo dalam KBBI. Sebagai bahasa percakapan, sontoloyo dipakai untuk menyebut perilaku yang kurang logis (konyol), tidak etik (tidak beres), dan kurang cerdas (bodoh).

Apabila sontoloyo diperluas menjadi metafora ataupun istilah yang merujuk kepada anomali masyarakat era kiwari, maka banyak gejala yang mencerminkan kebodohan dan kekonyolan.

Pertama, maraknya kelompok masyarakat yang senang dan menyebarluaskan kebodohan dan kekonyolan melalui hoax. Fenomena ini disebut kekonyolan bukan karena ditemukan dalam lapisan masyarakat tidak terdidik, melainkan kelas menengah terdidik yang justru banyak mengalaminya. Anomalinya adalah ambivalensinya kelas menengah sebagai kalangan terdidik dan sikapnya yang menyukai dan menyebarkan hoax.

Kedua, kemunculan generasi mutakhir yang terancam dari segi identitas kebangsaan. Akibat globalisasi dan kemajuan dunia teknologi informasi, identitas kebangsaan mengalami guncangan ketika diterpa berbagai macam nilai kebudayaan luar. Belakangan, munculnya isu warga pribumisasi vs. pendatang ikut turut memperkeruh suasana. Imbas dari krisis identitas, generasi mutakhir lebih banyak menyukai kebudayaan yang berbau kebarat-baratan karena menganggap budaya sendiri sebagai budaya yang kolot dan tradisional.

Ketiga, dampak dari masalah sebelumnya, ikut membentuk ciri masyarakat baru yang bercorak konsumtif. Masyarakat yang dalam kajian sosiologi disebut masyarakat posindustrial ini memiliki ciri-ciri masyarakat yang gemar berbelanja, suka berjalan-jalan ke luar negeri, dan menyenangi waktu senggang dengan menghabiskannya di mal-mal atau café-café.

Keempat, semakin naifnya masyarakat dalam mengekspresikan pilihan politiknya hanya akibat perbedaan-perbedaan kecil dibanding masalah yang sebenarnya. Politik yang sebenarnya harus digerakkan pilihan rasional, gagasan, program kebijakan dsb., malah lebih mudah digerakkan oleh isu-isu rasial dan keagamaan. Model demokrasi yang demikian tidak akan membawa Indonesia ke model masyarakat yang lebih baik akibat cara mengekspresikan pilihan politiknya yang kurang dewasa.

Kelima, merebaknya fundamentalisme keagamaan yang didorong pemahaman keagamaan ekstrim. Kehidupan antara warga yang kuat mengikat dirinya dalam perbedaan dan kemajemukan, akibat pemahaman yang mau benar sendiri secara berangsur-angsur meruntuhkan pilar keutuhan yang selama ini dibangun dengan azas-azas toleransi. Eksklusifitas keagamaan yang demikian, cepat atau lambat akan mengancam keutuhan bangsa dan bernegara dengan cara menghadap-hadapkan isu negara agama versus agama sekuler.

Keenam, masih menguatnya cara berpikir dualistik yang memperhadapkan pilihan-pilihan kepada logika hitam putih. Tradisional-modern, islam-non muslim, barat-timur, rasional-irasional, pribumi-non pribumi dls., adalah beberapa hal yang seringkali dipertentangkan tanpa bisa melihat alternatif lain dengan car berpikir dialektis dan kontekstual.

Ketujuh, kedelapan dst., merupakan persoalan-persoalan yang bisa Anda kembangkan dengan tanpa melepaskan kebodohan dan kekonyolan sebagai indikatornya. Di sekitar Anda pasti banyak masalah-masalah yang bisa disebut cara berpikir, pilihan, perilaku, kebiasaan yang disebut konyol dan bodoh.

Syahdan, jika Anda kesulitan menyebut tiga persoalan yang mencerminkan kebodohan dan kekonyolan, dan tidak beres, maka jangan-jangan Anda bagian dari bangkitnya masyarakat sontoloyo.

---

Nb: Korupsi di kalangan elit ataupun di hampir setiap level instansi salah satu contoh kebodohan dan kekonyolan yang tidak pernah berhenti dibicarakan. Juga, yang paling konyol adalah memori kolektif masyarakat kita yang terbilang pendek, sehingga susah menimba pelajaran dari masa lalunya yang bergelimang persoalan hingga kini.    

---

Sumber rujukan:
1. bumisaloka.wordpress.com
2. nenekmoyang28.blogspot.co.id
3. opini.wordpress.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...