16 Maret 2017

Saga di Balik Athena

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus. Senja begitu merah
begitu saga. Seumur hidup belum pernah
kusaksikan senja secemerlang itu...”

Petikan puisi Mochtar Pabottingi di atas, barangkali adalah puisi yang muram. Di balik Olympus, Krito, di balik Olympus, adalah gelagat lema yang ditangkap bahasa, tentang Socrates, filsuf yang akhirnya mati –memanggul kebenaran-- tanpa guyah sedikit pun terhadap maut.

Puisi Krito, Senja Saga Di Athena, memang puisi atas rekaman sejarah, tapi dialog Krito dan Socrates, sebenarnya, adalah dialog yang dibutuhkan bagi orang-orang yang merindukan kebenaran seperti Socrates.

Begitulah kebenaran, ikhwal yang akhir-akhir ini lebih banyak membuat polemik daripada suatu ikhtiar yang menyenangkan. Di masa Socrates hidup, kebenaran sesuatu yang musykil ditanggung seseorang daripada akhirnya menyerah untuk menemukannya. Kebenaran, sejauh diandaikan sebagai pencapaian epistemik, atau bahkan ontologis, adalah “sesuatu” yang memang diraih inci demi inci, hasta demi hasta, setapak demi setapak. Dengan kata lain, kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang harus diperjuangkan.

Olympus, kita tahu adalah puncak gunung tempat dewa-dewa Yunani bersemayam. Di sana selain merepresentesekan alam berpikir masyararakat Yunani tentang dunia yang dihuni mahluk-mahluk berkekuatan luar biasa, juga merupakan puncak kebenaran segala pencapaian manusia: keindahan, moral, pengetahuan, nasib…

Ibarat Platon menyebut dunia idea sebagai presentase segala ikhwal, gunung Olympus adalah kulminasi semuanya, termasuk kebenaran.

Itulah sebabnya, di masa-masa Socrates hidup, dunia akan begitu boyak ketika tidak melibatkan kehadiran dewa-dewa sebagai tolok ukurnya. Hidup tanpa bergantung sepenuhnya kepada dewa-dewa bagaikan hidup yang diombang ambingkan gelombang di tengah samudra.

Tapi, pelaut mana yang bisa lahir dari laut yang tenang? Socrates, singkatnya, adalah filsuf yang mengajak “pelaut-pelaut” agar mau menentang arus. Menghadapi gelombang demi gelombang, samudra demi samudra, demi meraih kebenaran.

Di puisi Mochtar, Socrates mengajak sahabatnya Crito –tapi juga sebenarnya semua orang Athena, atau semua manusia—untuk menengok saga, langit orange di balik gunung Olympus. Sesuatu yang sering kali hanya dipahami sebagai background, dari pada suatu pokok dasar.

Dengan kata lain, metafora langit saga, yang ada di balik Olympus adalah “sesuatu” yang sebenarnya harus dicari, diperjuangkan. Bukan apa yang tampak sebagai puncak gunung Olympus, atau berhenti begitu saja di atas bukitnya.

Kebenaran memang tak mudah, ia awalnya samar-samar, dan bersembunyi di balik hijab yang merintanginya.

Rintangan kebenaran di masa Socrates adalah kekuasaan dewa-dewa yang tak lagi adil dan bijaksana. Di sini, atau di mana pun itu, kebenaran merupakan ikhwal yang kadang selalu ditawan kekuasaan.

***

Berbeda dari puisi Mochtar Pabottingi, yang muram, belakangan, seringkali tampak dalam kehidupan berdemokrasi di sekitar kita. Kebenaran yang harus tampak sebagai simbolitas masih bekerjanya nalar kemanusiaan, justru disekat-sekat, bahkan ditawan oleh ambisi-ambisi rendah kekuasaan.

Masih menguatnya isu-isu rasialis, merebaknya hoax, mengerasnya gerakan radikalis keagamaan, diabaikan hak asasi manusia dan perampasan lahan hidup masyarakat Papua, Kasus Munir, Syiah Sampang, Ahmadiyah, 65, dan yang menyedot perhatian waktu dekat belakangan, aksi masyarakat Rembang dan Pati di depan Istana Negara, adalah peristiwa betapa susahnya kebenaran berdiri tegak. Bahkan kebenaran itu mesti diperjuangkan, sebagaimana di hadapan gunung Olympus, di Indonesia, puncak terakhir itu adalah Istana Negara.

Istana Negara, yang menjadi puncak tertinggi hirarki kekuasaan, mesti tahu, kebenaran yang disendat-sendat pada akhirnya akan datang kepadanya. Biarpun itu adalah ikhwal yang awalnya nampak sederhana, tapi seperti yang sudah seringkali terjadi, ikhwal yang sederhana nampak runyam akibat bias kepentingan di dalamnya.

Walaupun demikian, di satu sisi selalu ada harapan, seperti langit saga, --yang dalam puisi Mochtar, Socrates nampak bahagia menatapnya—kebenaran tidak akan pernah mampu dikelabui.

“…Ketahuilah, Krito
Bagiku menjalani hukuman mati
Takkan pernah, seperti katamu, memenangkan
Mereka yang menghendaki kematianku
Maka seumur hidup tak sekali pun kucemaskan
Kematian. Cemasku selalu hanya jika
Aku tak lagi bisa menyimak
Dan berbagi cahaya

Kepalsuan, Krito, takkan pernah mengalahkan
Kebenaran, Sekalipun ia dibelenggu
Berkali-kali kematian

Dan aku bukanlah Oedipus yang terpahat
Kutuk labuda

Aku bukan mainan para dewa…”

Socrates bukanlah Oedipus, yang menjalani takdir panjang nasib yang sudah ditentukan jauh sebelum ia ada. “Aku bukan mainan para dewa”, adalah ikhtisar suatu ikhtiar bahwa apa pun itu segalanya mesti diperjuangkan dimulai dari manusia itu sendiri.

Begitu juga orang-orang yang teguh memperjuangkan nasibnya, ketika kebenaran nampak sumir akibat dipangkas hirarki kekuasaan, mesti memulai bukan dari mana-mana melainkan dari dirinya sendiri.

***

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus.

Hatta, kebenaran memang bukan hal yang lumrah dikatakan jika semuanya nampak biasa mengucapkannya. Kisah Socrates sebenarnya sebaliknya, ketika yang lain dijebak kehidupan yang nampak normal, dia mengutarakan apa yang tak pernah diucapkan di bawah tirani, dengan sungguh-sungguh, dengan berterus terang.

Kini, apa yang tampak benar begitu mudah ditemukan, tapi belum tentu kebenaran itu sendiri.  

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus . Senja begitu merah
begitu saga…”

---

*Puisi Mochtar Pabottingi dalam bukunya Konsierto di Tokyo, 2016.

14 Maret 2017

Toiletmu, Budayamu!

A nation without clean toilet is a nation without culture. Begitu slogan World Toilet Organization tentang toilet sebagai indikator keberbudayaan. Bangsa tanpa toilet bersih, adalah bangsa yang tak berkebudayaan.

Cina kerap jadi momok dari pada pokok belajar di negeri ini, bahkan juga bilang: kalau tidak punya toilet bersih, adalah negara yang tidak memiliki masa depan.

Seberapa pentingkah toilet itu sebenarnya, sampai-sampai menjadi tolok ukur kebudayaan?

Toilet, seperti juga ruang lain diciptakan, juga representase dari cara pandang kebudayaan tertentu. Dengan kata lain, toilet –seperti beragam bentuknya di tiap bangsa-- sebenarnya cara manusia membaca dan mengeja kebudayaannya.

Barangkali itulah sebabnya toilet juga penting "dimanusiakan". Toilet, bukan sekadar tempat "sisa-sisa" aktivitas perut dibuang, tapi bagaimana tubuh manusia menjadi lebih nyaman di dalamnya.

Ketika manusia masih belum terpisah dengan alam, buang hajat sering dilakukan dengan cara konvensional. Biasanya dilakukan di belakang pohon, di pinggir kali, atau di sekitar semak-semak belukar. Tapi, sejarah mencatat, manusia mahluk berbudaya, manusia mahluk yang punya rasa malu, itu akibatnya manusia perlu toilet yang mencerminkan rasa malunya, juga tentu kebudayaannya.

Kompas (Minggu, 12 Maret) menurunkan berita bagaimana beberapa tempat-tempat umum di Jakarta, sudah memandang toilet dengan cara berbeda. Toilet di berita diturunkan Kompas akhir pekan ini, dibuat lebih menyerupai kamar-kamar merepresentasekan budaya-budaya luar Indonesia.

Sebut saja tempat seperti Grand Indonesia mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko. Atau membuat toilet dengan tema-tema ruangan seperti kereta api.
Juga misalnya, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Pergeseran cara memberlakukan toilet seperti ini menjadi perubahan khas bahwa toilet juga sebenarnya representasi kebudayaan tertentu. Bagaimana tubuh dipandang dan dinyatakan walau hanya di dalam toilet.

Sayangnya sekarang tidak semua toilet ditemui seperti ditunjukkan tempat-tempat di atas. Bahkan, toilet masih jarang ditemukan di ruang publik tempat mayarakat beraktivitas. Tapi jika ada, itu hanya dibuat seadanya. Minim perawatan.

Tidak bisa dipungkiri toilet masih menjadi ruang terabaikan dengan mengistilahkannya sebagai "kamar kecil", "kamar belakang" dan atau "kamar pipis", yang semuanya menganggap remeh toilet.

Padahal sebagaimana aktivitas tubuh yang lain, toilet harus mewakili tempat tubuh dapat beraktivitas dengan baik. Anggapan bahwa aktivitas pipis atau buang hajat bukan aktivitas primer manusia, seolah-olah membuat toilet hanya diperlakukan seadanya.

Tidak tersedianya toilet higienis di tempat-tempat umum menandai bahwa tubuh masih menjadi arena prasangka yang menempatkan jiwa lebih agung dari tubuh. Persepsi kebudayaan seperti ini, mungkin saja yang menguat di kehidupan sekitar kita.

Saya ambil contoh mengapa toilet masjid masih jauh lebih kumuh dibanding pusat-pusat perbelanjaan. Atau, mengapa toilet higienis sangat susah dipraktikkan dalam rumah kita sendiri? Itu akibat tubuh masih jauh lebih rendah dari jiwa manusia. Atau masih dianggap remehnya hal-hal yang berkaitan dengan tubuh.

Sudah dikatakan sebelumnya, toilet merupakan tempat tubuh beraktivitas. Di mulai dari toilet, orang-orang memugar dan memoles tubuhnya. Coba Anda berlama-lama di dalam toilet pusat perbelanjaan, pasti di sana lengkap dengan cermin banyak orang bersolek ria. Itu berarti tubuh adalah ikhwal yang juga penting diperhatikan.

Tapi itu juga berbeda di tempat umum yang belum canggih. Di pusat-pusat perbelanjaan, toilet sudah mencerminkan pandangan berorientasi kesehatan. Namun, jika berkunjung di tempat-tempat lain selain seperti itu, toilet malah menjadi tempat menjijikkan.

Perbedaan ini akibat selain minimnya perhatian, tentu juga disebabkan toilet yang mencerminkan perbedaan kelas masyarakat. Toilet yang ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan di atas, sangat wajar jika nampak sehat dan bersih tiada lain akibat dikelola dengan budget yang tinggi. Bahkan memang di tempat-tempat itu menjadi lokasi perputaran modal yang pesat. Toilet di semisal mal, hotel, kantor-kantor dlsb., memang kawasan kelas menengah beraktivitas.

Tapi, sebaliknya, toilet di tempat umum yang mudah diakses di pasar-pasar, terminal, rumah sakit, merupakan tempat-tempat yang tidak sama sekali mencerminkan kepentingan kelas tertentu. Imbasnya, toilet akhirnya diberlakukan seadanya.

Toilet yang nampak seadaanya dan bahkan kotor dapat dilihat dari siapa-siapa yang sering kali menggunakannya. Di mal-mal, bisa saja yang menggunakan toilet adalah orang-orang kelas menengah yang teredukasi dengan baik bagaimana memperlakukan toilet. Mereka bahkan tahu menggunakan alat canggih di dalam toilet yang jarang ditemukan di dalam toilet di tempat lain.

Tapi, jika di terminal, di pasar-pasar tradisional, misalnya, toilet menjadi buruk akibat orang-orang yang belum memahami arti penting kebersihan toilet. Bahkan, toilet yang kotor dianggap sudah biasa.

Hal yang penting dari kebersihan toilet juga adalah ada tidaknya pengelola. Sangat jarang toilet-toilet umum dibekali dengan pengelola yang mengerti arti penting kebersihan. Di pom-pom bensin, misalnya, toilet hanya dikelola orang-orang dengan seadanya tanpa pengetahuan kebersihan yang memadai.

Sangat lucu, jika mendengar bahwa perlu satu abad hanya mau mengubah mindset masyarakat kita dalam memperlakukan toilet dengan baik. Padahal, sebenarnya jika tubuh adalah juga sebagaimana jiwa yang mesti dirawat, tentu saja toilet juga mesti mewakili kesadaran semacam itu. Di dalam ruang yang bersih, terdapat toilet yang bersih pula.

Syahdan, sekarang kalau mau jujur, sulit menemukan toilet bersih di sekitar Anda. Toh kalau ada, itu hanya ada di tempat-tempat mewah nan mentereng. Makanya wajar jika suatu waktu Anda berkendara di jalan, apabila terjebak macet, misalnya, butuh menunggu lama sampai ke tempat yang Anda duga menyediakan toilet umum. Sialnya, ketika sampai, toilet yang Anda pakai tidak menyediakan gayung dan air yang cukup. Memang, butuh satu abad untuk menemukan toilet seperti yang Anda harapkan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...