14 Maret 2017

Toiletmu, Budayamu!

A nation without clean toilet is a nation without culture. Begitu slogan World Toilet Organization tentang toilet sebagai indikator keberbudayaan. Bangsa tanpa toilet bersih, adalah bangsa yang tak berkebudayaan.

Cina kerap jadi momok dari pada pokok belajar di negeri ini, bahkan juga bilang: kalau tidak punya toilet bersih, adalah negara yang tidak memiliki masa depan.

Seberapa pentingkah toilet itu sebenarnya, sampai-sampai menjadi tolok ukur kebudayaan?

Toilet, seperti juga ruang lain diciptakan, juga representase dari cara pandang kebudayaan tertentu. Dengan kata lain, toilet –seperti beragam bentuknya di tiap bangsa-- sebenarnya cara manusia membaca dan mengeja kebudayaannya.

Barangkali itulah sebabnya toilet juga penting "dimanusiakan". Toilet, bukan sekadar tempat "sisa-sisa" aktivitas perut dibuang, tapi bagaimana tubuh manusia menjadi lebih nyaman di dalamnya.

Ketika manusia masih belum terpisah dengan alam, buang hajat sering dilakukan dengan cara konvensional. Biasanya dilakukan di belakang pohon, di pinggir kali, atau di sekitar semak-semak belukar. Tapi, sejarah mencatat, manusia mahluk berbudaya, manusia mahluk yang punya rasa malu, itu akibatnya manusia perlu toilet yang mencerminkan rasa malunya, juga tentu kebudayaannya.

Kompas (Minggu, 12 Maret) menurunkan berita bagaimana beberapa tempat-tempat umum di Jakarta, sudah memandang toilet dengan cara berbeda. Toilet di berita diturunkan Kompas akhir pekan ini, dibuat lebih menyerupai kamar-kamar merepresentasekan budaya-budaya luar Indonesia.

Sebut saja tempat seperti Grand Indonesia mendekorasi toilet seperti sebuah ruangan berdesain Maroko. Atau membuat toilet dengan tema-tema ruangan seperti kereta api.
Juga misalnya, pusat perbelanjaan Pondok Indah Mal mendesain toiletnya berdasarkan konsep keluarga. Sehingga, jika Anda berbelanja dan menyempatkan buang hajat di sana, Anda tidak mesti repot akibat anak-anak yang tidak memiliki toilet khusus.

Pergeseran cara memberlakukan toilet seperti ini menjadi perubahan khas bahwa toilet juga sebenarnya representasi kebudayaan tertentu. Bagaimana tubuh dipandang dan dinyatakan walau hanya di dalam toilet.

Sayangnya sekarang tidak semua toilet ditemui seperti ditunjukkan tempat-tempat di atas. Bahkan, toilet masih jarang ditemukan di ruang publik tempat mayarakat beraktivitas. Tapi jika ada, itu hanya dibuat seadanya. Minim perawatan.

Tidak bisa dipungkiri toilet masih menjadi ruang terabaikan dengan mengistilahkannya sebagai "kamar kecil", "kamar belakang" dan atau "kamar pipis", yang semuanya menganggap remeh toilet.

Padahal sebagaimana aktivitas tubuh yang lain, toilet harus mewakili tempat tubuh dapat beraktivitas dengan baik. Anggapan bahwa aktivitas pipis atau buang hajat bukan aktivitas primer manusia, seolah-olah membuat toilet hanya diperlakukan seadanya.

Tidak tersedianya toilet higienis di tempat-tempat umum menandai bahwa tubuh masih menjadi arena prasangka yang menempatkan jiwa lebih agung dari tubuh. Persepsi kebudayaan seperti ini, mungkin saja yang menguat di kehidupan sekitar kita.

Saya ambil contoh mengapa toilet masjid masih jauh lebih kumuh dibanding pusat-pusat perbelanjaan. Atau, mengapa toilet higienis sangat susah dipraktikkan dalam rumah kita sendiri? Itu akibat tubuh masih jauh lebih rendah dari jiwa manusia. Atau masih dianggap remehnya hal-hal yang berkaitan dengan tubuh.

Sudah dikatakan sebelumnya, toilet merupakan tempat tubuh beraktivitas. Di mulai dari toilet, orang-orang memugar dan memoles tubuhnya. Coba Anda berlama-lama di dalam toilet pusat perbelanjaan, pasti di sana lengkap dengan cermin banyak orang bersolek ria. Itu berarti tubuh adalah ikhwal yang juga penting diperhatikan.

Tapi itu juga berbeda di tempat umum yang belum canggih. Di pusat-pusat perbelanjaan, toilet sudah mencerminkan pandangan berorientasi kesehatan. Namun, jika berkunjung di tempat-tempat lain selain seperti itu, toilet malah menjadi tempat menjijikkan.

Perbedaan ini akibat selain minimnya perhatian, tentu juga disebabkan toilet yang mencerminkan perbedaan kelas masyarakat. Toilet yang ditemukan di pusat-pusat perbelanjaan di atas, sangat wajar jika nampak sehat dan bersih tiada lain akibat dikelola dengan budget yang tinggi. Bahkan memang di tempat-tempat itu menjadi lokasi perputaran modal yang pesat. Toilet di semisal mal, hotel, kantor-kantor dlsb., memang kawasan kelas menengah beraktivitas.

Tapi, sebaliknya, toilet di tempat umum yang mudah diakses di pasar-pasar, terminal, rumah sakit, merupakan tempat-tempat yang tidak sama sekali mencerminkan kepentingan kelas tertentu. Imbasnya, toilet akhirnya diberlakukan seadanya.

Toilet yang nampak seadaanya dan bahkan kotor dapat dilihat dari siapa-siapa yang sering kali menggunakannya. Di mal-mal, bisa saja yang menggunakan toilet adalah orang-orang kelas menengah yang teredukasi dengan baik bagaimana memperlakukan toilet. Mereka bahkan tahu menggunakan alat canggih di dalam toilet yang jarang ditemukan di dalam toilet di tempat lain.

Tapi, jika di terminal, di pasar-pasar tradisional, misalnya, toilet menjadi buruk akibat orang-orang yang belum memahami arti penting kebersihan toilet. Bahkan, toilet yang kotor dianggap sudah biasa.

Hal yang penting dari kebersihan toilet juga adalah ada tidaknya pengelola. Sangat jarang toilet-toilet umum dibekali dengan pengelola yang mengerti arti penting kebersihan. Di pom-pom bensin, misalnya, toilet hanya dikelola orang-orang dengan seadanya tanpa pengetahuan kebersihan yang memadai.

Sangat lucu, jika mendengar bahwa perlu satu abad hanya mau mengubah mindset masyarakat kita dalam memperlakukan toilet dengan baik. Padahal, sebenarnya jika tubuh adalah juga sebagaimana jiwa yang mesti dirawat, tentu saja toilet juga mesti mewakili kesadaran semacam itu. Di dalam ruang yang bersih, terdapat toilet yang bersih pula.

Syahdan, sekarang kalau mau jujur, sulit menemukan toilet bersih di sekitar Anda. Toh kalau ada, itu hanya ada di tempat-tempat mewah nan mentereng. Makanya wajar jika suatu waktu Anda berkendara di jalan, apabila terjebak macet, misalnya, butuh menunggu lama sampai ke tempat yang Anda duga menyediakan toilet umum. Sialnya, ketika sampai, toilet yang Anda pakai tidak menyediakan gayung dan air yang cukup. Memang, butuh satu abad untuk menemukan toilet seperti yang Anda harapkan.


12 Maret 2017

Layang-layang

Kini layang-layang bukan lagi benda yang istimewa. Bagi anak-anak sekarang, keistimewaan layang-layang hilang akibat betapa mudahnya layang-layang ditemukan di tiap kios sebelah rumah. Tinggal menyisikan beberapa ribu rupiah, benda yang terbang memanfaatkan angin itu sudah dapat dimiliki.

Dulu, dan mungkin pernah Anda alami, layang-layang mainan yang harus diibuat dengan tangkas. Tangan Anda harus terampil menggunakan perkakas. Untuk membuatnya Anda juga harus mahir mengukur keseimbangan tulang-tulangnya. Dan juga, tentu seberapa berat tiang batang layang-layangya.

Dari layang-layang, suatu keterampilan menjadi aktifitas yang khas; ketika membuatnya, anak-anak dapat belajar ilmu ukur, cara memilih bambu yang baik digunakan, dan atau keterampilan merautnya dengan pisau yang Anda asah sendiri.

Layang-layang, akibatnya bukan sekadar permainan belaka, tapi dari cara dia dikontruksi, di situ mengandung ikhwal yang istimewa: keterampilan tangan yang tangkas.

Sumber-sumber pengatahuan inilah yang sekarang tidak tampak di balik terbangnya sekait layang-layang. Memang, zaman berubah. Dan, juga cara anak-anak menerbangkan layang-layang.

Sekarang, ketika saya melihat beberapa anak-anak yang berusaha menerbangkan layang-layang, ingatan saya kembali ke masa-masa kecil ketika layang-layang juga berarti solidnya suatu persahabatan.

Di masa itu bermain layang-layang berarti Anda harus memiliki seorang sahabat, atau setidaknya orang yang akan membantu Anda menerbangkan layangan. Dia, harus rela berjalan beberapa jauh untuk membentang benang agar layang dapat terbang mengudara.

Saat itu, persahabatan Anda dibangun bukan di lorong-lorong perumahan, atau trotoar di pinggir jalan, tapi di atas sebidang tanah lapang yang banyak ditiup angin. Di atas lapangan macam itulah, Anda dan sahabat Anda bisa bercerita banyak hal, sembari memainkan layangan yang sudah mengangkasa di atas Anda.

Tapi, saat ini, anak-anak Anda boleh saja menerbangkan layangannya, plus bersama sahabatnya. Namun, belum tentu itu dilakukan di atas sebidang tanah. Atau apalagi daerah terbuka yang banyak ditiup angin.

Bahkan sekarang menerbangkan layang-layang mesti berjibaku di antara bangunan-bangunan yang kian hari tambah sesak dan padat. Imbasnya, angin, fenomena alam yang mesti ada untuk menerbangkan layang-layang, sudah sulit ditemukan.

Saya menjadi ingat The Kite Runner, adapatasi film dari novel Khaled Hosseini, yang mengangkat kisah persahabatan dua orang anak berbeda suku. Film itu dibuka dengan langit yang dipenuhi layang-layang, dan juga keriangan anak-anak yang berlari mengejar layang-layang yang putus.

Yang utama dari cerita Khaled itu adalah, sudah tentu arti persahabatan. Bahkan, hingga mereka dewasa, yang sebelumnya terpisah akibat konfik yang melanda daerah mereka, Amir dan Hasan, dua tokoh sentral dalam cerita ini masih dipersatukan dengan kenangan masa kecil mereka.

The Kite Runner memang bercerita seputar kekisruhan situasi pemerintahan di Afghanistan pasca jatuhnya monarki Afghanistan dalam invasi Soviet, eksodus pengungsi ke Pakistan dan Amerika Serikat, serta munculnya rezim Taliban. Tapi, layang-layang dalam film itu bisa bercerita banyak hal.

Arti layang-layang mungkin adalah kebebasan, dan juga suka cita.

Itulah sebabnya menerbangkan layang-layang –seperti yang ditunjukkan Amir dan Hasan dalam The Kite Runner— ada perasaan yang tidak bisa diintimidasi. Oleh orang tua, atau bahkan lapangan besar yang kini berganti bangunan-bangunan kokoh.

Dan, juga suka cita, adalah hal terakhir yang dimiliki anak-anak masa kini, sebagaimana layang-layang, mungkin mainan terakhir, di antara kepungan permainan berbasis dunia maya.

Menerbangkan layang-layang memang sudah jarang ditemui sekarang, akibat zaman yang berubah, juga akibat desakan teknologi.

Akibatnya, jarang ditemui anak-anak yang tangkas berlari dengan riang. Dan pengetahuan kecil mereka tentang  bagaimana merakit layang-layang.

Sekarang, jika menengok di langit-langit, yang ada, yang terbang, justru layang-layang buatan orang dewasa, yang dijual di kios sebelah rumah. Dan, di bawahnya, anak-anak yang tertunduk tegun di hadapan layar smartphone.

Memang, zaman berubah. Dan, juga cara anak-anak melupakan layang-layang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...