01 Februari 2017

madah lima puluh enam

Yang menarik dari seorang Nietzsche adalah pandangannya tentang kebenaran. Di mata Nietzsche, paras kebenaran tidak lebih dari atas kekuasaan moral tertentu. Artinya, genetika kebenaran di mana pun itu dilahirkan bukan semata-mata berasal dari rahim epistemologi manusia, melainkan sudah dikukuhkan oleh pandangan moral tertentu. Dalam konteks ini, kebenaran tidak diverifikasi dari benar atau salahnya suatu proposisi, tapi etis (boleh) tidakkah pernyataan itu diberlakukan.

Bahkan lebih subtil dari itu, Nietzsche bukan sekadar memproblemkan hakikat kebenaran itu sendiri, namun mengapa kebenaran itu dinyatakan sebagai kebenaran? Apa dasar terdalam di balik benar salahnya suatu proposisi? Apa yang mendasari kebenaran itu mesti ditegakkan?

Di balik ungkapan proposisi yang mengandung kebenaran, pada hakikatnya hanyalah dorongan atas absolutisme. Deskripsi ini dinyatakan Nietzsche akibat dari sifat dasar manusia untuk merasakan keutuhan, suatu kebutuhan untuk “percaya” atas sesuatu yang mutlak.

Yang naif dari itu, jika “yang mutlak” itu mendapat tantangan dari luar dirinya, maka akan bekerja dengan sendirinya suatu mekanisme untuk membela diri dengan cara mengecam dan menyingkirkan yang lain. Bahkan sampai melenyapkan.

Itu artinya, jika ada yang mati-matian mempertahankan suatu kebenaran tanpa memerhatikan asas-asas yang menyertainya, pada konteks ini hanyalah suatu usaha agar tampak absolut. Absolutisme, di mana pun itu pasti dan selamanya akan mempertahankan dirinya. Karena itu, kesalahan tidak dapat diterima. Karena itu juga agar kebenaran enggan dikatakan salah.

Perasaan atas “yang mutlak” inilah yang banyak memecah kohesi sosial belakangan ini. Kebenaran bukan bahasa universal yang menembus sekat-sekat pemikiran dan kebiasaan. Bahkan, sebaliknya, setiap segmentasi dan stratifikasi kelas masyarakat memiliki nalar negasi dengan memproduksi kebenarannya masing-masing.

Itulah sebabnya, tidak ada kode sosial yang bisa sertamerta adaptabel dengan purnaragam paras masyarakat. Agama, yang dalam kaca mata Durkheim sebagai kunci pengikat masyarakat, kehilangan fungsinya dan lebih tampak sebagai faktor pemisah. Akibatnya, masyarakat tersegregasi oleh agama itu sendiri. Dan bahkan agama kehilangan nalar universalnya.

Yang tampak lebih berbahaya, perasaan atas “yang mutlak” ikut dibesarkan dengan semangat religiusitas keagamaan. Bahkan sumber kemutlakan yang didasarkan atas teks-teks, dimodifikasi, dan dicomot dari konteks historis, demi menunjang otoritas kekuasaan tertentu.

Belakangan agama lebih tampak seperti legitimator dari keadaan yang timpang. Meminjam analisis Marx, agama menjadi kekuatan yang mengekalkan “pembodohan”, bahkan memalsukan pertentangan yang sesungguhnya sedang terjadi. Di saat demikianlah agama berfungsi ibarat metamphetamine yang memberikan efek ilusif berupa rasa percaya diri yang berlebihan, dan agresifitas yang meningkat.

Di dalam situasi yang ilusif itulah, kecanduan yang berlebihan atas perasaan “yang mutlak”, agama menjadi alat mengaburkan relasi-relasi problematis, misalnya, berupa perseteruan dinasti politik, peperangan geo-politik, perebutan sumber-sumber daya ekonomi, pembodohan dan pengerusan tradisi kebudayaan, peperangan atas batas-batas teritori, perebutan otoritas suku dan klan, perebutan supremasi etnik, penggusuran, dlsb.

Persoalan di atas akan terus diabaikan dengan sengaja ataupun tidak akibat perangkat membaca fenomena yang dibatasi dengan cara membaca yang esensialis. Sementara fenomena dan relasi problematis yang mengemuka saat ini merupakan peristiwa historik yang mesti ditelisik lebih jauh.

Krisis epistemologi juga merupakan faktor penting yang minim mengapa keadaan sekarang begitu tampak menjemukkan. Untuk mempresentasekan, misalnya, kebenaran, senantiasa dilalui dengan cara agresif dan massal. Dua cara ini menjadi penanda bahwa tiada diskursus yang menopang kebenaran sebagai produk yang lahir dari toleransi atas keberagaman dan dialog. Bahkan hilangnya dua modal ini, kebenaran selalu tampil dengan cara yang brutalistik dan histerik.

30 Januari 2017

Melihat Anak-Anak Tumbuh Tanpa Gadget

Hari ini sangat sulit menemukan anak-anak usia dini yang bermain tanpa gadget. Bahkan permainan anak-anak usia dini yang melibatkan ketangkasan, kecekatan dan kecermatan, sudah sangat jarang ditemui akibat kesukaan anak-anak terhadap gadget. Akibatnya, perkembangan kreatifitas dan cara berpikir anak-anak sedikit banyak mengalami perubahan drastis. Terutama ketangkasan dan kecakapan, gadget mengubah anak-anak menjadi lebih pasif.

Gadget era kiwari sudah berkembang sedemikian rupa dengan menyisipkan aplikasi-aplikasi khusus anak-anak. Bahkan ada gawai yang khusus diciptakan untuk anak-anak usia dini. Segmentasi pasar yang ikut mempertimbangkan pengguna pemula yakni anak-anakk usia dini, ikut mempengaruhi inovasi perkembangang gadget.

Saya tercengang setelah mendapati artikel AS Laksana yang mengulas keberadaan sekolah yang menghindarkan anak-anak dari penggunaan alat-alat canggih berupa smartphone. Sekolah itu bukan di Indonesia, melainkan di Silicon Valley, pusat perkembangan digital di  Amerika Serikat. Sekolah itu bernama Waldorf School of Peninsula.

Fenomena yang ditulis AS.Laksana mungkin peristiwa yang langka. Apalagi jika menunjuk satu sekolah di sekitar kita yang memutus total kontak anak-anak terhadap alat-alat teknologi canggih. Yang dahsyat, komitmen itu bukan saja diterapkan guru-guru mereka di sekolah, melainkan turut melibatkan orang tua anak-anak di rumah.

Lantas siapakah para orang tua yang disebut AS. Laksana di tulisannya itu? Ternyata mereka adalah anak-anak pegawai dari perusahaan raksasa teknologi digital semisal Google, Yahoo, Apple, dan Hewlett -Packard, yang sehari-hari akrab dengan segala macam teknologi canggih.

“Ada sekitar 160 sekolah Waldorf di AS dan semuanya dijalankan dengan metode yang sama. Tidak ada komputer di sekolah, tidak ada iPad, tablet, maupun telepon genggam. Sekolah itu menggunakan peralatan apa saja kecuali perangkat-perangkat teknologi tinggi. Para siswa belajar dengan pena, kertas, jarum rajut, pisau, dan juga lumpur untuk mengotori baju dan tubuh mereka.” Begitu diliterasikan AS. Laksana.

Anda bisa mencatat berapa sekolah di lingkungan Anda yang menerapkan model belajar seperti sekolah di Waldorf? Saya yakin tidak lebih dari sepuluh sekolah macam demikian.

Bahkan, di sekitar kita banyak orang tua betapa ringan tangan membelikan smartphone bagi anak-anaknya agar tidak tersisihkan dari pergaulan.

Yang miris sering ditemukan alasan absurd bahwa melalui gadget dapat membantu anak-anak cepat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Dengan gadget, dinyatakan dapat membantu anak-anak dapat belajar secara mandiri.

Dan yang paling malang, gadget sudah banyak menyita perhatian anak-anak. Peran orang tua justru diambil alih oleh aplikasi yang dimiliki smartphone. Sampai misalnya, peran seorang guru malah banyak ditukarkan dengan kemudahan menemukan informasi melalui gadget.
  
Saya kutipkan lagi apa yang dituliskan AS. Laksana: “Guru-guru di sekolah itu lebih senang mendorong para siswa berkegiatan seni, seperti menggambar dan melukis, bukan mengunduh informasi dengan komputer atau tablet. Ketika mereka belajar mitologi Skandinavia, misalnya, para siswa diminta menggambar sendiri ilustrasi untuk cerita yang mereka tulis. Bersamaan dengan istirahat makan siang, mereka belajar pembagian dengan pisau yang mereka gunakan untuk membelah kue atau apel. Pada kesempatan lain mereka belajar menemukan pemecahan soal-soal matematika melalui kegiatan merajut, atau belajar bahasa sambil bermain lempar tangkap. Guru membacakan bait puisi, para siswa berdiri melingkar dan menirukan bait yang dibacakan oleh guru. Anak yang menjadi sasaran lemparan kantung berisi kacang merah harus menangkapnya.”

Sekarang, apa yang dimaksudkan belajar bagi orang tua terhadap anak-anak mereka? Apakah itu termasuk melibatkan alat teknologi di dalam pembelajarannya? Apakah mesti diberikan laptop untuk menunjang proses belajar mengajarnya? Atauka menyediakan fasilitas wifi di rumah agar lebih mudah menyediakan informasi?

Latar belakang keluarga saya hampir semuanya berprofesi sebagai guru. Tapi tidak ada satupun ide belajar seperti di Waldorf yang sempat dilontarkan salah satu di antara mereka. Kalau persoalan ini diperluas, adakah kebijakan semacam ini yang pernah terlintas di antara pengambil kebijakan di bidang pendidikan? Saya kira mungkin pernah, tapi sudahkan itu menjadi pilihan cara belajar?

Jika Anda berpikir model belajar itu sulit diterapkan di sekolah-sekolah pemerintah, apakah itu ditemukan di sekolah-sekolah swasta?

Anak-anak usia dini sekarang memang sudah cakap menggunakan smartphone, atau bahkan laptop. Mereka secara alami tumbuh di antara keberlimpahan alat-alat canggih yang dimiliki orang tua. Menjadi generasi digital native yang tercerabut dari pengalaman alamiah sebagai anak-anak.

Di sekolah, guru-guru tidak sampai berpikir apa dampak kultural penggunaan smartphone di sekitar mereka. Di rumah, orang tua, terutama generasi 70-80an, seringkali bersosialita melalui gadget di sela-sela tanggung jawab menjadi orang tua. Bahkan di masyarakat, gadget begitu gampang ditemui tidak jauh dari keberadaan anak-anak.

Sudah banyak dampak bagi anak-anak usia dini yang sehari-hari tumbuh bersamaan dengan smartphone. Jika Anda rajin berselancar, banyak artikel yang memuat betapa anak-anak terancam akibat keberadaan smartphone di tangannya. Mulai dari dampak psikologis, kognitif, sampai perubahan sikap menjadi pribadi pasif dan agresif merupakan fenomena yang harus kita jaga-jaga gejalanya.

Seperti yang dituliskan AS. Laksana, sebenarnya anak-anak usia dini atau usia sekolah di Waldorf tidak benar-benar dijauhkan dari menggunakan smartphone, atau alat canggih semacamnya. Anak-anak di usia tertentu memang harus dijauhkan dari jangkauan penggunaan smartphone demi tumbuhkembangnya dimensi kejiwaan dan kognitifnya. Seperti sekolah di London Acorn, sebuah sekolah di Inggris yang mengatur penggunaan smartphone dan komputer sampai batas usia 16 tahun. Bahkan untuk menonton televisi harus melewati usia 12 tahun, itupun film dokumenter atau film yang diijinkan.

Sekarang, coba tengok di rumah Anda, apakah keadaannya nampak demikian?  Saya kira itu memang kebijakan yang lumayan ekstrim.

Tapi, menarik jika laporan yang ditulis AS. Laksana  itu dilihat kembali setelah 10 sampai 15 tahu ke depan. Apa perbedaan anak-anak yang baru mengenal smartphone di usia 18 tahun ke atas dengan anak-anak yang sedari kecil sudah lancar bersmartphone ria? Anda ingin mencobanya?
  
--

*Kutipan di ambil dari www.aslaksana.com

*Jika Anda tertarik lebih jauh tentang sekolah yang diulas AS. Laksana, silakan kunjungi waldorfpeninsula.org dan thelondonacornschool.co.uk

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...