25 Desember 2016

Memelihara Burung dan Cara Menemukan Jalan Pembebasan

Tiba-tiba saya ingin memelihara burung. Keinginan ini datang menghinggapi benak saya tanpa melalui tanda-tanda. Tidak seperti seorang nabi ketika akan dipilih langsung oleh Tuhan. Ibarat di suatu malam yang dijatuhi meteor, tanpa diketahui pembaca berita cuaca di stasiun TV kesenangan Anda. Ide ini datang begitu saja. Tanpa tedeng aling-aling.

Keinginan ini barangkali suatu cara agar saya memiliki kebiasaan baru. Jadi semacam reaksi alamiah dari kesibukan yang sudah tidak berfaedah. Ibarat seorang mahasiswa yang sehari-hari dicekoki teori-teori perubahan sosial oleh dosen yang anti perubahan, dan di suatu pertemuan yang ke 779, menyegel kelas dan menyandera dosen di kamar mandi untuk turun ke jalan menganjurkan revolusi.

Namanya reaki alamiah pasti sah-sah saja terjadi. Apalagi saya pikir setiap pagi saya akan memiliki kebiasaan baru. Saat ketika pagi masih lenggang, saya sudah berinteraksi dengan seekor burung yang melompat-lompat di atas bilah bambu dalam sangkar. Memberinya makan, mengecek air minumnya. Sungguh manusiawi.

Dan, yang paling mengasyikkan jika menjemurnya setelah dimandikan di bawah sinar matahari sebelum cahayanya berubah panas. Melihat bulu-bulunya yang basah dan pelan-pelan mengering adalah peristiwa yang tidak pernah ditemukan dalam pelajaran ilmu-ilmu sosial di bangku perguruan tinggi. Itu adalah perubahan dahsyat yang bisa saya saksikan sebelum anak-anak tetangga berangkat ke sekolah.

Bagi saya ini semacam jalan keluar dari dunia yang sudah sesak dengan tendensi religiusitas garis keras atau keserakahan yang tampak nyata di dalam benak saya. Merawat seekor burung, bukan saja pilihan yang paling mungkin di antara beribu cara mengubah kenyataan di sekitar Anda. Membiarkannya hidup dan berkicau adalah cara alam yang harus saya cari untuk membuat hari-hari nampak seperti seharusnya.

Saya membayangkan kicauan burung lebih afdol saya dengarkan daripada khotbah di atas mimbar yang mengajak orang-orang menyimpan benci untuk saudara-saudaranya jika berbeda pendapat. Suara kicauan burung mungkin saja lebih bermakna dan mencerahkan tinimbang talkshow yang berbungkus agama di pagi hari. Itu semua adalah peristiwa langka yang belakangan harus segera saya temukan.

Barangkali keinginan ini adalah panggilan suara masa kecil yang setiap pagi mendengarkan suara burung perkutut peliharan bapak. Semacam cara kesadaran saya yang ingin mencari potongan memori agar tidak lupa kepada yang asal, sesuatu yang setiap orang lupakan. Kicauan burung, mungkin saja hanya satu suara yang ingin didengar jiwa saya di antara polusi suara yang sering kali lebih banyak tidak berarti.

Ini semacam suara batin yang dialami ketika bermimpi bagi orang-orang yang ingin merobohkan gunung dengan bom ikan. Atau seruan mengikuti aksi berupa upacara bendera ketika hari Sabtu. Memang ini seperti tanpa maksud yang jelas atau didorong  oleh penjelasan yang rasional. Tapi, ini harus dilakukan, walaupun datang dari luar pemahaman yang logis.

Merawat burung saya kira juga harus dilakukan setiap orang yang kehilangan kepercayaan terhadap Tembok Cina. Ini perlu dilakukan karena merawat burung sama halnya ketika Anda belajar tentang arti kesabaran. Tanpa kesabaran berlapis-lapis, saya kira Tembok Cina tidak akan berdiri dalam satu dua tahun.

Sungguh orang-orang yang mendirikannya membutuhkan kesabaran luar biasa ketika menyusun batu dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga sepanjang yang Anda pernah saksikan. Merawat burung seperti itu. Anda akan dilatih bersabar setiap pagi melakukan hal yang tidak dilakukan saudara Anda.

Tentu sebenarnya tanpa disiplin semua itu akan sia-sia. Pekerjaan ini akan membuat Anda mengagumi apa yang selama ini hanya dimiliki militer satu-satunya. Disiplin membuat Anda harus tunduk di dalam jadwal tertentu. Mental Anda akan dibina oleh seekor burung kecil di setiap pagi. Kapan harus membersihkan kandangnya, mengisi tempat makannya, memandikannya, dan pergi berkeliling di pasar burung mencari seekor burung betina jika Anda ingin beternak burung.

Memang itu akan membuat Anda memasuki suatu kebiasaan baru. Tapi yakin dan percaya, ini jauh lebih baik  dari memelihara kedengkian dan pikiran sempit di dalam kepala Anda. Dengki dan pikiran sempit akan membuat Anda berubah menjadi seseorang yang bertubuh kurus dan berwajah masam. Lebih baik burung Anda yang tumbuh sehat dibanding diri Anda yang menyimpan penyakit.

Boleh dibilang merawat seekor burung berbeda dengan beternak ayam, misalnya. Orang beternak tentu ingin mengambil keuntungan dari telur atau daging ayam bersangkutan. Jika sudah memungkinkan, daging ayam dapat disantap di suatu hari lebaran tanpa ada pelarangan penggunaan atribut baju koko yang diinspirasi dari negeri Cina itu.

Memelihara seekor burung sama berartinya dengan merawat kehidupan. Merawat burung bukan demi tujuan biologis seperti beternak ayam. Namun lebih utama dari itu, merawat kewarasan.

Begitulah, keyakinan ini merupakan cara yang baik dilakukan juga oleh orang-orang yang memiliki sisi emosional yang kurang stabil. Memberikan harapan hidup bagi mahluk sekecil burung di tiap pagi sebenarnya sama halnya dengan menghargai sesuatu yang lain dari diri Anda. Itu berarti bukan diri Anda saja yang harus dimuliakan.

Selain keinginan memelihara seekor burung, saya juga ingin menggunduli kepala saya seperti yang dimiliki biksu suci. Ini keinginan saya yang kedua setelah menyadari memelihara burung di saat memiliki kepala botak merupakan jalan lain dari pembebasan.

Tentu pilihan ini tidak seberat bagaimana seorang sopir taksi memilih melaporkan seonggok mayat yang ditemukan di pinggir jalan atau turut ikut berjihad di negara yang memberlakukan singa seperti binatang peliharaan. Saya hanya tinggal melakukan hal sederhana ketika pilihan menggunduli kepala sudah diputuskan: pergi ke tukang cukur, dan beres. Simpel.

Akhirnya, tentu semua itu merupakan pengalaman yang menyenangkan selain  membuat orang-orang harus kembali mengyakini burung Garuda adalah lambang negara ini, dan Pancasila adalah kesepakatan ideologi yang tidak harus ditawar-tawar lagi.

Syahdan, sungguh ini adalah jalan pembebasan ruhani yang paling sederhana, mendengar kicauan burung di pagi hari dengan kepala plontos yang dihinggapi pikiran yang sederhana: burung jenis apa yang akan saya pelihara? 

24 Desember 2016

Kala Mamak di Bulan Desember dan Remah-Remah Ingatan

Baru saja mamak menelepon. Belakangan dia memang sering ke Makassar. Sudah kebiasaannya jika di Makassar mamak pasti memberi kabar. Kali ini seperti yang mamak bilang, bersama sepupu-sepupunya berkunjung dari rumah keluarga satu ke keluarga lainnya untuk mappaisseng. 

Mappaisseng merupakan tradisi Bugis-Makassar saling mengabarkan sanak keluarga jika ingin melangsungkan pernikahan.

Belakangan ini saya ingin menulis sesuatu tentang mamak. Sering kali jika berkendara di atas motor, pikiran saya berkelabat berusaha menembus masa silam mengenang beragam kejadian bersama mamak.

Mulai dari saat mamak mengantar saya ke sekolah untuk pertama kalinya, saat saya dimandikan di kala pagi hari yang dingin. Ketika mamak membuat bubur kacang hijau, atau ketika saya mengingat suatu malam kemarahan mamak yang meledak-ledak sembari menangis akibat seringnya saya keluyuran hingga dini hari.

Kala itu saya hanya ikut menangis akibat kemarahan mamak yang tak biasa. Sembari memukul-mukul dada merasakan kekhawatiran sambil memendam rasa amarah, raut mukanya justru meneteskan air mata.  Malam itu, kala semua orang tengah tertidur pulas, saya malah membuat mamak tak mampu menutup mata akibat menunggu anaknya yang tak kunjung pulang.

Saya sudah tak ingat seperti saya sulit menghitung jumlah uang yang sering kali saya curi diam-diam dari dompet mamak,  berapa kali membuat mamak harus marah-marah dan membuat tidurnya tidak tenang.

Di saat berkendara belakangan ini niat menulis sesuatu tentang mamak lebih sering menghinggapi benak saya akibat Desember bulan mamak berulang tahun.

Kadang saya berpikir kado apa yang paling pantas untuk diberikan selain doa yang hanya bisa saya panjatkan diam-diam. Apalagi, saya ingat persis selama ini tak pernah memberikan ucapan kepada mamak secara langsung ketika dia berulang tahun.

Saling memberikan ucapan perayaan ulang tahun memang tidak lazim kami lakukan. Jika tiba hari ulang tahun satu di antara kami, maka yang sering kali dilakukan hanyalah saling mengingat bahwa hari ini fulan bin fulan berulang tahun.

Kami memang sedikit kikuk jika harus melakukan hal-hal yang tidak biasa diperbuat. Bagi kami ucapan hanyalah ucapan. Di luar dari itu, yang terpenting semua berjalan sebagaiamana biasanya.

Desember bagi mamak berarti juga Desember yang sama bagi kedua saudara saya. Selain dirinya, kakak dan adik saya lahir di bulan yang sama dengan mamak. Secara berturut-turut selama dua minggu, mamak dan kedua saudara saya bergantian merayakan hari ulang tahunnya.

Sementara jika Maret dan Desember kami merayakan ulang tahun, saya tidak pernah tahu kapan tanggal bapak berulang tahun. Bapak sudah tidak mengingat bulan dan tanggal pasti kapan ia dilahirkan. Jika harus mengingat, bapak hanya bisa menyebut tahun untuk menandai hitungan usianya.

Saya menduga, bapak seperti orang-orang tua lainnya lahir di dalam situasi ketika suatu keluarga tidak menganggap penting catatan kelahiran. Saya tidak tahu apakah di masa itu akte kelahiran sudah mulai digunakan. Atau, apakah pencatatan macam demikian memang dianggap penting di masa itu. Toh apabila penting, lantas untuk apa?

Sekarang, memori seseorang sangat tergantung kepada angka-angka yang dijadikan tanda peristiwa penting. Bagi orang yang dulu mengabadikan kejadian-kejadian penting  dengan menggunakan kamera rol film, di balik foto yang telah dicuci diterakan tanggal kapan kejadian itu dibuatkan fotonya. Cara seperti ini masih saya temukan saat orang-orang mengoleksi buku-buku album foto yang disimpan rapi-rapi di almari mereka.

Di rumah mamak juga melakukan hal yang sama. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya sering membongkar-bongkar album foto keluarga. Bahkan, seringkali satu tas berwarna abu-abu yang berisi tumpukan foto. Di situ saya sering mencari gambar-gambar yang tidak pernah saya alami.  Atau, ketika penasaran ingin melihat diri saya yang masih bayi.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...