25 November 2016

Kelas, Klas

Kelas di suatu waktu bisa bermakna sepetak ruang, yang membagi sesuatu menjadi partisi-partisi. Tapi di lain waktu ia tanda dari kesenjangan. Sesuatu yang membangun jarak. 

Kelas sebagai sesuatu istilah, dipopulerkan pertama kali oleh seorang sosialis tulen berkebangsaan Jerman, Karl Heinrich Marx. Tapi, kelas yang dia maksudkan bukan untuk menunjuk pada batas-batas tentang ruang, bukan ruang petak yang berbentuk kubus, apalagi ruangan yang menggelantung di dalamnya gambar dua muka penguasa sebuah negeri. Kelas yang ia istilahkan menunjuk pada entitas yang berjarak sekaligus diskriminatif. Suatu tingkatan sosial yang ia bagi menjadi dua entitas atau kelompok: proletar dan borjuis. Dua mata sosial yang saling tolak menolak.

Di hadapan Marx ada masyarakat yang ingin tumbuh. Eropa baru saja kuncup dari keadaan menyesakkan. Harapan hidup tak lagi semata-mata urusan dominan dogma-dogma gerejawan. Eropa sedang dalam transformasi besar-besaran. Orang-orang menaruh harap pada pabrik-pabrik yang berdiri gegap, menanggalkan hidup yang ringkih dengan kehidupan tradisional menuju perhelatan akbar dari kemajuan peradaban baru; zaman industrialisasi.

Namun, Max murka sekaligus ia berusaha memahami keadaan yang ia saksikan dengan mata telanjang. Dari pembacaannya ia berusaha tidak menerima dunia sebagai entitas yang dicipta dalam keadaan begitu saja. Bagi Marx, dunia adalah entitas yang melibatkan usaha. Namun di balik kenyataan setiap usaha masyarakat, muncul masyarakat elit  yang ia katakan mampu mengubah usaha ril menjadi suatu hal yang berbau kumulatif. Bahasanya di suatu waktu: segalanya yang padat menguap keangkasa.

Bisa jadi Marx benar tentang tangan-tangan kelas pekerja yang bergulat dengan barang-barang, yang sembari waktu pada akhirnya ghalib ditelan kehampaan. Tak ada barang yang dimiliki kelas pekerja, yang ada hanyalah proses perpindahan barang dari kelas pekerja ke kelas borjuasi. Yang ada, barang yang padat semuanya berubah menjadi alienasi.

Tapi, itu Marx yang melihat masyarakat industri awal berdasarkan determinasi barang-barang. Karena barang-barang yang dikuasai maka keadaan bisa berubah. Nampaknya nasib hanya bicara tentang barang yang dikuasai dan barang yang menguasai. 

Beda Marx beda Francis Bacon.

Bacon memiliki iman yang lebih menjanjikan, bahwa zaman kelak akan menampik posisi yang semula akan dikuasi oleh kaum pemodal.  Bacon punya iman yang tegas, bahwa zaman harus diarahkan berdasarkan kemajuan sains, dengan deret ukur yang tegas dalam memprediksi kebutuhan manusia; ilmu pengetahuan.

Tentu Marx bukan penganut pikiran Bacon: barang siapa menguasai ilmu pengetahuan maka nasib serentak bisa ditakdirkan.

Entah Marx, entah Bacon. Di suatu tempat yang lain, ilmu bisa menjadi sinyalemen yang kuat untuk membentuk dua wajah yang hirarkis. Ketika insitusi pendidikan menjadi medan yang sarat dengan kepentingan.

Kelas bisa berarti pencerahan, atau justru keterasingan.

Kita tak tahu kapan era dimulainya pengetahuan harus identik dengan sepetak ruang padat. Seakan-akan pengetahuan harus dihadirkan dalam bentuk-bentuk yang padat pula: tembok.

Tembok bagi sejarah silam bisa jadi berarti perlindungan. Itulah mengapa, mungkin saja setiap kerajaan membangun daerah kekuasaannya dengan tembok-tembok yang tinggi serta tebal. Benteng bagi kekuasaan masa lalu memanglah penting, apalagi dahulu batas kekuasaan tak berbanding lurus dengan  luas tidaknya tanah yang dimiliki.

Maka galibnya tembok cina dibuat untuk menjadi patokan betapa besarnya kekuasaan dinasti Ming. Ini juga yang menjadi inspirasi bagi Jerman, di mana di Berlin berdiri tembok setebal hampir dua siku dengan konsekuen geografis yang membagi Jerman menjadi dua kawasan. Memang tembok adangkala selalu berdiri berbarengan dengan kedatangan kekuasaan.

Indonesia, negeri yang pernah dikuasai rezim selama lebih dari tiga puluh dua tahun, tembok bisa berarti pembelokan ingatan masa silam. Tentu yang saya bicarakan di sini adalah tembok yang berdiri di tengah-tengan makam tujuh jenderal. Di sana secara dramatis terpampang gambar perjalanan penumpasan ideologi komunis yang diakhiri dengan gambar sosok pemimpin sebagai dewa penyelamat yang mengangkat tangan sebagai simbol penaklukan.

Tembok pada akhirnya bisa menyiratkan perlindungan; entah dari kejaran kekuasaan ataupun ingatan masa lampau.

Tembok memanglah keras, namun apa hendak dikata, kelas berarti seruangan yang harus dihadirkan dengan petak-petak batu. Ini berarti barang siapa hendak berpengetahuan, maka hendaknya harus bergumul dengan tembok-tembok. Dan namanya tembok, pasti ia membatasi.

27 oktober 2011

Ihwal Perubahan

Hari-hari ke depan mungkin akan penuh gemuruh. Jalan raya menjadi ramai, dan mahasiswa tentu punya agendanya sendiri. Hari-hari belakangan ini, kita dibuat resah, banyak caci maki menjadi ujaran yang banal, juga aspirasi menjadi ihwal yang penting. Sebab di penghujung bulan nanti, presiden RI akan berdiri di atas podium negara, berdiri menghadap seluruh masyarakat Sabang-Merauke, dan tentu dengan kesannya yang kita kenal betul; mimik muka yang melankolis, tutur ucap yang telah ditata, di bagian mana intonasi harus ditekan pada kata-kata tertentu, warna baju apa yang harus melambangkan kecocokan dengan audiens, dan tentu isi pengumuman itu sendiri, dengan teori-teori ekonomi makro mutakhir, tentang nasib, tentang naik tidaknya bahan bakar minyak (BBM).

Pidato, jalan raya, dan mahasiswa di hari-hari ini kerap semakin akrab. Agenda yang serempak harus segera dijalankan. Agenda pemerintah dengan menaikkan harga bahan bakar minyak menjadi topik yang tiba-tiba genting. Dan, jalan raya menjelma sebagai narasi yang mempertautkan ide-ide perubahan yang selama ini dilancung oleh sistem. Maka analisis tentang kebijakan dihampar pada setiap ruang dialog. Di mana di sana ada persandingan isu-isu tentang perubahan sebuah negeri yang ingin merdeka. Teori-teori perubahan sosial pun pada akhirnya kembali mendapatkan momennya untuk dibincang kembali.

Namun, pada negara seperti Indonesia, seluruh teori yang punya kesan ingin merubah tatanan sistem pemerintahan dipending untuk diajarkan. Bahkan, sekalipun bisa jadi harus diberangus. Maka antara hari-hari kemarin dan hari-hari seperti ini, ide-ide perubahan mendapatkan sinyalemennya yang kurang tegas.

Sebagai narasi, maka sebuah penceritaan selalu dimulai dengan permulaan.  Mengisahkan aktor-aktor yang punya peran di dalamnya, dan apa yang dilakukan belakangan ini; apa yang sering dikatakan sebagai aksi jalanan, sedang kehilangan aktornya.

Maka, di saat seperti ini, jalan raya menjadi pentas  yang memainkan peran pada sebuah gerakan yang tak memiliki aktornya.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman, punya teori. Perubahan penting untuk dimulai dengan kepemimpinan, yang mana punya posisi strategis dalam  penentuan arah perubahan sosial. Tentu Weber memiliki iman bahwa massa jalanan tak selamanya adalah hal yang sadar dengan kondisi yang melatarbelakanginya. Menyangkut ini, Weber menampik jenis gerakan yang akhirnya bisa jadi  lancung di tengah jalan. Yakni sebuah arah bisa jadi adalah kehendak yang menampik ruang permenungan.

Dengan begitu, galibnya sebuah suara protes di tengah gerombolan massa hanya menjadi suara yang panca. Maka kehadiran ide-ide perubahan harus disemai di tengah-tengah massa. Teori-teori harus menjadi bagian integral dalam menata realitas, bergumul dengan realitas sebagai jalan dialektis. Di mana pada titik seperti ini, kerap teori-teori besar harus kembali diujicoba, difalsifikasi pada tepian realitas yang kerap jamak, sehingga tak ada ide yang mutlak tunggal, yang berarti ada kemungkinan sebuah teori besar harus memberi jalan bagi ide-ide yang minor.

Namun jalan perubahan, tak selamanya mengisyaratkan perlunya sebuah ide yang sempurna betul. Sebab ide yang sempurna betul punya jalannya sendiri.   Terkadang ide yang sempurna hadir dengan jaraknya yang jauh dengan kondisi keadaan manusia. Kita lihat betapa ide-ide besar menjadi teropong yang memberi batas pada apa yang dapat dilihat dan apa yang tak dapat dilihat. Dan dengan demikian perubahan dengan mengusung ide-ide besar harus takluk di hadapan konteks yang tak dikenalinya.

Bisa jadi karena itulah, ide-ide yang datang pada penghujung zaman terkadang lebih mampu diterima dibandingkan dengan ide-ide yang ada sebelumnya.

Berkat itulah, Hegel punya keyakinannya sendiri. Ide dalam pandangannya mengisyaratkan perubahan yang terus menerus, yang berkelindan dalam zaman. Sebuah ide dipahami sebagai gerak yang melampaui batas-batas teritorial temporal. Sebab ide pada hakikatnya adalah sempurna. Namun kesempurnaan adalah ihwal yang juga menjadi hal yang kerap kali ditolak pada moment-moment yang menghendaki adanya perbuatan yang segera.  Di sini, tindakan menjadi nyata dibandingkan ide yang terlampau abstrak. Dan, di sinilah masalahnya, ide selalu menuntut keterlepasan dari tindakan yang kongkret.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...