15 November 2016

marah

Akhir-akahir ini kemarahan begitu gampang kita temukan. Bahkan, di layar kaca kemarahan malah menjadi tontonan sehari-hari. Dan, itu semua akibat marah tidak sekadar marah. Marah yang ada di layar kaca, bukan marah sembarangan. Itu marah yang politis.

Sebenarnya marah adalah hal yang manusiawi. Semua orang bisa marah. Mulai dari anak kecil sampai orang dewasa. Bahkan Tuhan pun bisa marah. Di dunia ini hanya satu yang tak bisa marah: malaikat.

Sebab marah-marah bisa macam-macam. Mulai dari hal sekecil biji jagung sampai sebesar buah semangka. Bahkan ada sebab kemarahan yang sebesar negara ini.

Tapi siapa yang berhati malaikat. Bukankah manusia diciptakan bukan dari cahaya belaka? Apakah manusia diciptakan dari unsur yang sama dengan malaikat? Jangan sampai Anda lupa, manusia hampir sebagian zatnya diambil dari lumpur yang hina dina. Dari kegelapan tanah tanpa terang sedikit pun.

Maka dari itu, jangan heran jika manusia khilaf, bisa saja kemarahannya muncul seketika. Apalagi jika kekhilafan yang dialami tidak disadari sebelumnya. Itu celaka tiga belas. Sudah khilaf, tidak disadari pula.

Sesungguhnya, kemarahan yang disertai kekhilafan masih kalah berbahaya dibandingkan kemarahan yang politis. Pasalnya, orang yang kemarahannya menyertakan khilaf biasanya akan segera memohon maaf di belakang. Walaupun salah, kelak sesegera mungkin akan meminta maaf. Itu terjadi akibat pasca marah ia menyadari kekhilafannya.

Sementara marah politis bukan marah yang akan ada permohonan maaf di belakangnya. Ini akibat marah politis memang marah yang disengaja. Marah yang direncanakan. Makanya tidak akan ada maaf pasca kemarahan yang politis.

Karena itu marah politis tak tahu sampai kapan redanya. Bisa-bisa besok kita ikut-ikutan marah akibat terlalu lama. Malah bisa jadi tren. Sedikit-sedikit emosi. Sedikit-sedikit marah-marah.

Sebenarnya kemarahan itu tidak salah. Bahkan manusia kalau boleh perlu marah. Hanya saja, kemarahan yang dibolehkan jika memang diperlukan dalam konteks tertentu. Misalnya seorang ayah yang marah kepada anaknya karena anaknya meninggalkan shalat lima waktu.

Sang ayah berhak marah karena dia punya kewenangan. Apalagi sang ayah memang berhak marah sebagai orang tua yang ingin melihat anaknya tumbuh baik. Itupun sang ayah hanya dibolehkan marah dengan batas-batas kewajaran. Misalnya dalam rangka mendidik.

Yang bermasalah kalau kemarahan itu datangnya dari sang anak. Ini bahaya karena tidak ada kewenangan anak untuk marah. Dia tidak punya hak untuk marah. Justru dialah yang patut dimarahi karena lalai dalam rangka menjalankan kewajibannya.

Sekarang di layar kaca hampir semuanya marah-marah. Mulai dari atasan sampai bawahan marah-marah. Tidak di kantor-kantor, tapi juga di jalan raya. Anehnya marah-marah di jalan raya justru dilakukan beramai-ramai.

Sekali lagi marah itu boleh-boleh saja. Itu manusiawi. Tapi kalau marah-marah justru malah mengajak orang banyak itu yang aneh. Apalagi kalau itu dilakukan seharian penuh. Makin aneh kalau kemarahannya terjadi berhari-hari. Sungguh aneh bin ajaib.

Mungkin itu yang dimaksud marah politis tadi. Marah yang direncanakan, makanya bisa berhari-hari.

Tapi marah politis tetap saja tidak baik. Alangkah lebih baik kalau itu marah manusiawi saja. Marah politis biasanya ada maunya. Ada kepentingannya.

12 November 2016

Jorge Luis Borges dan Sepasang Mata Buta dan Sebuah Cerita

“I have always imagined that paradise will be a kind of Library”

-Jorge Luis Borges-

Jorge Luis Borges pada akhirnya buta. Sastrawan berkebangsaan Argentina itu kehilangan penglihatan di tahun 30an di usia menjelang 60.  Konon, ketika buta, Borges tak sekalipun berhenti membaca. Dari toko buku di suatu sudut Buenos Aires, seorang pemuda senantiasa menemani membacakannya buku-buku. Dengan mata pemuda itu, Borges bisa tahu banyak hal.

Alberto Manguel datang tiga kali seminggu di rumah Borges. Sering kali dengan suara lantang, pemuda yang kelak menjadi sastrawan ini membacakan segala hal kepada Borges. Pemuda ini sangat beruntung menjadi bagian sejarah dengan menjadi “mata” bagi penulis besar yang menjadi tonggak fiksi realisme magis.

Borges sudah buta, tapi dari kegelapan matanya ia telah banyak membangun cerita. Menyusun dan mengeditnya selekas mungkin tanpa menuliskannya di atas secarik kertas. Borges barangkali tengah membangun kertas imajinatif di dalam benaknya ketika mengisahkan cerita-ceritanya. Itu juga sebabnya, magis adalah sebilah kata yang sudah dia susun sedari awal di dalam imajinasi kreatif benaknya.

Alberto Manguel boleh saja menyusupkan cerita melalui suaranya ketika membacakan buku-buku untuk Borges. Tapi, tetap saja Borges-lah yang memiliki kekuatan membangun kembali imajinasi di balik matanya yang buta. Saat itulah, imajinasinya mengambil alih kebutaan yang dialaminya. Membentuknya sesuka hati seperti yang tak bisa dilakukan mata penglihatan manusia pada umumnya.

Itu sebabnya mata hanyalah jembatan warna-warni, namun di dalam benaklah tempat peristiwa imajinatif sesungguhnya terjadi. Mata hanyalah jangkar bentuk-bentuk, tapi di dalam imajinasilah simbolisme berkembang.

Karena itu sesungguhnya Borges tidak benar-benar buta. Ia memang kehilangan penglihatannya, tapi ia –sekali lagi, tidak buta. Bahkan ia sendiri pernah menulis esai berjudul “Blindes” yang berbicara tentang kebutaan yang dialaminya. “Saya tak memperkenankan kebutaan mengintimidasi saya,” ungkap Borges sebagai ikhtiar agar terus dapat menulis.

Kebutaan, bahkan, bagi Borges disebutnya sebagai anugerah, sebagaimana ia juga menyebut bahwa Homer, penyair Yunani purba juga buta. Tapi dari kebutaan itu, justru ia memiliki sensibilitas melihat sesuatu dengan cara berbeda. Dengan kebutaan, suatu instrumen lain tercipta, dan kesempatan membangun dunia yang lain dari yang tidak banyak dipahami khalayak.

Dari sensibilitas yang peka, Borges punya visi, perspektif tempat “matanya” memandang dan membangun cerita. Dan, dengan buku-buku jemarinya yang tangkas mengalir aliran sungai cerita yang membuat banyak orang terhanyut. Sampai akhirnya siapa bisa menolak dari dua hal inilah Borges menjadi penulis dengan nama yang fenomenal.

***

Kebutaan boleh saja mencuri dan menghilangkan satu wilayah sensibilitas yang dimiliki manusia. Tapi, kebutaan juga sebaliknya mendorong indera lainnya menjadi lebih maksimal.

Konon, otak manusia akan mengkondisikan pekerjaannya jika ada satu alat inderanya yang mengalami hambatan atau gagal berfungsi. Otak akan mendukung dan memaksimalkan indera yang lain agar dapat lebih bekerja. Itu sebabnya, orang-orang yang buta, sebenarnya tidak benar-benar buta. Dia hanya berganti dan memaksimalkan alat indera yang lain.

Borges memang pada akhirnya buta, tapi seluruh indera sensibilitasnya memiliki cara yang lain dalam mencandra realitas. Juga, tentu dengan imajinasinya, realitas menjadi lebih kaya dan kompleks untuk dipahami dan dimaknai. Bagi Borges, barangkali cerita tanpa imajinasi yang kuat hanyalah istana khayangan di atas pasir.

Yang ajaib dari Borges, dia menjadi direktur perpustakaan nasional di Argentina saat mulai mengalami kebutaan. Bagaimana mungkin ini didamaikan? Ketika kegelapan menghingapi di balik sepasang matanya, sementara Borges berada di tengah-tengah buku-buku sebagai jendela persada. “Aku berbicara tentang ironi yang mempesona dari Tuhan yang memberikan aku sekaligus 800.000 buku beserta kegelapan.”

Bukankah ini suatu ironi yang mencengangkan? Dari sepasang mata yang buta, asal dari segala kegelapan bersarang, justru menjadi pangkal cerita imajinasi yang berlapis-lapis? Sungguh dari sepasang mata yang buta, Borges tak benar-benar buta.

Sungguh itu adalah berkah.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...