01 September 2016

Membangun Pemberitaan Berperspektif*

Kekerasan bisa menjelma di mana saja, termasuk dalam pemberitaan. Dan bisa jadi, pelakupelakunya tiada lain adalah orangorang yang berprofesi sebagai penulis, terutama para pewarta berita.

Bila menggeledah bagaimana suatu kabar diproduksi, maka seperti yang dipahami selama ini, media memang menjadi kaki tangan anarki.

Noam Chomsky nyatanya tidak mainmain ketika mendenotasikan media sebagai sumber anarki. Bila menilik kasus "kopi bersianida" sulit rasanya bisa dibedakan yang mana disebut kasus publik dan televisi itu sendiri sebagai intrumen penting dalam menyebarluaskan berita. Begitulah apa yang dibilangkan Alwy Rachman, scholar ilmu budaya, di dalam suatu pertemuan diskusi yang diselenggarakan kerjasama LBH Apik Makassar dan OXFAM.

Seperti yang diungkapkan Alwy Rachman saat mempercakapkan bagaimana akar kekerasan bisa begitu sulit diretas, kekerasan bisa dimotori berbagai motif. Mulai dari sifat khas manusia yang agresif hingga bahasa sebagai medan simbolik yang menjadi sumbersumber terang dalam konstelasi tatanan masyarakat.

Bahasa sebagai elemen dasar informasi, sadar tidak sadar menjadi medan yang licin saat digunakan. Bahasa, termasuk unitnya yang paling kecil, yakni kata, menjadi wadah pengertian yang mendua.

Pertama, bahasa -dalam konteks media, bukan sekadar penyampai faktafakta atas suatu peristiwa, melainkan mampu menyelundupkan pengertian lain yang berkembang diskriminatif.

Kedua, akibat berjaraknya pengalaman penulis berita dengan pengalaman pembaca berita, membuat maksud awal dari penggunaan bahasa melenceng dari pengertian yang sebenarnya.

Misalnya dalam pemberitaan kasuskasus korban kekerasan, terkadang penggunaan bahasa hingga sampai membentuk frame pemberitaan, malah berperan serta dalam memproduksi kekerasan di level simbolik.

Pada tahap selanjutnya, kekerasan simbolik bisa menjerumuskan masyarakat dalam istilah yang sering digunakan Alwy Rachman sebagai cultural bleeding. Pengandaian ini --sejauh daya mengingat, merujuk kepada situasi sosial yang dilingkupi tatatan budaya yang secara tidak langsung menjadi sumbersumber anomali sosial.

Malangnya, korbankorban kekerasan yang acapkali terjadi adalah perempuan dan anakanak. Perempuan dan anakanak yang menjadi korban, selain menjadi korban langsung dari peristiwa kekerasan itu sendiri, di lapisan yang lain, juga mengalaminya di tahap simbolik.

Di poin inilah, media yang tak memiliki perspektif keperempuanan dan anakanak, malah menjadi pelaku kedua dari tindak kekerasan yang terjadi.

Hal ini dalam tahapantahapan produksi berita hingga penggunaan bahasa, secara tidak sadar malah melanggengkan kekerasan atau bahkan justru mempertebal intensitas kekekerasan itu sendiri.
  
Apabila ditilik dari teori kekerasan pembelajaran sosial, beritaberita yang menyuguhkan bahasa, gambar, simbol, maupun gesture yang tampak dipemberitaan, sebagai bagian langsung dari dunia simbolik, seperti yang diutarakan sebelumnya, turut membangun dunia simbolik sebagai akar kekerasan.

Itu sebabnya, penting membangun pemberitaan yang berperspektif perempuan dan anakanak. Pemberitaan yang berperspektif perempuan maupun anakanak, harus bisa dimulai dari pemahaman pewarta berita ataupun orangorang yang menjadi wakil publik dalam mentransmisikan informasi.

Penulisan yang berperspektif setidaknya adalah suatu mekanisme kerja penulisan yang ditulis dari standarstandar best practice, termasuk bagaimana mengambil stand of view di saat memulai kerja penulisan berita.

Hal lain yang mesti diperhatikan, pemberitaan yang berperpspektif selain harus memerhatikan pilihan atas penggunaan bahasa, juga harus dibangun atas niatniat humanis di dalamnya. Termasuk di antaranya pemberitaan yang dibuat mesti informatif, edukatif, dan akurat.

Tentu pengalaman penulisan semacam ini, harus bertumpu kepada kode etik jurnalisme yang menjadi ramburambunya. Jika hal ini diabaikan, maka barang tentu apa yang diungkapkan di atas, termasuk media sebagai pelaku kedua kekerasan, menjadi makanan seharihari pembaca berita.

Terakhir, mesti diketahui, kekuatan modal yang banyak mendeterminasi keberpihakan penulisan berita, adalah persoalan klasik yang masih terus menyusupi praktikpratik pemberitaan selama ini. Akibatnya, banyak ditemukan pemberitaanpemberitaan yang tidak peka terhadap isuisu kekerasan perempuan dan anak yang lebih banyak disebabkan kebijakan redaksi yang terus dibayangbayangi kebijakan yang jauh lebih besar di atasnya.

Itu sebab, ketika kejadian di atas masih menjadi persoalan internal antara pekerja berita dengan pengambil kebijakan di dalam industri media, mesti ada suatu model penulisan berita independen baik secara institusional maupun pribadi yang leluasa mengabdikan diri kepada isuisu yang mendeskreditkan perempuan dan anakanak.
  
Dalam konteks kasus inilah, model pemberitaan citizen journalism harus mengambil peran, termasuk model penulisan blogger yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya baru dalam mengantisipasi persoalan di atas.

*Saduran dari diskusi hari pertama Pelatihan Jurnalistik LBH Apik Makassar dan OXFAM, "Membangun Perspektif Perempuan dan Anak dalam Pemberitaan"

28 Agustus 2016

Generasi Digital Native dan Literasi

Manusia, selain mahluk sosial juga disebut homo faber. Homo faber merupakan identitas  yang menandai bahwa manusia adalah mahluk berkarya/bekerja. Banyak para filsuf mengidentifikasi homo faber sebagai cara manusia mengekspresikan dirinya di dalam dunia. Secara umum, manusia punya dua kemampuan bawaan, yakni berpikir dan bekerja. Kualitas yang pertama, sudah berabadabad lamanya disebut Aristoteles sebagai homo thinker. Yang kedua, sebagai kualitas intristik adalah kualitas homo faber itu sendiri.

Abad dua satu adalah abad kerja. Hampir semua medan kehidupan merupakan realisasi dari kemampuan manusia melalui proses kerja. Teknologi informasi, yang juga hasil dari kerja manusia, adalah salah satu pencapaian peradaban mutakhir penanda manusia sebagai homo faber.

Manfaat teknologi informasi membuat manusia semakin memiliki kemampuan penginderaan jauh dalam mempersepsi kenyataan. Lewat, gadget misalnya, manusia mampu menjebol batas ruang dan waktu, di saat ingin mengetahui peristiwa, misalnya, perang Suriah. Lewat gadget pula, manusia bisa memperpanjang indera pendengarannya di saat asyik berbicara dengan sang kinasih di tempat yang jauh.

Menulis, sebagai aktifitas, juga adalah jenis pekerjaan. Cuman, berbeda dari pekerjaan otot, menulis lebih banyak menggunakan otak. Kerja menulis memiliki dimensi yang berbeda dari kerja pada umumnya, sebab di saat menulis, yang lebih banyak dijadikan bahan baku adalah ilmu pengetahuan. Informasi yang merupakan bahan dari ilmu pengetahuan, di saat kerja menulis, memiliki proses yang berbeda dari pengelolahan barangbarang material yang umumnya ditemukan dalam pekerjaan otot. Kalau kerja material hanya melibatkan waktu “kekinian” dalam berproses, tidak pada menulis.

Saat menulis, waktu menjadi demikian abstrak dalam imajinasi yang memapatkan sekaligus waktu masa lalu, masa kini, dan masa akan datang secara bersaamaan.  Lewat proses mengingat, membayangkan, dan berpikir ilmu pengetahuan dikelola. Merangkai satu demi satu informasi yang berasal dari masa lalu, masa kini, maupun bayangan masa depan.

Ciri kerja imajinasi demikian juga berlaku di dalam dunia teknologi informasi, komputer misalnya. Bisa dibilang, ketika suatu informasi telah masuk dalam jaringan data base CPU, maka tiada batas waktu berlaku di sana. Itu sebab, informasi yang bertahuntahun lamanya mampu dipresentasekan kembali di waktu kekinian. Atau bahkan, informasi yang diperuntukkan buat masa depan dapat dibuat seolaholah dihadirkan di masa sekarang. Kerja demikian tidak mungkin terjadi begitu saja tanpa pelibatan prosesor canggih yang bekerja dalam bentuk IC (integrated circuit) sebagai otaknya.

Yang malang, kemajuan teknologi informasi tidak paralel dengan kemajuan daya kerja otak manusia. Terutama generasi digital native yang sedari kecil tumbuh dewasa dididik langung oleh teknologi canggih. Generasi digital native, akibat terlalu sering bersentuhan dengan teknologi komputerisasi maupun virtual digital, secara mental mengalami hambatan.

Penurunan kualitas kognitif anakanak digital natives, disebabkan kemampuan otak yang dikerjakan langsung kepada “otak digital” yang ada dalam teknologi komputer dan virtual digital. Akibatnya, daya pikiran menjadi terhambat dikarenakan sudah dikerjakan otakotak digital melalui proses penggunaan alat teknologi canggih.

Proses berhitung misalnya, anakanak digital native lebih suka menyerahkan langsung kepada kalkulator yang tertanam di dalam gawainya sebagai otak utamanya. Alhasil, proses berpikir yang seharusnya dialami langsung, malah tercerabut dari pekerjaan alaminya.

Contoh lainnya adalah proses tulis menulis. Karena begitu mudahnya efektifitas teknologi canggih, anakanak muda sekarang malah lebih sering melakukan proses literasi dengan hanya mengandalkan kemampuan copy paste. Padahal, dalam tindakan itu tiada proses kreatif yang mampu mengaktifkan seluruh jaringan otak agar bekerja. Akibatnya, proses copy paste hanya menghasilkan robotrobot pencetak informasi imitasi.

Alhasil, generasi digital native bukanlah anakanak pekerja keras. Otaknya tidak pernah dipekerjakan melalui aktifitas literasi, walaupun teknologi informasi berkembang pesat. Meskipun, lewat kemajuan teknologi informasi begitu banyak informasi yang betebaran di dalamnya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...