10 Juni 2016

bakso

Bakso. Itu makanan kesukaan saya. Ini jarang diketahui. Hanya orangorang tertentu yang tahu. Juga sangat sedikit dari mereka sering saya ajak makan bersama. Traktir.

Kala masih sekolah menengah, kala sore biasanya saya sudah standby di lorong belakang rumah. Biasa, menunggu tukang bakso langganan lewat.

Kebiasaan ini juga dilakukan temanteman sepermainan. Lengkap dengan mangkuk masingmasing.

Kalau makan bakso, kala itu harus dicampur mie instan. Namanya mie Sakura. Sekarang mie ini sudah punah. Dulu harganya lima ratus rupiah. Murah.

Entah mengapa bakso gerobakan mas langganan nikmat dicampur mie Sakura. Keyakinan kami saat itu karena mie Sakura punya bumbu yang khas. Minyak sayurnya yang maknyos. Kuning kental.

Bakso semakin nikmat bukan saja karena bumbu mie Sakura. Tapi bumbu rahasia yang dibikin mas seperti adonan kue itu. Warnanya cokelat menyerupai tai sapi kering. Jika dicampur bumbu ini saya bisa bertahan siang malam menghabiskan satu gerobak.

Yang saya sukai dari bakso sebenarnya adalah kuahnya. Saya tak peduli daging apa yang dipakai bikin pentol bakso. Entah kanji atau daging tikus saya tak peduli. Kalau sudah berbentuk bulat rasarasanya semuanya sama saja. Hanya kuahnyalah yang sebenarnya menentukan.

Makanya jika saya mendapati warung bakso di manapun, kuahnyalah yang saya nilai pertama kali. Itu juga yang jadi nilai plus bakso gerobakan langganan. Selain harganya murah. Kuahnya yang bikin ketagihan.

Kebiasaan menunggu tukang bakso juga sering dilakukan siang hari. Jadi bisa dibilang hampir duakali saya membeli bakso dalam sehari. Itu jika ada cukup duit.

Seperti obat sakit kepala kebiasaan saya ini hampir rutin. Tapi, kalau sore sepulang main sepak bola saya tidak membeli bakso, maka saya sudah tunaikan di siang bolong sepulang sekolah.

Bila saya ingin naik level dari bakso gerobakan menjadi bakso warungan, itu gampang. Di depan rumah berdiri gagah warung bakso. Kebetulan mbak penjual bakso ini tetangga saya. Nah, di warung inilah saya menaikkan derajat kelas dari pembeli bakso jalanan menjadi pembeli berduit.

Walaupun agak mahal dibanding gerobakan, bakso tetangga saya ini juga sedap rasanya. Tentu kuahnya yang bikin demikian. Ini bukan macammacam. Saya serius!

Dari saya SMP sampai sekarang, tetangga saya ini sudah hapal kuah bagaimana yang cocok dengan lidah pembelinya. Soal bakso jangan bilang, tetangga saya ini salah satu masternya. Buktinya sampai sekarang masih bertahan.

Soal pentol bakso, tetangga saya lebih terjamin. Kalau bakso gerobakan sering dominan dicampur kanji, mbak saya ini memang menggunakan daging. Barangsiapa doyan makan bakso pasti tahu perbedaan teksture mana bakso daging mana tepung kanji belaka.

Kalau mas gerobakan punya bumbu ulegkan khas, bakso tetangga saya punya sambalnya yang aduhai. Ini yang menambah rasanya jadi spesial. Saya yang menyukai makanan pedaspedis jadi doyan.

Biasanya jika di rumah makanan habis, bakso tetangga saya ini pilihannya. Dengan modal sembilan ribu semangkuk bakso gurih sudah bisa dibungkus pulang.

09 Juni 2016

flash disk

Hampir dua minggu belakangan saya sibuk ke kampus. Seingat saya kesibukan saya ini jarang terjadi. Apa pasal karena jelang deadline wisuda saya harus pagipagi berangkat ke kampus.

Di kampus hanya dua hal yang saya lakukan: bertemu dosen pembimbing tercinta dan melengkapi administrasi berkas wisuda. Yang pertama berkaitan dengan tesis saya. Yang kedua, kalian barangkali sudah tahu: berdiri gagah di antara ratusan wisudawan dengan toga sewaan.

Masalahnya adalah untuk urusan yang kedua susahsusah gampang. Berkas pendaftaran wisuda lumayan banyaknya. Saya sampai pusing mengerjakannya. Macammacam surat harus disediakan. Saking banyaknya tas saya sudah seperti lemari berkas pegawai negeri sipil.

Susahsusah gampang urusan ini karena banyak berkas yang harus ditanda tangani. Akan mudah jika yang menandatangani berada di tempat. Yang ribet kalau yang punya tandatangan malah keluar punya urusan. Susah.

Juga yang bikin ngosngosan karena gedung administrasi dan gedung jurusan jaraknya lumayan jauh. Kalau jalan kaki lumayan bisa bakar lemak tiga sampai lima kilo. Saya yang agak kurus ini memilih naik motor saja.

Nah, di antara dua gedung inilah saya harus bolakbalik urus ini itu. Walaupun naik motor rasarasanya sama saja. Bedanya bukan lemak saya yang terbakar habis. Justru bensin motor saya yang terkuras. Pun kalau capek itu hanya karena jarak parkiran dan gedung jurusan yang juga lumayan jauhnya.

Sekarang hari terakhir pendaftaran wisuda. Aturan mainnya sebelum pukul duabelas siang semua berkas harus rampung. Jika tidak tamat riwayat. Saya harus menunggu giliran wisuda dua tiga bulan lagi. Mampus sudah.

Berkas terakhir yang harus disetor sebelum tenggat waktu adalah lembaran distribusi tesis. Dua hari belakangan hanya ini yang bikin saya moratmarit tak karuan. Sementara tesis saya sepagi ini belum jelas. Masih di tempat penjilidan.

Khawatir bakal telat, pagipagi buta saya sudah mandi. Pukul enam lewat Bung! Pikiran saya hanya tertuju kepada berjilidjilid pagina bersampul merah itu. Kemudian satu benda yang bikin semua rencana seperti bakal berantakan: flash disk.

Ceritanya begini: benda kecil yang sering saya bawa itu tibatiba raib dari tas saya. Setelah diperiksa di kantung baju tidak ada, dan saku celana pun nihil. Apes. Saya kehilangan benda canggih itu tanpa saya dugaduga sebelumnya.

Tanpa FD itu otomatis saya tidak bisa menyetor berkas. Di dalamnya ada satu data tesis lengkap yang harus saya pdf-kan dan kemudian di CD-kan. Dan tanpa CD itu maka berkas saya yang lain jadi tidak ada artinya.

Akibat FD yang raib di bawa ketiadaan, sehari sebelumnya pikiran saya jadi mumet. Hampir semalaman pikiran saya hanya soal FD. Tak bisa dibayangkan tenggat waktu yang hanya tinggal sehari bikin hati waswas. Jangan sampai karena FD yang entah kemana saya gagal jadi wisudawan.

Makanya sore kemarin untuk mengantisipasi saya membeli FD baru. Tujuannya saya harus mengulang memasukkan datadata penting buat di CD-kan nanti di koperasi. Sembari harapharap cemas, saya berniat pagipagi buta sudah harus berada di kampus untuk mengejar setoran berkas yang belum rampung.

Dengan data cadangan di FD baru, saya berharap FD yang raib bisa ditemukan kembali. Agak sedih rasanya miniatur kemajuan teknologi itu tidak bisa saya gunakan lagi.

Lewat FD itu, banyak harihari yang saya lalui bersama. Mulai dari film, artikel, beberapa foto narsis, dan sejumlah esai saya abadikan di dalamnya. Kehilangannya seperti ada yang kurang. Seperti kekasih saja.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...