02 Mei 2016

waktu dan pram

Sudah semenjak terakhir kali membaca Cantik Itu Luka, saya agak ragu mau membaca novel yang bejibun pagina. Agaknya, kekhawatiran ini ditenggarai ketidaksanggupan melumat habis bacaan. Ini makin krusial, karena di situ soalnya ada yang genting: waktu akhirnya jadi medan yang tak lagi bulat. Waktu jadi semacam garis putusputus, tak lengkap.

Saya selalu meyakini, membaca bukan saja peristiwa kesadaran yang mau masuk terlibat dalam dunia teks dengan segala kemungkinannya, melainkan di situ ada medan waktu yang jadi ukuran panjang pendeknya kesadaran yang ikut di dalamnya. Membaca dengan arti ini sederhana, suatu keadaan yang mau membangun pemahaman dengan teks sekaligus juga ingin bersetia di dalam bulatan waktu.

Karena itulah kalau melihat buku yang tebaltebal, suatu kesadaran bakal menjadi ciut. Kiwari, di dalam kesadaran saya, waktu bukan lagi pengalaman semacam garis lengkung lingkaran, suatu horison yang tanpa pangkal dan ujung. Waktu yang bulat adalah waktu yang tidak ditandai titik permulaan dan akhiran. Yang ada hanya suatu peristiwa totalitas. Suatu keutuhan.

Sementara jika mau membaca suatu novel,  itu berarti mau sabar mengakrabi lintasan waktu kehidupan tokohtokohnya.. Mau ikut di dalam keseluruhan kehidupan yang dikisahkan cerita di dalamnya. Novel dalam pengertian saya ini adalah rangkaian cerita yang terjalin atas ikatan totalitas. Hanya dalam novel-lah kita menemukan tokohtokohnya tampil lengkap seperti manusia nyata: ia lahir dengan tangisan, hidup dengan beragam pengalaman, dan akhirnya mati meninggalkan banyak orang. Membaca novel akhirnya sama dengan membaca kehidupan itu sendiri.

Itulah sebabnya, membaca novel perlu waktu yang bulat. Waktu yang tak putus. Namun, apa boleh buat, kehidupan sekarang adalah suatu aktifitas yang ditentukan waktu yang terbelahbelah, putusputus tanpa meninggalkan ikatan dengan totalitas. Sekarang, karena seluruh pengalaman manusia adalah pengalaman yang tak lagi disertai kesadaran yang padu, aktivitas yang berbeda di tiap waktunya, akhirnya membikin manusia tidak akrab dengan kesetiaan. Sehingga bagi pegiat bacaan, waktu harus kembali dinetralisir. Jadi kalau mau membaca buku, maka waktu harus betulbetul bebas dari perbudakan. Setiap pembaca harus setia dengan dan di dalam waktu.

Omongomong setia dalam waktu, saya mau sebut Pram. Orang yang pernah dikirimi mesin tik oleh Jean Paul Sartre kala menjalanai masa tahanan di Pulau Buru. Di masa tahanannya, waktu bagi Pram adalah media tukar untuk bertahan lama. Masa tahanan sepuluh tahun dipertukarkannya dengan wujud yang bakal sulit di hapus: berjilidjilid kisah Minke dan Indonesia.

Sulit rasanya mau bilang bahwa tanpa kesetiaan terhadap waktu, karyakarya Pram bakal lahir. Pram sebagai seorang pengarang cerita tentu bakal menggunakan waktunya bukan dalam pengertian yang terputus, sebab jika membangun suatu cerita mirip Tetralogi Buru misalnya, mustahil tanpa ingatan yang mencakup keseluruhan bulatan peristiwa yang sudah ditulisnya.

Kesadaran Pram adalah kesadaran yang bulat, sekaligus bukan dibangun di atas waktu yang putusputus. Dalam seluruh kehidupan Pram, waktu akhirnya suatu bulatan yang diniatkan hanya untuk menulis. Sebab itulah dia bilang, menulis adalah keabadian. Tak ada ujung tak ada permulaan.

30 April 2016

Sampul Buku


Model sampul buku anak-anak SD zaman 90-an

Sampul buku itu penting. Dia ibarat kulit, melindungi. Sampul, karena itu jadi barang wajib. Tanpa sampul, buku tak bisa tahan lama. Akibatnya, buku yang bersampul punya masa lebih panjang dua kali lipat dari buku yang tak bersampul.

Dulu bagi anakanak sekolah dasar, sampul harus ada jika punya buku baru. Musababnya karena hampir setiap guru bersepakat, buku yang baik adalah buku yang bersampul. Makanya bagi anak sekolah dasar buku apapun modelnya akhirnya jadi seragam.

Buku yang bersampul juga karena itu jadi ukuran kerapihan. Kadang bagi siswa, ketika mengumpulkan tugas, buku yang tanpa sampul tidak bakal diterima guru. Itu juga mengapa buku tanpa sampul adalah ukuran kepatuhan. Jadi di kelas gampang menilai mana murid patuh mana murid nakal.

Seingat saya sampul paling terkenal kala masih sekolah dasar adalah sampul berwarna cokelat. Pembungkusnya agak mirip kertas minyak. Biasanya dijual satu lusin di hampir tiap kios dekat sekolahsekolah. Kadang sampul itu banyak jenisnya. Bahkan biasanya di bagian depannya lengkap dengan katakata mutiara semisal rajin pangkal pandai; hemat pangkal kaya; sabar adalah kunci ilmu dsb.

Untuk membedakan setiap buku pelajaran, sampul yang dipakai sudah dilengkapi daftar isian jenis buku di sebelah kiri atas. Sehingga kalau mau menulis buku mata pelajaran "matematika" misalnya, cukup langsung ditulis di tempat yang sudah disediakan. Ini bagi anak sekolah dasar adalah pekerjaan yang menyenangkan, sebab bisa belajar mengklasifikasikan buku berdasarkan mata pelajaran sebelum kelas tahun pertama dibuka.

Sekarang agak sulit menemukan sampul cokelat seperti yang dipakai anak sekolah dulu. Anak sekolah sekarang lebih suka memamerkan gambargambar yang melekat di halaman kulit depan buku. Ini terjadi terutama jika sudah kelas empat ke atas. Bagi anak kelas empat atau di atasnya, buku bersampul cokelat justru membuat buku tidak tampak gagah. Apalagi mulai di kelas inilah buku pelajaran sudah mulai digabunggabung. Mata pelajaran yang berbedabeda cukup satu atau dua buku saja.

Kegiatan menyampul buku sekarang hanya penting bagi orangorang pecinta buku. Cuman berbeda dari anak sekolah dasar, sampul yang dipakai adalah sampul plastik transparan. Agak lucu kalau sekarang setiap koleksi buku berwarna cokelat. Juga akan menyusahkan kalau bukubuku susah dibaca sampulnya jika diperlukan.

Makanya penting jika setiap buku punya sampul. Setidaknya dari situ cara manusia mencintai peradabannya. Menyampul buku karena itu tindakan paling sederhana menjaga kepunahan peradaban. Cuman bedanya, tidak seperti anak sekolahan, kegiatan itu dilakukan bukan karena perintah guru, melainkan suatu sikap yang didorong rasa suka. Ya, rasa suka, atau barangkali cinta.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...