10 Februari 2016

yang tinggal dari "geliat atte dalam dua novel"

Jusnawati bilang, tulisannya mengandung dua hal; segi informatif dan evaluatif. Berdasarkan itulah dia membangun perspektif. Di tulisannya, dia banyak omong tentang hal yang patut diketahui, dan yang patut dievaluasi. Ini posisi yang dia tempuh.

Dia memberi tahu, Titisan Cinta Leluhur dan Djarina, dua novel yang patut dibaca. Setidaknya yang senang dengan sejarah suatu kaum. Jusna bilang kalau dia tidak suka baca sejarah. Tapi, dari dua novel yang diresensinya, dia mulai mempertimbangkan minatnya.

Pemaparan Jusna lumayan banyak. Saya agak kurang perhatikan. Tidak tahu kawankawan yang lain. Banyak suara bising. Motormotor berkejaran. Apalagi mobil yang macet. Tapi ada hal yang saya tangkap. Hubungannya dengan nuansa feminin yang dibilangnya.

Di warkop yang ramai sayupsayup saya dengar Jusna juga bilang kalau Titisan Cinta Leluhur punya judul yang filosofis. Judulnya menarik, ada kesan filosofis. Begitu dia bilang. Tapi dia kritik balik, bahwa dia tidak menemukan kesan yang sama. Seakanakan novel itu bercerita yang lain. Tidak ada kesan titisan cinta leluhur , begitu katanya. Ini kritik pertama.

Kedua Jusna ajukan kepada Djarina. Novel kedua yang diresensinya. Katanya tak relevan antara sinopsis dan isi novel. Di sinopsisnya, Djarina disebut membahas Bantaeng era pra kemerdekaan dan pasca kemerdekaan, tapi Jusna tangkap justru disitu tak ada ulasan yang disebut di bagian sinopsis. Jusna ajukan pertanyaan: apakah sinopsis itu ditulis langsung penulisnya atau penerbit bukunya. Ini kritik kedua.

Lanjutan dari kritik kedua. Ini dari saya. Kalau disebut sinopsis mewakili keseluruhan isi novel, Djarina novel yang abai terhadap relevansi ceritanya. Ketika seseorang berdasar sinopsis memilih memiliki bukunya, tapi justru isinya berbeda, nanti disebut penipuan. Bisa jadi. Ini hanya prasangka saja. Sahsah saja.

Tapi yang dibilang Jusna menarik. Dia menemukan unsur feminin di dalam dua novel karangan Atte Maladevi ini. Juga unsur lokalitas. Dia sebut unsur keperempuanan begitu kuat di dalamnya. Ini patut dicontoh, katanya. Terutama yang ditunjukkan tokoh Djarina.

Di sisi lain Andi Reski tidak sepakat. Katanya banyak hal yang bisa diulas. Bukan saja kandungan nilai perempuan. Tapi maskulinitas tokohnya. Bilang Andi Reski, justru tokoh lakilaki dalam novel Titisan Cinta Leluhur juga patut diperhatikan. Justru Djarinah hanya jadi media bagaimana tokohtokoh di sekitarnya dikenal. Terutama maskulinitasnya.

Selanjutnya tentang nama Djarina. Nama yang sama dalam dua novel harus mengandung pertanyaan. Ini Jusna yang soalkan. Dia punya indikasi kalau dua novel Atte saling berhubungan. Itu bisa terjadi kalau ceritanya saling terkait. Atau saling menyahuti. Seperti novel Pram.

Tapi saya bilang bisa juga tidak. Banyak penulis sering gunakan nama yang sama untuk cerita yang beda. Putu Wijaya misalnya, selalu pakai Pak Ami dan Ibu Ami dihampir cerpencerpennya. Juga beberapa cerpen Eka Kurniawan. Ceritanya berbeda dengan nama yang sama.

Ada kemungkinan kalau dua novel Atte berhubungan. Tidak pada ceritanya, tapi latarnya. Dua novelnya dihubungkan sejarah Bantaeng. Tradisi masyarakatnya. Juga bisa jadi tempatnya. Bisa dibilang dua novel Atte dipertemukan oleh konteks yang sama. Ini yang mungkin Jusna maksud. Yang disebut berhubungan. Tapi, entahlah…

Selebihnya diskusi dimulai, agak formal, padahal bukan itu mau saya. Niat awal ini hanya untuk ngobrol ringan tapi berbobot. Atau berbobot sambil santai. Dengan sedikit menyeruput kopi. Atau teh tarik seperti dipesan Itto. Yang lain kopi. Sedang saya teh susu.

Saya jelaskan sebelumnya Bahrulamsal For Literacy hanya ingin mengumpulkan beberapa kawankawan yang senang ngopi. Berdiskusi daripada lowong sembari online tanpa sadar. Lebih baik yang individual dikolektifkan. Waktu senggang jadi ilmu. Kebiasaan jadi pengetahuan. Itulah saya undang Jusnawati untuk diajak ngobrol bersama yang lain. Tentang tulisannya di koran tempo hari.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...