05 Februari 2016

madah limapuluhlima

Ada suatu ramalan, bahwa dunia di masa sekarang adalah tempat yang sudah uzur. Dunia yang tua. Dunia yang sebentar lagi bakal hancur. 

Dunia yang tua, ditandai dengan hubungan manusia yang penuh dusta. Ikatan sosial yang hipokrit. Welas asih yang pamrih. Kebaikan yang bersyarat. Kemanusiaan yang ditopang dengan semangat ekspansif untuk membangun kekuasaan. Dunia yang tua, diramalkan sebagai akhir dari dunia.

Itulah mengapa di balik justifikasi demikian, dunia akhirakhir ini banyak didera derita. Agama yang nubuatnya untuk kasih sayang malah sering kali merobekrobek tubuh. Teknologi justru membuat manusia menjadi robot yang kadang melupakan esensi kemanusiaan. Kebudayaan manusia akhirnya mejadi suatu sikap barbar. Ramalan yang dinabalkan Hobbes, homo homini lupus menjadi dorongan moral di dalam relasi antara sesama. Hidup seakanakan hanya suatu keramian tanpa perhatian. Yang ada adalah rakus yang mengaungngaung.

Saya belakangan ini malah ikut menjadi orangorang yang abai. Yang menjadi bagian tanpa perlu diucapkan, bahwa diamnya seseorang malah akan dianggap menjadi bagian dari suatu skema yang dominan. 

Kita yang secara pendidikan, ekonomi, maupun budaya, yang tergolong mapan dari kelas yang ditindas, sepertinya menjadi orangorang yang dihardik dalam hadis: barang siapa yang diam ketika menyaksikan penindasan, maka dia terhitung di dalamnya sebagai ikut melakukan. Hadis yang saya tak hafal penuh redaksinya ini, saya tahu pernah diucapkan Ali Bin Abi Thalib. Orang yang disebut rasul Allah sebagai orang yang menjadi gerbang ilmunya.

Secara etis, suatu sikap acuh bagi kita sering dibilangkan sebagai reaksi yang normal. Banyak hal yang membuat itu lumrah: pengemis yang sering kita lihat di bawah perempatan, penggusuran di sebelah kompleks tempat kita tinggal, terkulainya seorang perempuan yang terlibat kecelakaan, kawan yang sulit mencari nafkah, ibu hamil yang tidak kebagian kursi, dsb. adalah wajar begitu saja karena betapa akrabnya kita dengan keadaan semacam itu. Keakraban dan betapa seringnya fenomena semacam itu yang disaksikan membuat kesadaran dan kepekaan kita menjadi tumpul berlahanlahan.

Atau sepertinya kesadaran kita masih jatuh ke dalam keyakinan yang fatalis, yang mengandaikan bahwa seluruh jalinkelindan kehidupan ini adalah kejadian yang tanpa sebab. Suatu peristiwa yang terjadi begitu saja. Atau bahkan suatu keadaan yang memang telah diatur sebelumnya. 

Yang terakhir ini memang mengakui suatu alasan yang jelas sebagai musabab di balik keberlangsungan peristiwa yang dialami, namun dengan sendirinya, keyakinan semacam ini malah memberikan penekanan bahwa seluruh yang terjadi malah sudah demikian adanya.

Di saat itulah sikap acuh menjadi sebab dari bagian keadaan yang terjadi. Bahkan sebahagiannya sudah merasa berbuat baik dengan angkat bicara atas peristiwa yang dihadapi.  Diamdiam bangunan moral kita hanya ditopang atas tindakan verbal tanpa mau lebih jauh menjadi tindakan langsung. Banyak orang yang akhirnya asal omong merasa yakin telah berbuat baik. Asal komentar telah merasa benar.

Saya pernah membaca bahwa ada perbedaan mendasar antara shalihun dengan muslihun. Orang saleh, orang yang disebut bertakwa, orang yang dekat dengan tuhan, sudah pasti banyak. Mereka sering kali kita temui, bahkan sering kali mengajak agar orang banyakbanyak mengingat agamanya. 

Tapi mereka yang mau bertindak baik itu sangat jarang. Justru mereka yang ingin mengubah keadaan sulit kita temukan. Mereka ini bukan sekadar saleh, tapi orangorang yang mengajak untuk melakukan perubahan. Merekalah orangorang muslihun. Orangorang yang melakukan perbaikan. Akibatnya mereka sering dibenci, sering dicibir karena mengganggu kemapanan. Sementara orang yang saleh malah banyak mendapat simpati, bahkan disukai oleh banyak orang. Sebab mereka sering kali cari aman. Senangnya diam tanpa mau berbuat apaapa.

Itulah sebabnya ada firman Allah; “dan tidaklah Tuhanmu akan menghancurkan kota dengan kezaliman sedangkan penduduknya muslihun (melakukan perbaikan)” Ayat ini tidak memakai saleh, tapi muslihun. Orangorang yang berbuat kebaikan. Sebagaimana Muhammad adalah orang yang saleh (baik) sebelum diangkat menjadi nabi, dan menjadi muslihun (pelaku kebaikan) di saat ditunjuk menjadi pilihan Allah.  Karena itulah Muhammad dibenci akibat bertindak sebagai pelaku kebaikan, sebab tindakannya banyak mengubah tatanan yang terlanjur korup.

02 Februari 2016

Bahasa dan Kemungkinan Asal-Usulnya

Bahasa dibilangkan lebih dibentuk atas dasar pembedaan. Maksudnya tak ada kaitan semantik antara “ayam” dengan maknanya sebagai hewan berkokok berkaki dua. Tak ada hubungan inheren antara “ayah” dengan artinya sebagai lelaki yang memiliki anak. Kata “ayah” hanya bisa terpahami jika dibedakan dengan “ayam.” Ini dinamai prinsip difference oleh Ferdinand de Sausurre, seorang scholar bahasa. Juga, dakunya, hubungan antara makna dengan bahasa justru bersifat semenamena. Jadi kata “sedekah” yang didalilkan untuk merujuk suatu iktikad baik menyumbangkan sebagian harta, hanya arti yang ditempatkan begitu saja sebagai maknanya. Bisa saja besokbesok, “korupsi” memiliki makna yang menggamit/sama dengan arti dari kata sedekah.

Kata “ayat”, “sayat”, “mayat”, “dayat”, dengan begitu tak memiliki arti yang tetap, karena prinsip pembedaan dan kesemenamenaan, arti “ayat”, “sayat” bisa digontaganti tergantung pengguna bahasa. Makna keduanya bisa ditukarkan satu sama lain, seperti juga pada kata “mayat” menerima arti makna “dayat”. Sehingga kalau disusun dalam “mayat dayat di sayat ayat” akan sulit menemukan suatu arti lengkap dari penggabungan kalimat demikian. Apabila ditinjau dari hubungan sintagmatiknya, makna kalimat itu akan mengalami gangguan jika hubungan semantik di dalamnya telah berubah akibat prinsip pembedaan dan kesemenamenaan. Dalam kasus ini, makna suatu bahasa akan sulit dipahami kalau hubungan semantik dan sintagmatiknya tidak defenitif secara maknawi.

Sulit kiranya menemukan penggunaan bahasa yang setiap waktunya mengalami perubahan secara semantik. Komunikasi menjadi simpang siur akibat pemaknaan yang berubahubah. Bahkan secara sintagmatik, suatu tatanan bahasa tak akan mungkin memberikan arti tertentu apabila hubungan semantik antara kata dengan maknanya tidak stabil. Makanya perlu ada semacam kesepakatan untuk menyetujui “bangku” berarti tempat duduk, bukan tubuh yang terlantar sebagai arti dari “bangkai”. Kalau makna “bangkai” tertukar dengan arti kata “bangku”, bayangkan bagaimana kita akan menggunakannya dalam kehidupan seharihari. Ketika orang mengatakan “silakan duduk di bangku yang disediakan” bisa jadi orangorang enggan melakukannya lantaran menyangka yang dimaksud adalah “silakan duduk di mayat yang disediakan”.

Tapi dipikiran saya, apakah memang ada hubungan semantis antara term “word”, “work”, dan “word”. Tentu ini tidak dilihat dari kesamaan bunyi belaka, melainkan kalau ditilik dari makna yang dikandung, bisa saja memang sedari awal ketiga term ini dimulai dari satu pengalaman yang sama. Atau bisa saja, memang tak ada hubungan apaapa diantara kata yang dimaksud. Dengan kata lain, kesamaan bunyi di antaranya hanya kebetulan belaka.

Kalau melihat asalusulnya, terkadang suatu kata mendapatkan maknanya dari suatu peristiwa yang mendahuluinya. Kata “bom” misalnya, disebut bom karena suara yang dikeluarkan dari sesuatu benda yang meledak. “Tokek” disebut tokek karena diambil dari suara yang dikeluarkan hewan yang menyerupai cecak. Begitu pula “cecak” itu sendiri diambil sebagai nama dari bunyi yang dikeluarkan hewan yang merayap di dinding. Dari “bom”, “tokek”, dan “cecak” adalah beberapa kata yang diambil dari bebunyian sebagai namanya.

Bagi namanama semisal hewan akan mudah kita temukan hubungan bunyi dengan kata itu sendiri sebagai dasar penamaan. “Jangkrik” binatang malam yang sering mengeluarkan bunyi krik, krik, krik, diambil dari bunyinya sebagai nama untuk membedakannya dengan kecoa. Sama halnya hubungan antara suara mengembik dengan kambing sebagai namanya. Namun bukan saja hubungan antara bunyi, kaitan antara peristiwa alam juga  sering menjadi latar belakang dinamakannya sesuatu. Nama Subhan misalnya diambil atas terjadinya peristiwa awal pagi bagi anak yang lahir diwaktu fajar. Atau kata “fajar” itu sendiri yang dipakai untuk menandai seseorang yang memang lahir di waktu yang sama sebagai namanya.

Bisa dibilang makna suatu kata tidak sendirinya dikandung dari kata itu sendiri. “Panas” misalnya, tidak dengan sendirinya mengandung hawa 100 derajat celcius di dalam katanya. Maksudnya, makna panas itu sendiri hanya dipahami bukan dari kata “panas”, melainkan “suatu peristiwa” yang ditangkap di dalam pemikiran kita.  Atau secara semantik makna kata “panas” hanya bisa ditemukan kepada “wujud luar” yang mengalami titik didih 100 derajat celcius. Sehingga hubungan antara kata “panas”, “peristiwa dalam pikiran”, dan “wujud luar” yang mengalami titik didih 100 C, yang membentuk suatu makna.

Kata sabotase dalam bahasa Inggris, dalam sejarahnya diambil dari peristiwa buruh Inggris yang bergerak protes atas kontrak yang tidak memberikan waktu istirahat yang diinginkan. Kata sabotage merujuk pada sepatu boot buruh Inggris yang dimasukkan beramairamai untuk menghentikan aktivitas mesin pabrik melalui corongcorong uap mesin.  Dengan tujuan membuat mesin berhenti bekerja, situasi akhirnya berubah dengan waktu kosong yang dipunyai untuk beristirahat. Mulai saat itu aksi berupa memasukan sepatu boot disebut sabotage. Hingga hari ini kata sabotase dipakai untuk menunjuk suatu tindakan yang bertujuan mengganggu suatu sistem bekerja.

Sekarang apa kiranya kaitan antara word, work, dan world. Apakah ketiga kata ini berasal dari satu peristiwa yang sama. Misalnya, word dalam tingkatan tertentu berarti juga work. Sementara work yang berarti mengelolah, meramasramas, mengusahakan, pada arti lainnya bisa berarti world. Mungkin ini agak terkesan mengadangada, tapi dalam satu rangkaian proses tertentu ketiga kata ini memiliki relasi yang sama. Seorang penulis, bisa mengafirmasi ketiga kata ini dalam usahanya membangun suatu rangkaian kerja. Word yang merupakan bahan kerja penulis, sesuatu yang ia tata, diusahakan dalam rangkaian work yang merupakan bentuk kerja darinya yakni menulis. Sementara dari hasil word (tulisannya) dia membangun suatu dunia pemaknaan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...