30 Januari 2016

undangan kelas literasi

Selamat malam. Besok pertemuan kedua kelas literasi Paradigma Institute. Kali ini kita akan kedatangan seorang yang sedikit banyak dibesarkan dan membesarkan Paradigma Institute sampai sekarang. Alhamdulillah kanda Syafi bersedia datang membagi pengalaman dan ilmunya besok sore sekira pukul 15.00. Beliau sampai hari ini masih bergiat dengan tradisi literasi dan pengembangan keilmuan bagi anakanak muda. Bahkan itu dilakukannya ketika masih menjadi mahasiswa.

Tadi siang saya mendapat bocoran dari kanda Sulhan Yusuf bahwa beliau sedang bertandang di Makassar. Samarsamar bahwa kanda Syafi didapuk menjadi narasumber di salah satu hotel siang tadi. Alhasil atas desakan kanda Sulhan, beliau harus bisa mengisi di kelas literasi besok.

Terakhir kali kanda Syafi bertandang di Makassar sekira akhir 2015. Saat itu selain mendampingi kanda Judilherri Justam, beliau juga menjadi pembicara saat melaunching buku yang diinisiasinya; "Anak Tentara Melawan Orba", otobiografi yang ditulisnya. Bersama Alto Makmuraltoyang menjadi pembicara, kegiatan itu sukses dengan banyaknya mahasiswamahasiswa yang berdatangan. Apalagi saat itu dua nama besar; Kanda Qasim Mathar dan Alwy Rachman, juga menjadi daya tariknya. Hingga sore, akhirnya kegiatan itu berakhir.

Setelah saya menelepon, respon positif langsung diberikan kanda Syafi. Dengan senang hati beliau akan menyempatkan bertandang diParadigma Ilmu Toko Buku besok. Tak lama saya berbicara dengan beliau, sebab dari belakang sepertinya dia masih duduk jadi narasumber. Lamatlamat suara pembicara di sebelahnya sampai kedengaran. Dengan sigap saya langsung saja nyatakan niat agar kawankawan dapat bertemu tukar pikiran dengan beliau. Setelah belia iyakan, sayapun pamit.


28 Januari 2016

yang gagal dari gadis di bangku taman

Pertama, sebuah karya sastra, terutama cerpen adalah cerita yang menggambarkan suatu alur latar belakang. Terutama “sejarah” tokohnya. Banyak saya dapati, setiap cerpenis mengolah latar belakang tokohnya dari deskripsi ceritanya itu sendiri. Bahkan melalui dialog tokoh di dalamnya, pembaca secara pelanpelan mengetahui seperti apa karakter, pembawaan, sampai struktur masyarakat yang melingkupinya. Cerpencerpen Putu Wijaya, misalnya, sering memperlihatkan latar belakang tokohnya dari dialogdialog yang dilakukan tokohnya itu sendiri.

Bahkan suatu sejarah dapat diketahui berdasarkan nama tokohnya itu sendiri. Nama Minke yang digunakan Pramoedya di dalam tetralogi buruhnya, bukanlah suatu kebetulan belaka. Melalui nama yang dipakainya, Pram ingin menunjukkan suatu ragam persoalan bangsa yang dikenali dari kesalahan penyebutan nama. Bagi pembaca tetralogi buruh, pasti akan mendapatkan kesan yang implisit bahwa nama Minke adalah kesalahan pendengaran Minke sendiri dari sebutan yang disematkan kepadanya yang arti sebenarnya merujuk kepada Monkey sebagai kata yang sebenarnya.

Pram ingin bilang, melalui Minke, bahwa suatu kesadaran kebangsaan yang menolak tunduk atas gaya penjajahan tertentu di mulai dari penyelesaian atas nama yang salah. Ini mirip bagaimana teoriteori poskolonial menyadarkan manusia bahwa kesadaran atas diri bukan melalui negara bekas penjajahnya, melainkan ditemukan dari dalam bangsa itu sendiri. Artinya, Minke ketika ingin memulai suatu kesadaran baru, harus menyadari untuk keluar dari penyematan yang salah terhadapnya.

Ketika memulai membaca Gadis di Bangku Taman karya Muhajir, kekosongan yang pertama adalah ketidakberanian penulisnya dalam memberikan nama pada tokohnya. Kesalahan ini begitu fundamental karena tanpa nama, pembaca akan gagal memahami suatu karakter tokoh. Apalagi novel yang hanya dipusatkan pada si lakilaki, tidak dengan gamblang memberikan suatu gambaran selain hanya ia sebagai anak seorang ibu yang memiliki kucing yang sekaligus pengangguran.

Tidak diberikannya nama kepada tokoh cerita, menandakan Muhajir adalah orang yang gagal menghidupkan karakter tokohnya. Saya percaya, pengarang yang baik adalah pengarang yang telah siap dengan karakter tokohnya beserta bubuhan namanya. Sebab nama, seperti saya bilang adalah penanda suatu struktur kehidupan yang dari itu pembaca dapat masuk lebih jauh untuk mengenal sang tokoh. Kesalahan elementer yang di alami Muhajir ini, akhirnya memiliki dampak yang fundamental kepada keseluruhan isi ceritanya.

Hal yang sama juga terjadi pada si gadis. Seperti yang terjadi pada sang lelaki, tak ada riwayat sedikitpun yang diuraikan penulis untuk menghidupkan sang tokoh perempuan. Nama, di dalam cerpen ini adalah unsur penting yang tidak dimiliki sebagai pembangun suasana tokohtokohnya. Sang gadis yang disebut di dalam judul, hanya seperti orang tanpa identitas yang tak jelas asal muasalnya. Bahkan untuk menerka seperti apa karakternya, pembaca akan sulit menelusurinya. Di sini, adagium apalah arti sebuah nama tak bisa diajukan sebagai pembelaan bagi penulisnya.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...