23 Desember 2015

Manifesto Komunis


”Kaum proletar tidak akan kehilangan apa pun kecuali belenggu mereka. Mereka punya satu dunia untuk dimenangkan. Kaum proletar semua negeri, bersatulah.” (Karl Marx dan Friedrich Engels).

MEMBACA Manifesto Komunis sebenarnya membaca keresahan yang muram. Terkadang orang-orang dibuat takzim sekaligus curiga. Tapi, tidak sedikit yang membacanya justru dengan nada optimis sekaligus melihatnya sebagai tulisan yang mengandung azimat.

Syahdan, azimat itu sudah didengungkan dan ditutup dengan kalimat ”kaum proletar semua negeri, bersatulah.”

Begitulah, tulisan itu mulai ditulis di akhir Desember 1847 sampai Januari 1848. Alinea terakhir manifesto komunis itu, akhirnya menyedot banyak mata, terutama kaum yang disebut-sebut di dokumen itu.

Yang namanya manifesto pasti suara yang mendesak. Di situ, saat Marx dan Engels mengucapkan dengan bulat, suatu dunia telah dibayangkan. Suatu momen sejarah yang harus direbut dari belenggu. Suatu tatanan yang mereka katakan untuk dimenangkan. Di sana, hanya dunia yang bebas belaka. Kaum proletar, disebutnya, di semua negeri manapun, bersatulah.

Memang di dokumen yang lebih mirip pamflet itu menyebut banyak golongan: orang merdeka dan budak, patrisian dan plebeian, tuan bangsawan dan tani hamba, warga gilda dan magang. Tapi hanya satu golongan yang diseru. Bahkan itu suatu kaum.

Kaum, oleh Marx dan Engels, disebutnya suatu kelas masyarakat yang tersisih dan disatukan dalam hirarki masyarakat Eropa. Yakni suatu tatanan mayarakat yang lahir dari sejarah perjuangan kelas. Kaum proletariat disebut-sebut merupakan hasil dari zaman yang sedang bergerak saat itu.

Zaman borjuis, begitu Marx dan Engels tulis, telah menyederhanakan pertentangan-pertentangan kelas, seluruh masyarakat semakin lama terbelah menjadi dua kubu utama: borjuasi dan proletariat.

Yang menarik, perkembangan itu bertolak dari rusaknya tatanan yang guyah oleh perselisihan kelas. Bahkan itu dimulai ketika hak milik mengubah ide kepemilikan zaman pertengahan menjadi era yang serba baru tanpa mengubah mode kepemilikan. Dari tani hamba zaman pertengahan lahirlah warga kota yang merdeka, yang merupakan unsur-unsur pertama borjuasi. Ini didukung dengan ditemukannya Amerika dan jalur laut Afrika sebagai prakondisi suatu lapisan baru yang baru tumbuh. 

Di situ ide tentang dagang mengubah cara orang melihat pertukaran, dan dengan itu zaman bergerak.
Analisis Marx dan Engels juga menyertakan bagaimana kaum borjuis berkembang cepat akibat reaksi balik terhadap industri yang bergerak maju, pelayaran, dan lalu lintas kereta api, ketika konsolidasi itu menyapu habis tatanan feodal. Singkatnya, kaum borjuasi jadi kelas yang cekatan dan dengan cepat menjadi kelas dominan menguasai sumber-sumber ekonomi.

Tapi, lamat-lamat borjuasi menjadi ekonomistik. Ia jadi ”momok yang menanggalkan tampang suci semua orang.” Begitu ungkap Marx dan Engels. Borjuasi mengubah dokter, advokat, pendeta, penyair, sarjana, menjadi buruh upahan yang dibayar. Yang suci di abad pertengahan jadi sosor. Semuanya jadi barang dagangan.

Akhirnya, dengan sendirinya, kaum yang membabat habis kekuatan abad pertengahan itu, tiada henti dicela. Imbas borjuasi telah merenggut perasaan yang polos yang sempat dipunyai manusia, menjadi hubungan uang belaka.

Mencela karena itu adalah suatu sikap yang lumrah. Apalagi itu ditujukan untuk mengolok-olok masa yang mengkerdilkan bobot suatu ide baru. Itu harus untuk membuka kemungkinan-kemungkinan perubahan yang terlanjur mapan. Marx bahkan menggunakan cara yang paling horor: hantu komunisme.

Hantu komunisme, yang dinabalkan sedang bergentayangan di langit-langit Eropa itu, segera menjadi momok. Di zaman bergerak, suatu momok adalah batu sandung menjengkelkan. Tapi momok itu penting, sebab pelbagai cara selain rasa horor untuk memukul habis borjuasi memang perlu.

Yang namanya hantu, di manapun adalah sosok yang tidak bisa mati. Dan dengan sikap itu Marx dan Engels memperkenalkan suatu sikap kaum proletariat. Di manapun komunisme bergentayangan, ada rasa takut dan khawatir yang mesti diwaspadai. Dia jadi puaka.

Komunisme tak dinyana akhirnya jadi bola salju. Merembes, menggelinding. Mendorong pendulum sejarah yang bergerak lamban. Sebelum itu sejarah jadi ihktiar yang lurus, dan bahkan kolot. Sejarah seperti iman yang sulit digugat, bahkan sulit diguyah. Untuk itu komunisme jadi marwah banyak orang yang jadi tampin borjuasi. Komunisme akhirnya jadi suluk yang menggugat sekaligus menggugah.

Suatu yang menggugah dengan sendirinya adalah kekuatan yang menggerakkan. Komunisme jadi ikhtiar yang merusak apa yang disebut Marx ”ikatan suci antara kaum padri dan antek-antek intelijen.” Di saat kalimat itu dituliskan, Marx memang menantang golongan yang kepalang angkat bicara tentang komunisme, bahwa ide yang dipandang setengah mata akan jadi suara yang menyeret banyak emosi.

Dan Marx benar. Banyak yang terseret komunisme. Di zaman sesak karena industri, suatu gagasan egaliter menjadi penting. Orang-orang yang telah dipukul rata semangatnya dibangkitkan. Di medan kerja, alienasi yang menipu, dikuak, bahwa itu suatu yang bisa diubah.

Tabiat manusia memang kerja, tapi tidak dengan paksaan. Biar bagaimanapun, kemerdekaan merupakan satu-satunya yang membuat manusia jadi agung. Bukan sekedar ketika semuanya dihitung berdasarkan upah. Sejarah yang awalnya milik tuan-tuan borjuis diseret, dicela, dikritik, dan akhirkan dilongsorkan.

Maka, disitulah pentingnya dialektika materialisme atas sejarah. Rumus paten dari hantu yang membangkitkan asa itu. Kebutuhan manusia dalam jejaring produksi tidak selamanya milik kaum borjuis. Dalam jejaring kaitmengait itu, hidup manusia ditentukan dengan bagaimana ia mengerahkan tenaganya untuk berproduksi. Sementara di satu sisi, kegiatan berproduksi tidak bisa dipaksakan oleh sistem kerja hirarkis, melainkan usaha yang setara bagi setiap manusia. Sebab itulah penghisapan kerja harus diubah menjadi pembebasan. Kaum proletar harus bangkit melawan.

Dengan itu Marx dan Engels bicara tentang suatu masa yang revolusioner, yakni buruh-buruh yang tidak terburu-buru keinginan tanpa dasar ilmiah. Butuh suatu yang terang, yang disebut Marx sebagai kesadaran kelas pekerja. Melalui itu, kapitalisme akan dilihat sebagai batang tubuh yang selamanya tidak kuat belaka, tapi dia sosok yang juga bisa roboh. Karena kapitalisme sebenarnya, seperti tubuh, punya penyakit, punya cacat bawaan: kontradiksi internal.

Tapi tidak sendirinya kapitalisme tumbang. Dia memang nanti jadi reyot, tapi sejarah harus dirampas dengan cara revolusi. Itulah perlunya perjuangan kelas, dengan maksud untuk waktu yang disebutnya ”harus dimenangkan.”  

Marx dalam German Ideology menyatakan komunisme bukan keadaan yang diciptakan, melainkan gerakan nyata yang menggantikan keadaan sebelumnya. Itu berarti komunisme bukan sekadar cita-cita, tapi keharusan argumentatif hukum-hukum objektif.

Itulah mengapa, manifesto yang banyak digandakan kepelbagai bahasa itu, yang azimat itu, banyak menyindir sosialisme-sosialisme gadungan. Sosialisme yang bicara tanpa dasar objektif apapun. Sosialisme yang masih menyimpan kerinduan tentang masa feodal. Atau bahkan sosialisme yang disebut dalam dokumen itu sebagai sosialisme borjuis.

Literasi Manifesto komunis, bukan diperuntukkan bagi sosialisme setengah hati. Tapi sosialisme sejati yang didasarkan kepada hukum-hukum ilmiah, kesadaran kelas, dan perjuangan dalam konteks kepartaian. Bahkan semua itu tidak bisa dimulai tanpa teori revolusioner. Hanya dengan itu komunisme jadi radikal. Hanya dengan cara itulah perubahan jadi mungkin.

Maka seperti azimat manifesto komunis jadi pusaka.

Pada akhirnya, yang membaca manifesto pasti menyadari siapa yang harus terlibat dalam kerja-kerja revolusioner. Dia memang seperti azimat, semua mengyakini pasti takzim, dan tentu jadi sakti. Kaum buruh di manapun, bersatulah.

20 Desember 2015

Ammatoa


“Jagai lino lollong bonena, kammayatompa langika, rupa taua siagang boronga”

Bohe itu punya badan gemuk dengan lipatan daging yang tebal di leher dan perutnya. Kulitnya cokelat sawo terang. Ia duduk bersila menggunakan sarung hitam khas Kajang. Ia pakai passapu, kain kepala khusus lakilaki Kajang. Tapi yang ia pakai berbeda. Ia seorang pemimpin. Makanya ada dua pucuk di passapunya. Dari sebelah jendela ia duduk, nampak mukanya yang bundar diterpa angin siang. Ia pria 70 tahun yang bermuka khas dengan tahi lalat hampir di seluruh mukanya. Ketika berbicara, tahi lalat itu bergerakgerak dengan bibir yang selalu melempar senyum.

Pria lebih setengah abad itu seorang Ammatoa. Begitulah ia dipanggil.

Ammatoa duduk di atas tampin ketika saya masuk ke mukimnya. Rumahnya hanya berupa tiga ruangan dengan satu tempat utama untuk menerima tamu. Di ruangan itu juga, di sebelah kirinya, tanpa sekat adalah dapur. Di situ ada istrinya. Saat masuk, saya langsung disambut istrinya yang sedang a'nampi berasa. Memang saat itu Kajang baru saja musim panen. Di ruangan utama itu, Ammatoa duduk beserta empat orang lainnya. Mereka berpakaian hitamhitam. Nampaknya ada yang sedang dibicarakan.

Hari itu Kajang ditutupi mendung. Ini pertama kalinya saat saya berada di Tana Toa pasca panen. Kajang Tana Toa sebagaimana kita maklum, adalah kawasan adat yang punya cara hidup sendiri. Saya harus jauh masuk berjalan kaki untuk bertemu orang yang keramat oleh masyarakat Kajang itu. Setelah menempuh jalanan undakan batu sepanjang hampir satu kilometer, akhirnya saya sampai di rumahnya. Untung saat itu hujan belum turun.

Di ruangan itu, Ammatoa tak mengenakan baju sama sekali. Nampaknya ia baru saja bangun ketika empat orang itu datang. 

Dari yang saya dengar, mereka terlibat pembicaraan tentang sengketa tanah adat. Nampaknya, mereka hendak menyusun suatu acara adat untuk membicarakan masalah yang mereka hadapi besok. Saat ini pembicaraan mereka seperti pertemuan dewan adat yang sering dibicarakan orangorang kebanyakan. Saya menerka satu dari empat orang itu adalah Galla Pantama yang bertugas sebagai hakim, atau orang yang ditugasi mengurusi masalah hutan adat. Dan yang satunya barangkali seorang Galla Sapa yang sering bertugas untuk upacara adat. Sementara satu yang lain -saya tahu kemudian ternyata adalah adik dari Ammatoa.

Pertemuan semacam ini saya duga memang sering terjadi. Orangorang sering datang berkunjung di rumahnya. Di tanah adat, ia orang yang dituakan. Ammatoa memang punya tugas pengayom bagi masyarakat adat Kajang. Bahkan seperti yang ia bilang, setiap akhir pekan ia harus menyisihkan waktunya menerima tamu dari luar."Inni sallo aha na sabtuna rie tamu battu ri Bandung," ucapnya untuk bilang seorang dari Bandung, di hari Sabtu dan Minggu akan datang bertemu dengannya.

Pernah suatu kali saat saya datang, banyak mahasiswa dari kampus di Bone, berduyunduyun berkunjung hanya untuk melihatnya. Mereka seperti orang kebanyakan, ingin langsung bertemu dengan orang yang kharismatik itu. Biar bagaimanapun Ammatoa adalah magnet di tanah ini.

Untuk bertemu dengan Ammatoa sebenarnya tidak terlalu susah. Hanya saja perlu beberapa penyesuaian dengan aturan pasang ri Kajang. "Punna antamako kokunni a baju le'lengko, jako sandalli," ucapnya sendiri. Memang seperti yang sudah diketahui banyak orang, ketika memasuki kawasan adat, siapa pun wajib memakai kain hitam tanpa alas kaki apapun. Hitam berdasarkan pasang ri Kajang adalah warna yang mengingatkan kepada asal mula. Dari hitam semuanya bermula. Bahkan hitam adalah dasar segalanya.

Secara resmi, bagi yang ingin bertemu Ammatoa akan dibantu oleh seorang Galla yang bertugas sebagai juru penghubung. Ada juga Galla Puto yang bertugas sebagai juru bicara Ammatoa. Bersama Galla Ma'leleng dua jabatan ini, disebut sendiri oleh Ammatoa, tak punya masa jabatan. Mereka akan bertugas selama Ammatoa hidup.

Ammatoa punya hak untuk menunjuk Galla sebagai pembantu adatnya. "Galla harus caradde', lambusu atinna." Seperti ukuran moralitas manapun, Ammatoa memilih pembantupembantunya berdasarkan kriterium kecerdasan dan kejujuran. Moralitas ini sering disebutsebut Ammatoa di saat ia bercerita tentang duapuluhenam orang yang disebutnya dewan adat.

Syahdan, pembicaraan dengan pembantunya itu tidak lama. Seperti yang dibilang Ammatoa, "a'borong muko nak, rurung galla'ku," kepada kami sebagai kesimpulan sore itu. Maka ditingallah kami bertiga dengan suguhan air teh yang dibuat oleh perempuan yang keluar dari bilik belakang. Perempuan itu saya duga anak dari Ammatoa.

Perempuanperempuan Kajang punya cara berpakaian sendiri; assalang bira. Dengan mengikatkan dua ujung kain hitam dari bawah lengan kanan ke atas pundak kiri. Tapi terkadang mereka mengikatkannya di atas perut dengan menggunakan pakaian hitam tanpa jahitan. Pakaian seperti itu umum dijumpai ketika perempuan kajang sedang bekerja. Seperti saat mereka keluar masuk rumah mengangkat beras di atas kepala. Walaupun hari itu mendung, mereka masih sibuk bekerja di luar dengan berasberas yang sudah dipanen.

Perempuan Kajang juga punya keterampilan menenun. Banyak di antara mereka duduk berlamalama untuk menghasilkan kain sarung yang sering mereka gunakan. Sayang saat itu, saya tak sempat melihat dengan jelas seperti apa bentuk alat tenun yang mereka pakai. Dari sepintas, ada semacam tiga susun tingkatan kayu yang dirangkai oleh penopang di tiap sisinya.

Tidak seperti alat tenun yang lain, di Kajang, alat tenun mereka tidak terlalu besar. Di saat menenun juga tidak seperti suara alat tenun kebanyakan, bahkan hampir tidak mengeluarkan suara. Tapi dari ekor mata, saya tahu bahwa hanya satu warna yang menjadi benang pintal mereka.

Ammatoa tidak merokok. "Pamangeangmi bohenu, angre intu nakkaluru kalenna, mingka rie'ji anakna  la ngallei," ucap istri Ammatoa di saat kami menyodorkan rokok kepada Ammatoa. Ia bilang, "serahkan saja kepada nenekmu, nenekmu itu tidak merokok, tapi ada anaknya yang ambilki." Begitulah cara kami menghormati Ammatoa. Yang aneh Ammatoa tetap mengambil setelah "dibacabaca" di atas piring perunggunya.

Di samping Ammatoa selalu ada pa'dupang, piring perunggu yang menyerupai seperempat piala. Ukuran diameternya hampir seukuran tigapuluh sentimeter. Yang saya  lihat, saat itu isinya daun sirih dan sebilah tongkat kecil yang menyerupai sarung badik. "Angrekmo nakke kukkaluruk nak, a'mama kaleja." Begitulah, Ammatoa hanya senang makan siri pinang.

Tibatiba Ammatoa berkisah tentang pasang. Dahulu hanya satu pasang, semuanya bermula dari satu. Ia bilang ada yang "dikitabkan" di tanah Luwu, "dikelongkelongkan" di Bone, dan "dilontara'kan" di Gowa, tapi semuanya berisi pasang. Itulah yang kalian kenal pasang ri kajang. Pesanpesan orang Kajang. Begitulah ucap Ammatoa dengan Konjo. Saya hanya memerhatikan tangannya yang bergerak seperti menunjuk suatu ruang kosmologi.

Pasang itu dibilangnya, punya aturannya masingmasing. Kalian sebut itu hukum. Ada seribu pasang, semuanya sudah mengatur halhal yang kalian lakukan. Apa yang sesungguhnya kalian pelajari di luar, sama halnya dengan pasang. Apa yang didapati di luar, semuanya berasal dari pasang. Semuanya sudah ada dalam pasang. Ucap Ammatoa setelah saya tahu arti dari pasang yang ia bilang.

Saat itu sore menjelang. Langit semakin hitam. Tanah adat bakal basah. Ammatoa diselasela kami berjumpa sesekali melempar pandang ke luar. "Lamungmi tauwa nak," sergapnya. Ia bilang bahwa tanaman akan segera diganti dengan yang baru. Ini cara tanah berganti rupa. Kami hanya menjalankan sesuai waktu sesuatu itu. Semuanya punya masanya, ungkapnya. Saat ia tersenyum matanya nampak bulan sabit. Tak lama itu juga hujan turun.

Ketika itu Ammatoa menyinggung sawah yang dipunyainya. Ia bilang jauh di belakang rumahnya, ia punya sawah sebagai hak adatnya. Di sawah itu tidak sembarang bibit yang ditanami. Padi yang tumbuh di sana dibilangnya adalah padi dari bibit turun temurun Ammatoa sebelumnya. "Pare eja parele'leng," begitu Ammatoa menyebut padi yang berwarna merah, padi khas Kajang. Mendengar itu, ingatan saya tertuju pada nasi yang hanya diperuntukkan rajaraja Bugis-Makassar.

Banyak hal yang diungkapkan Ammatoa kepada kami berdua. Ia tangkas menjawab pertanyaanpertanyaan kami. Asrul, teman sekaligus juru bicara saya, begitu berhatihati memilih kata untuk bertanya langsung. Ini mirip suasana bertemu raja, tapi di hadapan kami bukan seorang raja. Ia Ammatoa yang telah hampir tiga belas tahun menjabat sebagai pimpinan adat. Setelah di tahun duaributiga, ia didaulat sebagai Amma dari masyarakat adat Kajang.

Dahulu, Ammatoa juga berkisah, seluruh Ammatoa berasal dari garis keturunan yang sama. Ammatoa berhak menunjuk keturunannya sebagai pelanjut amanah sebagai pemimpin adat. "Rie' nikua sambung bicara,”  sebut Ammatoa untuk membilangkan peristiwa sambungmenyambung amanah yang diterimanya. Semuanya punya hak menjadi Ammatoa, tapi itu tidak berlaku bagi yang tidak jujur hatinya. Begitu ia menyingkat kriteria Ammatoa.

Namun peralihan dari Ammatoa yang baru tidak dilakukan secepat yang saya kira. Ada masa jedah tiga tahun untuk menunjuk Ammatoa yang baru. Pasca ditinggal Ammatoa sebelumnya, ada prosesi yang bagi orangorang luar sering mengaitkan peristiwa itu dengan halhal yang mistis. Peristiwa itu dibilang oleh Ammatoa mempunyai campur tangan Turia'ara'na, realitas yang sering kita sebut Tuhan.

Sesekali Ammatoa bersandar di dinding. Di bawahnya banyak bantal berwarna hitam. Ia sangat suka menengok di balik jendela. Barangkali dari situ ia sering melihat aktifitas orangorang dari dalam rumahnya. Cahaya sore yang mendung menelusup kulit wajahnya yang keriput. Dari situ ia tersenyum satu dua kali. Melihat itu kami lekas tangkap, waktunya unjuk diri.

Akhirnya, kami berpamitan. Tangannya yang dilingkari gelang akar hitam menyambut kami. Kami bersalaman. Mukanya tak pernah lepas dari senyum. Hujan belum berhenti. Ini pertama kalinya saya menemukan hujan di tanah adat Kajang. Kami melesat turun dari pintu, dan di balik dapur, kakek tua itu masih melempar senyum ketika kami berjalan di bawah hujan sore itu. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...