19 November 2015

Antropologi Toilet*

Toilet, tempat yang sering kali tersisihkan dari imajinasi ruang,  sebenarnya adalah optik antropologi manusia. Maksudnya, toilet, sepetak ruang yang selalu "disudutkan" itu, bisa menjadi parameter kebudayaan manusia.

Di pemukiman kumuh, toilet adalah tempat yang miskin dari arsitektur canggih. Toilet sering kali jadi ruang tersembunyi yang luput dari perhatian. Ini sebenarnya, disebabkan oleh situasi masyarakat bawah yang tak diperantarai basis pengetahuan tentang ruang yang layak. Sebab itulah, toilet hanya dilihat sebagai tempat tanpa embelembel, tetapi malah gembel.

Ketika toilet tampak gembel, dengan sendirinya akan berimplikasi terhadap durasi waktu di saat berada di dalamnya. Di dalamnya, aktivitas membersihkan tubuh, misalnya, akan dilakukan dengan cara terburuburu. Sebab di dalam toilet yang kotor, aktivitas apapun akan dilakukan dengan tidak nyaman. Dengan demikian, di dalam toilet, manusia akan tampak sebagai mahluk yang tidak estetis. Kebersihan dan tubuh yang sehat adalah dua hal yang tak dapat dipenuhi dari toilet yang buruk.

Artinya, bagi masyarakat pemukiman kumuh, toilet adalah tempat yang bisa jadi sumber penyakit. Bagaimana tidak, toilet sebagai tempat untuk memuliakan tubuh yang bersih, alihalih menjadi tempat kesehatan bermula, malah jadi tempat yang tidak manusiawi. Dengan kata lain, toilet dipemukiman kumuh, adalah satu bagian dari sumbersumber penyakit bersarang.

Lain halnya masyarakat kelas atas, toilet sudah menjadi bagian dari ruang yang manusiawi. Karena bersifat manusiawi, toilet dianggap menjadi tempat yang mesti nyaman, sehat, dan indah. Artinya, dari imajinasi ruang hunian, orangorang kelas atas melihat toilet sejajar dengan ruang intim. Itulah mengapa hampir di rumahrumah mewah, toilet dipadupadankan di dalam kamar tidur, misalnya.

Sementara di terminal, pasar ataupun tempat umum lainnya, toilet malah menjadi ruang yang anarkis. Banyak kita dapati, di tempattempat semacam itu, toilet jadi tempat yang anti kemanusiaan. Di sana toilet diperlakukan semenamena hingga nampak tak ada perlakuan yang layak. Walaupun awalnya toilet dibangun dengan baik, tapi pada akhirnya ia jadi ruang yang tak laik.

Dengan begitu di tempat umum, toilet jadi ruang bersama yang absen dari nalar publik. Sebab, sebagai ruang bersama, toilet ada demi memfasilitasi kebutuhan masyarakat untuk membuang hajat. Namun sayang, toilet di ruang publik, sering kali diacuhkan dibandingkan dengan tempattempat lain, sehingga minim perawatan dan penjagaan.

Namun berbeda halnya sebagaimana di mallmall misalnya, toilet juga dapat dilihat dalam hubungannya dengan aktivitas konsumsi. Bagi masyarakat konsumer, toilet harus dibuat nyaman untuk aktifitasaktifitas sekunder manusia. Alasannya adalah kenyamanan berkonsumsi, harus dibarengi dengan kenyamanan saat di dalam toilet. Artinya, toilet yang baik adalah toilet yang bisa menunjang aktifitas masyarakat hight consumption.

Itulah mengapa, sebagai ruang publik, toilet bisa jadi ukuran kelas masyarakat. Di pasar, terminal, atau di tempattempat masyarakat lapis bawah beraktifitas, toilet hanya diberlakukan seadanya. Di sana, toilet jadi gambar betapa masyarakat bawah masih diperlakukan semenamena. Bukan saja biasanya tak difasilitasi pengelola, tetapi juga penggunaan toilet tak disertai pengetahuan sanitasi yang baik dari masyarakat.

Sementara di mallmall yang mewah, di mana kelas bawah disisihkan, toilet diperagakan sebagai bagian dari perputaran modal. Untuk itulah toilet dikelola dengan baik, dibersihkan tiap saat, dan dijaga tiap waktu. Jadi, tak seperti toilet kelas bawah, di situ tak ditemukan air yang mapet, atau closet yang busuk. Semuanya jadi bagian untuk melayani publik.

Psikoanalisis sekaligus kritikus budaya abad dua puluh asal Slovenia, Slavoj Zizek, punya pandangan yang nyentrik tentang toilet. Dari yang dipercakapkannya, perilaku manusia di dalam toilet sesungguhnya mencerminkan alam bawah sadar suatu komunitas. Dia mau bilang bahwa, perilaku orangorang di toilet adalah refleksi dari ideologi yang tersembunyi. Dia mempercakapkan orangorang Jerman, misalnya, senang berlamalama di hadapan fesesnya sebagai sikap kontemplatif kebudayaannya. Berbeda dari orangorang Amerika ataupun Inggris, yang lebih senang menegelamkan fesesnya karena sikapnya yang pragmatis.

Lalu, bagaimana dengan orangorang Indonesia? Orangorang Indonesia barangkali adalah tipe manusia yang paling sulit ditebak. Jika di muka umum kesannya menjadi pribadi yang toleran, murah senyum, dan bertutur kata baik, tapi tidak di dalam toilet. Di dalam toilet, orangorang Indonesia jadi pribadi yang permisif; sulit bertindak bersih, atau bahkan cenderung merusak. Di dalam toilet, orangorang Indonesia jadi pribadi yang begitu berbeda.

Jika sudah begitu, orangorang Indonesia jadi manusia yang hipokrit. Melalui toilet, ruang yang sering kali jadi sudut rumah itu, orangorang Indonesia menampakkan citra aslinya. Di dalam sana, tak ada yang disembunyikan, sebab dari perlakuan orang Indonesia, toilet jadi kanvas kebudayaannya. Bisa benar, juga salah, apabila Zizek bilang perilaku kebudayaan bisa ditelusuri dari jendela toilet. Namun jika ingin membuktikan ucapan Zizek, maka saya sarankan, berlamalamalah di dalam toilet.

---

*Di muat di harian Tempo Makassar, Rabu, 18 November 15

14 November 2015

Apa dan Mengapa Menulis?*

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Pramoedya Ananta Toer (1925-2006)

Menulis itu dua hal; berpikir dan bekerja. Berpikir berarti mengelola ideide, dan bekerja berarti membumikan ideide.

Mengelola ideide adalah usaha asali manusia. Semenjak manusia memiliki kesadaran, ideide selalu menjadi bahan baku dari aktifitas yang disebut berfikir. Ideide diramu dengan cara dihubunghubungkan, disambungsambungkan atau bahkan dipecahpecah atas sesuatu. Ideide selalu berarti gambaran atas sesuatu di dalam kesadaran kita. Ide tentang manusia, tentang hewan, tentang alam, tentang langit, tentang galaksi, tentang alam semesta, tentang tuhan, dan seluruh yang dapat dijangkau alam pikir adalah asalmuasal dari mana datangnya ide. Dari itu semualah ide kita datang. Dari semua itulah manusia berpikir.

Dengan begitu manusia mengelola hidup dan kehidupannya. Hidup di sini berarti individunya, dan kehidupan adalah berarti komunitas masyarakatnya.

Mengolah ideide merupakan aktivitas dialektis antara membaca dan berpikir itu sendiri. Bahkan secara teknis, tiada ideide tanpa membaca. Membaca sebagaimana berpikir adalah aktivitas terbuka terhadap sesuatu. Ketika manusia berpikir tentang sesuatu, sesungguhnya itu didahului sebelumnya dengan aktifitas membaca sesuatu. Di saat manusia berpikir tentang hidupnya, di situ berarti di saat sebelumnya ia telah membaca tentang hidupnya itu sendiri. Di saat manusia berpikir atas peradabannya, berarti sebelumnya ia tengah membaca peradabannya. Dua aktifitas antara membaca dan berfikir inilah yang saya sebut dialektis. Ini berarti satu tidak mungkin tercapai sebelum yang satunya terlaksana. Begitu seterusnya.

Membaca sebagai aktifitas terbuka berbeda dengan membaca dengan maksud kepentingan tertentu. Terkadang pada tingkatan tertentu, justru yang kedua inilah yang banyak terjadi. Banyak orang membaca sesuatu karena lebih diarahkan oleh kepentingan pengetahuannya sendiri. Terkadang juga kepentingannya digerakkan atas dasar kesenangan dan kebencian terhadap sesuatu. Kepentingannya akan bertindak sebagai penyortir apa yang layak dan yang tidak layak untuk dibaca. Dari kasus semacam ini, pengetahuannya akan menjadi penjara bagi dirinya sendiri. Orangorang seperti ini boleh saja membaca dari yang telah difatwakan pengetahuannya, tapi yakin dan percaya, pengetahuan dari aktivitas membacanya tidak akan majumaju.

Membaca sebagai aktifitas terbuka sebenarnya punya arti sederhana. Membacalah dari seluruh yang mampu dibaca, begitu kirakira artinya. Mulai dari sebait kalimat sampai berjilidjilid pagina. Mulai dari diri pribadi sampai ke kehidupan banyak orang. Mulai dari bumi sampai langit bertingkattingkat. Mulai dari Adam hingga tuhan yang tak terbatas. Singkatnya, membaca adalah aktifitas tanpa pretensi. Toh jika ada pretensi, maka hanya satu saja kepentingannya, yakni untuk pengetahuan itu sendiri.

Membaca dengan cara terbuka pada hakikatnya adalah bawaan dasar manusia. Agama menyebutnya fitrah, sedangkan filsafat seringkali menyebutnya dengan istilah human nature, yakni manusia sudah dengan sendirinya mencintai suatu segala hal. Kecenderungan ini diaplikasikannya dengan cara mencari dan menemukan informasi sebanyakbanyak mungkin, sebab manusia selalu dihantui rasa ingin tahu. Itulah sebabnya manusia selalu bertanya suatu segala. Melalui itu manusia mengembangkan rasa ingin tahunya menjadi ilmu pengetahuan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...