Bagaimana
kita mengucapkan kesejahteraan, jika kemiskinan begitu benderang ditemui.
Bagaimana kita memahami kemiskinan, jika itu dipercakapkan di selasela kekayaan
yang diamdiam kita tumpuk.
Kemarin,
Rabu, 7 Oktober, kemiskinan begitu terang saya temui pada masyarakat nelayan di
pinggiran kota Makassar. Di sana, tak ada penanda kesejahteraan ekonomi, budaya
apalagi politik. Kemiskinan di sana bukanlah wacana yang menjadi diskursus
intitusiinstitusi pendidikan dan pemerintahan, melainkan ihwal yang
terreproduksi pelanpelan atas kenyataan yang dialami seharihari.
Begitulah
yang saya candrai dari masyarakat kecamatan Ujung Tanah kelurahan Gusung.
Ketika saya memasuki kelurahan ini, tak ada kesan kawasan ini pernah dihinggapi
wacana "Makassar Tidak Rantasa" atau "Lihat Sampah Ambil."
Nampaknya tempat ini belum tersentuh rencana pembangunan kota yang bersih.
Apalagi menjadi tempat di mana kesadaran ekologis ditumbuhkembangkan. Akibat
daerahnya yang peripheri, wacana pemerintahan tak dapat banyak bekerja di sini.

