11 Oktober 2015

orangorang ujung tanah*

Bagaimana kita mengucapkan kesejahteraan, jika kemiskinan begitu benderang ditemui. Bagaimana kita memahami kemiskinan, jika itu dipercakapkan di selasela kekayaan yang diamdiam kita tumpuk.

Kemarin, Rabu, 7 Oktober, kemiskinan begitu terang saya temui pada masyarakat nelayan di pinggiran kota Makassar. Di sana, tak ada penanda kesejahteraan ekonomi, budaya apalagi politik. Kemiskinan di sana bukanlah wacana yang menjadi diskursus intitusiinstitusi pendidikan dan pemerintahan, melainkan ihwal yang terreproduksi pelanpelan atas kenyataan yang dialami seharihari.

Begitulah yang saya candrai dari masyarakat kecamatan Ujung Tanah kelurahan Gusung. Ketika saya memasuki kelurahan ini, tak ada kesan kawasan ini pernah dihinggapi wacana "Makassar Tidak Rantasa" atau "Lihat Sampah Ambil." Nampaknya tempat ini belum tersentuh rencana pembangunan kota yang bersih. Apalagi menjadi tempat di mana kesadaran ekologis ditumbuhkembangkan. Akibat daerahnya yang peripheri, wacana pemerintahan tak dapat banyak bekerja di sini.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...