26 Januari 2015

madah tujuh

Tulisan ini tak bermaksud menjadi catatan yang panjang. Catatan ini hanya bermaksud untuk menulis tentang artikel yang terbit beberapa hari lalu di kolom literasi Tempo Makassar. Tulisan ini terbit di hari jumat, dua tiga Jaunari. Saya membacanya melalui media Fb yang ditandakan oleh penulisnya langsung. Penulisnya adalah orang yang saya kenal. Dan aktivitasnyalah yang membuat saya salut dan magut terhadap semangatnya.

Membaca tempo apalagi koran bukanlah aktivitas seharihari saya. Begitu juga kolom literasi koran Tempo makassar jarang saya membacanya. Tetapi untuk kali ini beda, apalagi sebelumnya saya melihat penulis yang saya maksudkan telah menandai saya untuk membaca hasil tulisannya. Tetapi beberapa hari ada aktivitas praktik lapangan, maka baru sore tadi saya membacanya melalui fb.

Tulisannya berjudul “Memberilah dengan Sari Diri” Sejauh yang bisa saya tangkap, dari tiga belas paragrafnya, tulisan ini hendak mengingatkan bahwa memberi sebenarnya adalah peristiwa yang sosial juga sekaligus spritual.  Tulisan ini menyebut bahwa motif memberi bisa berarti adalah peristiwa tukar menukar dari yang memberi dan yang menerima. Tetapi aktivitas tukar menukar ini justru memiliki motif untuk memiliki dan dimiliki. Ini berarti aktivitas sosial ini, yang sering kita lakukan, adalah tindakan yang memiliki maksud dan imbalan. Tindakan ini sosial walaupun tidak spritual.

Lantas bagaimanakah memberi yang spritual? Dalam tulisannya, memberi yang spritual adalah pemberian yang tanpa pamrih dan imbalan. Tindakan ini sama halnya dengan pandangan moral Kant, bahwa sesungguhnya berbuat baik bukan untuk imperatif yang mewajibkan. Berbuat baiklah jika memang itu baik, bukan untuk yang lain. Dan tindakan yang tanpa pamrih inilah yang sudah jarang kita lakukan apalagi dibiasakan.

Di bawah judul memberilah dengan sari diri, saya dapat tangkap maksud yang gamblang juga sekaligus gamang. Dalam tulisan yang analitis itu ada yang kritis terhadap pertemuan sosial kita; di kantorkantor, pasar, mesjid, di rumah, sekolah, pinggir jalan atau di manapun itu, yakni janganjangan kita memberi dan menerima tanpa menyertakan ikhlas di dalamnya. Di saat demikianlah yang kritis dalam tulisan itu berbicara; bahwa kita nampaknya memang tak jarang menjadi manusia yang tidak sprituil. Dan itulah mengapa tulisan ini membawa kegamangan. Sudahkah kita memberi dengan tanpa maksud yang mulukmuluk. Ini gamblang juga gamang !?


24 Januari 2015

madah enam

Malam tadi saya tak sempat melakukan rutin; menulis sebuah catatan. Menyisihkan waktu untuk menulis memang ternyata bukan hal yang mudah. Apalagi jika suatu hal yang tak didugaduga datang mengambil waktu yang telah dipersiapkan. Itulah sebabnya mengapa menulis membutuhkan perebutan dari yang dirampas, sebuah kondisi yang tarik menarik. Dengan cara begitu menulis sering saya alami sebagai usaha "yang membebaskan." Yang membebaskan berarti tak ada pagar yang memancang batas. Tak ada yang disebut teritori hasil dominasi. Membebaskan berarti usaha untuk meloncati batas: sebuah peristiwa tanpa penjajahan.

Dengan waktu yang disisihkan itu, usaha saya untuk membebaskan diri dari batas yang sering kali dominan itu mesti ditaklukkan. Entah sesibuk apapun, mesti ada waktu untuk dimerdekakan, untuk menulis. Dan ini adalah usaha yang memang tak mudah. Maka itu usaha ini sama berarti dengan apa yang akhirakhir ini saya sebut melawan diri sendiri. Ini berarti adalah kondisi yang ingin melampui kebiasaankebiasaan. Apa pun itu.

Tetapi apakah menulis yang akhirakhir saya lakukan juga nantinya akan menjadi kebiasaan? Dan juga bukan sebuah peristiwa yang membebaskan? Barangkali di sinilah waktu akhirnya menjadi hal yang penting.

Waktu dalam konteks yang modern memang bukan hal yang berbudaya. Modern dengan sifatnya yang mengandung rasio di dalamnya, sesungguhnya tak berniat untuk mendirikan budaya. Sebab di dalam rasio tak ada pembatinan terhadap sesuatu untuk dimaknai berlamalama. Sementara budaya adalah peristiwa yang membatin, sebuah keadaan yang tak sempat dicandra rasio. Karena itulah mengapa waktu senggang adalah pusat dari berdirinya kebudayaan. Di dalam waktu senggang, yang rasio harus tunduk dari batasbatas, harus menunda superioritasnya.

Waktu senggang sebagai perayaan terhadap yang superior, dimisalkan Josep Pieper sebagai situasi yang primordial. Dalam arti yang antropologis, primordial sama dengan keadaan manusia yang tanpa batasbatas kekurangan; sebuah keadaan yang asali. Di konteks ini, manusia belum mengenal model aktivitas yang ditata berdasarkan hubunganhubungan rasional. Belum ada yang disebut oleh mazhab frankfurt sebagai rasional instrumental. Maka dari itu, hidup saat konteks yang primordial berarti menjalani sesuatu yang asali; sebuah perayaan.

Dan sebuah perayaan sebenarnya adalah keadaan yang tanpa target, tanpa upaya penaklukan dan tanpa bermaksud menguasai apapun. Dengan arti yang demikianlah waktu menjadi peristiwa yang tidak harus dikejarkejar dan ditaklukkan. Dalam arti inilah rutin yang tiap malam saya lakukan ingin saya bangun. Walaupun juga waktu tidak selamanya dapat saya gunakan untuk memberlangsungkan kegiatan saya seperti ini.

Tiga hari belakangan memang saya tak seperti biasanya; tiap malam harus berlamalama di dalam kamar; membaca, menonton dan melakukan halhal yang lain, apalagi menulis seperti ini. Kebiasaan baru saya ini harus direbut dari kewajiban saya turun lapangan untuk mempraktikkan peendekatan penelitian PRA dan RRA. Selama tiga hari saya bermukim jauh di desa pedalaman Gowa dan tulisan ini pun saya cicil sedikit demi sedikit di antara aktifitas saya selama di lapangan.

Sebenarnya tulisan ini hanya mampu saya cicil sebanyak dua paragraf dan baru saya lanjutkan sepulang dari Gowa. Dan akhirnya menjadi semacam ini. Tulisan yang semula terputus dan disambung kembali. Tetapi inilah yang sering saya istilahkan dengan architeksture; kegiatan menyusun dan membangun sebuah ide dengan tulisan. Awalnya disusun dan begitu seterusnya.  Dan ini saya inginkan dalam konteks yang membebaskan, sebuah peristiwa terhadap perayaan.

Saya akhiri dulu tulisan ini.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...