14 Juni 2013

jalan raya


Apa jadinya jika jalan raya di suatu pagi bertemu dengan modernitas? Maka yang ada adalah keterburu-buruan. Hidup dalam cara modern adalah bagaimana anda dapat menggunakan waktu se-efisien mungkin. Dan jalan raya, di pagi hari adalah perentang penandanya. Di jalan raya, anda tak boleh menengok; kanan dan kiri, apa lagi berbalik kebelakang hendak kembali, karena menengok dan kembali dalam buku besar modernitas berarti kemunduran. Dan bisa jadi anda akan menjadi seorang individu yang tertinggal jauh.

Memang modernitas adalah sebuah bus besar yang sedang terburu-buru; bergegas dengan kecepatan yang tinggi, tanpa rem, tanpa rambu jalan dan tanpa terminal pemberhentian. Modernitas adalah bentuk zaman bahkan pikiran baru yang berusaha melupakan ingatan masa lampau; melipat segala sesuatu menjadi sebuntal pakaian yang harus dilipat bahkan diganti, dan memberikan anda sekelumit pakaian dengan cermin yang menaruh visi tentang kemajuan. Dan inilah modernitas, waktu menjadi barang yang penting untuk dijaga. Dikemas dalam keadaan yang rapi, dijaga baik-baik dan tak harus dirusaki, sebab waktu tak bisa dipending apalagi terhenti, maka kerja adalah lokomotif yang harus terus di dorong.

Kerja dalam pengertian zaman modern bahkan postmodern, adalah usaha yang memanfaatkan potensi dalam memapatkan waktu dan ruang, yang punya kaitan dengan peran dan fungsi yang terspesialisakan, dimana digerakan berdasarkan visi yang di sublim oleh rasio yang mengendaki capaian tujuan seefesien dan secepat mungkin. Dan rasio seperti ini, merupakan   rasio yang dihardik oleh kalangan mazhab Frankfurt, oleh mereka, rasio ini adalah rasio yang menampik ruang permenungan, selalu menukik untuk berhadapan langsung pada objek yang ingin kuasai.

13 Juni 2013

la mémoire et à venir


Entah seberapa jauh kita bisa mengingat masa-masa dimana kita kecil? Mungkin banyak yang terlupakan, tetapi bisa jadi tidak sedikit yang masih tersimpan. Ingatan punya aturannya sendiri; tentang apa yang layak tersimpan dan apa yang mesti kita lupakan, sebab ingatan diwaktu tertentu punya masa-masa ia datang kembali; menemukan gejala yang menghubungkan akan dua peristiwa, dimana masa lalu bisa kita rasakan pada masa sekarang yang punya kemiripan.

Karena perihal ini, maka terkadang ingatan bisa menjadi hal yang perlu diatur, apalagi menyangkut ingatan orang banyak. Dimana ingatan bisa mendatangkan isyarat apa yang patut dan yang harus dibuang jauh-jauh. Maka bisa saja ingatan kehilangan tentang apa yang sepantasnya diingat, tak terkecuali masa kita anak-anak.

Ingatan bisa jadi hal yang memupuk harapan atau sebaliknya?

Harapan?...bisa dikata sejenis utopia; sesuatu tempat yang menempatkan cita-cita yang ideal didalamnya. Atau sesuatu yang tinggi tempatnya. Perihal akan segala sesuatu yang menjadi perlawanan dari kehidupan “bawah” yang serba tak berkecukupan, tak lengkap, tak utuh, tak genap, atau sejenisnya dan sejenisnya: atau bisa dikata Sesuatu yang sempurna.


Yang mana keberadaannya melampaui jenis kehidupan yang dipredikatkan oleh label yang tak sempurna, kehidupan manusia yang terapit serba katakcukupan. Lantas bisakah ia menjadi hal yang benar-benar dirasakan, sesuatu yang betul-betul dialami, yang mana “keseluruhan” dari diri kita betul-betul identik pada apa yang kita harapkan.

Lantas apa arti harapan bagi orang-orang kecil yang terpenggal masa anak-anaknya? Tentang anak-anak kisaran usia lima atau enam yang tiap harinya berdiri dibawah traffic ligh, kolong jembatan,-mereka yang menjajal koran, ngamen, ngemis ataukah pekerjaan yang kita anggap sampah- pada perempatan jalan-jalan yang sering kita lewati. Dan kita pun silau-mungkin istilah ligh punya persinggungan makna dengan apa yang sering terjadi pada kita- berusaha menghindari, berupaya menolak, bahkan menampik kesal pada mereka. Dan kita benar-benar telah memenggal masa kecil kita? 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...