Apa jadinya jika jalan raya di
suatu pagi bertemu dengan modernitas? Maka yang ada adalah keterburu-buruan.
Hidup dalam cara modern adalah bagaimana anda dapat menggunakan waktu
se-efisien mungkin. Dan jalan raya, di pagi hari adalah perentang penandanya.
Di jalan raya, anda tak boleh menengok; kanan dan kiri, apa lagi berbalik
kebelakang hendak kembali, karena menengok dan kembali dalam buku besar
modernitas berarti kemunduran. Dan bisa jadi anda akan menjadi seorang individu
yang tertinggal jauh.
Memang modernitas adalah sebuah
bus besar yang sedang terburu-buru; bergegas dengan kecepatan yang tinggi,
tanpa rem, tanpa rambu jalan dan tanpa terminal pemberhentian. Modernitas
adalah bentuk zaman bahkan pikiran baru yang berusaha melupakan ingatan masa
lampau; melipat segala sesuatu menjadi sebuntal pakaian yang harus dilipat
bahkan diganti, dan memberikan anda sekelumit pakaian dengan cermin yang
menaruh visi tentang kemajuan. Dan inilah modernitas, waktu menjadi barang yang
penting untuk dijaga. Dikemas dalam keadaan yang rapi, dijaga baik-baik dan tak
harus dirusaki, sebab waktu tak bisa dipending apalagi terhenti, maka kerja
adalah lokomotif yang harus terus di dorong.
Kerja dalam pengertian zaman modern bahkan postmodern, adalah usaha yang memanfaatkan potensi dalam memapatkan waktu dan ruang, yang punya kaitan dengan peran dan fungsi yang terspesialisakan, dimana digerakan berdasarkan visi yang di sublim oleh rasio yang mengendaki capaian tujuan seefesien dan secepat mungkin. Dan rasio seperti ini, merupakan rasio yang dihardik oleh kalangan mazhab Frankfurt, oleh mereka, rasio ini adalah rasio yang menampik ruang permenungan, selalu menukik untuk berhadapan langsung pada objek yang ingin kuasai.