04 Juni 2013
03 Juni 2013
Solitut
Di mana pun engkau membalikkan
rupamu, maka di sanalah Tuhan. Setidaknya saya membahasakan dalam cara yang
berbeda. Begitulah yang tertulis, dalam kitab suci, dalam al qur’an. Tanda itu
sekiranya berpesan pada manusia, mahluk yang lemah, bahwa di manapun, kapanpun
dalam kelemahanmu lihatlah sekelilingmu, Tuhan tak jauh darimu. Bahkan lebih
dekat dari urat lehermu, dalam ayatnya yang lain tertulis. Maka dalam
tulisantulisan ahli batin, tuhan sesungguhnya bersemayam dalam diri manusia.
Sebab barangkali itulah sebab konsep penyatuan bisa kita terima, disetiap yang
‘ada’ menampil Dia yang meliputi.
Artinya di sekeliling kita
adalah Tuhan. Setidaknya Dia tampil dalam beragam tempat dan rupa; di
kantorkantor, bukitbukit, di atas motor, Mall, kemarahan, Gudang,
Mesjidmesjid, Gerejagereja tua, belas kasih, dalam Bis Kota, hutan belantara,
kebencian, pasarpasar, rumah sakit, ganggang sempit, dendam ditengah lautan, di
sekolahsekolah atau disamping dirumah kita sendiri. Ataukah bahkan kita adalah
Tuhan itu sendiri. Dimana dalam bahasa yang lain hukum tuhan bekerja
ditengahtengah kita. Melalui tangantangan kita sendiri.
Namun juga tuhan barangkali tengah cuti. Duduk santai kemudian sesekali menyeruput kopi. Berlibur di masa yang lain tengah sibuk, oleh sebab banyak yang telah menggantikan tempatnya. Di mana dia bosan dengan kekuatannya sendiri sehingga dia pergi meninggalkan kita. Berjalan pelanpelan menyelinap dari rutin kita yang melupakannya. Sehingga yang tersinya adalah kesendirian tuhan dalam rutin yang melupakan.
Maka barangkali Tuhan tengah sunyi, jauh dari mata kita..
Langganan:
Komentar (Atom)
Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun
Jujur saja, diam-diam Anda pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...
-
Ali Syariati muda Pemikir Islam Iran Dikenal sebagai sosiolog Islam modern karya-karya cermah dan bukunya banyak digemari di Indo...
-
Seni Memahami karangan F. Budi Hardiman SAYA merasa beberapa pokok dari buku Seni Memahami -nya F. Budi Hardiman memiliki manfaat...
-
Judul : Mengapa Aku Begitu Pandai Penulis: Friedrich Nietzsche Penerjemah: Noor Cholis Penerbit: Circa Edisi: Pertama, Januari 2019 Tebal: ...
