16 Mei 2013

Wiji Thukul, Mei 98

Hanya satu kata, lawan. Begitu sajak yang pernah kumandang dengan ritmik, semacam do’a bagi kalangan aktivis-intelektual Indonesia. Sajak yang bukan hasil dari karya ilmiah dengan klasifikasi yang ketat tentang standar mutu menurut logika sains. Sebuah kredo layaknya kitab yang berisikan wahyu langit untuk meneguhkan iman yang dianggap menyimpang bagi sebahagian besar penganut keyakinan mayoritas.

Namun Hanya satu kata, lawan, adalah kalimah yang lahir dari langitlangit yang jauh, langit yang selalu mendung dari seorang Wiji Thukul. Jauh dari kemapanan masyarakat banyak, di mana dalam otoritas tunggal menjadi hal yang dianggap menyimpang dan terlampau meragukan. Pada sajak ini, Wiji Thukul hendak menampik sesuatu yang terlampau mapan, kehidupan yang secara alamiah merupakan produk dari kuasa. Bagaikan godam, Wiji memukulnya dengan sebilah kata. Hanya satu kata, lawan adalah iman bagi seorang Wijhi tukul, iman yang bukan hidup bersemayam dalam ruang dada seseorang melainkan keyakinan yang harus mencari sepetak tanah untuk disemaikan.

Tetapi selayaknya layangan, jika telah diterbangkan maka tak ada batas yang mampu untuk menghalanginya untuk disaksikan. Hanya saja, layangan yang diterbangkan oleh Wiji Thukul, tak mampu menampik batas yang terlampau kokoh dididirikan oleh kuasa, Batas yang menghalangi angin untuk melambungkan layangan yang diterbangkan Thukul.  Batas yang berujung pada kenihilan identitas, Thukul Dihilangkan. Lebih malangnya lagi, hanya sedikit orang yang mau untuk memegang kembali tali kendali layangan Thukul yang sudah lama melayang di angkasa tanpa nahkoda. 

03 Mei 2013

Huru Hara Kampus; Refleksi Pasca 2 Mei

Kampus tengah tunggang langgang. Kampus mendapati dirinya sedang dalam keadaan terburu-buru. Kebijakan diambil tanpa pikir panjang, tanpa dialog, yang penting bagaimana bisa menang. Gedung dipertinggi otak dijepit diketiak. Didalamnya, formasi budaya pencerahan berlahan-lahan sedang jumpalitan; terguling-guling. Tenaga pengajarnya malas mengembangkan seni kemanusiaan lewat diskursus-diskursus. Mahasiswanya terlebih sedang  dalam demam tinggi; biasanya jika orang sedang terkena demam akut, maka jadinya senang meracau, ngomong sembarangan. Kawan! seisi kampus tengah dalam kondisi bahaya.

Bahaya pertama, mari kita lihat situasinya; ruang budaya kampus atau lingkungan yang paling dekat dari kita; teman-teman kita. Adakah dari mereka yang resah? Jika tidak, maka itu sebuah kesalahan. Sebab seorang mahasiswa harus memiliki ide besar, ide tentang perubahan. Ide besar ini bagi seorang mahasiswa dalam aktivitasnya, selalu dijadikan teropong untuk memandang situasi yang dihadapinya. Jika situasi tidak selaras dengan harapan yang datang dari ide besarnya, maka dari sana datang keresahan. Dari keresahan inilah mahasiswa mengambil jarak dengan situasi untuk merekayasa situasi lingkungannya.

Ide besar dalam pengertian ilmiah sering disinonimkan dengan ideology. ideology ada tiga susun elemen pembentuknya. Salah satu elemen didalamnya adalah unsur yang memberikan pedoman bagaimana cara memberlakukan manusia. Cara pemberlakuan kita terhadap sesama pasti bergantung dari pengetahuan yang kita miliki tentang apa itu manusia. Jika manusia kita pahami dalam batasan seperi benda mati, maka cara kita memberikan pemberlakuan terhadapnya sudah tentu sebagaimana benda mati diperlakukan; seenaknya saja,

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...