Hanya satu kata, lawan. Begitu
sajak yang pernah kumandang dengan ritmik, semacam do’a bagi kalangan
aktivis-intelektual Indonesia. Sajak yang bukan hasil dari karya ilmiah dengan
klasifikasi yang ketat tentang standar mutu menurut logika sains. Sebuah kredo
layaknya kitab yang berisikan wahyu langit untuk meneguhkan iman yang dianggap
menyimpang bagi sebahagian besar penganut keyakinan mayoritas.
Namun Hanya satu kata,
lawan, adalah kalimah yang lahir dari langitlangit yang jauh, langit yang
selalu mendung dari seorang Wiji Thukul. Jauh dari kemapanan masyarakat banyak,
di mana dalam otoritas tunggal menjadi hal yang dianggap menyimpang dan
terlampau meragukan. Pada sajak ini, Wiji Thukul hendak menampik sesuatu yang
terlampau mapan, kehidupan yang secara alamiah merupakan produk dari kuasa.
Bagaikan godam, Wiji memukulnya dengan sebilah kata. Hanya satu kata,
lawan adalah iman bagi seorang Wijhi tukul, iman yang bukan hidup
bersemayam dalam ruang dada seseorang melainkan keyakinan yang harus mencari
sepetak tanah untuk disemaikan.
Tetapi selayaknya layangan, jika telah diterbangkan maka tak ada batas yang mampu untuk menghalanginya untuk disaksikan. Hanya saja, layangan yang diterbangkan oleh Wiji Thukul, tak mampu menampik batas yang terlampau kokoh dididirikan oleh kuasa, Batas yang menghalangi angin untuk melambungkan layangan yang diterbangkan Thukul. Batas yang berujung pada kenihilan identitas, Thukul Dihilangkan. Lebih malangnya lagi, hanya sedikit orang yang mau untuk memegang kembali tali kendali layangan Thukul yang sudah lama melayang di angkasa tanpa nahkoda.