12 April 2013

Pengantar; Jejak Dunia yang Retak

… Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tetapi tidak gampang untuk diam… kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu pada saat seperti ini, hanya ada mendung atau hujan., atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki…
(Goenawan Mohammad)

Apa yang paling indah dari merangkai pengalaman yang dengannya kita mampu menyublim pelajaran. Suatu perjalanan hidup yang temporal, yang lekang oleh waktu, ruang adalah dimensi yang harus dilewati. Manusia berusaha keluar dari sifat temporalnya menuju ihwal yang mengisyaratkan akan sesuatu hal yang transenden. Dikatakan demikian karena terkadang pada pengalaman; hiruk-pikuk keramaian, sunyi-sepi kesendirian, di mana manusia bisa bermetamorfosa menjadi makhluk “yang lain” dengan aktivitasnya yang hendak mengalami hal-hal yang transenden.

Dahulu, orang Yunani menyebut aktivitas  semacam itu dengan Theoria. Theoria bagi orang-orang Yunani erat kaitannya dengan tema-tema kosmologis. Melakukan theoria, merupakan kegiatan tertinggi manusia, karena berarti mengaktifkan logos, suatu percikan Ilahi yang ada dalam diri manusia. Orang-orang yang melakukan aktivitas theoria kerap dinamakan sebagai filosof.  Sebab, biasanya filosof punya hal yang lain yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan, yakni pengalaman akan hal yang sublime.

Kami tidak ingin menyebut diri sebagai filosof dengan pengalaman keseharian, tapi penulis meyakini bahwa setiap pengalaman yang mempunyai kedalaman memiliki sisi filosofis. Pengalaman yang berserakan dihadirkan menjadi sesuatu yang utuh dalam rentetan kata-kata. Kami pula meyakini bahwa tutur perlu untuk dituliskan agar ia tidak terlupakan dan berlalu begitu, agar ia “abadi”, sehingga besar harapan kami bahwa kehadiran buku sederhana ini dapat berkontribusi di setiap ruang dimana ia hadir.

Penulis menyadari bahwa rekam jejak dalam buku ini, mungkin “ada yang retak”. Karena bermula dari ide-ide yang tidak utuh dan sederhana serta berserakan, yang diperoleh dari pertautan penulis dengan habitusnya. Ide dalam buku ini jauh dari kesempurnaan karena ide memang tidak pernah utuh sebab ide yang utuh petanda stagnasi. 
Sebagaimana  judul buku ini: Jejak Dunia yang Retak.
Mengapa dunia Retak ?

Dunia adalah tempat kita hidup, namun dunia tak mesti dipahami sebagai entitas yang taken for granted hasil kreasi Tuhan, tapi dunia juga dapat dipahami sebagai perwujudan pengalaman manusia terhadap apa yang sedang dihadapi. Realisasi daya kreasi manusia terhadap alam yang didiami, dengan membentuk realitas baru yang belum tercipta sebelumnya. Maka dunia di sini bukanlah dunia yang diterima begitu saja, melainkan hasil karsa dari keterlibatan manusia sebagai subjek dengan dunia.

Pada momentum inilah kehendak manusia sebagai subjek memiliki peran, berusaha mengartikulasikan harapan dan cita-citanya untuk dibumikan menjadi hal yang kongkret. Namun pada zaman sekarang, kata Henri Levebre, tak ada ruang yang absen dari politik, dan kita pun tahu kapitalisme dengan peran politisnya banyak mendominasi kehendak umum manusia. Membentuk kesadaran massal berdasarkan agenda-agenda politis dalam rangka memonopoli dunia, yang pada akhirnya manusia kehilangan kehendak dasarnya, tergantikan dengan nalar kapital yang diinternalisasi berdasarkan permainan sistem yang berkelindan melalui hegemonisasi. Maka dari itu, dunia tak lagi milik Tuhan semata, melainkan harus berbagi jatah dengan kapitalisme, “tuhan” era modern.

 Dunia yang retak adalah dunia yang terkonstruk oleh subjek, di mana nilai kemanusiaan telah terkikis. Dunia yang memposisikan manusia layaknya mesin, dengan kata lain manusia tidak lebih dari struktur materi semata. Keretakan dunia dinikmati begitu saja tanpa sebuah jeda untuk interupsi dan melihat kembali, lalu bertanya. Apakah dunia ini sudah berjalan sebagaimana semestinya?. Dunia yang retak mungkin seperti yang disinyalir oleh Anthony Giddens sebagai dunia yang tunggang-langgang; lepas kendali.

Kumpulan tulisan ini, hendak merekam jejak retakan yang dianggap lumrah yang sebenarnya bukan hal yang biasa. Kehadiran buku ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menemani, memberi serta berbagi pengalaman kepada kami. Kepada kedua Orang tua dan Keluarga. Kepada para mentor; Ahmad Syauwq, Sulhan Yusuf, Hamzah Fansury, Ipal, ustad Zainal (Alm), yang banyak mengajari kami untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kepada Sahabat; Sabara Nuruddin, Alto Makmuralto, Waliyul Hamdi, Muhammad Nur, Syamsuriadi Tambur, Safaruddin, Arman Syarif, Joe Fals, Rahmat Zainal, Idham, Sasli, Andi lambau, Ilman Derajat, Juned, fery Fefrika, Rido, Zainal As’ad, Bahrawi Zakaria, Adhy Manyipi, Ashari Burhan, Sukaina Nainawa, Asranuddin Pattopoi serta teman-teman yang tidak sempat disebutkan satu persatu, pastinya bahwa kehadiran kalian menemani kami berdiskusi, bercanda, menertawakan hidup itu sangat berarti.

Kepada anak-anak LDSI Al-Muntazhar yang sedang menanti, Komunitas Maya Tanah Merah, Komik, Muqaddimah, Madipala FIP UNM, LKIMB UNM, HMI (MPO), Paradigma Group, BEM dan MAPERWA UNM, SMART EM. Terima kasih khusus untuk mas Eko Prasetyo dan Daeng Dul Abdul Rahman atas kesediaanya memberi prolog dan epilog pada buku ini.   

Wassalam,
Makassar, 30 April 2012

11 April 2013

Kita dan Revolusi (Untuk yang "Menanti" di sudut Jipang)

Pernahkah kau terima hutan seperti aku terima hutan, sebagai rumah tinggal, bukan istana..
Pernahkah kau buat rumput jadi ranjang dan berselimutkan luasnya ruang, merasa daif di hadapan yang kelak, dan lupa akan waktu silam yang hilang..-Fairouz-

Disana tiada batas pada deret angka-angka. Tiada batasan umur. Tiada pula keterpilahan ruang. Menyatu menjadi  centang perentangan dialektis menuju pada titik yang sama. Kami melabeli titik itu dengan pilihan kata tunggal; Revolusi. Sebuah petanda yang dipilih dari ikhtiar, kata yang ditempatkan diujung makna yang bukan untuk ruang kosong.  Ini bukanlah kata eksposisi, bahasa yang memaut makna dan mati pada waktu setelah sejarah merentang. Melainkan kata yang simbolis. Seperti bahasa Ali Syariati: Suatu bahasa simbolik adalah bahasa yang paling indah dan halus dari seluruh bahasa yang pernah dikembangkan manusia1. Bahasa yang abadi dengan dimensi makna yang berlapis dan bertingkat. Dari kata inilah gerak kami bermula.

Revolusi acap kali datang disaat suasana menjadi seperti sebuah surau yang suram, gelap. Dimana  pada level metafora menjadi petanda kejahiliaan. Tata hidup manusia  yang terpenjara dari tapal-tapal yang memenjarakan, memisahkan  antara yang nyata dan yang semu.  Situasi kelupa akan bersik cahaya “benar” yang universal. Revolusi punya kekuatannya sendiri, memiliki sumbunya disetiap tempat, tinggal siapa yang menjadi pemantik. Itu saja awal revolusi; pemantik.

Seperti latar abad pencerahan, revolusi memiliki pemantiknya. Orang-orang yang melabrak dogma gereja. Ketika gereja menjadi candu, memutarbalikkan yang “imanen” ke hal yang “transenden”, yang “rendah” menuju lapis langit yang “jauh” dari peri hidup masyarakat. Mematikan nalar yang terpasung oleh berjubel-jubel kitab suci. Kondisi pun menjadi kalut, masyarakat hanya menuai hidup dibawah podium-podium para pendeta. Saat-saat inilah bermunculan orang-orang yang resah, galau, khawatir tentang hidup yang dikotomis, kehidupan yang menata yang “disana” lebih penting dari yang “disini” dan yang “sekarang”. Maka dimulailah era itu, era  “pencerahan”. Situasi dimana manusia  menjadi pendulum sejarahnya sendiri. Situasi yang membilangkan bahwa bukan Tuhanlah penentu hari ini dan esok, sebab manusia dicipta berdasarkan kehendak mutlaknya sendiri.

Revolusi juga bukan segerombolan orang-orang yang hiruk pikuk dengan slogan-slogan perjuangan. Revolusi tak sekedar jargon retoris. Revolusi setidaknya bisa kita pahami dari apa yang dirunutkan  Weber, Dimana sang manusia besar, ide dan keterlibatan yang besar, menempati ruang sejarahnya sendiri. Simaklah sejarah Revolusi, selalu memiliki manusia besarnya masing-masing.  Lantas apa yang menjadi arah ideal dari sebuah perubahan yang berayun? Barangkali  ide, gagasan yang disemai, disuburkan dengan proses dialektis mendapati fungsinya sebagai pelopor sebuah gerakan yang mana massa rakyat turut memegang kemudinya. Setidaknya itulah bahasa Ali Syariati,  bahwa tugas primer seorang intelektual adalah membangun massa rakayat. Syahdan, Revolusi adalah keterjalinan diantara komponen-komponennya.

Maka tibalah kita dimasa sekarang dan mendatang. Dari mana kita mesti mulai?2 Kita bukanlah orang-orang yang hidup di zaman masa lalu. Tidak berdiri ditepian zaman, bahkan kita berada ditengah-tengahnya. Kitalah zaman itu, zaman yang tunggal. Melihat dari mata yang sama, bertindak dari tindakan yang sama. Revolusi kita tidaklah sama dalam bahasa reaksi Marxian, bahwa akan tiba masa dimana para penjarah akan dijarah3. Revolusi kita tidaklah secara naratif dari apa yang tercermin dalam perkataan Bakunin pemusnahan semua prinsip otoritas dan kenegaraan, yang dalam kemunafikannya ingin membuat manusia bermoral dan berbudaya, tetapi yang sampai sekarang selalu memperbudak, mengeksploitasi dan menghancurkan mereka.4 Itu adalah ideology yang semu, Oleh tutur lisan Marx Kesadaran Palsu. Pranata pikiran yang berisikan ajaran yang secara esensial justru menghadirkan para diktator tak bermoral. Kaum religius yang mewah dengan pundi-pundi amal serta sarjanawan yang terperangkap dari kehendak para tetua.

Revolusi barangkali adalah menelanjangi diri sendiri, bersedia menghadapkan diri pada fragmen-fragmen yang kontradiksi, telanjang pada diri-diri yang banyak hingga kita tahu ternyata kita bersama sekaligus menentang. Ada sekaligus meniadakan. Revolusi adalah bahasa vulgar, bahasa yang simbolis, menautkan setiap peristiwa-peristiwa besar dalam perilaku yang sederhana. Setidaknya Revolusi tidak sekedar menjatuhkan seorang diktator dari tahktanya, lebih jauh dari itu berusaha menjatuhkan “diri” dari tahktanya. Selayaknya dalam kondisi yang paling sublim revolusi adalah mengubah hal yang biasa menjadi tak biasa. Karena mungkin saja sehelai daun yang jatuh lebih dahsyat dari jatuhnya seorang kaizar 5.

---

1.      Ali Syariati, Tugas Cendikiawan Muslim
2.      Ali Syariati, Suatu Pendekatan untuk Memahami Islam
3.      Michael Newman, Sosialisme Abad 21
4.      Bakunin, www.google.co.id/ Bakunin,  diakses pada 24 Februari 2011
5.      Tri Wibowo BS, Gunung Makrifat

Makassar, 25 Februari 2011

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...