12 April 2013

Tatal; entah kesekekian kalinya, tentang Iman.


Siang ini langit begitu terik. Suara itu datang dengan timbul tenggelam, hampir mendekati jelas penuh. Tapi siapa pun yang kerap  beberapa kali mendengarnya pasti tahu betul siapa milik suara yang hampir mendekati bunyi sengau itu. Suara itu terkadang, di beberapa waktu tertentu berasal dari atas mimbar, tapi kali ini berbeda; suara itu datang dari hanphone atau bisa jadi radio yang diputar pada frekuensi tertentu. Tapi yang jelas suara itu, suara seorang penceramah, saya yakin betul, suara yang saya dengar itu, diseberang rumah yang lapuk itu, suara milik Alm. KH. Zainuddin MZ.

Zainuddin MZ telah wafat, namun bila gajah mati meninggalkan gadingnya, maka Zainuddin MZ mati meninggalkan sepercik iman pada para pendengarnya. Dan hari ini, iman itu datang pada siang yang benderang, yang mana ceramahnya lebih abadi dibanding si empunya. Iman itu datang dan diperdengarkan ditengah keluarga kecil dengan rumah yang mendekati defenisi gubuk itu. Siang ini, di keluarga itu- yang di bawah atapnya terputar rekam suara da’i sejuta ummat itu, yang dibawah atapnya tak ada penandaan akan kesan seperti sebuah rumah selayaknya; TV, Refrigerator, ac, mesin cuci, seterusnya dan seterusnya, yang hampir seluruh bangunannya tersusun atas susun seng-seng bekas- mengisyaratkan bahwa iman bukan soal untuk di perdebatkan, yang mana iman dengan legowo mesti di terima tanpa  harus mengikutsertakan keraguan.

Mungkin iman seperti inilah yang di kehendaki oleh kalangan sufis, iman yang datang dengan tanpa keraguan, sekalipun itu menghendaki penjelasan, sebab iman yang disertai penjelasan adalah iman yang belum penuh seluruh, yang mana kejelasan masih dalam rangkai yang terpotong. Iman dalam  bentuk seperti ini adalah iman yang menerima kehadiran yang ilahiat, dengan tuhan sebagai yang berada pada segala kehadiran yang temporal. Dengan begitu, maka hidup hanyalah bagaimana menjalankan apa yang telah diyakini betul untuk menjalani lakon yang telah diberikan.

Entah apakah keluarga kecil itu tahu, bahwa apa yang mungkin saja mereka yakini pernah menjadi diskursus yang hidup sampai saat ini. Perbincangan tentang hal yang absolut; ihwal yang akhirnya membentuk gugus yang diyakini sebagai pegangan hidup. Iman sebagai pegangan hidup, agaknya bukanlah sebuah kongklusi yang final, yang sebelumnya lahir dari bentuk pikir yang rigoris. Iman seperti ini, nampaknya dimulai dan diakhiri dengan kepastian yang bisa berujung pada konsep yang tunggal, dan sejarah punya kisah tentang itu, bahwa demi yang tunggal itu, manusia membangun tiang pancang dan tembok kokoh untuk melindungi keyakinan yang absolut.

Maka pada keluarga kecil itu, saya teringat tentang sebuah pengertian iman yang lain, bukan iman yang padu kemudian berhenti pada titik yang pasti, melainkan iman yang seringkali harus patah ditengah jalan dan ditata pada langkah yang selanjutnya, dan begitu seterusnya, sebuah jalan yang tak punya ujung, iman yang bukan sekedar komitmen untuk benar, melainkan iman yang sedianya bisa bangkit untuk di susun kembali, dimana merupakan suatu penerjunan diri ke dalam suatu proses yang sepenuhnya berlangsung dalam hidup, dengan segala gejolaknya.

Iman seperti ini, mungkin bukanlah iman yang dipahami sebagai sebentuk pegangangan pasti bagi orang-orang yang menghendaki defenisi. Dimana terkadang dan barangkali sudah jadi sifat defenisi; membatasi. Sebab kita tahu, pekerjaan defenisi menghendaki penyingkiran akan adanya pengertian yang berbeda untuk di universalkan. Dan disinilah sebabnya, sesuatu yang universal menghendaki hilangnya semangat partikularitas. Seperti keluarga kecil itu; iman bukan soal yang rapat dan mapat pada defenisi teologis yang tak menerima perbedaan pengertian iman. Sebab barangkali bagi mereka iman itu sederhana. Seuatu yang tinggal dijalani.[]

Karunrung, 26 Maret 2012.

Pengantar; Jejak Dunia yang Retak

… Di setiap masa nampaknya selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tetapi tidak gampang untuk diam… kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu pada saat seperti ini, hanya ada mendung atau hujan., atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki…
(Goenawan Mohammad)

Apa yang paling indah dari merangkai pengalaman yang dengannya kita mampu menyublim pelajaran. Suatu perjalanan hidup yang temporal, yang lekang oleh waktu, ruang adalah dimensi yang harus dilewati. Manusia berusaha keluar dari sifat temporalnya menuju ihwal yang mengisyaratkan akan sesuatu hal yang transenden. Dikatakan demikian karena terkadang pada pengalaman; hiruk-pikuk keramaian, sunyi-sepi kesendirian, di mana manusia bisa bermetamorfosa menjadi makhluk “yang lain” dengan aktivitasnya yang hendak mengalami hal-hal yang transenden.

Dahulu, orang Yunani menyebut aktivitas  semacam itu dengan Theoria. Theoria bagi orang-orang Yunani erat kaitannya dengan tema-tema kosmologis. Melakukan theoria, merupakan kegiatan tertinggi manusia, karena berarti mengaktifkan logos, suatu percikan Ilahi yang ada dalam diri manusia. Orang-orang yang melakukan aktivitas theoria kerap dinamakan sebagai filosof.  Sebab, biasanya filosof punya hal yang lain yang tak dimiliki oleh orang kebanyakan, yakni pengalaman akan hal yang sublime.

Kami tidak ingin menyebut diri sebagai filosof dengan pengalaman keseharian, tapi penulis meyakini bahwa setiap pengalaman yang mempunyai kedalaman memiliki sisi filosofis. Pengalaman yang berserakan dihadirkan menjadi sesuatu yang utuh dalam rentetan kata-kata. Kami pula meyakini bahwa tutur perlu untuk dituliskan agar ia tidak terlupakan dan berlalu begitu, agar ia “abadi”, sehingga besar harapan kami bahwa kehadiran buku sederhana ini dapat berkontribusi di setiap ruang dimana ia hadir.

Penulis menyadari bahwa rekam jejak dalam buku ini, mungkin “ada yang retak”. Karena bermula dari ide-ide yang tidak utuh dan sederhana serta berserakan, yang diperoleh dari pertautan penulis dengan habitusnya. Ide dalam buku ini jauh dari kesempurnaan karena ide memang tidak pernah utuh sebab ide yang utuh petanda stagnasi. 
Sebagaimana  judul buku ini: Jejak Dunia yang Retak.
Mengapa dunia Retak ?

Dunia adalah tempat kita hidup, namun dunia tak mesti dipahami sebagai entitas yang taken for granted hasil kreasi Tuhan, tapi dunia juga dapat dipahami sebagai perwujudan pengalaman manusia terhadap apa yang sedang dihadapi. Realisasi daya kreasi manusia terhadap alam yang didiami, dengan membentuk realitas baru yang belum tercipta sebelumnya. Maka dunia di sini bukanlah dunia yang diterima begitu saja, melainkan hasil karsa dari keterlibatan manusia sebagai subjek dengan dunia.

Pada momentum inilah kehendak manusia sebagai subjek memiliki peran, berusaha mengartikulasikan harapan dan cita-citanya untuk dibumikan menjadi hal yang kongkret. Namun pada zaman sekarang, kata Henri Levebre, tak ada ruang yang absen dari politik, dan kita pun tahu kapitalisme dengan peran politisnya banyak mendominasi kehendak umum manusia. Membentuk kesadaran massal berdasarkan agenda-agenda politis dalam rangka memonopoli dunia, yang pada akhirnya manusia kehilangan kehendak dasarnya, tergantikan dengan nalar kapital yang diinternalisasi berdasarkan permainan sistem yang berkelindan melalui hegemonisasi. Maka dari itu, dunia tak lagi milik Tuhan semata, melainkan harus berbagi jatah dengan kapitalisme, “tuhan” era modern.

 Dunia yang retak adalah dunia yang terkonstruk oleh subjek, di mana nilai kemanusiaan telah terkikis. Dunia yang memposisikan manusia layaknya mesin, dengan kata lain manusia tidak lebih dari struktur materi semata. Keretakan dunia dinikmati begitu saja tanpa sebuah jeda untuk interupsi dan melihat kembali, lalu bertanya. Apakah dunia ini sudah berjalan sebagaimana semestinya?. Dunia yang retak mungkin seperti yang disinyalir oleh Anthony Giddens sebagai dunia yang tunggang-langgang; lepas kendali.

Kumpulan tulisan ini, hendak merekam jejak retakan yang dianggap lumrah yang sebenarnya bukan hal yang biasa. Kehadiran buku ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menemani, memberi serta berbagi pengalaman kepada kami. Kepada kedua Orang tua dan Keluarga. Kepada para mentor; Ahmad Syauwq, Sulhan Yusuf, Hamzah Fansury, Ipal, ustad Zainal (Alm), yang banyak mengajari kami untuk melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kepada Sahabat; Sabara Nuruddin, Alto Makmuralto, Waliyul Hamdi, Muhammad Nur, Syamsuriadi Tambur, Safaruddin, Arman Syarif, Joe Fals, Rahmat Zainal, Idham, Sasli, Andi lambau, Ilman Derajat, Juned, fery Fefrika, Rido, Zainal As’ad, Bahrawi Zakaria, Adhy Manyipi, Ashari Burhan, Sukaina Nainawa, Asranuddin Pattopoi serta teman-teman yang tidak sempat disebutkan satu persatu, pastinya bahwa kehadiran kalian menemani kami berdiskusi, bercanda, menertawakan hidup itu sangat berarti.

Kepada anak-anak LDSI Al-Muntazhar yang sedang menanti, Komunitas Maya Tanah Merah, Komik, Muqaddimah, Madipala FIP UNM, LKIMB UNM, HMI (MPO), Paradigma Group, BEM dan MAPERWA UNM, SMART EM. Terima kasih khusus untuk mas Eko Prasetyo dan Daeng Dul Abdul Rahman atas kesediaanya memberi prolog dan epilog pada buku ini.   

Wassalam,
Makassar, 30 April 2012

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...