31 December 2016

Catatan KLPI Pekan 43

Catatan kali ini tidak panjang. Hanya menyinggung niat Ilyas membukukan cerpen-cerpennya. Ilyas memang rajin membuat cerpen. Ilyas memang banyak mengikuti  perlombaan penulisan cerpen. Beberapa buku antologinya sudah terbit. Beberapa sudah dia sumbangkan ke Paradigma Institute. 

Sebelumnya sudah ada yang seperti Ilyas. Berniat menerbitkan buku. Tapi sampai sekarang belum aktuil. Mungkin banyak kendala. Modal, misalnya. 

Hajir pernah bilang, seandainya ada yang berbaik hati memberikan suntikan dana, dia siap menerbitkan tulisannya menjadi buku. Tentu yang Hajir maksud berupa esai-esai yang tersimpan di blognya.  

Menerbitkan buku sebenarnya resolusi yang diniatkan sejak KLPI bagian 2 dibuka. Ini adalah program kolektif. Caranya setiap minggu kawan-kawan menyicil tulisan lewat setiap pertemuan. Satu bulan empat minggu, empat karya tulis. Empat karya tulis dikalikan duabelas bulan, empatpuluh delapan karya tulis.

Itu bisa bertambah duakali lipat jika kawan-kawan KLPI memiliki semangat semacam Ilyas. Mampu menyelesaikan naskah minimal 2 selama seminggu. 

Selain Ilyas, Ishak juga memiliki semangat yang sama. Ketika pertama kali ikut bergabung di KLPI, Ishak sangat rajin memosting tulisannya via dunia maya. Saat itu semua di KLPI bersepakat; Ishak sedang belajar mati-matian.

Hasilnya, selang beberapa bulan, karya tulis Ishak mejeng di beberapa media cetak. Juga beberapa tulisannya diterbitkan di beberapa media online. Sekarang Ishak diberikan amanah mengelolah salah satu website dari bersama teman-temannya di tanah Ambon.

Imbas giat belajar, kawan-kawan KLPI pasti masih ingat ketika pertama kalinya tulisan Vivi nangkring di media cetak ternama Sulawesi. Poin penting saat itu, walaupun Vivi masih terbilang baru di KLPI, dengan tulisannya yang terbit di media cetak, menjadi bukti siapapun yang belajar giat akan menuai hasil kemudian.

Masih banyak kawan-kawan di KLPI yang seperti tiga orang di atas. Syarif misalnya, dan juga pernah ada Salman yang sekarang domisili di Kalimantan, adalah prototype orang-orang yang mau mengasah dan mengembangkan keahlian menulisnya. Satu dua tulisan hingga mungkin puluhan telah mereka hapus dan tulis kembali, bergelut dengan kekurangan dan berkeinginan kuat mengubah diri menjadi pribadi pembelajar.

Seperti Salman yang telah dahulu pamit dari KLPI, Syarif secara diam-diam juga sudah berada di Seram, kampung halamannya. Tanpa ingin membuat situasi menjadi “termehek-mehek,” Syarif pergi dengan bekal yang sudah dikeruknya banyak-banyak selama di KLPI. Di Seram, tinggal menunggu waktu, apakah Syarif membuat dentuman di sana?

Begitulah, hampir setahun ini banyak yang bertahan dan juga tidak sedikit yang pergi. Tapi, KLPI harus tetap berjalan. Ibarat “perahu” Nietzsche, sudah berlabu dan membakar dermaga di belakangnya. Tidak ada jalan pulang.

Pekan kemarin, memang tidak banyak yang datang lagi. Tapi, seperti yang dikonfirmasi Jusnawati, visi dan misi KLPI-lah yang penting. Kehadiran boleh saja absen dari kelas, tapi di manapun itu visi dan misi KLPI harus tetap digelorakan.

Apa visi dan misi KLPI? Mungkin banyak yang sudah lupa, tapi sederhana, KLPI hanya mau membangun tradisi literasi dan menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kesadaran literasi. Lumayan muluk. Namun kalau tidak muluk, untuk apa cita-cita mesti ada?

Cita-cita di atas hanya bisa direalisasi jika kawan-kawan KLPI melengkapi dirinya dengan perangkat pengetahuan yang mapan soal literasi. Apa itu literasi? Apa hubungannya dengan kesadaran masyarakat? Relevankah gerakan literasi dengan tipikal masyarakat kekinian? Bagaimanakah menggunakan media sosial sebagai sarana gerakan literasi? Masih pentingkah tradisi literasi dibangun via komunitas? Dsb adalah pertanyaan yang sudah fix di dalam pemahaman kawan-kawan KLPI.

Satu hal penting dari visi dan misi KLPI terhadap kawan-kawan adalah seberapa strategiskah waktu luang yang ada selama ini untuk membangun praktik-praktik literasi. Indikator praktik literasi bukan saja aktivitas tulis menulis belaka, juga bukan sekadar membaca referensi sebanyak-banyaknya. Dari segi ekonomi, misalnya, seberapa persenkah uang kawan-kawan peruntukkan membeli buku, mengikuti seminar, diskusi publik dan semacamnya. Seberapa seringkah kawan-kawan memperbanyak kopian selebaran yang berbau pencerahan di kampus-kampus. Dan, relakah kawan-kawan menyisihkan beberapa persen persediaan uang harian demi sumbangan di bidang baca-tulis?

Tapi, indikator yang paling sederhana adalah sudahkah kawan-kawan memiliki bank literasi? Semacam blog pribadi yang dikelola dengan ketat?

Jika semua itu belum sempat dilakukan, yakin dan percaya semua kemampuan menulis kawan-kawan masih sebatas angan-angan belaka.

Pekan 43 merupakan pekan terakhir 2016. Perlu juga disampaikan di sini, KLPI perlu “gelombang kecil” di awal tahun nanti. Semacam kegiatan kolektif untuk menyimpul kembali capaian-capaian yang sudah dan akan direalisasikan nanti. Tentu, ini tidak lahir dari sekadar perbincangan satu dua orang. KLPI adalah kita.

Selamat merayakan pergantian tahun.

Bencana Neoliberalisme di Boetta Toa dan Maulid Akhir Tahun

Seorang ibu berbadan gempal masuk ke bilik kamar, tidak berapa lama dia keluar dan menenteng beberapa bungkus kantungan hitam. Tanpa pikir panjang, bungkusan itu dibagi-bagikannya kepada orang-orang yang beranjak pulang.

Saya yang duduk tak jauh dari pintu masuk, sudah tahu isi kantungan itu. Saya hanya menatap peristiwa itu sebagai bagian dari tradisi yang selama ini ditemukan ketika merayakan kelahiran nabi terakhir.

Peristiwa itu menandai merayakan Maulid Nabi adalah suatu cara untuk berbagi kebahagiaan, berbagi berkah. Sokko, makanan yang terbuat dari beras ketan itu tidak semata-mata tanda biologis belaka, melainkan sebagai simbol silaturahim. Suatu tanda umat Muhammad mengikat kembali simpul-simpul kekerabatan.

Begitulah, malam itu saya berkesempatan ikut merayakan hari kelahiran baginda Rasulullah di kediaman Sulhan Yusuf, di Bantaeng. Setelah sebelumnya kami melantunkan syair puja-pujian atas kelahiran manusia suci berabad-abad lalu.

“Saya ingin mengembalikkaan tradisi Barasanji ke rumah-rumah,” ucap Sulhan Yusuf sebelum acara dimulai.

“Sekarang tradisi Maulid sudah banyak berubah ketika dirayakan oleh institusi-institusi formal.”

Begitulah petikan obrolan yang masih sempat saya ingat.

Malam itu beberapa orang belum beranjak pulang. Di antaranya duduk  berdiskusi menyambung perbincangan siang tadi, sambil menyalakan rokok. Selang berapa lama senampan gelas berisikan sarebba dibawa Sulhan Yusuf dari bilik belakang. Di tangan kanannya masih ada setengah ceret persediaan ketika sewaktu-waktu ada yang meminta tambah.

Saya hanya ikut mendengar diskusi yang berlangsung alot. Sembari menahan kantuk merebahkan badan di dinding rumah. Tidak lama berselang, Javid, satu-satunya anak lelaki Sulhan Yusuf datang menghampiri.

“Masih ada Sarebba, Abi?”

***

Inti dari dialog itu saya kira seperti yang dikemukakan Mahbub di akhir diskusi sore yang mendung. Kedaulatan dan kemandirian negara menjadi poin penting dari telikungan neoliberalisme. Tanpa itu, kehadiran negara hanya menjadi kaki-tangan dari agenda-agenda neoliberal selama ini.

Negara, intrumen kekuasaan yang sejatinya harus berdaulat, ketika berhadapan dengan neoliberalisme, mesti mendahulukan kepentingan warga negaranya dibanding kekuasaan pasar yang sering kali banyak merinsek masuk mengguyah tatanan kenegaraan.

Itulah sebabnya di bawah kebijakan liberalisasi, swastanisasi, dan privatisasi yang menjadi prinsip kerja neoliberalisme, negara harus mampu mengelola kebijakannya tanpa harus kehilangan kendali atasnya. Itu artinya, di hadapan pasar sebagai satu-satunya kekuatan ekonomi selama ini, politik kenegaraan penting bagi negara-negara yang ingin membangun kemandirian.

Agenda besar konsep neoliberal sesuai dengan Konsesus Washington, dirumuskan John Williamson di tahun1989. Konsensus Washington bertujuan sebagai mekanisme reformasi bagi negara berkembang jika ingin menyetarakan diri seperti negara-negara maju.

Konsesus ini melahirkan 10 item agenda besar liberalisasi ekonomi. Pertama, disiplin anggaran pemerintah (ingat kebijakan perdana, menteri keuangan Sri Mulyani ketika resmi bergabung di Kabinet Kerja Jokowi-JK!). Kedua, pengerahan pengeluaran pemerintah dari subsidi ke belanja sektor publik, terutama sektor pendidikan, infrastruktur, dan kesehatan (ini yang menjelaskan mengapa institusi pendidikan diarahkan seperti pengelolahan swasta). Ketiga, reformasi pajak.


27 December 2016

Dari Manakah Tanggung Jawab Seorang Penyair?

Konon melalui puisinya, penyair tidak diharuskan memiliki beban apa-apa untuk mengubah dunia. Puisi tidak memiliki tanggung jawab apa-apa selain menjadi medan ekspresi keindahan. Akibatnya, puisi hanyalah alat rekam kenyataan. Mengulang kenyataan melalui syair, dan membangunnya melalui kata-kata.

Tapi, apakah puisi hanya medan yang sekadar menduplikasi dunia? Apakah, tidak ada tanggung jawab sedikit pun yang ditanggung puisi terhadap kenyataan yang dihadapinya?

Alaf yang silam, dua pertanyaan di atas pernah menjadi sentimentalisme Platon terhadap sastra dibanding filsafat. Sentimentalisme yang menganggapkan filsuf sebagai satu-satunya raja yang berhak atas kebenaran.

Melaui imajinasi Platon, yang berhak menyuarakan kebenaran hanyalah filsafat sebagai tugas primernya. Melalui mata filsafatlah manusia mengenali hakikat kenyataan sesungguhnya. Filsafat mengajarkan “inti” kepada manusia. Subtansi segala sesuatu.

Sastra, hanyalah ilmu yang sampai kepada “bentuk permukaan.” Akibatnya, sastra bukan medan manusia menggapai kenyataan hakiki. Jika manusia ingin mencapai kebenaran, sastra justru sibuk menduplikasi kebenaran. Kata-kata dalam sastra, tidak pernah mengungkapkan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri. Itu sebabnya, Platon menyebut sastra hanya ilmu yang meniru kenyataan.

Imbasnya, sastra tidak memiliki tanggung jawab seperti yang diemban filsafat. Kebenaran hanya suatu ujung realitas yang hanya dapat ditengok melalui filsafat. Sementara sastra, tidak sedikitpun memiliki tanggung jawab yang sama seperti filsafat.

Sampai akhirnya, siapakah orang yang menjadi corong kebenaran? Dalam kesadaran Platon, filsuflah figurnya. Sementara penyair, sosok yang hanya pantas berdiri di atas panggung mempertunjukkan drama syair-syairnya.

Tegangan ini saya kira tidak saja dialami antara filsafat dan sastra. Bahkan kecenderungan menjadi ahli waris kebenaran juga mengendap keras dalam sastra itu sendiri. Polemik kebudayaan yang pernah menguat di era 30-an, maupun 60-an bahkan mencerminkan pertengkaran dahsyat yang melibatkan politik di dalamnya.

Hingga akhirnya, perjalanan memahami dan mengungkapkan sastra tidak pernah keluar dari bayang-bayang narasi polemik kebudayaan. Saya tidak perlu menyebut kecenderungan mazhab yang menguat kala itu, namun banyak sastrawan tidak dapat mengidentifikasi dirinya sebelum melibatkan pemahamannya terhadap arus yang mengalir dari sejarah masa lampau.

Saya kira Ferdi, kawan yang saya kenal hidup bertungkuslumus di kehidupan kampus, membangun imajinasinya dari atap sejarah di atas. Tanpa itu, sulit rasanya membaca puisinya. Saya kira melalui hal itu, puisi-puisi Ferdi menjadi jauh lebih terang. Bahkan kita dapat menangkap samar-samar gambaran batin Ferdi, sesuatu yang mendasari puisi-puisinya mampu bersuara.

Tak ada penyair yang tidak berjangkar dari kehidupannya. Ferdi saya tahu  seorang yang banyak bergesekan dengan aktivisme kampus. Ferdi semasa mahasiwa, menurut saya, orang yang tidak ingin melihat dunia apa adanya. Ferdi seperti kebanyakan mahasiswa yang paham sejarah, merindukan dunia tanpa segregasi di mana-mana. Suatu dunia yang harus diperjuangkan.  Karena itu, Ferdi juga seorang aktivis.

Semenjak saya mengetahuinya , saya membayangkan jika dia menulis, esai adalah pilihan pertama sebagai genre yang nyaman menyuarakan aspirasinya. Sebagaimana orang-orang yang menempuh jalan pemikiran ketika ingin menyalurkan godaan-godaan intelektual di dalam kesadarannya.

Tapi, sudah saya bilang, Ferdi seorang aktivis. Orang yang terlibat langsung di dalam denyut kehidupan masyarakat. Seringkali hidup di pemukiman masyarakat pinggiran. Menyoraki lantang kekuasaan di jalan raya. Dan, mendampingi masyarakat marginal. Itu semua, yang saya tahu, dunia yang ada di balik syair-syainya.

Seorang aktivis pasti paham, kenyataan tidak sekadar dibangun dari kata-kata yang diambil dari terang kesadaran. Perubahan kadang mengharapkan sesuatu yang jauh lebih halus dibanding argumentasi logis. Sesuatu yang menggugah kesadaran.

Itulah juga mengapa puisi menjadi cara Ferdi bersuara. Puisi lebih afdol dibanding tulisan esai yang terkesan teoritik dan kering.  Melalui puisi, Ferdi lebih lentur menyalurkan pikiran-pikirannya. Juga tentu, perasaannya yang basah.

Nyanyian seribu jiwa..
Kau akan belajar dari segala jiwa makhluk penghuni bumi..
Hanya, manusia makhluk yang memiliki jiwa..
Bukan hanya meninggikan akal pengetahuan..

Apabila kita mau menengok penggalan syair di atas, sepertinya Ferdi ingin membalikkan prasangka Platonian, akal tidak lebih tinggi dibanding jiwa. Bahkan jiwa tidak diandaikan sebagai entitas yang mono. Jiwa disebut Ferdi dapat ditemui dari segala jiwa makhluk penghuni bumi. Manusia, bukan hanya meninggikan akal pengetahuan. Itulah nyanyian seribu jiwa.

Puisi ibarat tanda Ferdi telah banyak menemui ragam jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa yang seringkali ia saksikan dari mata aktivismenya: orang-orang yang dilindap kebijakan perkotaan, anak-anak putus sekolah, ibu-ibu yang digusur paksa, seorang anak yang mati tak mampu diobati, buruh pabrik yang dirampas tenaganya….

Dan, dari sana  Ferdi menyebut dalam Nyanyian Seribu Jiwa, manusia belajar.

Dari sini kita perlu memahami, puisi bukan sekadar ekspresi perasaan. Di tangan Ferdi, puisi menjadi semacam tanda pengingat dengan tanda seru, suatu cara yang juga melibatkan empati dan simpati. Sehingga, syair-syair di tangan Ferdi tidak sekadar pikiran yang melibatkan akal pengetahuan semata, melainkan rasa-jiwa yang ikut terlibat dari kenyataan di hadapannya.

Inilah juga sekaligus cara yang ditempuh Ferdi untuk mengidentifikasi dirinya dari seorang aktivis yang kerap menulis makalah-makalah panjang sebagai penanda kecendekiawanannya.

Puisi, di tangan Ferdi, barangkali sebagaimana Pram mengartikan sastra, seperti Wiji Thukul menggunakan puisi.  Yakni sebagai kesatuan organik yang terintegrasi dalam kehidupan penyair.

Karena itulah ketika membaca syair-syair Ferdi, dunia kenyataan menjadi tampak lebih sederhana. Hampir tidak ada syair yang dipolesi semacam kata-kata mutiara.  Dunia dalam kata-kata puisi Ferdi tampil sebagaimana adanya. Tanpa terbebani dunia yang dibahasakan secara sembunyi-sembunyi.

Imbasnya, kenyataan hanyalah kenyataan di tangan Ferdi. Di titik itu, Ferdi menjadi jangkar antara kenyataan dan pembaca di hadapannya. Menyampaikan apa yang disaksikannya. Meneruskan apa yang dirasainya, secara jujur.

***

Konon penyair menghadapi dunia yang berbeda dari profesi kreatif lainnya. Seorang intelektual, misalnya, menghadapi kenyataan tidak seperti seorang penyair. Berbeda dari seorang penyair, dunia yang harus dihadapi seorang intelektual adalah hamparan dunia di luar kesadarannya. Dari sana, dunia itu diubah menjadi fakta-fakta empiris. Diberikan hukum-hukum objektif, dan menetapkan kebenaran atasnya.

Sementara seorang penyair bukan menghadapi dunia di luar kesadarannya. Dunia seorang penyair bukanlah fakta-fakta empiris yang ditemukan di luar dari dirinya. Justru seorang penyair masuk menghadapi dunia batinnya. Memeriksanya dan menetapkan makna atasnya.

Itulah sebabnya, tugas penyair bukan memperjuangkan kebenaran sebagaimana seorang intelektual ketika menyampaikan fakta-fakta. Seorang penyair melihat dunia tidak sekadar realitas yang harus dibekuk nilai benar-salah. Dari mata seorang penyair, dunia begitu sederhana jika hanya dijabarkan ke dalam dua lengkung sisi koin.

Makanya jika Ferdi ingin bermaksud menyampaikan kebenaran melalui syair-syairnya, saya kira itu pekerjaan yang kerdil. Lebih malang lagi setelah membaca puisi-puisi Ferdi, pembaca malah mengharapkan kebenaran  di dalamnya. Itu pekerjaan yang sia-sia.

Jika itu pembaca ingin lakukan, maka tempatkanlah Ferdi sebagai seorang intelektual. Tapi, saya kira kita telah membaca keseluruhan puisinya. Itu berarti kita harus akui kepenyairan Ferdi, setidaknya sebagai seorang aktivis penyair.

***

Bagi pesuluk jalan tharikat, kesadaran manusia hanyalah puncak gunung es yang ditopang jiwa sebagai fondasinya. Kesadaran hanyalah cermin jiwa. Baik tidaknya kesadaran bergantung kepada jiwa sebagai penopangnya.

Itulah sebabnya, semua pesuluk menganjurkan tazkiyatun an nafs sebagai cara menjadi manusia sesungguhnya. Hanya jiwa yang senantiasa dibersihkanlah, cara manusia merangkak naik meninggalkan genangan lumpur tempat ia bermula.

Akibat begitu fundamen, kebenaran rasional bukanlah satu-satunya yang dikehendaki jiwa. Kebenaran sesungguhnya hanyalah milik jiwa. Sementara akal rasional hanyalah pintu kebenaran. Karena itulah, selain batin, tiada iman yang bersemayam di dalam kesadaran.

Dalam konteks itulah kita membutuhkan syair, bukan argumentasi. Kita membutuhkan satu penyair dibanding ribuan intelektuil. Hanya dengan syairlah jiwa bekerja mengenal kembali “kesadarannya”. Dengan cara yang menggugah, yang dahsyat menghujam sampai ke pembatinan paling dalam.

Sampai di sini, di manakah tugas seorang penyair kalau bukan membangun jiwa orang-orang yang dirundung persoalan? Sesungguhnya, satu syair jauh lebih dahsyat daripada seribu argumentasi.

Dan, saya kira, Ferdi sudah mencobanya.

---

Epilog Nyanyian Seribu Jiwa, buku kumpulan puisi karangan Muh. Ferdhiyadi N.

25 December 2016

Memelihara Burung dan Cara Menemukan Jalan Pembebasan

Tiba-tiba saya ingin memelihara burung. Keinginan ini datang menghinggapi benak saya tanpa melalui tanda-tanda. Tidak seperti seorang nabi ketika akan dipilih langsung oleh Tuhan. Ibarat di suatu malam yang dijatuhi meteor, tanpa diketahui pembaca berita cuaca di stasiun TV kesenangan Anda. Ide ini datang begitu saja. Tanpa tedeng aling-aling.

Keinginan ini barangkali suatu cara agar saya memiliki kebiasaan baru. Jadi semacam reaksi alamiah dari kesibukan yang sudah tidak berfaedah. Ibarat seorang mahasiswa yang sehari-hari dicekoki teori-teori perubahan sosial oleh dosen yang anti perubahan, dan di suatu pertemuan yang ke 779, menyegel kelas dan menyandera dosen di kamar mandi untuk turun ke jalan menganjurkan revolusi.

Namanya reaki alamiah pasti sah-sah saja terjadi. Apalagi saya pikir setiap pagi saya akan memiliki kebiasaan baru. Saat ketika pagi masih lenggang, saya sudah berinteraksi dengan seekor burung yang melompat-lompat di atas bilah bambu dalam sangkar. Memberinya makan, mengecek air minumnya. Sungguh manusiawi.

Dan, yang paling mengasyikkan jika menjemurnya setelah dimandikan di bawah sinar matahari sebelum cahayanya berubah panas. Melihat bulu-bulunya yang basah dan pelan-pelan mengering adalah peristiwa yang tidak pernah ditemukan dalam pelajaran ilmu-ilmu sosial di bangku perguruan tinggi. Itu adalah perubahan dahsyat yang bisa saya saksikan sebelum anak-anak tetangga berangkat ke sekolah.

Bagi saya ini semacam jalan keluar dari dunia yang sudah sesak dengan tendensi religiusitas garis keras atau keserakahan yang tampak nyata di dalam benak saya. Merawat seekor burung, bukan saja pilihan yang paling mungkin di antara beribu cara mengubah kenyataan di sekitar Anda. Membiarkannya hidup dan berkicau adalah cara alam yang harus saya cari untuk membuat hari-hari nampak seperti seharusnya.

Saya membayangkan kicauan burung lebih afdol saya dengarkan daripada khotbah di atas mimbar yang mengajak orang-orang menyimpan benci untuk saudara-saudaranya jika berbeda pendapat. Suara kicauan burung mungkin saja lebih bermakna dan mencerahkan tinimbang talkshow yang berbungkus agama di pagi hari. Itu semua adalah peristiwa langka yang belakangan harus segera saya temukan.

Barangkali keinginan ini adalah panggilan suara masa kecil yang setiap pagi mendengarkan suara burung perkutut peliharan bapak. Semacam cara kesadaran saya yang ingin mencari potongan memori agar tidak lupa kepada yang asal, sesuatu yang setiap orang lupakan. Kicauan burung, mungkin saja hanya satu suara yang ingin didengar jiwa saya di antara polusi suara yang sering kali lebih banyak tidak berarti.

Ini semacam suara batin yang dialami ketika bermimpi bagi orang-orang yang ingin merobohkan gunung dengan bom ikan. Atau seruan mengikuti aksi berupa upacara bendera ketika hari Sabtu. Memang ini seperti tanpa maksud yang jelas atau didorong  oleh penjelasan yang rasional. Tapi, ini harus dilakukan, walaupun datang dari luar pemahaman yang logis.

Merawat burung saya kira juga harus dilakukan setiap orang yang kehilangan kepercayaan terhadap Tembok Cina. Ini perlu dilakukan karena merawat burung sama halnya ketika Anda belajar tentang arti kesabaran. Tanpa kesabaran berlapis-lapis, saya kira Tembok Cina tidak akan berdiri dalam satu dua tahun.

Sungguh orang-orang yang mendirikannya membutuhkan kesabaran luar biasa ketika menyusun batu dan mengangkatnya tinggi-tinggi hingga sepanjang yang Anda pernah saksikan. Merawat burung seperti itu. Anda akan dilatih bersabar setiap pagi melakukan hal yang tidak dilakukan saudara Anda.

Tentu sebenarnya tanpa disiplin semua itu akan sia-sia. Pekerjaan ini akan membuat Anda mengagumi apa yang selama ini hanya dimiliki militer satu-satunya. Disiplin membuat Anda harus tunduk di dalam jadwal tertentu. Mental Anda akan dibina oleh seekor burung kecil di setiap pagi. Kapan harus membersihkan kandangnya, mengisi tempat makannya, memandikannya, dan pergi berkeliling di pasar burung mencari seekor burung betina jika Anda ingin beternak burung.

Memang itu akan membuat Anda memasuki suatu kebiasaan baru. Tapi yakin dan percaya, ini jauh lebih baik  dari memelihara kedengkian dan pikiran sempit di dalam kepala Anda. Dengki dan pikiran sempit akan membuat Anda berubah menjadi seseorang yang bertubuh kurus dan berwajah masam. Lebih baik burung Anda yang tumbuh sehat dibanding diri Anda yang menyimpan penyakit.

Boleh dibilang merawat seekor burung berbeda dengan beternak ayam, misalnya. Orang beternak tentu ingin mengambil keuntungan dari telur atau daging ayam bersangkutan. Jika sudah memungkinkan, daging ayam dapat disantap di suatu hari lebaran tanpa ada pelarangan penggunaan atribut baju koko yang diinspirasi dari negeri Cina itu.

Memelihara seekor burung sama berartinya dengan merawat kehidupan. Merawat burung bukan demi tujuan biologis seperti beternak ayam. Namun lebih utama dari itu, merawat kewarasan.

Begitulah, keyakinan ini merupakan cara yang baik dilakukan juga oleh orang-orang yang memiliki sisi emosional yang kurang stabil. Memberikan harapan hidup bagi mahluk sekecil burung di tiap pagi sebenarnya sama halnya dengan menghargai sesuatu yang lain dari diri Anda. Itu berarti bukan diri Anda saja yang harus dimuliakan.

Selain keinginan memelihara seekor burung, saya juga ingin menggunduli kepala saya seperti yang dimiliki biksu suci. Ini keinginan saya yang kedua setelah menyadari memelihara burung di saat memiliki kepala botak merupakan jalan lain dari pembebasan.

Tentu pilihan ini tidak seberat bagaimana seorang sopir taksi memilih melaporkan seonggok mayat yang ditemukan di pinggir jalan atau turut ikut berjihad di negara yang memberlakukan singa seperti binatang peliharaan. Saya hanya tinggal melakukan hal sederhana ketika pilihan menggunduli kepala sudah diputuskan: pergi ke tukang cukur, dan beres. Simpel.

Akhirnya, tentu semua itu merupakan pengalaman yang menyenangkan selain  membuat orang-orang harus kembali mengyakini burung Garuda adalah lambang negara ini, dan Pancasila adalah kesepakatan ideologi yang tidak harus ditawar-tawar lagi.

Syahdan, sungguh ini adalah jalan pembebasan ruhani yang paling sederhana, mendengar kicauan burung di pagi hari dengan kepala plontos yang dihinggapi pikiran yang sederhana: burung jenis apa yang akan saya pelihara? 

23 December 2016

Kala Mamak di Bulan Desember dan Remah-Remah Ingatan

Baru saja mamak menelepon. Belakangan dia memang sering ke Makassar. Sudah kebiasaannya jika di Makassar mamak pasti memberi kabar. Kali ini seperti yang mamak bilang, bersama sepupu-sepupunya berkunjung dari rumah keluarga satu ke keluarga lainnya untuk mappaisseng. 

Mappaisseng merupakan tradisi Bugis-Makassar saling mengabarkan sanak keluarga jika ingin melangsungkan pernikahan.

Belakangan ini saya ingin menulis sesuatu tentang mamak. Sering kali jika berkendara di atas motor, pikiran saya berkelabat berusaha menembus masa silam mengenang beragam kejadian bersama mamak.

Mulai dari saat mamak mengantar saya ke sekolah untuk pertama kalinya, saat saya dimandikan di kala pagi hari yang dingin. Ketika mamak membuat bubur kacang hijau, atau ketika saya mengingat suatu malam kemarahan mamak yang meledak-ledak sembari menangis akibat seringnya saya keluyuran hingga dini hari.

Kala itu saya hanya ikut menangis akibat kemarahan mamak yang tak biasa. Sembari memukul-mukul dada merasakan kekhawatiran sambil memendam rasa amarah, raut mukanya justru meneteskan air mata.  Malam itu, kala semua orang tengah tertidur pulas, saya malah membuat mamak tak mampu menutup mata akibat menunggu anaknya yang tak kunjung pulang.

Saya sudah tak ingat seperti saya sulit menghitung jumlah uang yang sering kali saya curi diam-diam dari dompet mamak,  berapa kali membuat mamak harus marah-marah dan membuat tidurnya tidak tenang.

Di saat berkendara belakangan ini niat menulis sesuatu tentang mamak lebih sering menghinggapi benak saya akibat Desember bulan mamak berulang tahun.

Kadang saya berpikir kado apa yang paling pantas untuk diberikan selain doa yang hanya bisa saya panjatkan diam-diam. Apalagi, saya ingat persis selama ini tak pernah memberikan ucapan kepada mamak secara langsung ketika dia berulang tahun.

Saling memberikan ucapan perayaan ulang tahun memang tidak lazim kami lakukan. Jika tiba hari ulang tahun satu di antara kami, maka yang sering kali dilakukan hanyalah saling mengingat bahwa hari ini fulan bin fulan berulang tahun.

Kami memang sedikit kikuk jika harus melakukan hal-hal yang tidak biasa diperbuat. Bagi kami ucapan hanyalah ucapan. Di luar dari itu, yang terpenting semua berjalan sebagaiamana biasanya.

Desember bagi mamak berarti juga Desember yang sama bagi kedua saudara saya. Selain dirinya, kakak dan adik saya lahir di bulan yang sama dengan mamak. Secara berturut-turut selama dua minggu, mamak dan kedua saudara saya bergantian merayakan hari ulang tahunnya.

Sementara jika Maret dan Desember kami merayakan ulang tahun, saya tidak pernah tahu kapan tanggal bapak berulang tahun. Bapak sudah tidak mengingat bulan dan tanggal pasti kapan ia dilahirkan. Jika harus mengingat, bapak hanya bisa menyebut tahun untuk menandai hitungan usianya.

Saya menduga, bapak seperti orang-orang tua lainnya lahir di dalam situasi ketika suatu keluarga tidak menganggap penting catatan kelahiran. Saya tidak tahu apakah di masa itu akte kelahiran sudah mulai digunakan. Atau, apakah pencatatan macam demikian memang dianggap penting di masa itu. Toh apabila penting, lantas untuk apa?

Sekarang, memori seseorang sangat tergantung kepada angka-angka yang dijadikan tanda peristiwa penting. Bagi orang yang dulu mengabadikan kejadian-kejadian penting  dengan menggunakan kamera rol film, di balik foto yang telah dicuci diterakan tanggal kapan kejadian itu dibuatkan fotonya. Cara seperti ini masih saya temukan saat orang-orang mengoleksi buku-buku album foto yang disimpan rapi-rapi di almari mereka.

Di rumah mamak juga melakukan hal yang sama. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya sering membongkar-bongkar album foto keluarga. Bahkan, seringkali satu tas berwarna abu-abu yang berisi tumpukan foto. Di situ saya sering mencari gambar-gambar yang tidak pernah saya alami.  Atau, ketika penasaran ingin melihat diri saya yang masih bayi.


Guy Fawkes dan Simbol

Saya senang jika harus menonton kembali film V For Vendetta. Film itu seperti mewakili apa yang saya yakini. Revolusi, di mana pun itu, hanya bisa terjadi jika dibangun dari orang banyak. Film itu memang bicara kolektivitas, sesuatu yang jarang ditemukan belakangan ini.  

Tapi, era kiwari siapa yang mau berbicara tentang revolusi? Atau bahkan melakukannya? Ada keyakinan yang tak terucapkan, revolusi telah lewat. Ideologi, yang berada di belakang setiap revolusi sudah mati. The end of ideology, begitu pendakuan sebagian ilmuwan sosial. 

Revolusi kadang hanya bisa diyakini jika itu memang betul-betul diperlukan. Keyakinan ini tentu berbeda dari setiap orang. Di setiap ceruk keyakinan orang-orang, iman atas perubahan sangat ditentukan dari lingkungan di mana dia hidup. 

V, tokoh yang selalu mengenakan topeng Guy Fawkes itu, menganggap orang-orang yang dirundung ketakutan merupakan suatu ihwal kehidupan yang menjemukan. Pemerintah yang banyak bicara melalui layar kaca adalah teror yang harus dilawan. 

Karena itu V bertindak. Dengan mimiknya yang khas dia merekrut seorang "kader" perempuan. Di susunnya suatu rencana menghancurkan gedung parlemen. 5 november rencananya itu kabul, setelah satu tahun menyusun rencananya. 

***

V sebenarnya hanyalah simbol. Itulah mengapa dia menggunakan topeng Guy Fawkes, tokoh sejarah perlawanan di Inggris. Sebagai simbol berarti itu bisa mewakili apa saja. Suara orang-orang banyak, misalnya.

Saya menyadari, topeng yang bermimik pria berkumis senyum itu dipakai V untuk menunda ambisi pribadinya. Topeng dipakainya untuk menutupi motif-motif di balik dirinya.

Saya mengira, V menyadari, untuk merencanakan perubahan besar, tidak boleh ada egosentrisme pribadi harus dilibatkan. Topeng hanyalah topeng sejauh dia menutupi yang persona dari seseorang.

Itulah sebabnya, ketika tiba di tanggal 5 November, orang ramai turun ke jalan menggunakan topeng Guy Fawkes. Tanpa tendensi pribadi ikut terlibat di dalam rencana V, meruntuhkan gedung parlemen Inggris.

***

Belakangan ini isu simbol menguat di permukaan. Masyarakat dibikin sensitif terhadap simbol-simbol, juga atribut.

Simbol memang penting sejauh  itu mempertautkan makna apa di belakangnya. Juga, simbol hanyalah penampakan belaka jika tak memiliki arti apa-apa.

Kadang kita dibuat tolol dari orang-orang yang sibuk menyoal simbol. Simbol, apapun model dan jenisnya hanyalah sign, tanda, bukan “substansi”. Simbol hanyalah label, bukan isi.

Antara “isi” dan “label”, “tanda” dan “makna”, tidak selamanya koheren. Apa yang nampak belum tentu mewakili apa yang ingin ditampakkan. Di antara “simbol” dan “arti” terdapat ruang yang begitu rentan dibelokkan, atau bahkan tidak mewakili apa-apa.

21 December 2016

Ketika Natal Tiba

Ketika hujan masih lebat, kami tidak menyangka, bermain air dapat membuat lupa segalanya. Berlari di jalan lenggang, bergumul di genangan air, sambil bermain lumpur.

Saat rumah-rumah menutup pintunya, kami memilih keluar mandi hujan. Hujan bagi kami anak-anak lanang, memang harus dirayakan.

Bahkan, hujan waktu itu membuat tubuh kecil kami bebas kencing tanpa harus bersembunyi di sela-sela pohon pisang. Sering kami melakukannya saat berlari. Atau ketika menggigil di bawah pohon kapuk.

Yang paling aneh kami rasakan ketika air hujan bercampur air seni yang mengucur di belahan paha. Rasanya tidak bisa dibilang hangat. Tapi, kami tahu itu juga tidak bisa disebut dingin.

Dari semua itu, bermain sepak bola adalah permainan yang paling menyenangkan. Di depan rumah, lapangan sepak bola menjadi licin kalau hujan. Akibatnya, sleding yang tidak mungkin kami lakukan ketika lapangan kering, malah begitu mengasyikkan dilakukan.

Tapi hampir mustahil menggiring bola di genangan air. Satu-satunya cara membuat bola bisa bergerak ketika itu hanya harus menggunakan teknik cungkil.

Waktu itu berarti kami harus menendang bola seperti cara cangkul digunakan. Kaki kami harus menendang sedalam seperti cangkul menghujam tanah. Semakin dalam semakin bagus.

Lapangan sepak bola merupakan tanda bagaimana kami sering bergotong royong melakukan sesuatu. Jika musim penghujan tiba, rumput ilalang yang panjang harus segera dicabut dan dibakar.

Karena itu kami memotong rumput bersama-sama. Mengumpulnya bersama-sama, dan menunggunya kering bersama-sama pula. Jika suatu sore tanpa hujan, rumput yang kering segera kami bakar.

Sesekali dua kali kami sering bertanding melawan anak-anak dari kompleks perumnas. Kadang pula pertandingan kami dimaksudkan untuk berjudi. Kala itu satu gol lima ratus rupiah. Uang hasil kemenangan dipakai membeli es lilin.

Saya masih ingat pemimpin anak-anak perumnas ketika itu bernama Roy. Saya mengenal Roy karena kami satu sekolah tingkat menengah pertama. Saya kala itu kelas satu empat, Roy kelas satu tiga. Kelas kami bersebelahan.

Sering kali kesepakatan bertanding antara kami sudah disusun kala di sekolah. Roy biasanya menyatakan niatnya itu ketika kelas sedang istirahat. Jam empat sore waktu yang kami sepakati. Lapangan tempat pertandingan tentu sepetak tanah di depan rumah saya.

Ketika Roy sering membesar-besarkan Inter Milan, saya sering menyebut-nyebut Zvonimir Boban sebagai pemain ideal kala itu. Boban pemain tengah AC Milan asal Kroasia. Pemenang ketiga piala dunia 1998.

Kebiasan saat harus bermain bola, kami sering menggunakan nama pemain-pemain kesukaan sebagai nama samaran. Tentu Boban menjadi nama samaran saya. Semenjak saat itu saya sering dipanggil Boban.

17 December 2016

Catatan KLPI Pekan 41

Saya harus jujur, catatan ini dibuat dalam keadaan tergesa-gesa. Itupun tidak seperti biasanya. Catatan ini dibuat ketika KLPI Pekan 42 akan digelar. Tepatnya sehari sebelumnya.

Pekan 41 barangkali cermin KLPI di waktu belakangan. Di catatan sebelumnya sudah ada pembacaan tentang situasi belakangan. Catatan itu sedikitnya berusaha menggambarkan situasi kekinian KLPI.

Catatan kali ini hanya mau sedikit menyoal problem yang digelontorkan Akmal. Sebelumnya Akmal membawa tulisan berupa resensi buku Calabai. Tulisan ini sudah terbit di Kalaliterasi.com beberapa tempo lalu.

Sembari forum yang hanya diisi tiga orang membahas karya tulis yang dibawa Akmal, juga sedikit mengulas pertanyaan yang dikemukakannya.  Bagaimana memulai menulis cerpen? Bagaimana cara membuka paragraf tanpa kehilangan daya pikat bagi pembaca? Bagaimana cerpen yang baik itu? Kira-kira begitu pertanyaan Akmal.

Pertanyaan Akmal ini sebenarnya harus dijawab kawan-kawan yang sering membuat cerpen. Tepatnya seorang pengarang. Bukan kawan-kawan yang sering kali menulis esai dibanding sastra.

Tapi apa boleh dibilang, pertanyaan itu kadung dilempar Akmal. Harus ada yang menjawabnya. Setidaknya forum mempunyai sesuatu yang akan dibahas.

Ketika itu, jawaban yang diberikan kepada Akmal hanya seadanya. Barangkali tidak bernilai penting, tapi ini diambil dari pengalaman ketika seseorang menulis cerpen.

Maka jawabannya kurang lebih begini (setelah ditambah-tambahkan di waktu tulisan ini dibuat): Mengarang cerpen berarti menghidupkan peristiwa. Peristiwa itu tidak mesti merupakan peristiwa epik. Keadaan sehari-hari terdiri dari beragam peristiwa; kita bisa melihat seorang penjual sayur yang bermain judi setelah dagangannya laku di sebuah emperan, Anak muda yang berhasrat ke Jakarta untuk mendapatkan tanda tangan artis idolanya, Seorang ayah yang menjual ginjalnya untuk membelikan gadget terbaru buat anaknya, atau diproduksinya mobil canggih yang bisa menyelam di bawah air, dsb. Macam-macam. Banyak hal yang bisa menginspirasi seseorang menulis cerpennya.

Konon membuka paragraf awal cerpen harus berdasarkan common sense. Sulit rasanya membuat kalimat pembuka jika itu tidak didasarkan berdasarkan fakta nyata. Orang akan merasa itu dilebih-lebihkan. Makanya, hampir semua cerpenis mengawali cerpennya dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti. Kalimat yang dekat dengan kehidupan nyata orang banyak.

Tapi, prinsip di atas hanyalah satu prinsip. Masih banyak prinsip lain ketika kita ingin membuka cerpen dengan kalimat yang menarik minat pembaca. Misalnya, dengan menggunakan kalimat-kalimat  metafora, atau sarkas.

Peristiwa dalam cerpen sebisa mungkin peristiwa tunggal. Kita tidak ingin membuat novel yang memiliki banyak plot. Cerpen lebih sederhana  dari novel. Tapi, banyak yang bilang menulis cerpen jauh lebih sulit akibat batasannya yang minim dibanding novel.

Itulah sebabnya, tidak banyak cerpen memuat beragam peristiwa.

Satu hal yang penting, karena cerpen memuat peristiwa, bukan berarti hukum sebab akibat terlepas dari sana. Kita tidak ingin menulis suatu cerita yang tidak memiliki asal usul. Setiap tokoh setidaknya memiliki asal usul. Apalagi jika diceritakan tokoh utamanya seorang pembunuh, sebisa mungkin sebab kenapa sang tokoh utama menjadi pembunuh mesti dijelaskan.

Prinsip sebab akibat ini begitu penting karena dia mengikat dimensi waktu dalam keseluruhan cerpen. Sebab akibat menjadi semakin penting jika cerita disusun menjadi alur maju mundur, atau sebaliknya. Kita tidak ingin pembaca dibuat bingung kan, ketika berusaha memainkan laur cerita?

14 December 2016

Muhammad bin Abdullah

Ketika menyampaikan materi di pelatihan menulis, di hadapan mahasiswa Pendidikan Sejarah UNM, saya katakan menulis adalah peristiwa dahsyat yang pernah ada dalam sejarah manusia. Menulis hakikatnya tindakan revolusioner.

Bagaimana itu dijelaskan? Saya menganggap peralihan ide menjadi aksara tinanda peristiwa maha dahsyat. Ide, yang kesannya abstrak, juga dikenal sebagai gagasan, ketika berubah wujud kongkrit, ialah aktivitas melintas batas.

Dari ide yang abstrak itu, menjelma karya tulis, hanya bisa dilakukan dari tindakan revolusioner. Menulis, itu berarti menjebol batas dunia, dimulai dari gagasan menjadi tindakan manusiawi.

Saya kira tidak ada peristiwa paling menggemparkan ketika Muhammad menyebut satu ucapan: iqra. Melalui peristiwa historik itu, ada dunia dijebol, ada batas diseberangi. Dihinggapi rasa takjub, lisan Muhammad menyebut kalimah Tuhan itu: iqra, iqra, iqra...

Hingga akhirnya, hanya di bibir Muhammadlah, yang ilahiat bertransformasi. Dari lisannya yang pertama, Muhammad membaca alam ketuhanan, suatu alam ilahiat. Di titik ini yang ada hanyalah kefanaan, dan Muhammad hanyalah noktah kecil yang mencandrai alam maha dahsyat yang diliputi cahaya spiritual tak terbatas. 

Iqra kedua, dari mata batinnya, Rasulullah membaca jagad alam raya, masayarakat, dan sejarahnya. Membaca hukum-hukum perkembangannya. Sebab-sebab perubahannya, dan bagamaina alam semesta dibentuk dan berkembang dalam titimangsa sejarah.

Di lisan yang ketiga, iqra membawa Rasulullah menukik berbalik membaca dirinya. Semesta yang disebut alam micro cosmos.

Itulah sebabnya, tiada peristiwa paling agung melebihi Rasullullah ketika dihinggapi anugerah pencerahan yang melibatkan tiga lapis dunia sekaligus.

Saya kira, kurang lebih tindakan demikianlah dialami setiap orang-orang yang menulis. Dia menjadi seperti Muhammad kala mendapatkan wahyu. Menembusi tiga alam sekaligus, dan kemudian dari hati yang takjub menulis apa yang dia pikir, lihat, dan rasakan.

Saya menganggap tiga aktivitas manusiawi itu sebenarnya mewakili tiga alam kenyataan. Yang dipikirkan menandai "aku membaca" alam-alam abstrak, sebagaimana Muhammad melintasi alam ketuhanan-mistikal. Yang dilihat, itu berarti cara manusia menggunakan inderanya mencandrai alam pengalamannya, dunia sekitarnya. Terakhir, yang dirasakan, merupakan refleksi manusia membaca kenyataan dirinya.

Dalam sejarah, pasca Rasulullah dihinggapi ketakjuban atas anugerah yang diberikan kepadanya, sejarah akhirnya mulai dibangun.

Tak bisa ditampik, iqra yang dilisankan Muhammad menjadi sokongan pergerakannya. Di bawah naungan cahaya ilahiat, mata Rasulullah berusaha menyasar yang jahil. Jika penyimpangan itu gelap di hadapannya, Rasulullah bersuara.

Karena itulah kita mengenal al Qur'an dan hadis. Ucapan-ucapan Rasulullah ketika meluruskan peristiwa yang melenceng. Atau memberikan jalan keluar dari kejumudan umat saat itu.

Dan, dari situ, apa tindakan luar biasa yang menyokong wahyu dan hadis Nabi? Rasulullah menggenapkan wahyu dengan tradisi literasi.

13 December 2016

Keberanian Seorang Penulis dan Semua Cara Boleh

Menulis hakikatnya tindakan revolusioner. Maksudnya, peralihan dari ide menjadi karya tulis merupakan peristiwa dahsyat. Itu sebabnya, tak banyak yang berani menulis. Banyak yang tidak mampu menanggung peristiwa dahsyat tersebut. Makanya tidak sedikit memilih hanya berkata-kata. Atau bahkan diam.

Karena menulis tindakan revolusioner, hanya orang-orang berani yang melakukannya. Kenapa demikian? Karena memilih menjadi penulis, berarti memilih menjadi pribadi yang soliter. Pribadi yang kerap sendiri.

Bagaimana itu dijelaskan? Pertama, era kiwari, bangsa kita sedikit melahirkan penulis-penulis. Jika disebutkan minat baca bangsa ini rendah, itu juga bermakna sedikitnya penulis-penulis bermunculan tiap generasi. Kedua, bangsa ini bukan bangsa yang ramah kepada penulis. Ketiga, coba cari orang-orang di sekitarmu, adakah dia seorang penulis? Atau rajin dan senang menulis?

Lantas bagaimanakah menjadi seorang pemberani? Menjadi seorang penulis?

***

Anda seorang mahasiswa. Mahasiswa memiliki beban historis. Sejarah mahasiwa, sejauh dipahami dalam konteks kemerdekaan, berkaitan langsung dengan tulis-menulis. Dengan cara itu, sejarah Indonesia dibentuk. Gagasan-gagasan disemai. Bahkan melalui tulisan, bangsa ini memproklamasikan kemerdekaannya.

Sekarang, Anda sudah merdeka. Yang tinggal hanya sebilah tongkat estafet perjuangan pahlawan-pahlawan. Senjata Anda bukan bambu runcing, juga senjata api berpopor kayu. Anda punya pena dan kertas, bahkan alat canggih berupa laptop. Itulah senjata Anda. Melawan siapa? Melawan diri Anda. Beranikah Anda menulis?

Pertama-tama, Anda seorang pemberani karena memilih menjadi mahasiswa. Otomatis keberanian sudah Anda punyai. Itu modal utama Anda. Sekarang apa yang mesti dilakukan?

Banyak penulis memulai dirinya menjadi seorang pembaca. Ini hukum pasti. Bahkan di antaranya menjadikan ini kebutuhan. Sulit rasanya mau menulis jika tidak disokong tradisi membaca. Penulis handal pasti seorang pembaca tulen.

Kedua, perluas aktivitas Anda. Seorang penulis kadang seorang yang menyukai pertukaran pemikiran. Ini seringkali ditemukan di dalam komunitas-komunitas. Kalau melihat sejarah pemuda-pemudi, banyak di antaranya ditopang organisasi-organisasi kemahasiswaan. Dari sana, ide-ide yang semula mengendap dalam kesadaran dapat ditransformasikan, didiskusikan, bahkan didebatkan.

Ketiga perbanyak latihan menulis. Hal ini berseiringan dengan daya jelajah bacaan Anda. Semakin banyak bacaan Anda, semakin banyak latihan dijadikan contoh. Menulis itu bukan bakat yang menentukan, justru latihanlah kuncinya.

***

Esai, opini, dan artikel, menurut saya bukan suatu hal yang penting dibedakan. Esensi tiga nama ini sama. Entah esai, opini, atau artikel, karya tulis yang memiliki bentuk yang sama. Jika hendak dibedakan, ketiganya berbeda akibat kadar keilmiahan di dalamnya.

Yang paling utama adalah bagaimana menulis tanpa kehilangan cara yang paling nyaman. Entah esai yang mengutamakan refleksi, opini yang mengutamakan pendapat pribadi, atau artikel yang mengedepankan analisis data-data, cara ketika dituliskan tergantung bagaimana Anda menyatakannya.

Ini berarti, cara menulis yang paling baik adalah cara Anda sendiri. Walaupun banyak di antaranya menulis adalah cara meniru gaya seseorang, tapi itu hanya berarti sementara.  Setiap penulis memang di awal membina karir memiliki patron tempat dia mengidentifikasi diri. Tapi, seiring perkembangan, dirinyalah yang menjadi patron itu sendiri.

Setiap penulis memiliki sidik jarinya masing-masing, kata Alwy Rachman, seorang scholar ilmu budaya. Artinya, tak ada yang menyerupainya. Melalui sidik jari itulah setiap penulis membangun kepribadiannya. Menemukan dirinya, dan akhirnya menetapkan cara dan gaya menulisnya. Itu juga berarti setiap penulis memiliki karakternya masing-masing.

Jadi jika ada pertanyaan bagaimana metode paling baik ketika menulis esai, atau opini, misalnya? Itu berarti bagaimana cara Anda mengenal diri pribadi. Melalui ilmu budaya mutakhir, yang disebut diri, aku, bukanlah entitas yang ajeg.

Aku-diri adalah identitas yang mempertautkan beragam pengalaman. Aku-diri, identitas yang dibentuk pertukaran gagasan, nilai, kebiasaan, dan tradisi. Aku-diri hakikatnya, identitas yang senantiasa berkembang. Identitas yang personal dan khas.

Sehingga metode apa yang paling baik ketika membangun karya tulis? Katakan, semua cara baik. Setiap orang memiliki caranya masing-masing. Sebagaimana identitas diri, gaya seorang menulis mengikuti keunikan seseorang. Jadi jika ada cara menulis paling baik, maka katakan, “cara saya yang terbaik.”

Satu-satunya cara menulis hanya dengan melakukannya. Teori berlebihan kadang tidak berfaedah banyak. Akhirnya, pilihlah judulmu, mulailah dari sana. 


*Disampaiakan saat pelatihan menulis Pendidikan Sejarah UNM

11 December 2016

Catatan KLPI Pekan 40

Ini catatan KLPI ke-40. Bila mengikuti kalender kelas, Catatan KLPI sudah lebih dari 40 catatan. Tapi, kawan-kawan yang terlibat dari awal pasti tahu, Catatan KLPI baru dimulai ketika kelas sesi dua dibuka.

Ketika itu ada kebutuhan merekam perkembangan dinamika kelas dari tiap minggu. Selain mengambil catatan visual berupa foto-foto, segala hal penting yang terjadi dalam kelas mesti juga dibuatkan catatan reportasenya. Ke depan, yakin dan percaya, catatan semacam ini akan sangat berguna. Tentu sebagai alat ukur dan evaluasi.

Pekan 39 dimulai pukul tiga sore. Tidak seperti pertemuan sebelumnya yang membuka kelas lebih awal. Mengingat perkembangan kelas hanya dihadiri tidak lebih dari lima orang, akhirnya waktu yang digunakan tidak lebih banyak dari pertemuan biasanya.

Bahan kritik di titik ini, semakin sedikit waktu dibutuhkan ketika menjalankan kelas, itu berarti kualitas belajar juga semakin minim. Selain kuantitas, tidak tersedianya waktu berdampak terhadap tidak maksimalnya mekanisme kelas yang selama ini dilakukan.

Akhirnya, di pekan 40, kelas tidak menjalankan mekanisme belajar sebagaimana mestinya.
Akibat kawan-kawan tidak membawa karya tulis, pekan 39 hanya diisi beberapa pokok diskusi. Dengan diselingi obrolan ringan beragam topik mengemuka. Mulai dari kasus Ahok hingga perkembangan wacana dalam dunia maya.

Situasi di atas hakikatnya akibat berkurangnya kuantitas kawan-kawan yang selama ini ikut terlibat KLPI. Tidak dimungkiri, berkurangnya kuantitas mempengaruhi animo sebagian kawan-kawan mengikuti kelanjutan kelas tiap pekannya.

Selama ini kuantitas KLPI tidak menjadi soal yang penting. KLPI tidak mendasarkan perkembangannya kepada kuantitas. Dan itu yang terjadi selama ini. Sampai detik ini, KLPI masih terus berjalan walaupun hanya dihadiri segelintir orang. Tiap pekannya.

Namun, ketika suasana itu berlarut-larut, mesti ada yang mengajukan pertanyaan. Kenapa suasana ini dapat terjadi? Apa sebabnya?

Apabila ditelisik, situasi KLPI mengalami apa yang disebutkan dalam ilmu psikologi sebagai titik jenuh. Titik jenuh situasi ketika suatu rangkaian proses telah melewati tahap produktif. Andaikan air panas, titik jenuh, keadaan air pasca titik didih.

Titik jenuh terjadi akibat hilangnya motivasi dan konsolidasi. Imbasnya, orang yang mengalami titik jenuh merasa tidak ada ikatan terhadap aktivitas yang sering dilakukan.

Gejala ini disebabkan seseorang mengalami gangguan konsentrasi dibanding keadaan sebelumnya. Hilangnya konsentrasi berimbas seseorang kehilangan titik fokus.

KLPI bisa dibilang kelas menulis yang tidak pernah libur. Di tiap pekan KLPI terus berjalan. Andaikan kendaraan bermotor, KLPI tidak pernah berhenti melintasi jalan raya. Tanpa henti kecuali itu dibutuhkan.

Kemungkinan besar, situasi demikianlah menyebabkan KLPI mengalami titik jenuh. Berjalan terus menerus tanpa mengalami peningkatan. Hingga akhirnya kehilangan motivasi.

Tapi, seperti juga dikatakan ilmu psikologi, titik jenuh hanya bersifat sementara. Bahkan titik jenuh bagian alamiah dari suatu proses.

09 December 2016

Menggeledah Motif-Motif Berpikir Masyarakat Sibernetik

Berpikir, harkat manusia. Itulah sebab, berpikir menandai keunikan manusia. Tiada yang menyerupainya.

Itulah juga, manusia diyakini mahluk bermartabat. Berpikir membuat harkat tegak. Bekerja meneruskan ide-idenya, manusia bermartabat.

Tiada zaman seperti sekarang menempatkan harkat manusia serendah-rendahnya: era sibernetik. Selain kemajuan pencapaian kebudayaan manusia, secara paradoks, zaman sibernetik, diam-diam mensituasikan cara berpikir manusia menjadi lebih dramatik.

Bagaimana itu mungkin? Pertama, era sibernetik menengarai dan menopang perubahan konfigurasi interaksi manusia. Kedua, mutakhir, era sibernetik mau tidak mau membuat jalinan komunikasi semakin kompleks dan sulit diantisipasi.

Ketiga, imbasnya, motivasi berpikir ikut berubah seiring pertukaran informasi dari beragam budaya dan kebiasaan. Keempat, peralihan dunia nyata secara virtual, mengubah antara “yang nyata” dan “yang semu” tak dapat lagi dibedakan secara esensil.

Akhirnya, belum pernah ada kekacauan begitu massif seperti sekarang. Ketika teknologi informasi bergerak mengambil alih “otonomi” manusia. Kekacauan ini, sekaligus membuat cara pandang baru apakah kebebasan manusia dimungkinkan di tengah kepungan teknologi informasi.

Martabat manusia semakin kritis akibat syaraf sensorik dan motorik menjadi lumpuh. Kelumpuhan ini bersamaan “mesin-mesin” canggih melucuti medan kerja manusia di banyak bidang.

Misalnya, dari era mesin uap, hingga kiwari, teknologi komputasi mesin-mesin robotik,  pelan-pelan mengubah kemampuan gerak otak dan otot manusia menjadi tidak berfaedah. Otot dan otak, tak mampu berkembang alamiah sebagaimana alam menyediakannya.

Atas asumsi ini, satu dua pernyataan kritis bisa diajukan: bagaimanakah kemampuan berpikir manusia di era sibernetik? Apakah cara berpikir di era sibernetik masih mewakili motif-motif manusiawi ketika kemudahan segala informasi dimungkinkan? Lantas, bagaimanakah kebebasan di era sibernetik, terutama dalam dunia virtual, dengan asumsi tiada kebebasan tanpa otonomi manusia?

***

Perkembangan informasi seharusnya turut meningkatkan kemampuan analisis masyarakat. Secara kebudayaan, di samping kemajuan kemampuan literatif, semakin banyak mencerna informasi dengan sendirinya mengembangkan cara berpikir masyarakat menjadi terbuka. Kalaupun itu tidak dimungkinkan, perlu diimbangi proses edukasi bertahap seiring semakin majunya cara masyarakat mendapatkan informasi.

Tapi secara kontradiktif, informasi yang dikonsumsi tanpa melibatkan pertimbangan-pertimbangan kritis, di era keterbukaan cyberspace tidak sedikit pun memberikan ruang kontemplatif di dalamnya. Semakin banyaknya lintasan informasi, mengakibatkan ambivalensi manusia yang tidak mampu menemukan relasi makna terhadapnya.

Sisi lain, ketidakmampuan menelaah kompleksitas informasi, malah menghadirkan keinginan menggebu-gebu menjadi agen perubahan. Caranya, menyebar informasi nonkebenaran sebagai wacana keyakinan mayoritas. Jika sudah demikian, hasrat berbagi informasi, diyakini paralel bagian dari tanggung jawab sosial.

Itu imbas sifat keterbukaan dunia virtual, mengakibatkan orang-orang menjadi subjek sekaligus objek informasi. Sebagai subjek, orang-orang mampu mereproduksi kepentingannya melalui sebaran informasi. Sebagai objek, informasi yang banyak beredar membuat masyarakat kehilangan prinsip-prinsip otonominya.

Jean Baudrillard menyatakan keberlimpahan arus informasi yang mendikte masyarakat ke tingkat ekstrim bisa sampai mengalami implosif. Implosif, mengandaikan sifat ledakan yang mengarah ke dalam suatu pusat. Berbeda dari eksplosif, arah ledakan ke dalam, bukan merusak apa saja di luarnya, melainkan masuk merusak tatanan pusat yang terbentuk sebelumnya.

Berdasarkan analisis Baudrillard, tekanan arus informasi, tidak mampu diantisipasi dan dikelola, akan berdampak kritis terhadap kesadaran.  Menumpuknya informasi berdampak ledakan implosif di dalam kesadaran. Kepungan informasi dan minimnya kemampuan mendaur ulang informasi, sebab utama ledakan implosif terjadi.

Di tahap ini, kesadaran bukan lagi entitas utuh yang mampu  membangun reflektifitas terhadap informasi. Juga, kesadaran kehilangan daya pikirnya, sehingga secara psikis, diambil alih sisi emosional yang guyah. Hilangnya terang kesadaran, meluasnya emosionalitas sampai menyasar aspek-aspek kognitif, bagi kemampuan berpikir, berdampak hilangnya otonomi kesadaran itu sendiri.


Proses deotonomisasi kesadaran akibat kepungan informasi, otomatis menggiring masyarakat kepada cara berpikir dangkal, semu. Baudrillard mendenotasikan ini sebagai kesadaran yang dibentuk dan diambil alih simulakrum, kesadaran yang bergerak atas makna artifisial dunia maya.

Pengertian simulakrum, yang dibentuk cyberspace, adalah duplikasi kenyataan dunia virtual atas permainan canggih simbol-simbol. Simulakrum, dengan kata lain, dunia fana virtual yang mengambil alih kenyataan dunia ril.

Kaitan kemampuan berpikir masyarakat sibernetik, duplikasi simbol-simbol dan kecanggihan logika algoritma, membuat manusia terdehumanisasi. Kemampuan berpikir manusia menjadi lemah. Kerja-kerja analitik, eksplanatif, deskripsi, kritis, akhirnya hanyalah pengandaian saat menggunakan mesin-mesin cyber canggih dan mutakhir. Toh jika ada, kemampuan berpikir mandiri, sudah diwakili mesin canggih berkat kemampuan artifisial inteligennya.

Syahdan, berkat dahsyatnya centang perenang beragam informasi, berpikir bukan lagi usaha primer manusia. Alasannya sungguh sederhana: tiada yang bisa dipikirkan lagi. Semuanya telah tersedia di dalam jaringan informasi sibernetik.

***

Berpikir sepanjang kerja manusiawi, tidak bisa dielakkan usaha yang netral. Sejauh berdasarkan hukum-hukum logis-objektif, berpikir akan mewakili fungsi-fungsi rasionalnya. Dengan kerja demikian, berpikir dikatakan media manusia mengafirmasi kebenaran.

Namun di era sibernetik, masyarakat bukan kesatuan konvensional. Era masyarakat terbuka, beragam informasi membuat masyarakat mudah mengkonfigurasikan diri melalui isi dan jenis informasi. Masyarakat tidak permanen berhubungan lagi atas suku, ras, agama, atau bahkan kekuatan-kekuatan pemersatu seperti diyakini selama ini.

Akibat beragam jenis informasi, keutuhan masyarakat ditentukan sejauh tingkat pemahaman dan penarikan kesimpulan kebenaran suatu informasi. Juga, perbedaan informasi, ikut menentukan karakter keberagaman dan selera masing-masing kelompok masyarakat.

Itulah sebabnya, informasi di era sibernetik tidak sekadar kabar yang memenuhi ruang publik masyarakat. Melainkan menjadi wacana yang terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Bahkan, sebagai kekuatan sosial baru, arus besar informasi sehari-hari, bisa menjadi kekuatan konsensus atau sebaliknya, mampu memicu pembelahan masyarakat.

Contoh paling terang kasus dugaan penistaan agama oleh Ahok. Media informasi masif digunakan golongan tertentu memicu integritas secara spontanik. Walaupun informasi memintasi lini masa tanpa ada keakuratan dan kebenaran, yang juga tidak melibatkan fungsi kontrol, akhirnya menjadi sarana pemersatu kepentingan berbeda.

Sebaliknya, informasi yang sama menjadi kekuatan pemecah tanpa disertai konfirmasi kritis terhadap wacana yang berkembang.

Dari kasus di atas, setidaknya ada tiga pembacaan kritis bisa diajukan. Pertama, berita-berita tersebar masif melalui dunia maya, mampu mengkonsolidasikan beragam kepentingan berbeda melalui justifikasi-justifikasi teologis. Akibatnya, perbedaan selama ini menganga atas dasar pilihan politik, ekonomi, kebudayaan, maupun gender, menjadi lebur di bawah seruan-seruan bernada sentimen agama.

Ini mengindikasikan, perkembangan berita atau informasi (baca: kebenaran), tidak dikelola hanya berdasarkan cara kerja berpikir objektif atas fakta verifikatif belaka. Di kasus Ahok, anehnya, penarikan kesimpulan sudah didahului justifikasi-justifikasi motif kepentingan tertentu. Selain itu, sentimen agama, justru menjadi anasir kepentingan yang mengaburkan kecemerlangan berpikir.

Kedua, atas dasar kebutuhan integritas, justifikasi teologis melucuti aktifitas berpikir sebagai jalur kekuasaan. Memanfaatkan rasa sentimentalisme sempit, berpikir dalam arena kekuasaan dilakukan demi tujuan politis. Jelas sekali, berpikir rasional senantiasa mengedepankan dimensi etik, sebaliknya justru dikendalikan kekuatan politik agama di bawah rejim kekuatan massa. 

Ketiga, berpikir dalam tatanan relasi benar-salah, merupakan dorongan tersembunyi imperatif moral tertentu. Pengajuan yang dibilangkan Nietzsche, setiap pengetahuan didasarkan motif tertentu, merupakan sarana memahami bahwa tidak semua aktifitas berpikir murni didorong hasrat rasional.

Bagi Nietzsche, semua usaha rasional manusia mencari kebenaran tidak serta merta berkat dorongan kebenaran semata. Lebih sublim dari itu, dorongan berpikir manusia ternyata digerakkan motif moral: keengganan dikatakan salah.

Artinya, ini bukan soal apakah benar adalah benar, salah adalah salah. Tapi, keinginan untuk menjadi absolut. Tanpa cacat. Hasrat terpendam manusia mau menjadi kebenaran mutlak itu sendiri.

Keinginan menjadi absolut inilah yang menjadi motif utama manusia berpikir. Kebenaran yang “letaknya” di luar kesadaran manusia hanyalah faktor kedua. Imbasnya, secara moral, dorongan absolutisme ini menolak  segala cacat kesalahan yang sebenarnya bagian sifatnya manusiawi.

Jika diamati, sebagai analogi, mengapa orang reaksioner dan konservatif, misalnya, sulit mendialogkan kebenaran? Jawabannya bukan dalam kaitan kesadaran benar-salah, bukan dalam makna mencari kebenaran, tapi mereka enggan dikatakan salah. Ini bukan urusan rasional semata. Kata Nietzsche, itu persoalan “ingin-tidak ingin.” Moral .

Dalam konteks demikian, berpikir bukan serta merta usaha rasional melibatkan hukum-hukum logis semata. Berpikir tidak sekadar mencari terang antara persilangan kebenaran (truth) dan opini (doxa). Sejauh ditempatkan dalam hubungan-hubungan ril masyarakat, berpikir menjadi pekerjaan yang berpihak pada motivasi tertentu. 

Itu artinya, di era keterbukaan informasi, berpikir tidak sekadar usaha fitrawi manusia demi mencapai kebenaran, tapi juga sebagai konsekuensi langsung dari motif-motif tersembunyi  yang menjadi dasar terdalamnya.

***

Melalui ilmu psikologi, motif (latin: movere) dimengerti sebagai penggerak atau kekuatan pendorong organisme. Bahkan motif, tidak saja kekuatan inheren dalam suatu organisme. Bagi manusia, di dalam masyarakat, motif sering dipengaruhi faktor dari luar dirinya.

Dua jenis motif secara umum dalam ilmu psikologi: Pertama, motif fisiologis. Dorongan ini berkaitan dengan cara manusia mempertahankan eksistensi biologisnya. Tubuh biologis manusia senantiasa mendorong untuk makan, minum, dorongan seksual, ataupun dorongan untuk menghirup udara segar. 

Tubuh manusia mau tidak mau secara alami mencari keperluan menutupi “cela” kekosongan dirinya. Dorongan fisiologis bersifat internal dan mendesak berkat tubuh membutuhkan energi. Karena itulah motif ini juga disebut motif primer, atau motif dasar manusia.

Kedua motif sosial. Motif ini terjadi akibat interaksi di masyarakat. Artinya, motif sosial ditentukan dari seperti apa hubungan-hubungan di dalam masyarakat itu sendiri. Berdasarkan kebutuhan tulisan ini, motif sosial dibagi menjadi empat.

Pertama, motif kekuasaan. Kekuasaan sejauh melibatkan kesadaran dalam hubungan masyarakat, tidak akan menghasilkan ekses negatif. Misalnya, kesadaran hubungan seorang hamba terhadap Tuhan yang Mahasegala. 

Namun,dalam relasi masyarakat, dua kekuatan sering mengalami kekuasaan secara hirarkis. Dan, akibat bersifat hirarkis, kekuasaan meniscayakan suatu hubungan dominatif.  Di saat demikianlah, kaitannya dengan berpikir, tidak semua pengetahuan murni tanpa tercemari kekuasaan.

Kedua, motif dominasi. Keadaan dominatif, melibatkan kekuasaan di dalamnya. Dominasi seseorang seringkali berarti akibat pengaruh kewenangan. Kewenangan berbasis kekuasaan, secara imperatif menyingkirkan peluang-peluang yang disinyalir dapat mengubah kekuatan dominatif sebelumnya.

Motif dominasi acapkali berlangsung  ketika dua kepentingan menjalin interaksi. Bahkan, motif dominatif sering terjadi akibat kekuatan minoritas yang ditekan dan dilemahkan.

Tujuan akhir situasi dominatif tidak serta sekadar menekan pihak minoritas. Keadaan mendominasi acap terjadi untuk mengintrodusir nilai-nilai tertentu. Kadang juga, selain memaksakan tujuan tertentu, yakni menghendaki suasana menjadi stabil, status quo.

Ketiga, motif agresi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agresi, perasaan marah atau tindakan kasar akibat kegagalan atau kekecewaan dari tujuan. Secara antropologik, agresi berarti perbuatan bermusuhan berupa penyerangan fisik ataupun psikis terhadap pihak lain.

Motif agresi benderang jika ada pihak menyerang pihak lain akibat kegagalan atau perasaan kecewa saat kalah bersaing.  Agresi muncul imbas terhambatnya tujuan yang diharapkan.

Motif agresi terjadi ketika sikap rendah diri begitu kuat mengikat pelaku. Pelaku agresi, dari skala luas, ikur berlaku dalam relasi bangsa-bangsa. Banyak bangsa bertindak agresif bukan karena memiliki kekuatan. Dari aspek psikososial, bangsa agresor tiada lain bangsa yang rendah diri.

Apabila meneropong relasi agresor dan korban agresi, motif agresi malah menjadi cara menutupi kekerdilan diri pelaku. Itulah sebabnya, dalam politik, misalnya, agresi marak terjadi. Bahkan agresi dianggap strategi politik. Itu berarti, banyak pihak yang kalah bersaing.

Keempat, motif ekshibisi (pamer). Motif ini sinonim narsisme. Yakni harapan tindakan diri menjadi pusat perhatian. Dengan menonjol-nonjolkan diri, motif ekshibisi dalam arti tertentu, usaha seseorang untuk mendapatkan pencitraan khalayak umum.

Pepatah “tong kosong, nyaring bunyinya” dalam arti lain, pencitraan tanpa mengikutkan prestasi. Sering kali mengedepankan eksistensi diri walaupun tidak memiliki makna apa-apa.

Dunia virtual, dunia narsisme. Banyak bersuara tanpa melibatkan makna. Banyak menonjolkan diri tanpa pernah berprestasi.

***

Hakikat berpikir sebenarnya peristiwa cerlang, anugerah manusia. Tanpa berpikir, manusia jauh dari kesejatian: kebenaran.

Sudah dikatakan sebelumnya, aktifitas berpikir tidak bisa keluar dari hubungan ril masyarakat. Itulah mengapa, berpikir bukan lagi sekadar pemuas fitrah rasa ingin tahu. Kiwari, berpikir sudah menjadi pelayan langsung kepentingan tertentu.

Jika meminjam analisis Frankfurt Schooll tentang relasi rasio instrumental dan tujuan-tujuan ekonomisnya, berpikir di era sibernetik, terutama dalam dunia virtual, menjadi aktivitas motif-motif tersembunyi memanfaatkan arus perkembangan informasi dan komunikasi.

Era virtual, mengedepankan pencitraan dari pada isi, adalah kemajuan yang dikepung hiperrealitas di mana-mana. Pendapat ini tidak berlebihan, dikatakan hampir setiap waktu, realitas ril dicetak dan dibentuk di dalam screen smartphone.  Berdasarkan cara kerja dunia virtual, dunia ril mengalami defisit pemaknaan dibanding simulakra dunia maya.

Seperti dijelaskan sebelumnya, simulakra (simulakrum), yang dibilangkan Jean Baudrillard, dunia simbolik yang membalikkan kenyataan melalui pencitraan dunia maya. Simulakrum memiliki kemampuan memalsukan kenyataan dengan membuat kenyataan baru. Melaui permainan penandaan, dunia baru yang diciptakan simukakrum jauh lebih kompleks dan bersifat imajinatif.

Kemampuan simulakrum, juga mampu mengambil alih kenyataan dalam kesadaran. Simulakrum berupa dunia tiruan, mengintodusir imajinasi simbolik dunia virtual dalam kesadaran. Melalui cara pembalikkan kesadaran memahami dunia virtual, simulakrum mengambil alih realitas.

Diambil alihnya realitas ril menjadi realitas virtual tidak sendirinya menghalangi motif-motif  manusia untuk terus eksis. Malah motif-motif manusia mengalami peralihan dengan cara kerja yang lebih berbahaya ketika berada dalam dunia virtual.

Melalui konteks berpikir adalah representasi motif-motif tersembunyi, eksistensi “diri” dalam dunia virtual mampu menjadi diri yang lain. Diri virtual, berbeda dari diri dunia ril. Diri dunia ril, eksistensi yang diikat hukum realitas. Eksistensi nyata dalam realitas material-sosiologis.

Diri virtual merupakan representasi diri ril berupa profil akun dunia virtual. Diri virtual bukan saja representasi diri ril, namun mampu mengubah sejumlah data diri berdasarkan motif tertentu. Berbeda, diri virtual dibentuk oleh sejumlah bit sebagai satuan “atomiknya”. Dengan sejumlah bit inilah diri virtual “hidup” dalam dunia virtual.

Artinya, peralihan diri ril menjadi diri virtual hanyalah perubahan modus eksistensi. Bahkan, peralihan ini mampu mengkalilipatduakan diri virtual menjadi entitas tak terbatas.

Seperti yang dibilangkan Turkle dalam Hikmat Budiman (Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace), identitas dalam jaringan cyberspace telah menghancurkan identitas sebagai kesatuan tunggal yang terikat fisik biologis. Identitas diri virtual dunia maya, entitas multifaset, protean, karena seseorang mampu berganti identitas sesuka hati.

Hukum-hukum hampir luput dari diri virtual. Akibatnya, kebebasan diri dunia virtual, membuatnya mampu berbuat apa saja. Selama itu dilakukan di balik citra simbolik, tindakan diri virtual menjadi identitas yang sulit diantisipasi pertanggungjawabannya.

Para hacker, sebagai contoh, salah satu figur yang digerakkan motif  tertentu, terkadang memiliki agenda terselubung merusak sistem ketahanan suatu base informasi. Tanpa identitas terikat tubuh biologis, para hacker memperantai motifnya melalui diri virtual.

Media sosial, contoh mutakhir betapa motif-motif agresi, misalnya, begitu gampang bekerja di balik identitas maya. Tindakan kekerasan simbolik begitu gampang terjadi dengan menyudutkan pihak lain. Melalui meme, quote, maupun video, sarana yang kerap dipakai dalam menyalurkan hasrat agresi.

Memanfaatkan kemudahan dunia virtual, motif agresi mudah memakan korban akibat sifatnya yang gampang dilipatduakan. Di permukaan, motif agresi hanya bisa dikenali dari isi pesan yang banyak menggunakan simbol-simbol pelecehan dan diskriminatif.

Yang paling eskalatif, cara berpikir masyarakat diselubungi motif politik secara diam-diam. Melalui berita-berita bernada rasis dan sentimentil, misalnya, cara berpikir objektif menjadi sulit bekerja. Malangnya, ini begitu masif terjadi. Akibatnya, sulit membedakan kebenaran atas rasionalitas, atau hanya sentimentalisme berupa doxa.

Dalam konteks ini, informasi yang beredar hanya menyampaikan “separuh” realitas dari apa yang sebenarnya terjadi. Kebenaran yang diselingi motif politik hanyalah kebenaran yang sudah dipermak berdasarkan kepentingan itu sendiri. 

Motif politik dapat diidentifikasi sejauh berkaitan dengan kekuasaan. Kasus Ahok misalnya, sangat mudah menggeledah motif politik dari cara berpikir yang diwakilkan dari sebaran informasi selama ini.

Dunia virtual juga mampu menggandakan kekuasaan. Kekuasaan dunia virtual ditandai berapa banyak netizen menduplikasi informasi. Semakin luas peredaran satu informasi, luas pula daya jangkau kekuasaan itu sendiri.

Di waktu bersamaan, kekuasaan dalam dunia virtual, seperti narasi Hikmat Budiman (Kekuasaan dan Kebebasan dalam Cyberspace) juga menciptakan ruangnya sendiri dan menetapkan segmentasi, hirarki, dan keterbukaan. Tidak saja itu, kekuasaan dalam dunia virtual, kontradiktif, menciptakan pula kekuasaan tandingan atas kekuasaan lainnya.

Keterbukaan dunia virtual bukan saja menghilangkan sentralisasi dan hirarki, juga menciptakan keadaan dalam terminologi Foucault sebagai teknologi kekuasaan. Teknologi kekuasaan, arti lain, masifnya kekuasaan yang menyebar tanpa batas dan tingkatan berkat dukungan teknologi.

Anehnya, pergerakan kekuasan ini tidak dikontrol berdasarkan prinsip satu pusat. Memanfaatkan sifat eskalatif dunia virtual, kekuasaan dalam dunia virtual bahkan lebih mirip realitas chaotik.

Realitas chaotik dengan sendirinya menyediakan medan tanpa nalar, tanpa keberaturan, tanpa tatanan. Mirip lintasan serba cepat dan ultrakompleks, sulit menegakkan cara berpikir objektif di dalamnya. Saat demikianlah, motif dominatif gampang bekerja. Tanpa ada rambu-rambu, suatu kepentingan dominasi justru mudah bersikap hegemonik.

Motif lain yang bekerja massif di balik diri virtual, adalah motif eksibisi atau narsisme. Realitas virtual tanpa batas menjadi medan narsisme begitu jamak ditemukan. Bahkan kiwari, bagi ilmuwan sosial, narsisme sudah menjadi epidemi modern. Hakikat narsisme merupakan cara seseorang menutupi rasa rendah diri dengan kebesaran semu. Di balik simbol kebesaran-kebesaran nisbi, diri virtual hanya menemukan kekosongan melalui narsisme.

Sigmund Freud menyatakan hakikat narsisme sejatinya merupakan sarana pemuasan libido. Imbas hambatan perkembangan jiwa, narsisme akan berujung kepada sifat megalomaniak.

Dari aspek moral, kebebasan manusia, tidak dimungkinkan sejauh kesadaran manusia banyak diintimidasi kepungan informasi. Eksistensi diri virtual hanyalah subjek kondisional  yang nisbi. Jika melalui identitas maya, kebebasan itu dikatakan kemampuan melewati batas-batas virtual, maka itu sesungguhnya hanyalah kebebasan semu oleh akibat hidup di dalam dunia maya.

Akhirnya, era sibernetik hanya menyisakan kemungkinan kecil berpikir secara bebas dan otonom. Di balik berkembangnya “otak” canggih mesin-mesin informasi komunikasi, dan luasnya jagad informasi, kesadaran manusia mengalami penyusutan. Ini imbas kesadaran di balik informasi dunia virtual, tidak mampu melakukan refleksi kritis demi membangun pemahaman yang memadai.

Kebebasan dengan kata lain, dalam dunia virtual, hanyalah pengandaian semu akibat nisbinya otonomi kesadaran. Kesadaran yang berarti mampu mengalami dan mengelola informasi, mengandaikan kehendak bebas memilih di antara beragam pilihan di dalamnya.

Dan yang patut dikhawatirkan, cara berpikir masyarakat sibernetik senantiasa terancam motif-motif tersembunyi yang merangsek kemandirian berpikir manusia. Berpikir dalam situasi yang terancam, dengan mudah kehilangan fungsi rasionalnya. Imbasnya, kesadaran hanya menjadi medan yang diambil alih segi emosionalitas.

Dari semua itu, kita tidak ingin masyarakat yang dilimpahi beragam informasi, hanya mampu menduplikasi pengetahun tanpa bisa mereproduksinya kembali. Akibat ledakan implosif  yang membuat kesadaran yang tercerabut bahkan hancur berkeping-keping. Ujung dari semua itu, manuasia hanya menjadi objek kosong tanpa makna dari beragam informasi.

Sehingga patut disayangkan, di balik motif berpikir masyarakat sibernetik, orang-orang mencari dan mengelola informasi tanpa melibatkan dasar kebutuhan di dalamnya. Ini semua akibat hilangnya relasi kebermaknaan dari beragam komoditi informasi yang beredar. 

Popular Posts