27 Desember 2016

Dari Manakah Tanggung Jawab Seorang Penyair?

| |
Konon melalui puisinya, penyair tidak diharuskan memiliki beban apa-apa untuk mengubah dunia. Puisi tidak memiliki tanggung jawab apa-apa selain menjadi medan ekspresi keindahan. Akibatnya, puisi hanyalah alat rekam kenyataan. Mengulang kenyataan melalui syair, dan membangunnya melalui kata-kata.

Tapi, apakah puisi hanya medan yang sekadar menduplikasi dunia? Apakah, tidak ada tanggung jawab sedikit pun yang ditanggung puisi terhadap kenyataan yang dihadapinya?

Alaf yang silam, dua pertanyaan di atas pernah menjadi sentimentalisme Platon terhadap sastra dibanding filsafat. Sentimentalisme yang menganggapkan filsuf sebagai satu-satunya raja yang berhak atas kebenaran.

Melaui imajinasi Platon, yang berhak menyuarakan kebenaran hanyalah filsafat sebagai tugas primernya. Melalui mata filsafatlah manusia mengenali hakikat kenyataan sesungguhnya. Filsafat mengajarkan “inti” kepada manusia. Subtansi segala sesuatu.

Sastra, hanyalah ilmu yang sampai kepada “bentuk permukaan.” Akibatnya, sastra bukan medan manusia menggapai kenyataan hakiki. Jika manusia ingin mencapai kebenaran, sastra justru sibuk menduplikasi kebenaran. Kata-kata dalam sastra, tidak pernah mengungkapkan kenyataan sebagaimana kenyataan itu sendiri. Itu sebabnya, Platon menyebut sastra hanya ilmu yang meniru kenyataan.

Imbasnya, sastra tidak memiliki tanggung jawab seperti yang diemban filsafat. Kebenaran hanya suatu ujung realitas yang hanya dapat ditengok melalui filsafat. Sementara sastra, tidak sedikitpun memiliki tanggung jawab yang sama seperti filsafat.

Sampai akhirnya, siapakah orang yang menjadi corong kebenaran? Dalam kesadaran Platon, filsuflah figurnya. Sementara penyair, sosok yang hanya pantas berdiri di atas panggung mempertunjukkan drama syair-syairnya.

Tegangan ini saya kira tidak saja dialami antara filsafat dan sastra. Bahkan kecenderungan menjadi ahli waris kebenaran juga mengendap keras dalam sastra itu sendiri. Polemik kebudayaan yang pernah menguat di era 30-an, maupun 60-an bahkan mencerminkan pertengkaran dahsyat yang melibatkan politik di dalamnya.

Hingga akhirnya, perjalanan memahami dan mengungkapkan sastra tidak pernah keluar dari bayang-bayang narasi polemik kebudayaan. Saya tidak perlu menyebut kecenderungan mazhab yang menguat kala itu, namun banyak sastrawan tidak dapat mengidentifikasi dirinya sebelum melibatkan pemahamannya terhadap arus yang mengalir dari sejarah masa lampau.

Saya kira Ferdi, kawan yang saya kenal hidup bertungkuslumus di kehidupan kampus, membangun imajinasinya dari atap sejarah di atas. Tanpa itu, sulit rasanya membaca puisinya. Saya kira melalui hal itu, puisi-puisi Ferdi menjadi jauh lebih terang. Bahkan kita dapat menangkap samar-samar gambaran batin Ferdi, sesuatu yang mendasari puisi-puisinya mampu bersuara.

Tak ada penyair yang tidak berjangkar dari kehidupannya. Ferdi saya tahu  seorang yang banyak bergesekan dengan aktivisme kampus. Ferdi semasa mahasiwa, menurut saya, orang yang tidak ingin melihat dunia apa adanya. Ferdi seperti kebanyakan mahasiswa yang paham sejarah, merindukan dunia tanpa segregasi di mana-mana. Suatu dunia yang harus diperjuangkan.  Karena itu, Ferdi juga seorang aktivis.

Semenjak saya mengetahuinya , saya membayangkan jika dia menulis, esai adalah pilihan pertama sebagai genre yang nyaman menyuarakan aspirasinya. Sebagaimana orang-orang yang menempuh jalan pemikiran ketika ingin menyalurkan godaan-godaan intelektual di dalam kesadarannya.

Tapi, sudah saya bilang, Ferdi seorang aktivis. Orang yang terlibat langsung di dalam denyut kehidupan masyarakat. Seringkali hidup di pemukiman masyarakat pinggiran. Menyoraki lantang kekuasaan di jalan raya. Dan, mendampingi masyarakat marginal. Itu semua, yang saya tahu, dunia yang ada di balik syair-syainya.

Seorang aktivis pasti paham, kenyataan tidak sekadar dibangun dari kata-kata yang diambil dari terang kesadaran. Perubahan kadang mengharapkan sesuatu yang jauh lebih halus dibanding argumentasi logis. Sesuatu yang menggugah kesadaran.

Itulah juga mengapa puisi menjadi cara Ferdi bersuara. Puisi lebih afdol dibanding tulisan esai yang terkesan teoritik dan kering.  Melalui puisi, Ferdi lebih lentur menyalurkan pikiran-pikirannya. Juga tentu, perasaannya yang basah.

Nyanyian seribu jiwa..
Kau akan belajar dari segala jiwa makhluk penghuni bumi..
Hanya, manusia makhluk yang memiliki jiwa..
Bukan hanya meninggikan akal pengetahuan..

Apabila kita mau menengok penggalan syair di atas, sepertinya Ferdi ingin membalikkan prasangka Platonian, akal tidak lebih tinggi dibanding jiwa. Bahkan jiwa tidak diandaikan sebagai entitas yang mono. Jiwa disebut Ferdi dapat ditemui dari segala jiwa makhluk penghuni bumi. Manusia, bukan hanya meninggikan akal pengetahuan. Itulah nyanyian seribu jiwa.

Puisi ibarat tanda Ferdi telah banyak menemui ragam jiwa-jiwa. Jiwa-jiwa yang seringkali ia saksikan dari mata aktivismenya: orang-orang yang dilindap kebijakan perkotaan, anak-anak putus sekolah, ibu-ibu yang digusur paksa, seorang anak yang mati tak mampu diobati, buruh pabrik yang dirampas tenaganya….

Dan, dari sana  Ferdi menyebut dalam Nyanyian Seribu Jiwa, manusia belajar.

Dari sini kita perlu memahami, puisi bukan sekadar ekspresi perasaan. Di tangan Ferdi, puisi menjadi semacam tanda pengingat dengan tanda seru, suatu cara yang juga melibatkan empati dan simpati. Sehingga, syair-syair di tangan Ferdi tidak sekadar pikiran yang melibatkan akal pengetahuan semata, melainkan rasa-jiwa yang ikut terlibat dari kenyataan di hadapannya.

Inilah juga sekaligus cara yang ditempuh Ferdi untuk mengidentifikasi dirinya dari seorang aktivis yang kerap menulis makalah-makalah panjang sebagai penanda kecendekiawanannya.

Puisi, di tangan Ferdi, barangkali sebagaimana Pram mengartikan sastra, seperti Wiji Thukul menggunakan puisi.  Yakni sebagai kesatuan organik yang terintegrasi dalam kehidupan penyair.

Karena itulah ketika membaca syair-syair Ferdi, dunia kenyataan menjadi tampak lebih sederhana. Hampir tidak ada syair yang dipolesi semacam kata-kata mutiara.  Dunia dalam kata-kata puisi Ferdi tampil sebagaimana adanya. Tanpa terbebani dunia yang dibahasakan secara sembunyi-sembunyi.

Imbasnya, kenyataan hanyalah kenyataan di tangan Ferdi. Di titik itu, Ferdi menjadi jangkar antara kenyataan dan pembaca di hadapannya. Menyampaikan apa yang disaksikannya. Meneruskan apa yang dirasainya, secara jujur.

***

Konon penyair menghadapi dunia yang berbeda dari profesi kreatif lainnya. Seorang intelektual, misalnya, menghadapi kenyataan tidak seperti seorang penyair. Berbeda dari seorang penyair, dunia yang harus dihadapi seorang intelektual adalah hamparan dunia di luar kesadarannya. Dari sana, dunia itu diubah menjadi fakta-fakta empiris. Diberikan hukum-hukum objektif, dan menetapkan kebenaran atasnya.

Sementara seorang penyair bukan menghadapi dunia di luar kesadarannya. Dunia seorang penyair bukanlah fakta-fakta empiris yang ditemukan di luar dari dirinya. Justru seorang penyair masuk menghadapi dunia batinnya. Memeriksanya dan menetapkan makna atasnya.

Itulah sebabnya, tugas penyair bukan memperjuangkan kebenaran sebagaimana seorang intelektual ketika menyampaikan fakta-fakta. Seorang penyair melihat dunia tidak sekadar realitas yang harus dibekuk nilai benar-salah. Dari mata seorang penyair, dunia begitu sederhana jika hanya dijabarkan ke dalam dua lengkung sisi koin.

Makanya jika Ferdi ingin bermaksud menyampaikan kebenaran melalui syair-syairnya, saya kira itu pekerjaan yang kerdil. Lebih malang lagi setelah membaca puisi-puisi Ferdi, pembaca malah mengharapkan kebenaran  di dalamnya. Itu pekerjaan yang sia-sia.

Jika itu pembaca ingin lakukan, maka tempatkanlah Ferdi sebagai seorang intelektual. Tapi, saya kira kita telah membaca keseluruhan puisinya. Itu berarti kita harus akui kepenyairan Ferdi, setidaknya sebagai seorang aktivis penyair.

***

Bagi pesuluk jalan tharikat, kesadaran manusia hanyalah puncak gunung es yang ditopang jiwa sebagai fondasinya. Kesadaran hanyalah cermin jiwa. Baik tidaknya kesadaran bergantung kepada jiwa sebagai penopangnya.

Itulah sebabnya, semua pesuluk menganjurkan tazkiyatun an nafs sebagai cara menjadi manusia sesungguhnya. Hanya jiwa yang senantiasa dibersihkanlah, cara manusia merangkak naik meninggalkan genangan lumpur tempat ia bermula.

Akibat begitu fundamen, kebenaran rasional bukanlah satu-satunya yang dikehendaki jiwa. Kebenaran sesungguhnya hanyalah milik jiwa. Sementara akal rasional hanyalah pintu kebenaran. Karena itulah, selain batin, tiada iman yang bersemayam di dalam kesadaran.

Dalam konteks itulah kita membutuhkan syair, bukan argumentasi. Kita membutuhkan satu penyair dibanding ribuan intelektuil. Hanya dengan syairlah jiwa bekerja mengenal kembali “kesadarannya”. Dengan cara yang menggugah, yang dahsyat menghujam sampai ke pembatinan paling dalam.

Sampai di sini, di manakah tugas seorang penyair kalau bukan membangun jiwa orang-orang yang dirundung persoalan? Sesungguhnya, satu syair jauh lebih dahsyat daripada seribu argumentasi.

Dan, saya kira, Ferdi sudah mencobanya.

---

Epilog Nyanyian Seribu Jiwa, buku kumpulan puisi karangan Muh. Ferdhiyadi N.

Almanak