Saturday, December 31, 2016 in

Catatan KLPI Pekan 43

Catatan kali ini tidak panjang. Hanya menyinggung niat Ilyas membukukan cerpen-cerpennya. Ilyas memang rajin membuat cerpen. Ilyas memang banyak mengikuti  perlombaan penulisan cerpen. Beberapa buku antologinya sudah terbit. Beberapa sudah dia sumbangkan ke Paradigma Institute. 

Sebelumnya sudah ada yang seperti Ilyas. Berniat menerbitkan buku. Tapi sampai sekarang belum aktuil. Mungkin banyak kendala. Modal, misalnya. 

Hajir pernah bilang, seandainya ada yang berbaik hati memberikan suntikan dana, dia siap menerbitkan tulisannya menjadi buku. Tentu yang Hajir maksud berupa esai-esai yang tersimpan di blognya.  

Menerbitkan buku sebenarnya resolusi yang diniatkan sejak KLPI bagian 2 dibuka. Ini adalah program kolektif. Caranya setiap minggu kawan-kawan menyicil tulisan lewat setiap pertemuan. Satu bulan empat minggu, empat karya tulis. Empat karya tulis dikalikan duabelas bulan, empatpuluh delapan karya tulis.

Itu bisa bertambah duakali lipat jika kawan-kawan KLPI memiliki semangat semacam Ilyas. Mampu menyelesaikan naskah minimal 2 selama seminggu. 

Selain Ilyas, Ishak juga memiliki semangat yang sama. Ketika pertama kali ikut bergabung di KLPI, Ishak sangat rajin memosting tulisannya via dunia maya. Saat itu semua di KLPI bersepakat; Ishak sedang belajar mati-matian.

Hasilnya, selang beberapa bulan, karya tulis Ishak mejeng di beberapa media cetak. Juga beberapa tulisannya diterbitkan di beberapa media online. Sekarang Ishak diberikan amanah mengelolah salah satu website dari bersama teman-temannya di tanah Ambon.

Imbas giat belajar, kawan-kawan KLPI pasti masih ingat ketika pertama kalinya tulisan Vivi nangkring di media cetak ternama Sulawesi. Poin penting saat itu, walaupun Vivi masih terbilang baru di KLPI, dengan tulisannya yang terbit di media cetak, menjadi bukti siapapun yang belajar giat akan menuai hasil kemudian.

Masih banyak kawan-kawan di KLPI yang seperti tiga orang di atas. Syarif misalnya, dan juga pernah ada Salman yang sekarang domisili di Kalimantan, adalah prototype orang-orang yang mau mengasah dan mengembangkan keahlian menulisnya. Satu dua tulisan hingga mungkin puluhan telah mereka hapus dan tulis kembali, bergelut dengan kekurangan dan berkeinginan kuat mengubah diri menjadi pribadi pembelajar.

Seperti Salman yang telah dahulu pamit dari KLPI, Syarif secara diam-diam juga sudah berada di Seram, kampung halamannya. Tanpa ingin membuat situasi menjadi “termehek-mehek,” Syarif pergi dengan bekal yang sudah dikeruknya banyak-banyak selama di KLPI. Di Seram, tinggal menunggu waktu, apakah Syarif membuat dentuman di sana?

Begitulah, hampir setahun ini banyak yang bertahan dan juga tidak sedikit yang pergi. Tapi, KLPI harus tetap berjalan. Ibarat “perahu” Nietzsche, sudah berlabu dan membakar dermaga di belakangnya. Tidak ada jalan pulang.

Pekan kemarin, memang tidak banyak yang datang lagi. Tapi, seperti yang dikonfirmasi Jusnawati, visi dan misi KLPI-lah yang penting. Kehadiran boleh saja absen dari kelas, tapi di manapun itu visi dan misi KLPI harus tetap digelorakan.

Apa visi dan misi KLPI? Mungkin banyak yang sudah lupa, tapi sederhana, KLPI hanya mau membangun tradisi literasi dan menyadarkan masyarakat betapa pentingnya kesadaran literasi. Lumayan muluk. Namun kalau tidak muluk, untuk apa cita-cita mesti ada?

Cita-cita di atas hanya bisa direalisasi jika kawan-kawan KLPI melengkapi dirinya dengan perangkat pengetahuan yang mapan soal literasi. Apa itu literasi? Apa hubungannya dengan kesadaran masyarakat? Relevankah gerakan literasi dengan tipikal masyarakat kekinian? Bagaimanakah menggunakan media sosial sebagai sarana gerakan literasi? Masih pentingkah tradisi literasi dibangun via komunitas? Dsb adalah pertanyaan yang sudah fix di dalam pemahaman kawan-kawan KLPI.

Satu hal penting dari visi dan misi KLPI terhadap kawan-kawan adalah seberapa strategiskah waktu luang yang ada selama ini untuk membangun praktik-praktik literasi. Indikator praktik literasi bukan saja aktivitas tulis menulis belaka, juga bukan sekadar membaca referensi sebanyak-banyaknya. Dari segi ekonomi, misalnya, seberapa persenkah uang kawan-kawan peruntukkan membeli buku, mengikuti seminar, diskusi publik dan semacamnya. Seberapa seringkah kawan-kawan memperbanyak kopian selebaran yang berbau pencerahan di kampus-kampus. Dan, relakah kawan-kawan menyisihkan beberapa persen persediaan uang harian demi sumbangan di bidang baca-tulis?

Tapi, indikator yang paling sederhana adalah sudahkah kawan-kawan memiliki bank literasi? Semacam blog pribadi yang dikelola dengan ketat?

Jika semua itu belum sempat dilakukan, yakin dan percaya semua kemampuan menulis kawan-kawan masih sebatas angan-angan belaka.

Pekan 43 merupakan pekan terakhir 2016. Perlu juga disampaikan di sini, KLPI perlu “gelombang kecil” di awal tahun nanti. Semacam kegiatan kolektif untuk menyimpul kembali capaian-capaian yang sudah dan akan direalisasikan nanti. Tentu, ini tidak lahir dari sekadar perbincangan satu dua orang. KLPI adalah kita.

Selamat merayakan pergantian tahun.

Literasi populer