10 Januari 2010

Ideologi dalam Perspektif

| |
Pada tulisan kali ini penulis hendak memaparkan sejarah konsep ideology sebagai studi kritis bagi pembaca untuk melihat bahwa ideology merupakan salah satu tema yang menarik untuk di perbincangkan. Pertimbangan ini lahir dengan asumsi sekiranya dalam sebuah diskursus atau wacana pastinya tidak terlepas dari struktur ideology yang ada, hal inilah yang mendorong penulis tertarik untuk membahasnya.

Ideologi sebagai istilah, pertama kali muncul dipermukaan kancah khazanah pemikiran diperkenalkan oleh Antoine Destutt de Tracy pada abad ke 18, walaupun akar maknanya dapat di tarik jauh kebelakang pada Bacon, Machiavelli bahkan hingga Plato. Para pemikir sosial lebih melihat asal usul istilah dan kajian ideology bermula dari konsep idola bacon. Hanya saja de Tracy-lah yang berhasil menggagas ideology dengan cara yang sistematis dan tegas. De Tracy memberikan pengertian ideology sebagai pengkajian akan ide-ide atau ilmu pengetahuan akan ide. Dari pengertian ini de tracy memberikan garis tegas bahwa kajian menyangkut ideology terlepas dari prangsangka-prasangka, mitos dan takhayul. 

Dengan kata lain ideology adalah ladang pengkajian yang sifatnya netral dan dituntut untuk dipandang sebagai entitas yang objektif. Selanjutnya oleh de Tracy bahan kajian dalam pembahasan ideology adalah asal-usul ide, mengapa suatu ide muncul, bagaimana berkembangnya serta upaya apa yang dilakukan untuk menangkap ide-ide itu. Penjelasan seperti ini, oleh penulis masih mendekati pengkajian secara filosofis atau lebih tepatnya adalah epistemology, salah satu cabang dalam filsafat.

Pemikiran  de Tracy bila dilihat memiliki hilir pada salah satu tokoh filsuf pada abad pencerahan, John Locke. Pada pemikiran John Locke, menyatakan ide adalah hasil sensasi dari observasi yang dilakukan oleh manusia. Lebih jauh lagi locke mengungkapkan adanya jenis-jenis ide dan bagaimana terbentuknya dalam pemikiran manusia. Dari konsepsi inilah sehingga tracy mendapatkan pijakannya. Oleh tracy ideology harusnya mampu menandingi ketepatan sebagaimana ilmu alam, yang artinya ideology merupakan kajian keilmuan yang bersandar pada sensasi yang didasarkan pada observasi. Ia bahkan mengatakan ideology harus mampu menjadi piranti dalam dasar bagi pendidikan dan ketertiban moral. Olehnya itu, ideology pada pengertian ini memiliki pengertian yang positif.

Ideologi yang berstreotip negativ pertama kali digunakan oleh Napoleon yang kecewa terhadap teman-temannya yang tak sepakat dengan sikapnya yang cenderung diktator dalam menerapkan keputusan-keputusan di saat menjadi penguasa Prancis. Pada saat itu, Napoleon memberikan identitas kepada kawan-kawannya itu sebagai kaum “ideologues” yakni kaum yang cenderung ideal dan tidak realistis. Pada pengertian ini kaum ideologues dicirikan sebagai orang-orang yang menempatkan tujuan-tujuan ideal tanpa melihat kondisi materil suatu masyarakat.

Karl Marx : Ideologi sebagai Kesadaran palsu
Asumsi di atas perlu disimak dari konsepsi Hegel menyangkut ide sebagai gerak ruh absolut yang selalu menyempurna, dan kesempurnaan ruh yang absolut termanifestasi pada Negara. Bagi Hegel Negara adalah kesempurnaan ruh yang mengejewantah untuk mengatur masyarakat yang berada di bawahnya. Hegel pun menjelaskan karena Negara adalah manifestasi ruh maka masyarakat harus tunduk dan serta merta harus mengikuti jalannya sebuah Negara. Asumsi ini berdiri pada pilar pijakan bahwa rasio manusia bukanlah sebagaimana yang dikatakan oleh Immanuel Kant, bahwa rasio manusia mampu menjadi kritis jika terjadi upaya refleksi dari upaya rasio itu sendiri, melainkan rasio itu bisa menjadi kritis jika mendapatkan tantangan dari kondisi yang ada di luar dirinya. 

Di satu sisi oleh Hegel, rasio menurut Kant bersifat transcendental yakni sesuatu yang mutlak dan tak tergoyahkan yang menempatkan rasio terlepas dari kenyataan. Pendapat inilah yang bagi pembacaan Hegel keliru dikarenakan kesempurnaan rasio ditentukan sejauh mana rasio itu mendapat tantangan di luar dirinya dan dari pertentangan inilah rasio merangkak naik menuju kesempurnaannya. Proses dimana rasio mendapat ujian dari tantangan yang ada inilah yang bagi filsuf jerman ini disebut dengan dialektika.

Jadi bagi Hegel Negara adalah  hasil dari proses dialektika pikiran yang menyempurna dan sempurna. Karena kenyataan sejati bersumber dari pikiran, dan Negara adalah hasil dari ide yang sempurna dari pikiran maka yang sempurna dalam pikiran sempurna pula pada kehidupan ini.

Konsepsi diataslah yang menjadi kritikan marx terhadap pemikiran Hegel. Bagi Karl Marx apa yang dikatakan Hegel adalah sesuatu yang sangat tidak realistis. Kondisi social politik yang berjalan pada saat itu menjadi titik pijakan Marx dalam membangun teorinya. Dikarenakan kondisi Negara yang pada saat hidupnya, terlampau jauh dari apa yang pernah di gagas oleh pendahulunya, mulailah Marx menganalisis kondisi yang terjadi pada zamannya. Marx mulai melihat relasi yang terjadi pada masyarakat pada saat dimana kondisi social dan budaya telah bergeser pada zaman feodalisme menuju masyarakat industry. Pada masa transisi inilah Marx, menggerakkan penanya untuk menjadikan teorinya sebagai salah satu pisau analasis masyarakat.

Sementara, kondisi masyarakat pada saat itu bagi marx terbagi oleh kehadiran mesin-mesin produksi yang menghadirkan kesenjangan terhadap masyarakat. Lebih jauh marx menjelaskan bahwa kondisi social masyarakat dibentuk oleh sejauh mana mesin produksi ini dapat dipergunakan oleh pemiliknya. Artinya bagi ia hubungan masyarakat ditentukan oleh relasi mereka terhadap mesin-mesin produksi yang dimaksud. Marx pun menilai mesin produksi yang dikuasai malah menjadikan penindasan terhadap masyarakat yang berada dibawah komando pemilik mesin produksi. Marx menamakan orang-orang yang menguasai alat-alat produksi dengan sebutan “borgues” dan mereka yang dipekerjakan oleh pemilik alat-alat produksi disebut dengan “proletart”.

Dari pembacaan diataslah marx menilai Negara adalah bentukan kelas borjuis untuk menguasai alat-alat produksi demi kejayaan mereka. Dengan apa kaum borjuis menjadikan kelas pekerja atau masyarakat untuk ikut serta mendukung peranan kaum borjuis?, Marx mengatakan kesadaran palsulah yang diciptakan Negara untuk melanggengkan penindasan yang terjadi. Kesadaran palsu inilah yang oleh Marx disebut dengan ideology.
Pada pemikiran Marx ideology adalah konsepsi palsu yang diciptakan negara untuk memberikan “pandangan semu” menyangkut dunia bagi masyarakat dalam system masyarakat industry. Jadi pada konten pemikiran Marx Negara adalah alat yang dikuasai oleh kaum borjuis untuk menjalankan kepentingan pasarnya lewat jalur eksploitasi tenaga kerja dan system produksi melalui aturan main yang diatur oleh negara.

Ideology: Kesadaran (palsu) Revolusioner
Berbeda dengan Marx yang mengutuk ideology, justru oleh hampir sebagian besar pengikutnya menjadikan ajaran-ajarannya sebagai ideologi. Namun disini perlu kita lihat, mengapa oleh  Marx ideology dinilai sebagai kesadaran palsu  sedangkan bagi pengikutnya malah menjadikan pemikirannya sebagai ideology?

Hal ini dapat dijelaskan oleh penulis perancis bahwa ideology bagaikan kata magis yang menarik pengorbanan bagi kaum muda terutama dalam mengatasi kehidupan. Penjelasan ini  juga dapat kita simak dalam pemikiran Bacon tentang konsep “idola”. Konsep ini menjelaskan dalam watak manusia selalu melakukan penyandaran atas dirinya terhadap sesuatu yang dinilanya sebagai patron imajiner untuk dijadikan sebagai pantan dan percontohan bagi segenap perilaku dan erbuatan yang dilakukan. Artimya dalam konsep idola Bacon, ada relasi antara subjek(Manusia) dan objek(ideology) untuk menyerap dan menginternalisasi nilai-nilai yang terkandung dalam ideology yang dipahami bagi diri, dan biasanya dalam relasinya terjadi proses objektivikasi dan pengorbanan.

Penjelasan lain tentang ideology dikemukakan pula oleh pemikir Marxisme strukturalis, Louis Althusser. Baginya dengan mengikuti pemikiran Marx tanpa harus menjadi Marxis ortodoks mengungkapkan bahwa ideology pada pembentukannya sebenarnya sudah tertanam jauh dalam diri manusia semenjak ia lahir. Berbeda dengan Marx bahwa negaralah yang menciptakan ideology, oleh Althusser, keluarga dan masyarakatlah yang pertama kali menanamkan kesadaran palsu bagi manusia. Pendapat ini didasarkan kepada pemikiran Althusser bahwa kesadaran manusia dibentuk oleh struktur yang melingkupinya. 

Sebelumnya, struktur dalam kajian strukturalisme  adalah relasi-relasi yang saling berkaitan dan berhuhubungan sampai membentuk seperangkat system jejaring yang memiliki maknadan termanifestasi terhadap apapun. Sederhananya, kaum strukturalisme mengatakan bahwa mulai dari bahasa sampai budaya bahkan agama pada dasarnya terdiri dari struktur dan senantiasa membentuk kesadaran manusia. Dalam buku Tentang Ideology, disitu Althuser mengatakan masyarakat lewat srruktur keluarga, sudah memberikan kerangka-kerangka yang membatasi ruang pandang individu mengenali dunia. Baginya dunia individu semenjak semula sudah tebingkai struktur yang sudah tertanam daam dirinya. Tumbuhlah ia, menjadi manusia yang digerakkan struktur. Tak menyadari dan semakin menjauhlah ia dari dirinya.

Lebih jauh lagi dalam pengkajiannya, Althusser adalah tergolong orang yang mempelopori kajian ideology mikro, ideology yang masuk sampai pada tindakan terkecil manusia, mulai dari pembicaraan yang sederhana sampai yang njelimet, dari sepak bola sampai bola dunia, dari pakaian sampai politik. Sederhananya apa yang kita bicarkan dan lakukan tak terlepas dari kungkungan ideology. Berbeda dengan Marx yang mengatakan ideology adalah kesadarn palsu, Althusser Mengatakan ideology adalah sesuatu yang “given”, terberi dan tak disadari oleh manusia sudah tertanam jauh dalam kehidupannya. Ideology adalah produk sejarah yang  menjelma secara alamiah. Semenjak lahir hingga liang lahat manusia diatur sedemikian rupa lewat mekanisme yang tak mampu disadarinya sehingga bagai kepercayaan yang irasional dan tak memiliki landasan. Inilah penegasan ideology oleh orang yang pada akhir hidupnya konon mengalami kegilaan.

Telah banyak pemikir yang mengulas sejauh kemampuannya mengkaji ideology dari sudut pandang masing-masing. De Tracy mengatakan ideology adalah  ilmu  tentang kumpulan ide, gagasan yang harus mampu dibuktikan dalam alam kenyataan dan mampu membawa manusia pada jalur moralitas, Napoleon mengatakan ideology adalah milik kaum idealis yang cenderung tak realistis, sedang Marx ideology adalah kesadaran palsu yang diciptkan Negara bagi kepentingannya, lain hal Althusser, ideology adalah kepercayaan yang secara alamiah bentukan struktur yang tanpa disadari masuk dalam diri manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa pengertian diatas secara tersirat memberikan adjektif negative(kecuali de Tracy) terhadap ideology. Lalu kenapa banyak orang yang rela  mati demi ideologinya, mengorbankan hidup tanpa memikirkan pribadinya. Setidaknya oleh Ali Syariati dalam buku Ideologi kaum intelektual, memberikan makna “emosional” terhadap ideology. Artinya bahwa ideology sudah membawa peran untuk menarik minat berbagai manusia untuk berkorban. Ali Syariati mengyakini bahwa ideology identik dengan kaum intelektual, baginya kaum intelektual seharusnya memiliki ide yang gamblang tentang ideologi untuk merumuskan jalan hidup.

Ali Syariati membedakan ilmu dan ideologi dan tidak seperti de Tracy yang pengertian ideologinya masih bersifat netral dikarenakan  ideology adalah sekumpulan ilmu yang seharusnya netral. Lain  hal dengan itu, ideology dalam pemahaman Ali syariati seharusnya tak netral, ia harus berpihak, dan jikaditanya berpihak kemana maka akan dijawab berpihak kepada Kaum tertindas. Mengapa demikian? Ali Syariati menjelaskan berdasarkan kajian kesejarahan menyangkut para Nabi yang diutus oleh Tuhan bukan sekedar membawa wahyu yang mengajarkan manusia zikir dan doa belaka, melainkan membawa pesan pembebasan akan umat yang tertindas. Menurutnya, apa yang dibawa oleh Nabi-nabi samawi adalah ideology pembebasan, ideology yang dibawa Musa untuk membebaskan kaum bani israil dari kezaliman Firaun, Isa yang dengan kasih sayangnya membelah keotoritarian penguasa Romawi dan Nabi Muhammad dengan gagasan egalitarianism dan penghulu kaum tertindas. Baginya ideology adalah pembebasan akan kaum tertindas.

Menurut Ali Syariati, ideology adalah seperangkat sistem keyakinan yang ditaati dan dimiliki oleh segenap kelompok, ras, bangsa, atupun kelas sosial  untuk dijadikan sebagai azas berperilaku yang sebagaimana seharusnya. Lebih jauh lagi Ia mengatakan ideology merupakan panggilan jiwa bagi kaum-kaum mustada’afin, dimana didalamnya memiliki kesetiaan (committed). Ulasnya, bagi seorang ideolog, ideologinya merupakan suatu keharusan, dimulai dengan sikap dan pandangan kritis untuk mendobrak status quo kaum mapan dari aspek poitik, ekonomi, kebudayaan, dan moralitas.

Terlepas dari apakah ideology memiliki peran dan makna negative ataupun terma yang memiliki daya magis, dalam kondisi seperti sekarang ini diperlukan seperangkat sistematisasi gagasan-gagasan yang mampu memeberikan visi dan pandangan dunia tertentu untuk merubah tatanan system yang terbangun dari azas penindasan dan keserekahan. Tengoklah disekitaran kita, sebagaimana yang dikatakan oleh Althusser, kita seakan-akan tak sadar dari kenyamanan dan keamanan yang dirasakan bahwa jauh dari penginderaan kita bermain kepentingan ideologis tertentu lewat struktur yang secara halus menindas kita.[]