04 April 2020

Menulis dari ”Rumah”


Sutardji Calzoum Bachri
Dijuluki ”Presiden Penyair Indonesia”
Terkenal dengan kredonya: Kata bukan beban makna





EVERY writer has an address, kata Isaac Bashevis Singer, penulis Yahudi peraih nobel sastra 1978.

Setiap penulis pasti memiliki alamat. Tanpa alamat, rumah menjadi dislokasi. Dia ada tapi tidak dapat diketahui, apalagi dijangkau.

Rumah tanpa alamat hanya menjadi tempat asing yang berarti tempat yang terputus dari denyut aktifitas, wahana tanpa interaksi. Sudah pasti ia bakal menjadi kawasan terisolasi, sekaligus bukan tempat terjadinya sosialisasi.

Bagi seorang penulis, di mata Isaac Bashevis Singer, alamat menjadi penting karena itulah portofolio seorang penulis.

Ekosistem pemikiran, jaringan berkubuan, buku bacaan, tradisi literasi, hingga jalinan lintasan gagasan menjadi penanda di mana seorang penulis pernah tinggal bertaut, dan tumbuh berkembang di dalam ”rumahnya”.

Alamat menunjukkan rumah. Rumah merawat habitus. Habitus bakal menopang kelahiran tradisi, dan hasil di ujungnya adalah kebudayaan.

Itu artinya, penulis tidak datang sekonyong-konyong lahir tanpa dasar pemikiran dan gagasan diskursif yang menopang cara pandangnya.

Ia, dengan kata lain, mesti berkecimpung dari dalam rumah, habitus tempat ia bergumul dengan kebudayaannya. Menyerap suasana batin, lintasan pemikiran dan gagasan, membentuk wawasan pengalaman, dan berdialektika di dalamnya.

Tanpa alamat, atau dengan kata lain, suatu tradisi pemikiran, penulis hanya menjadi sosok tak bertempat dan tak bernama.  Karya-karyanya bakal sulit mendapatkan tempat, diapresiasi, dan dikenang.

Babakan era kepenulisan Tanah Air menunjukkan, setiap masa melahirkan alamat rumah berbeda-beda.

Pujangga Lama, Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45, Angkatan 66, hingga kiwari, merupakan kelindan lintasan alamat yang membentuk tonggak-tonggak tradisi kepenulisan.

Jangan sepelekan bagaimana angkatan-angkatan ini saling menuding, berselisih, dan kritik alamat satu sama lain. Saling menggedor-gedor pintu rumah masing-masing, menyoal cara pandang, pendekatan, tradisi, perkubuan, yang dianggap tidak mewakili keabsahan suatu kebudayaan yang saat itu disebut budaya Indonesia.

Antara Sutan Takdir Alisjahbana vs. Sanusi Pane, Manikebu vs. Lekra, Pramoedya Ananta Toer vs. Buya Hamka, Humanisme Universal vs. Realisme Sosialis, adalah terminal-terminal sejarah, bukan saja yang berkaitan dengan tradisi kepenulisan, melainkan juga ideologi kepenulisan.

Perdebatan di antara begawan ini, mustahil lahir tanpa alamat yang menghubungkan mereka satu-sama lain. Alamat dalam hal ini bagai resume curriculum vitae lengkap dengan sinopsis bagi penulisnya untuk memasuki ruang pemikiran yang lebih besar.

Jadi, kritik mengkritik menjadi lumrah di sepanjang alamat semacam ini yang dipakai. Ingat, rumah berarti segalanya bagi penulis. Ia tradisi, pendekatan, dan latar belakang sejarah kepenulisannya.

Meski dipisahkan melalui alamat, atau bahkan dijauhkan akibat alamat yang berbeda-beda, tetap saja para pesohor ini memiliki satu hal yang membuat pemikiran dan kritik berjalan dalam lintasannya. Kesamaan itu yakni mereka dapat berbicara melalui dan dari dalam ”rumah” masing-masing.

Sutardji Calzoum Bachri, si Presiden Penyair, mengatakan setiap penulis tidak pernah menulis di atas ”kertas kosong.” Setiap penulis pasti bakal memulai lembaran tulisannya melalui kebudayaan tertentu.

Betul setiap penulis memiliki keotentikannya masing-masing, yang menunjukkan ciri khasnya, tapi tetap saja ia tidak hidup di dalam ruang hampa kebudayaan.

Ia, artinya, mau tidak mau, dan tidak bisa keluar dari sifat dan karakteristik habitat di mana ia berkecimpung menanam kaki-kaki pengalamannya.

Itu berarti, setiap penulis sebenarnya menjadi satu mata rantai dari lapisan-lapisan kebudayaan sebelumnya. Bagai lapisan tanah, ia menempati satu kontur tanah tertentu, hidup menyejarah dari itu, dan bertunas dari dalam.

If you want to live the life that can best bring you into a sense of being a civilized person, then you have to seize I through your own culture,  kata Cynthia Ozick sastrawan Amerika. Setiap penulis mau tidak mau bakal membawa sifat-sifat kebudayaannya.

Dalam skala global, dunia kiwari tidak bisa sepenuhnya seperti pendakuan para sosiolog yang dikatakan terhubung satu-sama lain, yang mengakibatkan universalisasi budaya. Toh jika itu terjadi bukan berarti setiap ”rumah” kebudayaan hilang sama sekali.

Malah, belakangan muncul istilah glokalisasi, yakni menguatnya nilai lokal yang terpancar dari kearifan masing-masing budaya di kancah global, yang ikut mewarnai kecenderungan dunia.

Ini sedikit banyak membuat rumah-rumah kebudayaan masih bisa eksis dengan segenap dinamikanya tanpa mengalami pengaruh universalisasi sama sekali. Tetap ada yang namanya cita rasa, kebiasaan, dan pandangan dunia yang eksis mempertahankan orisinalitasnya di tengah alamat globalisasi.

Ini artinya setiap rumah kebudayaan  memiliki kesempatan untuk dapat saling terkoneksi. Indonesia sebagai satu rumah kebudayaan berkesempatan dapat "mengirimkan" alamat tradisi, pendekatan, karya, dan sejarah kepenulisannya ke rumah budaya lain demi agar dapat saling mengenal dan mempelajari.

Kita mengenal alamat sastra Amerika Latin, Tradisi Prancis, Sastra Inggris, Sastra Afrika, yang besar melalui rumah kebudayaan khas masing-masing. Mereka para penghuni rumah-rumah besar yang sampai saat ini kita baca karya-karyanya. Dari mereka kita dapat belajar cara, kebiasaan, dan pendekatan bagaimana mereka membentuk rumahnya masing-masing.

Di satu sisi, hal yang sama dapat terjadi bagi kita. Dunia luar dapat juga mengunjungi rumah kebudayaan kita. Mengenal ciri-ciri masyarakatnya, sistem pengetahuannya, tradisi literasinya, karya-karyanya, karakteristik kekuasaannya, yang dilakukan untuk mengenal latar belakang mengapa Indonesia mampu melahirkan penulis sekaliber Pramoedya Ananta Toer, misalnya.

Syahdan, tidak ada penulis tanpa alamat. Justru ia membutuhkan alamat untuk membentuk kepribadian dan orisinalitas kepenulisannya.

Alamatlah yang menghubungkan kita kepada rumah-rumah para pesohor. Kepada mereka kita bisa belajar berkaitan dengan alam kebiasaan, tradisi bacaan, dan jaringan gagasan yang membentuk suatu rumah kebudayaan. Kepada mereka kita mesti banyak berinteraksi dan berpijak.

Ayo, bung! Menulis dari ”rumah”.

======


Telah dimuat di Belopainfo.id

01 April 2020

Perkubuan dan Perbukuan



Bung Hatta dan Bung Sjahrir
Saat berada di Pulau Banda Neira
di Belakang nampak badan pesawat Catalina milik Belanda



Buku
: Jeihan

bukuku
kubuku



1973    


KISAH Sukarno adalah kisah perkubuan buku. Kisah Mohammad Hatta adalah kisah perkubuan buku. Kisah Tan Malaka adalah kisah perkubuan buku. Kisah Sjahrir adalah kisah perkubuan buku. Semua founding fathers bangsa Indonesia, mulai dari Tirto Adhi Suerjo hingga H.O.S Cokroaminoto kisah perkubuan buku.

Buku adalah palang pertama dan kubu terakhir. Kisah Sukarno menyusun naskah Indonesia Menggugat adalah kisah keintiman buku, yang secara cemerlang ia susun dari bahan baku 66 nama tokoh yang tersebar di 33 judul buku.

Mulai dari Albarda sampai Engels, Herbert Spencer sampai Karl Kautsky, Sun Yan Set hingga Snouck Hurgonje. Mulai dari Bagawad Gita sampai Das Capital, Max Havelaar sampai The Outline of History,  dari Bintang Timoer sampai The Great Pacific War.

Kisah Mohammad Hatta meminang istrinya dengan buku Alam Pikiran Yunani karangannya sendiri, juga kisah perkubuan buku. Ia rela menerima tubuhnya dikerangkeng sekat tembok, sekaligus menolak pikirannya tunduk oleh sekotak sel penjara, hanya dengan buku.

Saat pulang dari pulau pengasingan Banda Neira, Hatta kelimpungan 16 peti bukunya tidak sanggup diangkut pesawat Catalina milik Dinas Militer Belanda. Buku adalah kunci kebebasaannya melayangkan sayap-sayap pikiran dan imajinasi ke dalam dunia tak terpemanai.

Tan Malaka apalagi. Jomlo revolusioner ini mesti rela berkali-kali gagal membina hubungan asmara karena aktivitas politiknya yang lebih intim dengan perbukuan.  Ia malah rela tidak makan asal bisa membeli buku.


Jalur gerilyanya dari Belanda, Manila, Shanghai, Xiamen, Singapura, dan tiba di Jakarta, tidak bisa dibilang hanya aktivitas kejar-kejaran dengan intel-intel penjajah. Itu juga merupakan rangkaian jaringan pengetahuan dari buku sebagai teman perjalanannya.

”Seumur hidupnya, Tan hanya punya satu stel pakaian, buku tulis, helm, dan topi. Yang lainnya tidak ada,” kata Harry Poeze, seperti dikutip dalam Kehidupan dan Kematian Tan Malakadari, Lokadata.id.

Buku Naar de Republiek Indonesia (1925) yang berisi pemikiran soal kemerdekaan Indonesia, adalah anak ideologisnya dari keintimannya berkubu buku.

Jangan lupakan Sutan Sjahrir. Sosok dari Tiga Serangkai di masa perjuangan, yang selama bersekolah di Mulo, Medan, sudah banyak menghabiskan buku-buku novel berbahasa Belanda.

Tidak kalah dari Sukarno dan Bung Hatta, si Bung Kecil ini juga pelahap buku. Semenjak bersekolah di Belanda ia kerap membuat seniornya kerepotan meminjam buku.

Kisah perkubuan Buku Sjahrir dicatat Rudolf  Mrazek dalam biografi Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia sebagai peminjam buku bebal yang tidak pernah ia kembalikan.  

”Saya masih terus disibukkan dengan nota-nota, surat-surat dari Perpustakaan Leiden yang meminta agar saya mengembalikan buku-buku itu, atau membayar dendanya,” ujar Joss Riekerk, senior Sjahrir selama di Belanda, kepada Mrazek dalam Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Buku, Historia.id.

Di masa pergolakan, kehidupan begawan bangsa membuat buku sebagai bahan baku perjuangan. Buku sebagai alat taktis merupakan demarkasi penentuan di kubu mana keberpihakan diletakkan. 

Sukarno menggugat persidangan Belanda melalui buku, seperti Hatta melawan kerangkeng tembok penjara dengan buku, juga sebagaimana Sjahrir membangkang lewat buku.

Buku di tangan mereka menjadi kubu pertahanan yang difungsikan untuk menyerang kolonialime, walaupun portofolio pendiri bangsa ini hasil rahim pendidikan tuan-tuan negeri asing.

Coba lihat, seperti  kubu yang berisi pasukan, alutista, dan logistik,  buku juga berisi pikiran, gagasan, dan sekaligus perasaan yang mencerminkan kekuatan pertahanan pemikirnya.

Itu sebab, buku bukan saja sebagai demarkasi politis yang memantik nasionalisme, buku juga memiliki daya perubahan sosial mengubah nilai-nilai kemanusiaan, bahkan dalam keadaan terjajah sekalipun.

Jadi jelas artinya. Buku tidak sekadar tanda nama yang menunjukkan jabatan, rekam jejak, dan profesi seseorang. Ia malah melebihi kualitas cover semacam itu, yang membuat orang lupa, buku juga berarti olahan gagasan untuk menyatakan sikap dan tanggung jawab perubahan.

”Senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan maupun pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan nilai-nilai kemanusiaan dan kemasyarakatan, adalah buku,”  ungkap Mochtar Lubis.

Sekarang, semesta perbukuan marak dengan jaringan perkubuan. Masing-masing dengan ragam dan metodenya memiliki visi yang kurang lebih mirip satu sama lain: memukul mundur kepandiran.

Itu artinya, melawan kepandiran sama politisnya perkubuan buku founding fathers. Mereka tahu, aktivitas perjuangan mesti disigi buku-buku. Membangun suatu bangsa mesti digalakkan dari sikap elegan berpihak kepada gagasan dan pemikiran yang ditemukan dalam buku.

Bukuku kubuku, kata penyair Jeihan di atas. Perhatikan! Yang mana barak pertahanan, dan yang mana  alutistanya? 

=====

Telah tayang di DialektikaReview.Org

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...