02 Desember 2018

Fundamentalisme Pasar dan Agama


Jean Baudrillard. 
Filsuf, Sosiolog dan Fotografer asal Prancis. 
Baudrillard dikenal karena teori-teori kebudayaan dan Posmodern

DUA REZIM FUNDAMENTALIS. Kiwari, nyaris semua yang dibayangkan, dipikirkan, dibicarakan, diedarkan dan dilakukan diringsek dua rezim fundamentalis: pasar dan agama.


Rezim pasar, seperti sudah diketahui menjelma menjadi arah bagi apa pun: ideologi, kebudayaan, dan bahkan politik. Di bawah bayang-bayang kapitalisme ---puncak dari rezim pasar--- ketiga-tiganya ibarat sekrup yang menopang kapitalisme dari bawah.

Teori marxian paling jelas mengutarakan ini. Bahwa kapitalisme adalah satu-satunya tonggak segalanya dinyatakan. Melalui analisis supra struktur-basic struktur, analisis marxian menerangkan bahwa pola-pola eksistensi dari hukum, politik, budaya, dan juga agama hanyalah variabel yang disenyawai spirit ekonomi.

Dalam hal ini kapitalisme, satu-satunya ideologi yang tanpa tanding itu menjadi dasar bagi seluruh aktivitas peradaban manusia.

Ekonomi dengan kata lain dalam analisis marxian adalah motif dasar dari masyarakat meneguhkan keberadaannya.

Melalui analisis marxian, nampak jelas misalnya, konflik-konflik kebudayaan, perang atas nama nasionalisme, perebutan kekuasaan politik, dan perampasan hak-hak dasar manusia hanyalah anasir dari kepentingan ekonomi. Bahkan, dalam sejarah kolonialisme Indonesia, nampak jelas pula agenda pasar bercokol dibalik digdayanya VOC kala itu.

Abad 21 dunia yang banyak berubah. Segalanya dinamis dan terus bergerak. Kehidupan juga ibarat angin, bergerak, melayang, dan berhembus sesuai cela-cela yang dilaluinya.

Kapitalisme, anak kandung modernisasi masyarakat Eropa abad 16-19, hari ini juga telah banyak berubah.

Belakangan, wacana kapitalisme abad 21 masih terus dibicarakan. Ini menandai betapa kukuhnya ia hingga sekarang masih dapat bertahan di era yang terus berkembang.

Dulu, ada yang sering katakan ---di tempat-tempat diskusi--- kapitalisme sangat pandai bermetamorfosis. Ia kerap kebal dari kritikan yang ditujukan kepadanya. Sosialisme yang menjadi lawan abadinya dibuat kalang kabut mengikuti ritme pertumbuhannya.

Adalah Jean Baudrillard salah satu pemikir marxis yang berhasil mengemukakan metamorfosis kapitalisme. Mulanya kapitalisme dibaca dengan rumus produksi kapital, namun seiring berkembang kapitalisme juga memproduksi hasrat (dari mode of production berubah menjadi mode of consumption).

Perubahan mode of production dari kapitalisme ini-lah yang dapat menjelaskan mengapa kapitalisme terus bertahan. Ia terus menciptakan dan melipatgandakan hasrat pembeli di samping produk dan modalnya (para pemikir marxis yang lain bahkan juga berhasil menunjukkan bahwa ruang adalah salah satu elemen penting bagi kapitalisme untuk meluaskan pangsa pasarnya).

Hasrat dalam hal ini tidak lagi sebatas keadaan psikologis semata. Melalui kapitalisme ia malah menjadi mesin yang mendorong masyarakat lebih konsumtif dan gilaan-gilaan untuk berbelanja (itulah mengapa iklan menjadi penting di dalam skema mode of consumption kapitalisme).

Dalam tataran kenegaraan, kapitalisme selalu dipuja sebagai paham pembangunan. Ide-ide neoliberalisme dalam hal ini adalah derivasi dari kapitalisme menjadi satu-satunya kiblat maju tidaknya suatu negara.

Sementara rezim fundamentalis agama sering mengambil wajah berupa paham ektremisme keagamaan yang sempit dan dangkal. Bagi rezim agama, seluruh tafsir kehidupan tidak layak disandarkan kepada sumber-sumber di luar dirinya.

Agama adalah satu-satunya alat epistem untuk menerangkan dunia. Malangnya, seluruh tafsir yang dibangun adalah cara pandang yang bersifat monolitik dan literlek- harfiah.

Kemunculan jaringan Al Qaeda, ISIS, Boko Haram, Al Nusra Front dan sejenisnya merupakan salah satu contoh berupa konsekuensi dari pandangan keagamaan yang literlek dan sempit.

Dengan kata lain, kemunculan kelompok ekstremis keagamaan tidak muncul begitu saja, melainkan ada prasyarat-prasyarat yang mendasarinya, dan salah satunya adalah kecacatan epistemologis dalam memahami agama.

Akan jauh lebih menarik jika prasyarat-prasyarat itu ditelusuri. Apakah ada hubungan rendahnya taraf hidup, tingkat pendidikan yang rendah, buta peta politik, paham gender, tradisi, dan harapan-harapan yang tidak sempat terealisasi akibat tertutupnya akses masyarakat ke dalam sumber-sumber daya yang mampu mengangkat harkat dan martabat hidupnya oleh suatu tatanan sebelumnya dengan betapa cepatnya kelompok ekstremis mendapat tempat di ruang sosial yang begitu besar.

Tapi, satu hal yang mesti diwaspadai, kecacatan dalam memahami agama dan terbuka lebarnya determinasi politik di dalam kehidupan masyarakat akan membuka peluang bagi kelompok yang dimaksud dapat tumbuh subur.

Di tanah air kasus-kasus belakangan berupa demo berjilid dan sebagainya, adalah ekses buruk ketika kepincangan memahami agama dan politik dipertemukan. Agama yang semestinya menjadi rahmat bagi kehidupan lantaran kekuasaan politik malah menjadi kekuatan disintegritas yang melukai jiwa kolektif bangsa ini.

Rezim agama dalam hal ini juga menandakan tafsir agama kadang disesuaikan melalui tafsir politik. Bahkan lebih parah lagi, tafsir politik dilegitimasi oleh tafsir agama. Yang belakangan, ketika tafsir politik dilegitimasi tafsir agama, maka menimbulkan kisruh berkepanjangan. Agama justru menjadi sumbu kecurigaan akibat dinilai terlalu politis.

Bagaimana dengan hasrat dalam kaitannya dengan agama? Sebagaimana hasrat dalam kapitalisme mutakhir, hasrat dalam beragama juga menunjukkan kedudukan yang hampir sama ketika disandingkan dengan kepentingan ekonomi. Melalui hubungan yang telanjang, agama yang tidak dibekali ilmu yang memadai akan memberikan hasrat lebih berpeluang ketika mengalami agama.

Dengan kata lain, agama yang dibekali hasrat hanya membuat orang terjebak kepada agama artifisial. Di tangan orang-orang yang berhasrat beragama, agama hanyalah tubuh tanpa jiwa, hanya menjadi pakaian semata.

Fenomena agama macam demikian mirip-mirip produk-produk dalam semesta kapitalisme. Ia tergeletak persis komoditas yang sibuk memperlihatkan kualitas dari penampilan fisik semata. Kualitas agama dengan kata lain menjadi terabaikan hanya karena agama dilihat dari segi popularitas semata. Semakin massif ia, semakin tinggilah agama itu.

Entah apakah ada analisis mengenai ini: bahwa hasrat agama yang demikian menggebu memiliki dua modus belakangan ini, yakni modus paling soft-nya adalah fenomena hijrahnya generasi anak muda kepada pemuka agama populis. Seperti misalnya di kalangan artis-artis, hasrat beragama sering muncul bersamaan dengan berubahnya penampilan lahiriah busana daripada pemahaman mendalam terhadap agamanya.

Contoh lainnya adalah merebaknya majelis-majelis agama yang berkumpul atas nama tabligh, dakwah, pengajian, atau pertemuan hijabers seperti nampak massif disiarkan melalui layar kaca.

Fenomena modus seperti ini sadar tidak sadar berhasil menstimulasi hasrat orang-orang agar lebih mendalami agama dengan tujuan bukan sekadar atas asas pencarian ilmu, namun juga sudah menyertakan unsur-unsur gaya hidup yang lebih agamamis (seperti misalnya berbusana muslim dinilai telah kaffah beragama dan yang berbusana apa adanya dipandang masih rendah imannya).

Sementara modus hard-nya, adalah tampilnya kelompok agama yang memanfaatkan jalur-jalur politik untuk merebut kekuasaan (kasus HTI, barangkali tepat menunjukkan hal ini).

Hasrat dalam fenomena ini ikut dimodifikasi seiring naik turunnya eskalasi konflik atas nama politik identitas yang berhasil membelah masyarakat ke dalam kelompok-kelompok kepentingan.

Hasrat yang muncul dengan modus hard-nya inilah yang berpeluang melahirkan kelompok-kelompok ekstrem agama di atas tadi. Inti dari ini adalah bahwa agama yang didasari hasrat buta justru hanya membuat masyarakat semakin dekaden dan terbelakang daripada memajukan masyarakat.

28 November 2018

Kota dan Kemanusiaan


Joseph Campbell
Mitolog dan Sejarawan asal Amerika Serikat. 
Salah satu karyanya berjudul The Power of Myth

KOTA. Di kota-kota, tiap-tiap orang adalah individu. Tiap-tiap orang adalah person.

Di kota, kawasan yang semakin hari kian menggeliat perkembangan ekonominya, budayanya, politiknya, pendidikannya, membuat orang-orang hidup dalam kesakitan prahara; berdekatan tapi sekaligus berjarak, welas asih tapi beringas, banyak yang hidup sejahtera tapi tidak sedikit pemukiman kumuh bermunculan, orang-orang dari hari ke hari semakin asing satu sama lain.

Mereka kian maju, namun tanpa disadari ada yang susut dari itu semua: solidaritas.

Mungkin karena itu, di alam modern tidak ada terma khusus yang khas menunjuk kepada titik pusat yang menjadi sumber fenomena di atas selain dari pada individu. Suatu kemampuan otonom yang meneguhkan kemandirian dalam diri masyarakat. Individu dalam hal ini ibarat inti atom yang bebas bergerak, dinamis dan tanpa tekanan. Sesuatu yang "tidak bisa lagi dibagi", yang bebas dalam dirinya sendiri.

Itulah sebabnya di kota, orang jarang terikat secara sentimentil. Setiap orang memiliki kehidupan yang kian dinamis dan berubah. Ia adalah suatu modus kehidupan garis lurus dan serentak. Rasa cemas dan optimisme menjadi satu kesatuan paket. Tiap individu berhak mencari petualangan, tapi dengan risiko kehilangan titik pulang.

Dengan kata lain, di alaf modernisme, tidak ada ruang-waktu yang stagnan. Segalanya drastis bergerak...

Di titik kehidupan yang luruh dalam waktu itulah individu jadi susut, tangkas, dan juga cepat. Ia menjadi mahluk kerdil namun sekaligus menjadi mekanik dan juga teknis.

Ada pepatah Yunani berbunyi: Matia pu de vleponde, grigora lismoniunde. Barang siapa jarang bertemu, niscaya saling melupakan satu sama lain.

Di kota, yang semakin susut, yang tangkas, dan yang cepat membuat ikatan makin minim dan mungil. Interaksi, ikatan yang membuat seseorang menjadi "bermasyarakat", hanyalah pertemuan yang dililit waktu yang semakin teknis. Membuat orang-orang jadi jarang bertemu. Dan pada akhirnya satu sama lainnya saling melupakan.

Toh jika ada silang pertemuan; saling berbicara; saling memperhatikan; tapi tetap saja tidak ada simpul yang terjalin. Tidak ada apa-apa di sana. Seolah-olah di balik itu setiap orang berinteraksi dikejar-kejar sesuatu agar segera mesti dituntaskan.

Bagi masyarakat perkotaan, setiap pertemuan hanyalah peluang untuk saling salib. Dengan rumus yang hampir sama setiap tindakan mesti efisien dan efektif.

Tapi, di situlah masalahnya. Di bawah bayang-bayang kehidupan modern selalu ada sisi gelap yang gagal diperhitungkan. Bagi masyarakat modern, kehidupan dengan perhitungan yang efektif dan efisien membuatnya miskin makna. Yang serba tangkas, cepat dan dinamis pada akhirnya menjadi krisis.

Manusia modern dengan kata lain adalah orang-orang yang tercerabut dari akar-akar kebersamaannya ---indikator yang mendasari suatu masyarakat dapat eksis. Dalam pepatah Yunani tadi manusia modern saling melupakan akibat hilangnya keintiman melalui pertemuan. Barang siapa jarang berinteraksi, ia lenyap begitu saja.

Belakangan, di tengah kekosongan atas yang intim, masyarakat kota dipertemukan kembali ke dalam hubungan-hubungan yang kian formal. Masyarakat kota, seperti pendakuan Durkheim, tidak sepenuhnya menghilangkan semangat soliditasnya, hanya saja semua itu diganti ulang dengan apa yang disebut asas profesionalitas. Orang-orang terhubung dalam ikatan pekerjaan, profesi, kepentingan ekonomi, dan yang paling kekinian: politik.

Tapi, bukan berarti itu menutupi soal-soal di atas. Jaringan dengan dasar formalitas anehnya malah ikut memformat ulang hubungan-hubungan sosial di dalamnya. Ketika sebelumnya sudah kosong dari keintiman interaksi, hubungan dengan asas profesi itu memiliki konsekuensi yang lumayan mahal; kebersamaan kian tinggi harganya, solidaritas kian sulit dijangkau. Semua itu terjadi oleh sebab setiap relasi hanya mungkin jika membuat gemuk lingkaran kekerabatan individu.

Potret masyarakat perkotaan seperti gambar yang dicetak digital. Paduan warnanya, letak gambarnya, tajam halus gradasinya dibikin dari unsur sistem yang berbau mesin dan teknis. Dari cara semacam itu, gambar digital memang berhasil menjadi gambar yang presisi dan tepat, namun sekaligus sebenarnya hanyalah gambar yang hampa tanpa unsur estetik.

Hilangnya unsur estetis dalam gambar digital dengan kata lain hanya menjadi gambar kaku tanpa jiwa, apalagi bakal tidak mampu menerbitan perasaan haru biru. Sesuatu yang sangat sentimentil, emotif, dan menggerakkan. Singkatnya, gambar digital hanyalah gambar tanpa dimensi kemanusiaan.

Masyarakat kota yang sekaligus juga terbitnya masyarakat modern membutuhkan dimensi yang lebih manusiawi alih-alih hanya mendudukkan rasionalitas sebagai satu-satunya ukuran progresifitas.

Masyarakat kota harus dilihat sebagai suatu lukisan. Pencitraan yang lahir dari dimensi intrinstik manusia yang disebut jiwa. Setiap goresan dan warnanya lahir atas dasar kedalaman intuitif yang jujur sehingga menghasilkan pemandangan yang hidup dan dinamis. Suatu yang menyedot pengalaman dalam aktivitas intim satu sama lain, yang bakal menghasilkan pengalaman kolektif dan empatik.

Gambar digital karena itu tidak mampu berkisah apa-apa. Ia gambar yang mati. Berbeda dari lukisan yang hidup dan mampu berkisah tentang sesuatu yang diwakilkan melalui gambarnya, warnannya, dimensinya, gradasinya...

Joseph Campbell, seorang scholar mitologi, dalam Ruang Sadar tak Berpagar tulisan Alwy Rachman, mengkritik masyarakat modern yang semakin ke sini semakin kehilangan kisah. Menurut Campbell, kisah adalah elemen fundamental bagi manusia. Dia menggerakkan sekaligus memberikan dasar maknawi bagi perilaku manusia.

Sebagaimana terangkum dalam mitos, legenda, atau tradisi kerakyatan, kisah adalah urat nadi yang memelihara jiwa manusia tetap memiliki dasar manusiawinya. Kisah dalam arti demikian adalah jangkar solidaritas masyarakat untuk mengartikulasikan kebersamaannya, kepekaannya, dan keintimannya ke dalam satu komunitas yang saling menopang dan mendukung. Manusia ada karena terhubung dengan keberadaan yang lain, begitu singkatnya.

Lalu, saat masyarakat kota kehilangan kisah---yang masih banyak ditemukan di pelosok desa-desa-- yang dengan itu tiap-tiap individu menemukan kedalaman eksistensinya dalam kebersamaan, dengan apa lagi mengisi lubang jiwa yang semakin hari semakin teriris?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...