08 Mei 2020

Merisik 5 Jalan Permenungan dari Rumah


PANDEMI corona, selama lebih sebulan ini, diterima tidak diterima, berhasil mendesak manusia mengurung diri sampai ke pertahanan terakhirnya. Perkumpulan banyak orang di pasar, kantor, masjid, terminal, sekolah, warung kopi, dlsb., dipecah menjadi satuan atomik terpisah-pisah sampai ke rumah-rumah.

Di tempat inilah, semua pekerjaan yang sering dilakukan di luar mesti diambil alih dari rumah. Mendadak rumah jadi kantor, rumah jadi sekolah, dan rumah jadi tempat ibadah. Singkatnya, pandemi corona telah mengurai seluruh aktivitas kepublikan menjadi sebatas wilayah domestik.

Menarik sebenarnya melihat gejala ini dari sisi seperti apa masyarakat merespon perubahan mendadak ini. Di samping struktur ekonomi, politik, dan budaya ikut berubah, struktur agama juga mau tidak mau ikut berubah.

Fenomena ditutupnya masjid, berhentinya pengajian, nonaktifnya salat berjamaah, berkurangnya kas masjid, sampai menganggurnya imam memimpin salat, merupakan dampak langsung dari masifnya penyebaran corona.

Tulisan sederhana ini, ingin melihat peluang berharga apa yang bisa diambil dari ujian yang dihadapi dunia saat ini, terutama bagi umat Islam di tanah air.

1. Kembali merefleksikan yang sakral

Emile Durkheim, sosiolog Prancis dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life menulis inti seluruh agama berasal dari konsep sederhana tentang apa yang sakral dan yang tidak sakral.

Prinsip sakral tidak sakral ini merupakan ejawantah dari apa yang suci dan tidak suci. Tuhan suci maka ia sakral, malaikat suci maka ia sakral, nabi itu suci maka ia sakral. Konsep semacam ini, juga berlaku pada praktik-praktik peribadatan. Salat itu sakral karena ia ibadah yang suci. Itu sebabnya, bukan saja salat, setiap ingin melakukan peribadatan umat muslim wajib sebelumnya bersuci.

Jika, ada pertanyaan apakah salat di rumah mengurangi kadar kesakralannya dibanding salat berjamaah di masjid? Jika berdoa selain di masjid apakah mengurangi kadar pahalanya? Jika bersedekah di masjid akan sama jika itu dilakukan di tempat-tempat lain?

Selama salat, berdoa, dan bersedekah masih bisa dilakukan di rumah, semua usaha itu insya Allah tidak mengurangi kadar kesakralannya. Salat berjamaah di masjid meski penting, itu bisa disebut cara atau pakem tradisi. Berdoa di rumah Allah meski dianjurkan, merupakan kebiasaan baik yang tidak ada salahnya dapat dilakukan di banyak tempat. Bersedekah apa lagi, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Makna physical distancing, dengan melihat kenyataan di atas, dapat berfungsi sebagai wahana refleksi untuk memikirkan ulang apa sebenarnya yang kita harapkan dari cara kita beragama hari ini. Apakah kita beragama hari ini hanya sekadar mengejar ”tradisi” atau ”inti agamanya” itu sendiri?

2. Kemungkinan melakukan refleksi untuk hidup otentik

Hidup otentik adalah hidup jujur. Hidup sesuai kata hati, atau hidup atas dasar pilihan otonom sebagai mahkluk berkesadaran.

Kiwari, karena desakan publik, banyak orang hidup dengan kepalsuan. Banyak orang menjalani kehidupannya bukan atas dasar usulan-usulan kata hatinya, atau hasil pertimbangan akal budinya.
Atas dasar penampilan, banyak orang melakukan oplas. Atas nama kekuasaan, tidak sedikit pemimpin bermain peran baik. Atas nama kasih sayang, seorang suami pura-pura perhatian kepada istrinya. Atas nama agama, si munafik berpura-pura taat beragama.

Singkatnya, atas kehendak mayoritas, seseorang kehilangan suara hati dan akal sehatnya dalam menentukan keputusan pribadinya.

Corona, toh jika ia mendatangkan banyak kerugian, tetap saja menyimpan banyak hikmah. Salah satunya, kedatangannya menyediakan peluang bagi kita dapat berpikir ulang mengenai kepribadian kita.

Apakah selama ini setiap keputusan saya ambil atas desakan banyak orang atau pertimbangan pribadi? Apakah  selama ini saya bekerja untuk mencari harta atau rizki? Apakah saya menikah atas dasar kasih sayang atau nafsu semata? Apakah saya berbelanja demi kepuasan atau kebutuhan? Apakah saya beribadah agar terlihat religius atau alim? Apakah selama ini saya telah menjadi diri sendiri?

3. Banyak waktu memperdalam ilmu agama

Selama masa physical distancing banyak hal-hal kecil yang selama ini diabaikan dapat dilakukan. Jika selama dalam kedaan ”normal” kadang kita lupa merawat bunga-bunga, membersihkan gudang, menyervis kendaraan, dan merawat anak, di waktu sekaranglah momen yang tepat untuk memerhatikan hal-hal ”sekunder” semacam itu.

Selain hal-hal di atas, sekaranglah saat yang tepat agar Anda dapat kembali menyervis diri dengan memperdalam ilmu agama. Jika selama ini banyak waktu habis karena pekerjaan, sudah saatnya Anda mengambil buku di almari Anda. Buka dan bacalah tulisan-tulisan sekaliber Quraish Shihab, Gusdur, atau Jalaluddin Rakhmat untuk merefresh kembali pemahaman agama yang belakangan kian baku dan kaku.

Jika Anda ingin menukik lebih dalam, baca dan kaji dengan penuh khidmat ayat-ayat suci Al Qur’an. Bacalah dalam keadaan tartil yang jika sampai kepada ayat-ayat tentang neraka seolah-olah Anda merasakan panasnya api neraka, dan jika tiba di ayat-ayat tentang surga seakan-akan Anda ingin secepat mungkin berada di depan pintunya. Wallahu a’lam bishawab.

4. Berkhidmat kepada keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Meski demikian, anehnya, bagi masyarakat pekerja, akibat kesibukan di kantor membuat banyak waktu tersisa dari keluarga. Agak dilematis memang jika mengingat tujuan akhir semua itu dilakukan demi keluarga juga.

Berhubung sekarang sebagian besar pekerjaan dilakukan di rumah, Anda dapat lebih banyak waktu bersama keluarga. Setelah Anda selesai meeting via online dan menutup laptop, segeralah cari Anak anda. Peluk dan gendonglah ia seolah-olah itu sudah lama tidak Anda lakukan. Ajak ia bermain di teras atau berlari-lari kecil tidak jauh dari halaman rumah Anda.

Jika Anak anda sudah dewasa, ajaklah ia bersama-sama memperbaiki mesin air yang rusak, atau mengajaknya naik di loteng mencari genteng yang sudah seminggu bocor dan butuh dibetulkan.

Bagaimana dengan anak perempuan dan istri Anda? Segeralah memesan makanan via ojol, manjakan mereka dengan makanan yang sudah lama ingin mereka nikmati. Terutama istri Anda, jangan lupakan ia yang selama ini berjuang di ”belakang” demi menopang rumah tangga dapat terus berjalan. Yang terakhir ini jika dilewatkan akan panjang urusannya.

5. Bersiap memasuki Ramadan

Kurang seminggu lagi umat muslim bakal memasuki bulan suci Ramadan. Tahun ini, berkat corona, umat muslim akan memasuki bulan puasa terberat dari biasanya. Meskipun demikian, bukan berarti respon umat muslim atas ujian ini mengurangi semangat kita saat menjalani ibadah puasa kelak. Bahkan semakin berat rintangannya, semakin besar pula nilai ibadah yang bakal diraih.

Sejak Indonesia darurat corona, tidak satu pun seantero negeri dibuat tenang hidupnya. Selain karena belum ditemukan obat dan anti vaksinnya, karakteristik penyebaran virus yang super cepat, serta semakin banyaknya korban berjatuhan membuat semua pihak merasa was-was, resah, khawatir, dan takut. Seolah-olah virus corona bakal datang mengetuk setiap pintu rumah  masing-masing kita. Mudah-mudahan tidak!

Sesungguhnya suatu cobaan tidak bakal melebihi kapasitas orang yang sedang diuji. Di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Setiap ujian pasti ada hikmahnya.

Masih banyak lagi kalimat serupa yang bisa dipetik dari Al Qur’an dan hadis, yang mengindikasikan bahwa apa yang sedang melanda negeri ini merupakan ujian bagi kita semua, dan akan berakhir dengan kualitas yang lebih baik.

Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa optimis dan tidak mudah menyerah. Seberat-beratnya ujian virus corona, cepat atau lambat kita akan segera melaluinya. Satu hal yang pasti, seluruh ujian ditimbulkan dari pandemi ini merupakan pelajaran berharga bagi Ramadan nanti. Ia menjadi timbangan yang ikut menaikkan kualitas ibadah puasa nanti. Selain usaha, tawakal adalah kuncinya. Berpasrah diri kepadaNya.

07 Mei 2020

Esai Pengantar Arwah Luis Sepúlveda, Penulis Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta

Rest in Peace Luis Sepúlveda (1949-2020).

BUKU ini tipis saja, dan setelah membacanya, sampai sekarang saya masih ”berutang budi” kepada penulis buku ini. Saya belum sekalipun menyempatkan menulis beberapa kata atas pengalaman membaca kisah memukau yang ditulis orang yang pernah diasingkan rezim militer Pinochet, semenjak ia muda ini.

Sampai akhirnya saya membaca status penerjemah buku yang berjudul asli Un viejo que leia historia de amor, Ronny Agustinus, tadi malam. Pemilik penerbit Marjin Kiri itu mengabarkan sang penulis wafat karena telah seminggu lebih berjuang melawan virus corona di tubuhnya.

Diberitakan La Vanguardia, salah satu media di Spanyol, Sepúlveda mengalami gejala Covid-19 setelah pulang dari festival sastra Correntes d’Escritas in Póvoa de Varzim di Portugal.

Sepúlveda mengembuskan nafas terakhirnya pada Kamis (16/4/2020), setelah lebih enam pekan sejak 25 Februari terdeteksi mengalami gejala corona di Rumah Sakit Pusat Universitas Asturias (Oviedo).

Berita kematian peraih Tigre Juan Award pada tahun 1989 atas bukunya ini, dan sudah lama berutang budi terhadap ceritanya yang berkesan, mendorong saya dengan sendirinya menulis tulisan ini.

Entah mengapa, saya seolah-olah masih terjebak di dalam belantara hutan Amazon, dan tidak bisa lepas dari keterperanjatan menyaksikan kuku cakar dan taring macan kumbang yang tiba-tiba datang, mengendus-endus, dan bergulat di perkelahian babak akhir dengan si Pak Tua Antonio Jose Bolivar Proano, tokoh kunci dari Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta.

Antonio Jose Bolivar Proano awalnya bisa dibilang bagian masyarakat koloni yang ada irisannya dengan gerakan misionaris para Jesuit di abad 19, yang masuk  berdakwah di hutan perawan Amazon.

Mereka hidup menerapkan praktik religius bersama masyarakat miskin campuran Eropa-Amerika Latin di gunung-gunung dengan menggunakan poncho, pakaian khas menyerupai mantel untuk menghalau hawa dingin angin pegunungan.

Misi kristenisasi para Jesuit ini dalam kenyataannya berdampak jauh mengubah pola hidup suku-suku asli di hutan Amazon.

Tradisi hidup ala masyarakat Eropa mau tak mau berbaur dengan masyarakat setempat melalui penggunaan bahasa Spanyol yang menggantikan bahasa asli suku pedalaman, berkurangnya peperangan antara suku, pembukaan lahan baru, dan tentu pada akhirnya, semua itu akan terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi pasar yang tidak dikenal sebelumnya di kawasan itu.

Bolivar korban pergunjingan masyarakatnya, oleh satu sebab yakni istrinya yang tak mampu menghasilkan anak dan mengalami semacam menstruasi berkepanjangan, sehingga mengundang pandangan miring dari orang di sekitarnya.

Mesti Anda ketahui bagaimana keyakinan masyarakat pedalaman hutan Amazon, terutama bagi perempuan yang mengalami menstruasi. Perempuan yang mengalami menstruasi akan dianggap kotor, najis, dan bahkan mesti dikucilkan dari pergaulan sehari-hari.

Orang-orang pedalaman Amazon bahkan rela membuatkan sebilik rumah menyerupai kandang, dan sebuah lubang di tanah menyerupai kloset jauh dari dalam pemukiman untuk mengisolasi perempuan menstruasi. Bayangkan tanpa pembalut, perempuan menstruasi hanya mengandalkan daun-daunan dan membiarkan darahnya jatuh menetes di lubang tanah yang sudah dibuat sebelumnya.

Luis Sepúlveda (1949-2020)

Tak tahan jadi korban gosip tidak-tidak, Bolivar bersama istrinya bernama lengkap Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo akhirnya mengungsi dari gunung dan masuk ke tengah hutan, dan tiba di tempat bernama El Idilio, suatu kawasan yang dibuka untuk dijadikan pemukiman baru.

Di El Idilio ini, setelah gagal hidup berbulan-bulan bercocok tanam akibat minim pengetahuan mengenai karakter lingkungannya, Bolivar bertemu orang Shuar suku pemburu yang suka menciutkan kepala musuh-musuhnya dengan cara mengawetkannya seperti dendeng sapi, atau lebih tepatnya orang Shuar-lah yang menemukan Bolivar. Bersama beberapa orang yang kelimpungan, Bolivar mulai putus asa dan merasa kalah dari hutan rimba beserta hewan-hewan buas yang menghabisi mereka satu per satu.

Orang Shuar adalah orang Indian semi nomaden yang banyak tinggal di hutan hujan tropis di antara pegunungan Andes, dan di hutan hujan tropis dan sabana di dataran rendah Amazon, di Ekuador meluas sampai ke Peru. Dari orang Shuar-lah Bolivar belajar bagaimana hidup seharusnya di tengah hutan.

”Bersama mereka ia abaikan adat kesopanan Katolik udiknya. Ia berjalan-jalan setengah telanjang dan menghindari kontak dengan pemukim-pemukim baru, yang menganggapnya orang gila” (hal. 31).

Di titik inilah, menurut saya permulaan yang menandai bagaimana Bolivar belajar dan berusaha menyatu dengan adat dan tradisi masyarakat asli Amazon, yang mendudukkan hutan sebagai episentrum kehidupan yang diistimewakan.

Di titik ini juga Bolivar belajar cara berjalan di dalam hutan, berenang,  belajar mengenal jejak hewan buruan dan berusaha mengenal hewan buruannya hanya dari warna tainya. Di lain waktu bersama sahabatnya, Nushino, berburu ular dan menukarkan bisanya dengan sebilah parang atau sekantong garam.

Di titik ini pulalah, saya bisa katakan, bagaimana seharusnya kehidupan peradaban modern mesti menghormati dan mengakui ”peradaban” lain yang dirawat dari cara hidup suku-suku asli pedalaman hutan Amazon.

”Untuk menghormatinya, mereka lukis tubuhnya dengan warna-warni ular boa dan memintanya bergabung dalam tarian” (hal.35). Penerimaan Bolivar sebagai bagian dari kehidupan asli suku Shuar diupacarakan dengan meminum natema, suatu minuman khusus yang berefek halusinatif diramu dari akar tumbuhan yahuasa.

Bolivar telah dinyatakan lulus setelah lolos dari maut yang disebut ”perploncoan” dewa-dewa jahat yang mengujinya lewat gigitan ular yang membuat tubuhnya demam dan menggigil berhari-hari saat mencari buah di dalam hutan.

Di akhir kisahnya, kematian si betina macan kumbang—hewan yang membuat cerita ini menjadi lebih menarik, bukanlah akhir pertarungan yang diharapkan Pak Tua Bolivar.

Ia bahkan diliputi rasa malu, nista, dan tak berguna sama sekali setelah membunuh hewan yang sakral bagi masyarakat dan hutan semacam Amazon.

”Lantas dengan penuh amarah ia buang senapannya dan melihatnya tenggelam tanpa kejayaan. Monster logam yang dikutuk semua mahkluk” (hal.121).

Macan, seperti juga bagi suku-suku pedalaman adalah hewan yang mesti dihormati dan menjadi simbol penghargaan atas alam rimba yang tak terpemanai.

Itulah mengapa, setelah Pak Tua menyadari betapa anggunnya hewan yang tinggal tubuh saja itu, setelah tubuhnya disobek-sobek, diterkam, dan ditindih di bawah taring yang menganga, ia menangis.
Matanya berlinang air mata, beriringan air hujan yang ikut jatuh di atas sungai yang mengalir menuju riam yang jauh.

Pak Tua menangis sebab ia tahu, yang menang bukanlah dirinya. Macan yang mati terbunuh setelah juga diburu orang-orang berkulit putih, yang tak tahu adab selama di dalam hutan, merupakan simbol kemenangan peradaban eskalatif yang bakal mengekstraksi kehidupan hutan Amazon.

”Mesin-mesin raksasa membobol jalan, dan orang Shuar jadi kian gesit. Sejak itu mereka tak lagi mengikuti adat untuk tinggal selama tiga tahun di suatu tempat sebelum pindah, guna membiarkan alam memulihkan dirinya sendiri” (hal. 39).

Begitulah, kisah Pak Tua Bolivar juga sebenarnya sedang menggaungkan suara dari  tengah hutan penghasil oksigen terbesar di dunia, mengenai ancaman peradaban  luar terhadap ekosistem hayati yang dijaga melalui budaya kehidupan suku pedalaman.

Buku yang dengan penghargaan sastra Tiger Juan, yang disebutnya tanda yang ia ingin peruntukkan kepada sahabat terkasih irit bicara, Chico Mendes, dengan sendirinya adalah buku perpisahan dengan pejuang lingkungan hidup itu. Saat penghargaan buku ini diumumkan di Spanyol, di waktu itu juga di pedalaman hutan Amazon, Chico Mendes mati ditembak oleh kaki tangan pengusahan pembalak hutan.

Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta pernah digarap ke layar lebar oleh sutradara Australia Rolf de Heer  dan tayang perdana 2001 silam dengan aktor Richard Dreyfuss sebagai Antonio Bolivarnya.

Luis Sepúlveda wafat di usia 70, dan tidak banyak yang menyadari kematiannya secara tidak langsung adalah buah dari kerusakan alam besar-besaran yang mendorong perubahan drastis kehidupan hayati berserta kehidupan mikrocosmosnya.

Hutan dibabat sehingga merusak penangkaran alami yang menjaga virus-virus asing tidak keluar melintas di kehidupan manusia.

Selamat jalan ”Pak Tua” Sepúlveda.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...