16 April 2020

Surrogates dan Lubang Hitam Masyarakat Maya


Poster Surrogates (2009)
Sutradara: Jonathan Mostow
Pemain: Bruce Willis
Radha Mitchell
Rosamund Pike
Boris Kodjoe
Tanggal rilis: 24 September 2009


LIMBO. Setelah hampir sebulan kita dipukul mundur oleh Covid-19 sampai ke barak terakhir, nampaknya seluruh ruangan rumah jadi semakin intens membentuk pemahaman ulang mengenai apa arti rumah sebenarnya. 

Rumah kian menjadi lebih diskursif karena akhirnya saya bisa memahami rumah bukan sekadar tempat mukim belaka. Bagi kelas pekerja, inilah saatnya untuk mengetahui lebih jauh apa sebenarnya fungsi rumah alih-alih melihatnya sebagai unit penunjang bagi pergerakan laba oleh sistem global kapitalisme. 

Selama masa swakarantina, rasa-rasanya banyak kegiatan produktif bisa lebih bebas dilakukan tanpa khawatir disituasikan oleh logika kerja.

Di pagi hari saya bisa leluasa menghabiskan banyak waktu bersama Banu mengajaknya menikmati sinar matahari sebelum membawanya ke belakang untuk dimandikan. Saya bisa  lebih banyak waktu bermain balon, membiarkan ia membongkar tumpukan mainannya, dan tentu sesekali membebaskannya membongkar buku-buku di almari yang menjadi kesenangannya.

Menjelang siang, Banu akan mulai kelelahan dan di waktu inilah ia mulai merengek meminta menyusu kepada ibunya.

Bermain bersama Banu dari pagi hingga sore, secara tidak sadar akhirnya ikut membuatnya dapat mengoleksi sejumlah kata-kata baru, yang dengan gaya tertentu akan ia ucapkan dari mulut kecilnya. Semakin banyak bermain bersama Banu semakin baik baginya untuk merangsang ia dapat mengenal kosa kara baru, tentu dengan mengajaknya berbicara seolah-olah seperti ia memahaminya.

Di lain waktu saya bisa memanfatkan beberapa waktu untuk membaca buku-buku yang selama ini hanya ditinggalkan setelah dibaca pengantarnya saja. Atau, mengepel seisi rumah setelah sebelumnya disapu tanpa meninggalkan seruangan yang terlewati.

Melihat beberapa teman dosen yang memosting kegiatan belajar mengajar melalui wahana maya, entah jika ia sedang duduk sembari menikmati pisang goreng membuat saya bertanya-tanya apakah ruang kelas masih dapat dipertahankan sebagai medium transformasi pengetahuan?

Dalam proses itu mahasiswa juga bisa berada di mana saja, dan bisa dalam keadaan apa saja, tapi ia masih bisa disebut belajar atau hadir sebagai mahasiswa selama ia terhubung real time via aplikasi yang digunakan untuk itu.

Belajar dengan gaya seperti ini, pada kenyataannya akan mengubah sudut pandang mengenai apa manfaat gedung-gedung kelas kampus.

Apakah  pasca pandemi, suasana belajar masih akan ikut bertahan seperti model pertemuan tatap muka selama ini, atau ada kemungkinan berubah mengikuti alternatif kelas semacam suguhan wahana maya itu?

Lebih jauh lagi, apakah mungkin akan ada yang namanya kampus virtual? Suatu wahana belajar pascamodern yang digelar secara fleksibel dan dengan tenaga pengajar macam-macam tanpa mesti dilegitimasi oleh negara bahwa ia adalah abdi negara?

Mungkinkah semua itu dilakukan dari rumah-rumah dengan perantaraan institusi maya?

Mungkinkah birokrasi yang ribet itu dapat dialihwahanakan ke dalam algoritma tertentu sehingga seseorang disebut berkantor cukup terhubung dengan lini maya internet?  

Jika ada pasar maya, bisakah ada rumah sakit maya? Perpustakaan maya? Rumah peribadatan maya?

Bisakah kehidupan ini menjadi serba maya?

Di titik ini saya teringat film fiksi ilmiah dibintangi Bruce Willis berjudul Surrogates (2009) di mana setiap manusia beraktivitas diperantai semacam robot replika dirinya.

Dalam film ini, dunia kenyataan tidak benar-benar dialami, oleh sebab si pemakai robot cukup tidur-tiduran dalam suatu alat panel yang menghubungkannya dengan replika dirinya, sehingga jika ia ke salon yang dicukur sebenarnya adalah rambut serat nilon robot replika dirinya. 

Dengan menggunakan surrogates siapa pun bisa melakukan apa saja seperti Anda benar-benar melakukannya. Selain ke salon, Anda bisa berjalan-jalan ke mall, ke diskotik, ngerumpi di warung kopi, membaca buku di perpustakaan, bahkan beribadah cukup menggunakan robot replika yang Anda kemudikan jauh dari rumah Anda.

Semua aktivitas ini walaupun yang Anda alami bukanlah kenyataan itu sendiri, tapi tetap saja secara tujuan apa yang Anda inginkan dapat tercapai.

Diceritakan dalam film, bahkan jika Anda mau dan memiliki banyak uang, Anda bisa mengganti surrogates dengan identitas yang berbeda-beda sama seperti saat Anda membuat akun Facebook menggunakan nama samaran yang Anda inginkan.

Ini persis seperti saat ini, ketika banyak orang karena malu atau faktor identitas lainnya, banyak menggunakan identitas maya (palsu) selama ia hidup dalam dunia virtual.

Orang dengan modus eksistensi seperti ini, umumnya lebih menyukai kehidupan maya daripada kehidupan nyata sehari-hari. Mereka lebih memilih kehidupan simulakrum penuh fantasi, sensasi, dan imitasi, ketimbang menghadapi persoalan kongkret dunia nyata.

Cara hidup seperti ini nyaris menyerupai kehidupan ”para pemimpi” dalam film Inception (2010), yang mengkonsumsi ramuan kimia agar dapat tidur selamanya dan hidup di dalam alam bawah sadarnya berupa mimpi fantasi.

Di sana berdasarkan kehidupan versi “para pemimpi” tidak ada namanya penderitaan, kekecewaan, kesakitan, kemiskinan...

Di dunia mimpi, ”para pemimpi” bisa membangun kehidupannya sama mudahnya seperti ketika ia ingin mengimajinasikan sesuatu.

Satu-satunya yang mesti dihindari ”para pemimpi” dalam dunia mimpi adalah ”limbo” yakni dunia bawah sadar yang menyerupai blackhole yang tidak terkontrol dan tak terbatas sehingga mampu menjebak siapa saja selama-lama di dalamnya. 

Dunia modern, adalah dunia limbo. Setelah di penghujung abad 19 mereka menghancurkan mitos-mitos, nampaknya dunia modern saat ini belum sepenuhnya bebas darinya.

Sains, ideologi, internet, dan juga agama adalah semesta abstrak yang hari ini banyak mempengaruhi umat manusia dan berpeluang menjadi mitos baru.

Besar kemungkinan semua sistem abstrak itu bakal manjadi limbo jika manusia mati-matian melihatnya hanya sebagai kenyataan satu-satunya. Satu-satunya kebenaran tunggal.

Belakangan ini, siapa yang menyangkal jika semua tindakan pengrusakan berupa pencemaran alam, penghisapan tenaga manusia, perang bangsa-bangsa, bom bunuh diri, dan sejumlah masalah global lainnya lahir dari sejenis fantasi.

Dari semacam mimpi yang diberikan bobot ilmiah, dalil, dan pekik kerumunan massa.



15 April 2020

4 Jalan Spiritual Menghadapi Corona


Ladya Cheryl akan berperan sebagai Iteung dalam layar lebar 
Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas
 adaptasi novel karangan Eka Kurniawan berjudul sama. 
Ladya Cheryl terkenal lewat perannya di film Ada Apa Dengan Cinta sebagai Alya


BANYAK peristiwa tidak terduga bisa membuat orang mengalami epiphany dan membuatnya menjadi seorang sufi. Fariduddin Al Attar, penulis Musyawarah Burung-Burung, menjadi pesuluk lantaran disadarkan oleh perkataan seorang  pembeli parfum yang awalnya ia acuhkan.

”Sedemikiankah keterikatan engkau kepada dunia sehingga menafikan yang lainnya?” kata customer  yang membutuhkan pelayanan Al Attar, yang sebenarnya adalah seorang darwish. Saat itu Al Attar sedang sibuk sendiri di belakang.

Merasa tersinggung atas ucapan customernya, Al Attar terpancing, ”lalu apa yang sudah kau lakukan?”

”Aku berkelana ke berbagai tempat, dan berkhidmat di jalan Tuhan.”

”Lantas apa yang sudah kau peroleh dari pekerjaan itu?”

”Aku bisa tahu kapan, dan bagaimana nanti aku mati.”

Tidak lama setelah percakapan aneh itu, ketika Al Attar telah selesai dengan pekerjaannya, ia menemukan sang darwish tertidur, dan meninggal di depan toko Al Attar.

Kejadian ini seketika menghentak kesadaran Al Attar. Pasca kejadian ini ia kemudian menjadi seorang sufi.

Kisah lain datang dari Ibrahim bin Adham, sufi generasi awal dari Balkh. Ia awalnya seorang raja yang banting setir menjadi sufi berkat seekor burung gagak.

Diceritakan dalam Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Usfuriyah oleh Syeikh Muhammad bin Abu Bakar Ushfury, pada saat Ibrahim bin Adham beristirahat ketika berburu, seekor gagak mengambil makanannya dan terbang menjauh. Merasa terganggu, Ibrahim bin Adham mengejarnya ke tengah hutan.

Seketika ia terkejut. Ternyata sang gagak mencuri rotinya demi memberi makan seorang tahanan yang terikat di sebatang pohon pasca dirampok berhari-hari lamanya. Ibrahim tersentak. Seketika itu ia pun menjadi sufi.

Masih karena burung. Di Sulawesi Selatan, berkembang cerita di kalangan pattarekat, kisah pembantu pimpinan tarekat yang tidak diduga terpilih menggantikan sang guru pasca meninggal.

Cerita punya cerita, pembantu ini, yang sehari-hari hanya mengurus tetek bengek kebutuhan sang guru tarekat, mulai dari dapur sampai kandang kuda, ”mengalahkan” murid-murid terdekat sang guru yang ingin menggantikan mursyidnya.

Ia terpilih sesuai ramalan pemimpin tarekat sebelum mangkat. Menurut cerita, sang guru sudah berpesan, barang siapa kelak dihinggapi seekor burung saat jamuan doa di pundaknya setelah ia meninggal, itulah penggantinya.

Pada jamuan doa yang dimaksud, seluruh murid berkumpul berdoa sambil menunggu burung yang diceritakan. Lama mereka menunggu, dan si burung tidak datang juga. Hingga tiba-tiba muncul si pembantu dari belakang menjamu satu-satu murid gurunya. Tidak lama dari itu, datanglah burung ”ramalan” terbang di atas berkeliling dan menghinggapi si pembantu. Itulah  tandanya. Ia lah pengganti guru tarekat mereka.

Masih juga dengan burung. Kali ini kisah fiksi. Bagi pembaca Eka Kurniawan pasti mengenal Ajo Kawir, sosok dalam cerita Seperti Dendam Rindu Harus dibayar Tuntas.  Ajo Kawir diceritakan mengalami impotensi akibat peristiwa mencengangkan. Ia mengintip dua anggota polisi memerkosa seorang perempuan gila, dan sejak itu kemaluannya mati rasa. Cerita punya cerita, setelah berjuang mengembalikan kehidupan normal ”burungnya” dan gagal,  ia pun sadar jalan hidupnya mesti ditempuh menjadi pelaku tasawuf.

Setelah ikhlas menerima tititnya yang tak sudi ngaceng ia sadar, ini berarti ia telah berhasil menaklukkan godaan hawa nafsunya setelah ”menjinakkan” ”burungnya” agar tidak bisa lagi akan ”terbang” ke mana-mana.

Nah, dalam kisah ruhani semacam di atas, burung menjadi perlambangan signifikan mengenai gelagat hawa nafsu yang sulit diatur dan mesti dijinakkan. Sekarang, apakah anda punya burung?

Setelah membaca cerita singkat di atas, bagi yang punya burung, kamu besar kemungkinan bakal bisa menempuh jalan menjadi sufi. Minimal jika anda jomlo, contohilah jalan cerita Ajo Kawir itu. Berdialog berhari-hari dengan ”burung”.

Tapi, jika kamu tidak ingin menjadi Ajo Kawir, saat dikepung corona laknatullah seperti ini, adalah keadaan yang paling pas menjadi seorang sufi. Berikut empat tangganya.

#1. Berkhalwat selama masa physical distancing

Satu ciri kaum sufi adalah ”keterputusannya” dari urusan duniawi. Istilahnya, ia mati sebelum mati. Seperti terpisahnya jasad dari tubuh, para sufi menjalani kehidupan dengan sikap wara’, yakni, ya itu tadi, memutus seluruh godaan hawa nafsunya dari seluruh hal yang bisa mengalihkan perhatiannya hanya kepada Tuhan semata.

Nah, sekarang peluang kamu bisa mengamalkan satu kebiasan sufi di atas. Kamu bisa berkhalwat selama masa phsysical distancing. Mumpung kamu tidak bisa kemana-mana, jadikanlah rumahmu sebagai semacam gua hira. Talak tigalah seluruh urusan-urusan di luar rumahmu. Ingat jalan menuju sikap wara’ itu pertama adalah belajar berkhalwat. Jadi, selama ”mengurung” diri di rumah,  lakukanlah hal ke dua di bawah ini.

#2. Bersiap-siap puasa selama darurat sipil

Untuk membuat amalan wara’ kamu jadi lebih mantap, berpuasalah. Seluruh praktik spiritualitas tasawuf di dunia, baik yang ekstrem kanan maupun ekstrem kiri (emangnya ideologi apa!), tidak pernah menanggalkan puasa sebagai latihan spiritualnya.

Nah, untuk hal ini negara sedang memberikanmu peluang melalui rencana pembatasan sosial berskala luas, dan darurat sipil yang diumumkan Jokowi 31 Maret lalu.

Ini artinya, negara diam-diam sedang mendidik warganya untuk menjadi sufi, loh! Coba bayangkan jika semua warga berpuasa selama masa darurat sipil? Kan, negara tidak butuh banyak ongkos menyiapkan santunan sembako bagi golongan missqueen kayak kamu itu.

#3. Perbanyak ibadah, tidak terkecuali berdoa

Banyak riwayat jika Rasulullah sudah mengambil start berpuasa 2 bulan sebelum masuk bulan Ramadan (kalau mau tahu dalilnya, tanya ke ustaz-ustaz yutub aja, yah).

Nah, langkah kedua di atas sebenarnya merupakan persiapan sebelum masuk bulan Ramadan nanti. Mumpung sekarang bulan Sya’ban, selain mulai berpuasa, perbanyaklah ibadah, tak terkecuali berdoa, akhi (ukhti juga, nanti bias jender lagi)!

Kamu yang selama ini kerap melalaikan salat, segeralah perbaiki salatmu sebelum kamu disalati hanya karena corona. Kamu yang malas berdoa, mulailah perbanyak doa, minimal jika itu hanya sebatas mengirimkan surah Al Fatiha bagi siapa saja yang sedang berjuang melawan corona.

#4. Belajarlah dari Pemerintah

Selama masa pagebluk corona, pihak yang paling diharapkan bertindak cepat adalah Pemerintah. Walaupun saat dunia sedang bersiap-siap mengantisipasi virus ini  agar tidak melintasi perbatasan negaranya, di negeri sendiri masih adem ayem. Seolah-olah virus ini akan menguap dengan sendirinya ketika ingin menyebrang ke negeri gemah ripah loh jinawi ini. Walaupun akhirnya sudah terlambat, tetap saja pemerintah masih hitung-hitungan mengambil tindakan pencegahan.

Sekarang ada istilah PSBB atau pembatasan sosial besar-besaran yang terlambat dilakukan. Begitu juga program ikutannya berupa penerapan darurat sipil seolah-olah setiap di atas jengkal tanah kita sedang terjadi aksi separatis. Ingat di Indonesia, masa darurat sipil hanya pernah dilakukan di Aceh dan Papua saat disinyalir negara menjadi kawasan gerakan separatis. Jadi, bayangkan jika keadaan sekarang ibarat sedang menghadapi gerakan separatis, bukannya pendekatan medis yang bakal diutamakan, tapi militer, bung!

Nah, lambannya cara negara menangani pandemi ini, dan belakangan ada gercep dari anggota dewan ingin mengesahkan RUU kontroversial, ditambah isu pembebasan Papua koruptor, kita rakyat kecil bisa apa. Satu-satunya cara hanya bisa mengelus dada dan belajar ikhlas dan bersabar. Nah, ini jalan keempat ketika para sufi menapakai jalan spiritualitas. Ikhlas dan sabar sudah. Titik.

Nah, itu 4 jalan spiritualitas di tengah pandemi corona. Selamat berjuang.

====

Telang dimuat di Kalaliterasi.com



Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...