15 Juli 2018

Radix Cordix

RADIX CORDIX. Akan lebih menyenangkan melakukan pekerjaan tetek bengek semisal menyemir sepatu, membuat kopi susu, atau melihat aneka produk di online shop walaupun sekadar cuci-cuci mata. Mengembangkan imajinasi ibarat seorang ibu pekerja di pagi hari atau membayangkan diri menjadi orang kaya yang dapat membeli segalanya, rasa-rasanya jauh lebih tidak menggelikan daripada menemukan dua orang di dunia maya berdebat saling menghujat lantaran beda keyakinan.

Setiap waktu meladeni orang-orang keras kepala di dunia maya sepertinya pekerjaan yang paling tidak membahagiakan.

Asu, memang!

Mungkin ada faedahnya meladeni orang-orang keras kepala yang sedikit-sedikit membawa agama sampai di dunia maya. Misalnya bikin sakit hati lawan bicara. Sepertinya ada kepuasaan hakiki jika lawan bicara mati kutu tidak mampu memberikan pendapat balik. Biasanya di titik ini, perbincangan semakin tidak logis. Status saling balas membalas akhirnya menjadi lebar ke mana-mana.


Eike tidak yakin ada faedah dari tindakan netizen yang sehari membesarkan urat leher hanya untuk meyakinkan orang tentang sebiji kebenaran. Walaupun berambisi menjadi nabi menyebar kebenaran, tapi jika itu dilakukan bersama orang-orang keras kepala, maka apa pun itu akan terpental begitu saja. Orang-orang keras kepala sekalipun jika diberikan pernyataan-pernyataan logis akan merasa apa pun yang diberikan kepadanya adalah pernyataan yang tidak layak diindahkan.

Di titik ini ada teori yang disebut Dunning-Kruger effect. Dalam psikologi istilah ini mengacu kepada gejala ilusif orang-orang yang menganggap dirinya sebagai sang ahli. Bahkan, mereka menganggap orang lain tidak berhak mengkonfirmasi keyakinan yang mereka imani. Inti teori ini adalah jika Anda menyatakan kesalahan seseorang, maka mereka semakin yakin bahwa yang mereka yakini akan semakin benar.

Ya. Semakin Anda menunjukkan letak kesalahan mereka, orang-orang keras kepala akan semakin yakin terhadap keimanannya.

Di dunia maya, eike banyak melihat contoh-contoh ini. Sudah sangat gamblang eike kira. Bahkan fenomena ini sudah menjadi seperti yang dinyatakan Tom Nicols sebagai fenomena matinya sang ahli (the death expertise), yakni banyaknya orang yang bermunculan untuk mengemukakan pendapatnya mengomentari pelbagai kejadian hanya dari satu dua buku, wikipedia, atau menurut "om google".

Dari contoh-contoh itu, kebenaran malah semakin kabur ditimpa egoisme, taklid buta dan emosionalisme. Justru yang nampak dipermukaan malah pertunjukkan superioritas kelompok menindas kelompok-kelompok yang berbeda paham. Apalagi di momen-momen politik seperti ini, justru konflik semakin tajam.

Tapi, apa sih tujuan dari hanya selain menampakkan superioritas atas iman, keyakinan, atau bahkan pengetahuan jika hasil dari saling balas komen itu hanya menjauhkan kita dari interaksi yang harmonis. Justru tidak produktif malah.

Banyak di antara kita memang yang tidak pernah dibesarkan dalam momen-momen dialogis. Bergesekan dalam tradisi berpikir. Dan tumbuh dalam lingkungan yang mengedepankan perbedaan. Sehingga, ketika diperhadapkan dalam dunia yang heterogen, orang-orang keras kepala akan merasa terancam dan bahkan akan saling mempertahankan apa yang paling mereka yakini.

Keyakinan sebagian kita memang dipandang sudah fix, complit, dan juga final. Iman ibarat tuhan yang eksis di luar sejarah, lepas dari pengaruh waktu dan tempat. Ia dilihat sebagai entitas yang murni tanpa sentuhan ikhtiar manusia.

Sehingga ibarat gedung yang sudah berdiri kokoh sudah tidak perlu lagi diutak-atik. Namun masalahnya, gedung yang sudah terlanjur berdiri sering kali tidak dibangun dari fondasi yang juga kuat, dari tatakan yang mengakar. Inilah masalahnya, gedung yang punya tiang-tiang tinggi tidak nampak berdiri kuat lantaran fondasi yang mudah guyah.

Tapi, ah sudahlah. Berdiskusi, apalagi berdebat dengan orang-orang yang seringkali jatuh kepada --meminjam istilah Jean Cauvin (dari namanya Calvinisme diambil)-- "radix cordix", justru tidak menerbitkan kesepahaman, apalagi kesalingpengertian. Malah justru kedongkolan. Sontoloyo, memang.

Mari, hanya kopi yang mempersatukan kita!

30 Mei 2018

Ramadan

PENGALAMAN puasa adalah pengalaman manusia menemukan otentisitas “sang aku”. Ia cara manusia membebaskan diri “dari” sesuatu dan “untuk” sesuatu. Agama menyebutnya  “sang aku” yang menahan  diri dari  godaan hawa nafsu, sekaligus juga untuk meraih apa yang dibilangkan agama sebagai puncak puasa: takwa.

Dengan kata lain, puasa adalah mekanisme  diri untuk kembali ke keaslian parasnya dengan taqwa sebagai puncaknya.

Mengupayakan keotentikan diri selama berpuasa sepadan dengan bunyi hadis qudsi yang mengatakan barang siapa mengenal dirinya dia mengenal Tuhannya. “Sang aku” yang ril disebutkan ceruk yang mampu membawa pemahaman manusia  mengenal siapa Tuhannya. Dari sang diri yang otentik, manusia dapat membangun kontak dengan Tuhannya. Bahkan diri yang otentik adalah tempat pancaran Tuhannya.

Barangkali karena itulah ramadan berarti membakar. Itulah juga arti selama berpuasa segala kecenderungan yang bersumber dari ego individual dihilangkan dengan cara berpuasa. Ibarat membakar logam untuk menemukan emas murni. Puasa adalah cara diri menempa pembakaran demi menemukan keaslian diri.

Selama ramadan, demi mencari diri otentik, “sang aku” mesti mengedepankan “kemauan Tuhan”. Mengapa “kemauan Tuhan”? Karena selama berpuasa, dalam setiap aktifitas, tidak layak memperturutkan kemauan ego disamping mengedepankan “kemauan Tuhan”. Selama berpuasa kita diwajibkan meninggalkan seluruh pekerjaan yang mengutamakan diri manusia. Semuanya mesti mengutamakan “kemauan Tuhan.” “Sang aku” diwajibkan menahan hawa nafsunya semata-mata agar jiwa melakukan semua perintah Tuhan.

Dari kacamata sufistik selama berpuasa “diri individual” dikekang dan ditiadakan demi “diri ilahiah”. Ego manusia dilenyapkan untuk memancarkan “diri-Nya”. Dengan begitu, diri ilahiah adalah diri yang “terhubung” langsung secara ruhaniah dengan Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain setiap tindakan manusia adalah cermin tindakan Tuhan. Para sufi menyebutnya berakhlak dengan akhlak Tuhan.

Itulah sebabnya, jika sebelumnya bulan Sya’ban adalah bulan milik Rasulullah, maka bulan Ramadan semata-mata bulannya Allah. Semua tindakan kita diusahakan merupakan representase kemauan Tuhan. Karena itu sering dikatakan setiap amalan selama Ramadan akan langsung dibawa ke hadapan Allah tanpa ada penghalang sedikitpun.

Dalam wacana filsafat fenomenologi, ramadan ibarat waktu destitute time-nya Martin Heidegger, seorang filsuf eksistensialis Jerman. Destitute time, bisa dibilang merupakan situasi “kekosongan atas kekosongan”, atau dalam konotasi Heidegger sebagai keterputusan manusia terhadap “benda-benda” yang mengikat dirinya.

Menurut Heidegger, dalam situasi ini manusia akan menemukan kedaan natural atas dirinya. Manusia akan menemukan “dasar” dirinya dalam keberadaannya yang penuh. Di kondisi ini manusia mengalami dirinya dengan maksud mencari makna terdalam sekaligus menjadi tempat makna itu sendiri. Menurut kaca mata Heidegger, selama berpuasa manusia memutuskan “keaukannya” dari ikatan-ikatan artifisial yang memalsukan dirinya.

Itulah sebabnya, di batas akhir selama sebulan berpuasa, ada hari khusus untuk merayakan pembebasan “sang aku” setelah keluar dari perjuangannya menaklukkan sang ego. Di hari itu, semua manusia akan mengucap takbir dan menyebut diri telah kembali kepada makna asalnya: fitrah.

Di kondisi fitrahlah, manusia menemukan makna otentiknya. Menjadi manusia seutuhnya.



AWAL abad modern, keutuhan manusia dialamatkan kepada kemampuan berpikirnya. Je pense donc je suis, ungkap Rene Descartes. Aku berpikir karena itu aku ada.

Tapi, di era kiwari keotentikan diri selalu ditandai dengan konsumerisme. I buy therefore I am. Aku berbelanja maka aku ada. Diri otentik bukan ditandai dari perjuangannya mengendalikan hawa nafsu. Malah sang ego dipermak melalui tindakan berbelanja.

Dengan kata lain, otentisitas diri manusia modern bukan melalui perjalanan panjang membangun jarak dengan benda-benda, melainkan upayanya untuk menimbun barang-barang melalui praktik konsumeristik. Melalui semua itu, manusia modern merasa yakin telah memperbarui dirinya dengan barang-barang baru yang dibelinya.

Bahkan, keotentikan manusia kiwari banyak mengalamatkan dirinya kepada citra-citra imajinatif. Melalui dunia informasi identitas manusia menjadi jauh lebih problematis akibat bingkai dunia maya yang banyak menyuguhkan fantasi dan glorifikasi.

Arus informasi yang deras tak terkendali, menurut Heidegger hanya menciptakan apa yang ia katakan sebagai idle talk (obrolan kosong), yakni kondisi komunikasi dalam perbincangan yang tidak membicarakan apa-apa. Tidak ada makna sekali pun di dalamnya. Kata Peter Sloterdjik dalam Heidegger and the Media, “media membicarakan semua hal, namun tidak menjelaskan apa-apa mengenai apa pun” (remotivi.or.id)

Di dalam idle talk, “sang aku” kehilangan dasar kontekstualnya akibat aliran deras informasi. Pemahaman “sang aku” terhadap dirinya yang otentik mengalami kegoyahan lantaran hilangnya ruang permenungan. Tak ada sama sekali waktu yang kosong dari hiruk pikuk interaksi.

Dari pengalaman itu, puasa yang bermakna transformasi ego “diri individual” menuju “diri ilahiah”  tidak sama sekali membekas sebagai praktik moral masyarakat modern. Selama berpuasa akibat “sang aku” yang masih terikat kepada dunia yang serba artifisial ia pada akhirnya hanya menjadi sebatas makna ritual ketimbang transformasional.

Lalu, apa sesungguhnya makna fitrah di hari fitri kelak? Sementara “sang aku” masih ditawan sang ego. Di medan budaya, ego menjelma menjadi pribadi yang gamang dengan identitas dirinya, di medan ekonomi, “sang aku” menyeruak membeli dan menimbun barang-barang, di medan politik “sang ego” membangun sekat sentimentalisme sempit demi kekuasaan, dan di medan hidup sehari-hari praktik kehidupan sosial lebih mudah menyimpan benci daripada menebar rahmat.

*Telah terbit di Kalaliterasi.com

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...