26 Desember 2017

Tragedi dan Kelahiran Juru Selamat


Eka Kurniawan. 
Tahun  1999  ia menerbitkan buku pertamanya yang berasal dari tugas akhir kuliah, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis
Ia menulis cerita pendek, novel, maupun esai di berbagai media.

JURUSELAMAT. Seperti dituliskan Eka Kurniawan melalui esai-blognya, dalam sejarah, manusia mengenal dua sosok tragis: Socrates dan Yesus Kristus. 

Socrates dikekalkan Platon sebagai orang yang rela memanggul kematian demi mempertahankan apa yang diyakininya sebagai kebenaran. Dan Yesus dalam sejarah Kekristenan adalah juru selamat yang mengorbankan dirinya demi menjamin keselamatan umatnya.

Dua sosok tragis ini, baik melalui fiktif atau juga dalam sejarah, adalah dua narasi yang mengidealisasi suatu model kehidupan yang kontradiktif.

Socrates pertama-tama mati demi kehidupan yang tak ia temukan di tengah kiprah masyarakatnya. Sedangkan Yesus, seperti diketahui, sosok yang mati memanggul salib sebagai protes terhadap dekadensi masyarakat yang ia temui.

Kelak nampaknya seorang Socrates berkebalikan dari Yesus yang lahir dalam keadaan yatim tanpa seorang bapak. Socrates bisa dibilang adalah figur bapak yang mati melahirkan kebenaran tanpa kehadiran figur seorang ibu, bersedia meminum racun. Sementara Yesus, di kisah tragedinya, menampilkan seorang figur ibu yang mengikutinya dari belakang melihat sang anak berjalan ditawan pasukan romawi memanggul beban seluruh umat manusia.

Betapa pedihnya hati seorang perempuan, betapa sakitnya tragedi.

Tapi, apakah hanya itu, atau juga kematian yang tragis? Kematian, dalam hal ini tidak saja meninggalkan luka, namun juga sejarah.

Dengan kata lain, sejarah adalah apa yang kita dudukkan sebagai kisah: suatu yang disebut Clarissa Pinkola Estes –seorang scholar psikologi— sebagai cerita bagi jiwa.

Itulah sebabnya, setiap cerita di sekitar sosok-sosok yang memainkan peran tragedi dalam sejarah, juga sebenarnya simbol yang sangat manusiawi.

Bagiamana itu mungkin? Bukankah dalam sejarah, yang manusiawi justru kadang kalah. Bahkan nyaris tidak memiliki harapan. Hidup digilas kekuatan tiranik dan despotik.

Namun di situlah letak perhatiannya. Yang manusiawi berarti hidup dalam keadaan yang sebenarnya. Merasakan getirnya dilecehkan, juga direndahkan. Merasai bahwa kenyataan bukanlah fantasi dunia tanpa cacat. Di situlah juga berarti yang manusiawi adalah makhluk yang mampu membumbungkan harapan, melalui kematian sekalipun.

Di titik itulah saya kira, sosok tragis melampaui idealisasi tindakan heroisme. Dia bukanlah sosok-sosok yang mewakili manusia tanpa harapan. Melainkan manusia yang mewakili bagaimana Tuhan memerhatikan kepedihan manusia.

Di kehidupan kini yang tragis tidak lebih dari pada orang-orang kalah tanpa kekuatan kisah di belakangnya. Bahkan sosok yang tragis nyaris hilang dalam imajinasi masyarakat hari ini.

Tentu yang tragis di sini bukan arti selain daripada kisah yang menyentuh. Kisah yang menyayat sekaligus menggetarkan jiwa. Menggugat tapi juga menggugah.

Kehidupan kiwari, nampaknya harus banyak belajar dari sosok yang dibesarkan tragedi dalam sejarah. Di situ tidak sekedar bagaimana sosok semisal Yesus, harus berjalan panjang memanggul kayu salib, melainkan rela berkorban demi menanggung penderitaan umat manusia.

Kayu salib dalam ungkapan lain tidak sekadar simbol penderitaan, melainkan tanggung jawab rela mengambil alih peran bagi orang-orang yang tersisihkan. Suatu suara mewakili umat yang mengalami pahitnya dikucilkan.

Juga sosok tragis Socrates, dikekalkan tidak saja menjadi sosok sentral dalam arti figur seorang guru. Tapi, siapa pun harus tahu, di balik kebenaran yang dinyatakan ada risiko yang mesti ditanggung.

Kisah orang-orang modern adalah kisah tanpa kayu salib. Kisah tanpa mau mengambil risiko pencarian. Dua ciri yang alih-alih mesti dipahami sebagai kisah universal jiwa yang bersetia dalam kebenaran dan rela berkorban. Tapi, malah orang-orang yang kehilangan pesona terhadap kekuatan persona.

Kuatnya individualisme naif merupakan anomali sejarah yang jauh dari sosok-sosok seperti Yesus juru selamat. Dengan kata lain, nyaris di masa sekarang masyarakat adalah satuan atomik tanpa sosial relationship. Masyarakat malah hilang dan nyaris tidak bisa menjadi peristiwa interaktif: suatu pengertian yang mencerminkan karakter masyarakat yang saling mengandaikan.

Di sisi lain, tidak seperti Yesus atau bahkan Socrates, pemahaman hari ini justru adalah pengertian yang sulit dikatakan sebagai pengetahuan yang memiliki dasar. Kemampuan epistemologi masyarakat kiwari justru adalah model pengetahuan yang khawatir mau mengambil risiko pencarian.

Itulah mengapa, fenomena- fenomena seperti yang ditunjukkan oleh radikalisme dan fundamentalisme orang-orang beragama, adalah jenis pengetahuan tanpa dasar pencarian yang mendalam. Nyaris tanpa mau melatih kesabaran, dan juga tanpa tradisi panjang melalui dialog ilmu pengetahuan.

Itulah juga mengapa, iman akhir-akhir ini adalah jenis keyakinan yang mudah menghardik akibat rapuhnya suatu dasar, iman yang takut mendapatkan ujian-ujian sebagaimana persona sejarah dalam tragedi yang mereka alami.

Kemampuan berinteraksi manusia tanpa kekuatan persona pada akhirnya akan berakhir menjadi nihilisme. Hilangnya pegangan. Mustahilnya suatu pencarian.

Malam ini, seperti juga perayaan Maulid Nabi, seorang sosok lahir ke dunia dengan tanggung jawab besar di pundaknya. Tanggung jawab yang kelak akan dipanggulnya dengan menukarnya melalui kematian.

Seperti Muhammad, kelahirannya bukan sebatas peristiwa biologis belaka. Namun adalah peristiwa ideologis pula. Dengan kata lain, kelahirannya mesti didudukkan sebagai lahirnya tanggung jawab di setiap hati umatnya, untuk mengambil alih dan melanjutkan kayu salib yang dipikulnya: suatu risiko yang mesti diemban dengan semangat kasihnya.

Kini, dia datang melalui perut seorang ibu perawan dan tanpa bapak, lagi-lagi dengan kisah di seputar tragedi yang bakal menyertainya kelak. Seperti Muhammad sang nabi terakhir, kelahiran sang anak yatim sesungguhnya adalah peristiwa yang revolusioner.

Selamat Natal.


22 Desember 2017

Rendra dan Kota


W.S. Rendra
Sastrawan berkebangsaan Indonesia
Penyair yang kerap dijuluki sebagai "Burung Merak"ini, tahun 1967 mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta yang melahirkan seniman semisal Sitok Srengenge, Radhar Panca Dahana, Adi Kurdi, dan lain-lain.



Orang-orang miskin di jalan,
Yang tinggal di dalam selokan,
Yang kalah dalam pergulatan,
Yang diledek oleh impian,
Janganlah mereka ditinggalkan

(W.S. Rendra)

KOTA. Penggalan puisi Rendra di atas mungkin adalah ungkapan yang satire sekaligus sebuah sinisme. Yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, adalah perantara untuk memahami kemiskinan, biar bagaimanapun adalah bagian sebelah dari tubuh masyarakat. Orang-orang kaya, tubuh sebelah lainnya, dalam puisi itu diingatkan Rendra: “janganlah mereka ditinggalkan.” Sampai di sini, kita mesti mengandaikan masyarakat adalah peristiwa interaktif tinimbang sebagai substansi satuan atomik. Itu artinya, masyarakat sebagai peristiwa interaktif mesti melibatkan “yang lain” sebagai bagian yang setara dan mesti ada. Bukan dibayangkan sebagai entitas atomik: satuan yang mampu berdiri sendiri. “Janganlah mereka ditinggalkan”, juga barangkali di situ adalah ungkapan yang menyitir masyarakat yang atomistik; suatu entitas tanpa relasi. Hilangnya social relationship. Cara berpengalaman hidup yang kukuh dengan semangat individualistik. Di titik ini-lah, yang satire dan yang sinis dari syair Rendra itu. Belakangan, jaringan interaksi masyarakat tumbuh dan berpusat kepada satu centrum: kota. Masyarakat berkembang, sekaligus membuat kota ikut berkembang. Tapi, ditilik dari sejarah perkotaan, seperti pendakuan Max Weber, kota tidak selamanya berarti jalinan interaksi semata. Kota dikatakan kota karena di dalamnya terjadi interaksi ekonomi. Dengan kata lain, dasar rasionalitas masyarakat kota hanya bisa dimengerti ketika dia dilihat sebagai relasi yang bergerak di bidang ekonomi. Itulah sebabnya, mengapa kota, kata Weber, disebut sebagai kawasan yang mendukung perdagangan ketimbang pertanian. Di kota, birokratisasi yang didorong oleh rasionalitas intrumental, mendudukkan kota sebagai tempat yang modern dibanding kawasan lainnya. Suatu pusat yang mewadahi interaksi sosial berdasarkan relasi ekonominya. Itulah sebabnya pula kota memiliki daya tarik tersendiri. Apa yang modern bagi kota dengan sendirinya menarik imajinasi masyarakat untuk dapat ikut berpartisipasi di dalamnya. Terutama jika kota dalam hal ini dilihat sebagai pasar ketimbang lainnya. Dengan kata lain, kota tidak sekadar menjadi pusat perekonomian yang didukung infrastruktur perindustrian, namun juga membentuk suatu pengalaman baru yang berbeda dari pengalaman masyarakat pedesaan. Nampaknya dari sisi itu, pengalaman baru yang hanya ditemukan di kawasan perkotaan sekaligus juga membentuk kebiasaan-kebiasaan kultural yang menandai berubahnya cara hidup masyarakat. Kota dengan kata lain adalah produk kebudayaan yang lahir dari heterogenitas masyarakatnya berdasarkan hukum transaksional. Kata Emile Durkheim, di kota, yang identik dengan modernisasi adalah entitas kehidupan sosial yang terspesialisasi dan terdiferensiasi. Pengalaman atas kerja di kota, adalah jenis pengalaman baru dan khas yang membagi-bagi masyarakat berdasarkan profesinya, umurnya, pendapatannya, kebiasaannya, tempat tinggalnya, pandangan hidupnya, dlsb., yang semua itu –seperti umumnya— didudukkan dalam konteks perdagangan. Kota juga adalah tubuh raksasa yang sedang berkembang. Pengalaman atas ruang kota ketika diterjemahkan oleh pengambil kebijakan bukan semata-mata melihat melalui kaca mata ekonomi, tapi juga mengubah ruang materialnya dengan pembangunan-pembangunan berskala besar. Fenomena berubahnya ruang kultural yang bernilai sejarah, misalnya, tidak memiliki dasar ekonomis yang kuat jika sebelumnya tidak diwujudkan ke dalam “hitung-hitungan perdagangan.” Artinya, fenomena industrialisasi yang menjadi karakteristik kota di abad milenial, berubah fungsinya menjadi kawasan yang bernilai jual beli ketika ruang itu “dikapitalisasi” dengan membangun gedung-gedung berdaya tarik investasi. Dengan kata lain, kota tidak saja menyandarkan dirinya kepada sektor industri, tapi juga di era kiwari mengubah setiap ruang yang dimilikinya menjadi sektor perdagangan dan pariwisata. Dengan cara itu, kota akhirnya tidak saja mengubah karakternya yang semula menjadi pusat religiusitas seperti kota-kota yang lahir di abad-abad sebelumnya, atau pusat-pusat industri seperti di awal abad 20, dan atau sebagai produk kebudayaan yang mengafirmasi nilai-nilai ideal kebudayaan, namun mengubah seluruh basis material dan nonmaterial yang dicakupnya. Saat itu kelak, kota adalah ruang geografis yang dekat tapi juga sekaligus asing. Menjadi ruang yang berkebudayaan namun juga dekaden, dan sekaligus menjadi kawasan maju tapi di saat bersamaan meninggalkan jejak-jejak anomali di belakangnya. Singkatnya, kota menjadi momok berparas ganda. Dia realitas yang kontradiktif. Nampaknya, siapa pun harus kembali menafsirkan pengalaman hidupnya ketika bermukim di dalam kota. Ketika kota hanya dipandang sebagai daerah yang menampung hasrat ekonomi tanpa melihat dan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan nonmaterial masyarakatnya. Ketika ruang sosial menjadi jauh lebih berjarak akibat pengalaman atas kerja, pengalaman atas ilmu pengetahuan, pengalaman atas ekonomi, pengalaman atas agama, pengalaman atas politik, dan pengalaman atas budaya, dibelah dan dipecah-pecah atas pembagian waktu dan ruang yang justru terbagi-bagi. Di saat itu-lah seperti kata W.S Rendra di atas: yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, menjadi realitas yang dekat sekaligus diacuhkan. Mereka akhirnya dipandang sebagai sisa-sisa interaksi yang dianggap manusiawi. Masyarakat kota akhirnya berubah menjadi satuan-satuan yang atomistik, satuan yang individualistik sekaligus anehnya, disebut berperadaban. Malangnya, di tengah keadaan demikian, kota-kota dalam pengalaman benak kita tidak berbeda jauh ketika pengalaman di atas dilihat sebagai realitas yang terpisah. Bahkan kota dalam imajinasi masyarakat perkotaan adalah realitas subjektif yang tak memberikan peluang atas hadirnya kelompok lain; suatu dunia yang dilihat atas dasar kepentingan kelompoknya. Karena itulah –sekali lagi— yang miskin, yang di dalam selokan, yang kalah, yang diledek, atau yang hancur remuk hidupnya digilas kemiskinan, menjadi orang-orang yang tersisih dan disisihkan. Sekarang mari kita lihat, di balik gedung-gedung megah itu, di tengah-tengah  hutan beton di kota kita, adakah yang sekarang sedang berujar seperti penggalan sajak Rendra di atas: Janganlah mereka ditinggalkan!

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...