14 Desember 2017

Bagaimana Buku-Buku dihidupkan Kembali


Carlos María Domínguez. 
Penulis dan jurnalis Argentina. 
Ia dikenal salah satunya dari noveletnya “Rumah Kertas”.

KADANG saya terkesima melihat pose foto orang-orang yang sedang membaca buku. Melihat itu, sepertinya khotbah-khotbah agama masa kini tidak lagi dibutuhkan. 

Nampaknya dengan cara foto seperti itu, semua orang diam-diam sedang bergabung dalam persekutuan suci untuk membuat dunia jauh lebih baik.

Dengan foto-foto itu, saya seperti diberikan harapan generasi masa mendatang tidak akan cepat punah hanya dengan kebodohan yang berpangkal dari debat soal jumlah massa dalam suatu pagelaran politik baris-berbaris berkedok agama.

Bukankah itu suatu kemajuan mengingat kita jarang menemukan penulis-penulis yang kita baca tulisannya, kecurian dijepret kamera sedang membaca buku. Mana ada penulis buku mau diambil atau mengambil gambarnya sedang membaca buku! Paling-paling yang kita temukan pose mereka yang sedang merokok, atau menyesap secangkir kopi, atau yang paling sering terjadi adalah pose ketika mereka sedang berbicara di suatu seminar.

Pose orang-orang yang sedang membaca seperti itu mungkin menandai suatu kegairahan tertentu kepada ilmu pengetahuan, dengan alih-alih segera mengambil gambar. Atau bahkan, itu merupakan kegilaan terhadap buku-buku.

Jika layak disebut gila, orang-orang seperti itu nyaris menjadi seperti Carlos Brauer atau seorang Delgado, tokoh karangan Carlos María Domínguez dalam Rumah Kertas yang memiliki puluhan ribu buku hingga memenuhi rumahnya.

Bayangkan Carlos Brauer saja memiliki buku hingga berserakan di kamar mandi. Tergeletak rapi bercampur dengan sabun, sikat gigi, shampo, sikat kloset dst, dst, dst. Bahkan, hingga ke loteng-loteng, yang di mulai dari dapur, juga almari.

Ibarat perpustakaan yang dikatakan Jorge Luis Borges, surga yang diidam-idamkannya berhasil diciptakan Carlos Bruer di dalam rumahnya menyerupai istana yang bergelimangan permata.

Sehingga dengan keadaan rumah seperti itu, kepala seseorang otomatis tersugesti dengan keberadaan buku-buku sebanyak itu. Ahli psikologi dan sosial punya dalil untuk ini: isi kesadaran seseorang sangat bergantung dari lingkungannya. Ingat, manusia juga species hewan yang mampu beradaptasi sesuai dengan lingkungannya. Buku-buku sebanyak itu bisa memaksa seseorang seketika menjadi pembaca buku. Sehingga berpose foto sambil membaca buku merupakan kegiatan yang agak sulit terhindarkan.

Kadang kegilaan macam itu dibawa juga sampai ke toko-toko buku yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan.  

Walaupun demikian, mereka di satu sisi tidak segila Brauer yang demi mengisi garasinya dengan buku, rela memberikan mobilnya kepada temannya agar memiliki ruang baru untuk menempatkan buku-bukunya. Ini mustahil terjadi mengingat kebanyakan dari mereka belum memiliki garasi.

Tapi itu jauh lebih baik sekali pun itu ironi jika dibandingkan dengan rumah-rumah kumuh yang dindingnya ditempeli koran. Hidup akan menjadi mengerikan dengan dikelilingi dinding koran yang berisi berita politik, kriminal, atau teka-teki silang dengan gambar-gambar porno. Setiap hari terbangun dengan terkepung dinding beralaskan koran  dengan berita yang tak pernah berubah sedikit pun. Sungguh menjemukkan.

Tapi apa boleh buat, kegilaan muncul di mana-mana seperti foto seorang anak-pemulung “kedapatan” sedang membaca buku dalam sebuah lapakan. Ini lebih berharga dibanding berita hoax beberapa waktu lalu tentang seoang pria Jepang yang mati akibat terlindas 6 ton koleksi buku-buku pornonya.

Penelitian lawas di Rhode Island Hospital, Amerika Serikat, berhasil melihat perbedaan mendasar dari dua kelompok balita berusia delapan bulan yang dibiasakan dibacakan buku cerita oleh orang tuanya. Kelompok pertama jauh signifikan peningkatan kosa kata dan pemahamannya dibanding kelompok kedua yang tidak diberikan tindakan yang sama. Cara seperti ini kira-kira di masa depan mampu mencegah anak-anak tumbuh dari gejala berbicara yang belepotan seperti pengalaman salah satu wakil gubernur di tanah air.

Sekarang coba bayangkan jika semua anak-anak dibiasakan dengan cara demikian, kemungkinan besar di masa mendatang tidak akan muncul kelompok-kelompok masyarakat yang mudah digerakkan dan berduyun-duyun datang dari pelbagai tempat dan mau dipimpin oleh orang-orang yang mirip seperti penjual obat.

Di satu sisi tentu ini hanya mungkin jika para orang tua sebelumnya memiliki kebiasaan membaca yang baik pula.  Sehingga mustahil untuk hari-hari esok kita tidak gampang lagi menemukan anak-anak atau bahkan seorang remaja yang berjempol gempal dengan volume otak tidak lebih besar dari kacang polong.

Lalu, bagaimana buku-buku dapat terus hidup? Saya kira jawaban pertanyaan ini tergantung dari pertanyaan semacam ini: bagaimana agar Anda dapat terus hidup?

“Os livros mudam o destino das pessoas.” Buku mengubah takdir hidup orang-orang.

---

*Kutipan diambil dari buku Rumah Kertas

12 Desember 2017

TEKNOLOGI.  Eike lupa apa judul film yang diputar kala itu. Tapi garis besar ceritanya masih eike ingat: tentang kehidupan manusia yang dimanja kemajuan teknologi, hingga urusan makan si manusia tinggal duduk bersandar di atas kursi dilengkapi alat menyerupai tangan manusia untuk menyuapinya. Kepada lain-lain, persis seperti saat makan, sang manusia hanya duduk di atas kursi canggihnya dan membiarkan robot-robot dan perangkat mutakhir mengurusi segala urusan yang sebenarnya bisa dilakukan manusia itu sendiri.

Di film itu, dihubungkan dengan panel-panel di bawah kursi, kehidupan manusia diserahkan sepenuhnya kepada mesin-mesin canggih. 

Film itu, dengan gampang, adalah potret atas fenomena abad milenial ketika kemajuan teknologi menyeroboti sisi praktis masyarakat.  Tapi, juga sebenarnya adalah sisi kognitif manusia.

Di film itu nyaris tak ada tenaga manusia yang dikeluarkan, selain dari pada kemampuan menekan tombol-tombol untuk mengaktifkan mesin-mesin canggih agar berfungsi mengganti seluruh pekerjaannya. 

Secara paradoks, akibat diambil alih mesin berteknologi canggih, semua manusia di film itu menjadi mahluk gempal betubuh gemuk.

Mungkinkah itu ironi? Tapi, justru itu sebenarnya tragedi: sang manusia kehilangan kemampuan manusiawinya, yang asali menjadi hilang, saat tubuh kehilangan ruang geraknya, otot yang menjadi kendur, dan otak yang berhenti bekerja. 

Manusia boleh saja merayakan kemajuan peradabannya, tapi dia tidak bisa bermain-main dengan ciptaan dirinya sendiri. 

Di film itu, sang manusia tanpa disadari menjadi mahluk yang teralienasi dari dirinya sendiri. Agak sedikit menyerupai Marx, manusia tertawan dari apa yang dia hasilkan sendiri. 

Jika film itu dapat disebut potret bagi masa kini, maka dunia hari ini adalah fenomena yang berhasil ditangkapnya. Walaupun tidak sepenuhnya juga benar, tapi garis besarnya masih juga sama: pertautan manusia dengan mesin teknologi nyaris mengambil seluruh pekerjaan manusia. 

Dari itu, di sini kita perlu kembali mendudukkan sejarah kelahiran teknologi ketika diciptakan untuk mengatasi alam dan membantu keterbatasan manusia. Teknologi  dalam kedudukannya yang demikian dinyatakan oleh para ahli sebagai bagian manusia untuk survival. Yakni, ihwal yang masih menjadi satu kesatuan dengan manusia secara alamiah.

Kata Heidegger, teknologi sebagai mode kehidupan adalah cara manusia mengungkap makna Ada, meneroka arti dunia untuk menemukan hal ihwal kebaruan. Arti ini diambil dari makna poesis yang sepadan dengan kata techne itu sendiri sebagai makna dari to create (bagaimana mencipta).

Namun dalam situasi sekarang, teknologi tidak lagi dinyatakan hanya dalam rangka survival, melainkan menjadi praxis teknis yang jauh berkembang menghancurkan fondasi esensialitas manusia. Dia bukan dalam kedudukannya sebagai poetik sebagaimana dalam seni, tapi berubah menjadi “sistem mandiri” yang mengamputasi sisi alamiah manusia.

Teknologi berupa benda-benda canggih, seperti ditunjukkan film itu, memang sangat dominan mendeterminasi manusia. Membuat orang-orang hanya duduk dengan sekotak layar kaca sebagai dunia kehidupannya, persis seperti seorang bayi yang diperlakukan tanpa memiliki kehendak dan kemauan.

Di film itu, nyaris semua kemampuan kodrati manusia luruh dan hilang semata-mata demi kenyamanannya sendiri

Tapi, jauh sebelum digambarkan melalui film itu, teknologi dalam pengertiannya yang paling mengancam adalah apa yang sudah dikemukakan Max Weber di akhir abad 19 sebagai gejala dari rasio instrumental.

Seperti didakukan Val Dusek, teknologi sebagai cara berpikir, diperantarai dengan alur logika rasionalisasi atas tujuan. Efektifitas dan efesiensi, dua hal yang menjadi pokok di dalamnya, adalah faktor utama yang melandasi suatu cara pandang yang kelak disebut cara pandang teknoratis. Cara pandang ini praktis menyingkat, memotong, dan memperpendek suatu proses pekerjaan demi tercapainya tujuan secara intrumental.

Seperti yang dinyatakan Weber, sebagai tanda dari modernisasi, cara demikian juga menandai peralihan daya kerja kognitif manusia menjadi jauh lebih praktis dan pragmatis.

Itulah sebabnya, melalui cara berpikir demikian, benda-benda teknologis diperlakukan dengan cara dalil efektifitas dan efesiensi, bahkan sebaliknya seperti pendakuan Jurgen Habermas secara intensif hukum dan logika teknologi mendudukan rasio manusia menjadi sekadar alat teknis belaka.

Di titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri. Persis seperti yang diceritakan dalam film itu.

Secara apik, pendakuan Habermas juga melihat implikasi rasio yang bekerja dengan sistem kerja teknologi (efektifitas dan efisiensi) dalam memberlakukan ilmu-ilmu. Pendakuannya menyasar kepada bahwa ilmu-ilmu selama ini hanya alat kontrol atas alam. Dengan kata lain, kerja fungsional ilmu-ilmu selama ini hanya demi memenuhi hasrat penundukkan dan manipulasi alam.

Alam dengan kata lain hanyalah objek taklukan daripada ilmu tinimbang dilihat sebagai posisi yang setara dengan manusia.

Belakangan, makna teknologi diidentikkan dengan kemajuan di bidang informasi dan  komunikasi. Melalui jaringan alat komunikasi, manusia menjadi terhubung satu sama lain. Keterhubungan ini ditandai dengan luruhnya batas-batas wilayah geografis. Tiba-tiba dunia hanya sebesar dan semungil telapak tangan.

Di satu sisi hilangnya sekat-sekat secara geografis memunculkan masalah-masalah di bidang kultural, sosial dan politik berupa terancamnya lokalitas masyarakat melalui globalisasi, migrasi besar-besaran akibat konflik sosial, dan pudarnya pesona negara bangsa melalui hilangnya integritas nasionalisme .

Bukan saja itu, majunya dunia informasi melalui basis internet, melalui screen menghilangkan pula batas antara dunia real time (realitas ril) dan dunia maya (realitas simulakrum).

Melalui kemajuan teknologi komunikasi pula, teknologi mendapat dasar kedudukan yang menyatukan beragam komponennya ke dalam satu sistem tunggal. Dilihat dari sisi inilah, teknologi bukan lagi artefak berupa benda-benda ciptaan manusia, melainkan secara integral sudah menjadi sistem kebudayaan manusia.

Masa kini teknologi sebagai artefak tidak lagi sebatas instrumen peradaban untuk memahami dan mencandrai dunia. Secara ontologis teknologi telah meluas dan membentuk dunianya sendiri. Dengan kata lain, secara teknis fungsional teknologi tidak saja terkait langsung pengalaman kongkrit manusia, melainkan dirinya menjadi “tatanan” dunia baru yang berjarak dengan manusia.

Tepat di titik itulah, sebagaimana cerita dalam film The Matrix, kita mesti bertanya-tanya, di mana posisi manusia dalam kebudayaan teknologis saat ini: diakah yang menjadi subjek otonom atau sebaliknya, teknologilah yang berbalik memperalat manusia?

Eike rasa jawabannya kita sudah sama-sama tahu: di titik itulah ironi itu sebenarnya terjadi, selain menjadi tragedi, bukan saja alienasi, sang manusia diambil alih oleh ciptaannya sendiri.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...