08 Agustus 2017

Menghayati Bunyi

Ada yang ganjil ketika semalam saya mulai memejamkan mata. Setelah membuka-buka artikel via dunia maya, saya lekas ke pembaringan. Segera lampu  dipadamkan. Sebelumnya, saya menengok jam tangan yang tergeletak di dekat kipas angin yang berputar: sudah hampir pukul 12 malam. Lekas saya hamparkan badan di atas kasur. Istri saya sudah lebih duluan rebahan.Waktunya untuk tidur.

Tidak lama berselang, terdengar bunyi-bunyian di atas kepala saya. Tripleks plafon di atas kepala seperti digosok-gosok sesuatu. Seperti ada yang berjalan di atas plafon kamar.

Tapi, beberapa detik kemudian bunyinya seperti langkah yang tergesa-gesa. Seolah-olah ada binatang melata yang berlarian di atasnya. Bunyi kakinya terburu-buru. Kadang pelan, kadang sebaliknya.

Tokek, pikir saya. Itu pasti tokek. Sehari sebelumnya memang ada tokek yang menyelinap masuk ke kamar. Tubuhnya lumayan besar dengan warna keabu-abuan yang sedikit pucat dengan garis-garis berwarna orange. Garis-garis bergerigi kecil itu teratur sampai di ujung ekornya. Kulitnya kasap sedangkan kepalanya seperti bentuk kepala cecak, tapi lebih besar seperti bola pingpong. Agak mirip ujung kepala ular. Matanya besar berwarna abu-abu kehijauan dengan bintik hitam di tengahnya. Dia lebih banyak diam seperti menunggu sesuatu. Jika pandangan lepas darinya, dia sudah bergeser beberapa senti dari tempatnya semula.

Ketika saya mengetik di waktu malam, seringkali dia tiba-tiba sudah bercokol di tembok sebelah jam dinding berwarna merah bergambar Mickey Mouse. Kadang dia kaget melihat saya yang seketika menatapnya. Jika sudah begitu, sontak dia buru-buru melangkah menuju belakang lemari besi yang tidak jauh di sudut kamar. Saya pikir saya saja yang takut, ternyata dia juga takut.

Memang di rumah tokek itu sering kami lihat ketika malam. Tiba-tiba dia biasanya sudah nongol di atas dinding dapur. Ketika ingin buang hajat, hampir di waktu malam-malam tertentu kami bakal melihatnya. Ketika pagi tiba, dia sudah kembali ke tempat seringkali ia bersembunyi. Di belakang lemari kayu di kamar sebelah, mungkin.

Tapi, mana bisa itu tokek. Baru kali ini saya mengalami kejadian seperti ini. Tidak pernah dia berjalan di atas plafon. Itu sesuatu yang aneh. Tokek selalu berjalan secara horizontal. Tubuhnya seringkali merayap melawan hukum gravitasi. Jarang dia melata seperti kadal, atau biawak.

Apalagi, selama ini saya tidak pernah mendengar bunyi langkah binatang di atas plafon kamar. Jika memang itu tokek, mendengar langkah kaki yang berlari semacam itu sepertinya tidak mungkin. Jarang saya melihat tokek berlarian.

Kalau diingat-ingat, binatang melata yang pernah saya saksikan berlari itupun salah satunya adalah komodo. Ya, komodo binatang yang dikategorikan langka itu. Di NTT, pulau komodo tepatnya, binatang ini bebas berkeliaran di alam terbuka. Bahkan mereka hidup berdampingan dengan warga setempat. Nah, melalui tayangan Discovery Channel, saya pernah melihat komodo berlari untuk berebut makanan. Tubuhnya gemuk. Tapi, gesit.

Tokek binatang yang bergerak lamban. Kaki-kakinya tidak seperti cecak. Apalagi komodo. Membayangkan tokek berlarian macam itu, kecil kemungkinan.

Lalu, bunyi apakah di atas sana…

Tikus, mungkin itu tikus! Tapi suara berlari tikus terlalu cepat jika dibandingkan dengan suara kaki yang berlari semacam itu. Saya sering mendengar suara tikus berlari. Kecepatannya tidak seperti bunyi kaki yang barusan saya dengarkan. Ini agak sedikit lambat, tapi tidak bisa juga dikatakan cepat. Lagian berkali-kali jika tikus rumah yang berlari, saya sering mendengar suara decitnya pula.

Tapi, kenyataannya memang di rumah tidak ada tikus seekor pun!

Kalau bukan bunyi langkah tikus, lantas…

Apakah cecak? Ah, mustahil. Cecak binatang yang tidak memiliki berat badan seperti dalam pikiran saya. Bunyi kaki ini seperti binatang yang lebih berat dari cecak yang tambun sekalipun. Toh, jika cecak berlari, biasanya dia juga mengeluarkan suara decak seperti tikus.

Lagian cecak lebih sering saya lihat merayap di dinding-dinding rumah. Juga lebih banyak ketika dia bergelantung secara terbalik di atas plafon-plafon rumah.   

Jadi, kalau bukan itu semua, gerangan apakah yang berbunyi di atas kepala saya?
Agak lama saya menebak-nebak bunyi langkah kaki di atas plafon kamar. Menimbang-nimbang, berpikir-pikir!

Bunyi-bunyian itu akhirnya membuat saya agak kesulitan tidur. Dalam gelap, saya masih menebak-nebak. Tokekkah itu? Apakah tikus? Mungkinkah cecak gemuk?

Bunyi itu sudah lama pergi. Dalam kamar gelap saya masih membuka mata.
Persoalan bunyi ini membuat saya agak penasaran.

Nampaknya bunyi ini seolah-olah membuat pikiran saya agak runyam. Seolah-olah bunyi-bunyian ini harus segera saya pecahkan.

Tiba-tiba tidak lama, saya jatuh tertidur…

Subuhnya saya terbangun seketika akibat suara alarm handphone. Sontak telinga saya menangkap bunyi dari jauh. Itu bunyi toa masjid. Pak Imam sedang memimpin shalat shubuh. Sepertinya sudah rakaat terakhir.

Lantas tidak lama setelah itu saya menujur kamar mandi. Dalam remang-remang, tokek yang biasa saya lihat di dinding dapur tidak kelihatan. Dia mungkin di belakang lemari kamar sebelah, pikir saya.

Walaupun begitu, bunyi-bunyian di atas plafon semalam masih menyimpan tanya di benak saya. Bunyi-bunyi itu berbeda dengan suara motor tetangga, bunyi air mengalir, bunyi api penggorengan, suara pesawat terbang, suara kokok ayam, suara kipas angin, anak-anak yang berlari, desahan angin, suara pembawa acara berita di televisi, bunyi detak jam di atas dinding, bahkan bunyi suara istri saya, atau bunyi notifikasi gadget yang seringkali membuat saya terburu-buru mengangkatnya. Semua bunyi-bunyian itu bisa saya kenali seketika lantaran terbiasa mendengarnya. Sehari-hari, malah.

Bahkan, semua bunyi yang hinggap di telinga saya, datang begitu saja tanpa menyisakan penasaran macam begini.

Sekarang, saya tahu bunyi di atas kepala saya semalam itu memang bunyi langkah binatang? Bunyi langkah yang ganjil. Tapi…

Puki mak! Kenapa tiba-tiba saya mau mempersoalkan bunyi-bunyian segala! Bukankah semua bunyi-bunyian selama ini tidak pernah saya pertanyakan!? Seberapa pentingkah bunyi-bunyian harus dihayati!?

Keparat!

Tunggu sebentar! Hey, bunyi apa itu!? Dapatkah Anda mendengarnya, barusan?

---

*Terbit sebelumnya di kalaliterasi.com

06 Agustus 2017

Memperjuangkan Kemerdekaan Literasi


Soekarno muda

Bangsa Indonesia sudah memulai kemerdekaannya dengan cara heroik. Dengan tenaga, darah, dan air mata. Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan mudah, dengan caranya sendiri.

Itulah sebabnya Bung Karno pernah mengatakan dalam pidatonya di sidang BPUPKI, tidak ada perjuangan bangsa yang sama sekali mirip satu sama lain. Indonesia memulai hari-hari merdekanya melalui jalan bersiasat dengan nasib masa depannya. Melalui taktik dan pikiran yang cemerlang, memanfaatkan “kelengahan” Jepang—yang sebelumnya Belanda—dari janji historis perdana menterinya kala itu.

Syahdan, buah kemerdekaan itu sampai hari ini akan terus kita gelorakan. Melalui ingatan atas sejarah, nyanyi-nyanyian, forum-forum akbar, upacara-upacara hikmat, dan doa-doa yang terus diangkat ke atas langit-langit persada. Agustus barangkali adalah bulan paling bersejarah. Di bulan inilah, kemerdekaan Indonesia diapresiasi dan akhirnya dirayakan kembali.

Namun, mesti diingat, 17 Agustus 1945 hanyalah satu momen politis. Suatu peristiwa yang menandai suatu awal hari-hari yang masih akan dan terus diperjuangkan. Dengan kata lain, kala proklamasi diucapkan secara publik, peristiwa itu hanyalah kemerdekaan yang diistilahkan Bung Karno sendiri sebagai ”jembatan emas”, yakni hanya suatu ”mukaddimah”, suatu pengantar. Setelah itu, perjuangan yang sebenarnya adalah kemerdakaan sosial, ekonomi, dan budaya.

Mengingat konteks sosial budaya abad 21, kemerdekaan Indonesia modern juga mesti memerdekan diri dari jerat alienasi yang mengasingkan dirinya sendiri. Salah satunya adalah ketertinggalan dalam bidang literasi.

Empat tahun di belakang

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, pernah mengungkapkan di akhir Maret lalu, kiwari kemampuan literasi masyarakat Indonesia jauh tertinggal empat tahun dari negara-negara maju. Salah satu indikator yang dikemukakannya kemampuan membaca siswa kelas 3 SMA hanya setara dengan peserta didik kelas 2 SMP di negara maju. Bahkan masih banyak siswa hingga mahasiswa di daerah terpencil belum mampu membaca secara lancar dan memahami maknanya.

Ironi ini melengkapi fenomena yang terekam melalui data-data bahwa Indonesia adalah negara buncit se-Asia terkait budaya membaca. Lebih miris lagi jika dikatakan budaya membaca di kalangan pelajar, guru, mahasiswa, maupun akademisi rata-rata tidak lebih dari satu jam perhari. Menurut studi International Association for the Evaluation of Education Achicievement ( IEA) mengungkapkan, di Asia Timur, tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7, di bawah Filipina (skor 52,6), Thailand ( skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong  (skor 75,5).

Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Dalam Human Report 2000 (UNDP), bahwa angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat umunya sudah mencapai 99,0 persen.

Di sisi lain, UNESCO melaporkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia mencapai titik terendah yaitu 0 persen, tepatnya 0,001 persen. Bandingkan dengan anak-anak di Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku. Di Jepang, bahkan tradisi membacanya dapat diukur dari umumnya tiap rumah membaca 2 koran selama sehari.

Dari segi publikasi, Indonesia hanya mampu menerbitkan buku pertahun sebanyak 8.000 judul. Dari negeri tetangga Malaysia dan Vietnam masing-masing mencapai 15.000 dan 45.000 judul per tahunnya. Sedangkan di Eropa, Inggris misalnya, malah bisa mencapai 100.000 judul per tahun.

Dalam perspektif sosiologis, kenyataan di atas menunjukkan masyarakat Indonesia masih mengedepankan budaya lisan tinimbang budaya membaca.  Secara kultural, situasi ini menunjukkan posisi awal (rendah) dari perkembangan budaya manusia. Itu artinya secara peradaban, bukan saja empat tahun, Indonesia justru masih tertinggal berabad-abad dari peradaban maju dunia.

Fenomena di atas juga mengindikasikan suatu kewajiban bagi setiap warga negara untuk ikut dan meneruskan kemerdekaan Indonesia bukan saja dalam tahap ”kemerdekaan dari”, melainkan juga suatu perjuangan dalam konteks ”kemerdekaan untuk”. 

Kemerdekaan tahap kedua

”Kemerdekaan dari” menandai era kemerdekaan yang sudah diperjuangkan pejuang Indonesia di masa pendudukan penjajah bertahun-tahun silam. Sementara era kiwari, manusia Indonesia mesti mempertahankan setiap jengkal tanahnya dalam tahap ”kemerdekaan untuk” agar mampu bersaing dan menjadi bangsa besar.

Kemerdekaan literasi adalah perjuangan yang genting untuk digalakkan. Sebagai suatu bangsa, data-data yang sudah dikemukakan di atas merupakan fenomena yang harus ditransformasikan. Membaca, menganalisis, mengkritisi, menulis, berdiskusi, dan meneliti, harus menjadi perjuangan kultural untuk membangkitkan Indonesia melalui perjuangan literasinya. Dengan kata lain, literasi harus menjadi tradisi, perilaku sehari-hari manusia Indonesia.

Satu hal yang juga tidak kalah utama, yakni perlunya fasilitas yang menunjang perjuangan literasi berupa peredaran buku-buku bagi warganya melalui misal pembangunan perpustakaan, maksimalisasi komunitas-komunitas literasi, ajang-ajang perlombaan literasi, di samping pendampingan secara institusional oleh negara berupa kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan melek literasi anak-anak negerinya. Last but not least, kemerdekaan abad 21, salah satunya adalah kemerdekaan literasi.

---

*dimuat di Harian Fajar edisi Sabtu, 5 Agustus 2017

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...