25 November 2016

Ihwal Perubahan

Hari-hari ke depan mungkin akan penuh gemuruh. Jalan raya menjadi ramai, dan mahasiswa tentu punya agendanya sendiri. Hari-hari belakangan ini, kita dibuat resah, banyak caci maki menjadi ujaran yang banal, juga aspirasi menjadi ihwal yang penting. Sebab di penghujung bulan nanti, presiden RI akan berdiri di atas podium negara, berdiri menghadap seluruh masyarakat Sabang-Merauke, dan tentu dengan kesannya yang kita kenal betul; mimik muka yang melankolis, tutur ucap yang telah ditata, di bagian mana intonasi harus ditekan pada kata-kata tertentu, warna baju apa yang harus melambangkan kecocokan dengan audiens, dan tentu isi pengumuman itu sendiri, dengan teori-teori ekonomi makro mutakhir, tentang nasib, tentang naik tidaknya bahan bakar minyak (BBM).

Pidato, jalan raya, dan mahasiswa di hari-hari ini kerap semakin akrab. Agenda yang serempak harus segera dijalankan. Agenda pemerintah dengan menaikkan harga bahan bakar minyak menjadi topik yang tiba-tiba genting. Dan, jalan raya menjelma sebagai narasi yang mempertautkan ide-ide perubahan yang selama ini dilancung oleh sistem. Maka analisis tentang kebijakan dihampar pada setiap ruang dialog. Di mana di sana ada persandingan isu-isu tentang perubahan sebuah negeri yang ingin merdeka. Teori-teori perubahan sosial pun pada akhirnya kembali mendapatkan momennya untuk dibincang kembali.

Namun, pada negara seperti Indonesia, seluruh teori yang punya kesan ingin merubah tatanan sistem pemerintahan dipending untuk diajarkan. Bahkan, sekalipun bisa jadi harus diberangus. Maka antara hari-hari kemarin dan hari-hari seperti ini, ide-ide perubahan mendapatkan sinyalemennya yang kurang tegas.

Sebagai narasi, maka sebuah penceritaan selalu dimulai dengan permulaan.  Mengisahkan aktor-aktor yang punya peran di dalamnya, dan apa yang dilakukan belakangan ini; apa yang sering dikatakan sebagai aksi jalanan, sedang kehilangan aktornya.

Maka, di saat seperti ini, jalan raya menjadi pentas  yang memainkan peran pada sebuah gerakan yang tak memiliki aktornya.

Max Weber, seorang sosiolog Jerman, punya teori. Perubahan penting untuk dimulai dengan kepemimpinan, yang mana punya posisi strategis dalam  penentuan arah perubahan sosial. Tentu Weber memiliki iman bahwa massa jalanan tak selamanya adalah hal yang sadar dengan kondisi yang melatarbelakanginya. Menyangkut ini, Weber menampik jenis gerakan yang akhirnya bisa jadi  lancung di tengah jalan. Yakni sebuah arah bisa jadi adalah kehendak yang menampik ruang permenungan.

Dengan begitu, galibnya sebuah suara protes di tengah gerombolan massa hanya menjadi suara yang panca. Maka kehadiran ide-ide perubahan harus disemai di tengah-tengah massa. Teori-teori harus menjadi bagian integral dalam menata realitas, bergumul dengan realitas sebagai jalan dialektis. Di mana pada titik seperti ini, kerap teori-teori besar harus kembali diujicoba, difalsifikasi pada tepian realitas yang kerap jamak, sehingga tak ada ide yang mutlak tunggal, yang berarti ada kemungkinan sebuah teori besar harus memberi jalan bagi ide-ide yang minor.

Namun jalan perubahan, tak selamanya mengisyaratkan perlunya sebuah ide yang sempurna betul. Sebab ide yang sempurna betul punya jalannya sendiri.   Terkadang ide yang sempurna hadir dengan jaraknya yang jauh dengan kondisi keadaan manusia. Kita lihat betapa ide-ide besar menjadi teropong yang memberi batas pada apa yang dapat dilihat dan apa yang tak dapat dilihat. Dan dengan demikian perubahan dengan mengusung ide-ide besar harus takluk di hadapan konteks yang tak dikenalinya.

Bisa jadi karena itulah, ide-ide yang datang pada penghujung zaman terkadang lebih mampu diterima dibandingkan dengan ide-ide yang ada sebelumnya.

Berkat itulah, Hegel punya keyakinannya sendiri. Ide dalam pandangannya mengisyaratkan perubahan yang terus menerus, yang berkelindan dalam zaman. Sebuah ide dipahami sebagai gerak yang melampaui batas-batas teritorial temporal. Sebab ide pada hakikatnya adalah sempurna. Namun kesempurnaan adalah ihwal yang juga menjadi hal yang kerap kali ditolak pada moment-moment yang menghendaki adanya perbuatan yang segera.  Di sini, tindakan menjadi nyata dibandingkan ide yang terlampau abstrak. Dan, di sinilah masalahnya, ide selalu menuntut keterlepasan dari tindakan yang kongkret.


17 November 2016

Barangsiapa Yang Kehilangan Cermin?

Cermin benda yang bermanfaat dalam kehidupan praktis manusia. Cermin bagi dunia mode, misalnya, merupakan salah satu perkakas yang paling elementer. Tanpanya, sang pesolek tak mampu melihat bayangan dirinya. Apakah sempurna atau tidak, semuanya bergantung kepada cermin.

Seperti sang pesolek, masyarakat umum juga membutuhkan cermin agar bisa menunjang penampilannya. Tak bisa dipungkiri, mulai dari anak sekolahan sampai orang dewasa menjadikan cermin sebagai wadah menilai dirinya. Apa yang nampak indah di dalam cermin, maka akan nampak indah pula ketika bergaul di tengah masyarakat.

Itu sebabnya dalam melihat dirinya, orang-orang sangat membutuhkan cermin. Tanpa cermin tak ada bayangan tubuh yang mampu ditangkap kembali. Dengan cermin, orang-orang membangun replika dirinya di atas pantulan layar kaca, untuk menilai dirinya, juga memahami dirinya. Artinya, melalui cermin, kita membutuhkan “diri” yang lain agar mampu melihat diri kita sendiri. Ini yang disebut sifat reflektif cermin, yakni sifat yang mampu memantulkan apapun ketika tampak di hadapannya.

Zaman sekarang, ketika tubuh begitu dominan dipertontankan, fungsi cermin semakin tinggi nilainya. Bahkan tubuh dan cermin merupakan dua hal yang sulit dipisahkan. Tanpa cermin, tubuh tak mampu menilai dirinya. Sebaliknya, tanpa tubuh, cermin hanya benda yang teronggok begitu saja.

Itu sebabnya, cermin dan tubuh ibarat kesatuan yang saling mengisi. Cermin sebagai layar kaca berfungsi menjadi wadah bayangan bagi tubuh, juga tubuh menjadi objek cermin agar cermin bernilai guna.

Kisah Cermin Rumi

Alkisah di dunia mistisisme, cermin bukan saja berfungsi secara material-biologis bagi tubuh. Cermin, secara fungsional di dalam dunia mistisme, dipakai secara metaforik-spiritual untuk menjelaskan tubuh manusia dalam keadaannya yang paling transparan. Cermin bagi dunia mistisisme adalah benda metafor untuk melihat paras manusia dalam wujud tubuh-spiritual. Bahkan di dunia mistisisme, cermin juga merupakan bagian integral bagi tubuh-spiritual sebagai wadah eksistensinya.

Jalaluddin Rumi, sufi berpengaruh dari abad 13 memiliki kisah bagaimana cermin menjadi analog dengan tubuh. Dikisahkan, dua pelukis ulung bertemu dengan maksud melukis jagad raya di atas kanvas dalam suatu perhelatan. Perhelatan bertujuan mencari pelukis yang mampu melukis dunia semirip mungkin di atas kanvas sampai akhir acara. Dengan cara berhadap-hadapan satu sama lain dan dipisahkan tirai di tengahnya, kedua pelukis dengan cekatan mulai melukis jagad raya. Namun aneh, salah satu pelukis bukannya melukis, justru malah membersihkan permukaan kanvas dengan cara mengelapnya. Begitu seterusnya hingga mengkilap.

Sampai tiba waktunya dinilai, alangkah terkejutnya pelukis yang telah bersusah payah menggambar jagad raya semirip seperti yang ia saksikan. Pasalnya, setelah tirai diangkat, pelukis yang hanya membersihkan pemukaan kanvas sedari awal sampai akhir lomba, tak disangka dari kanvasnya yang mengkilap, memantulkan kembali gambar dunia dari pelukis yang berada di hadapannya mirip tanpa ada perbedaan sedikitpun.

Kata Rumi, jiwa manusia ibarat cermin yang mampu memantulkan keindahan dan keluasan jagad persada, jika seandainya dia membersihkannya dari ikatan-ikatan dunia. Seperti pelukis yang membersihkan permukaan kanvasnya, tubuh-spiritual manusia yang bersih, dengan sendirinya akan mampu memancarkan keindahan semesta yang  ada di hadapannya. Dengan kata lain, tubuh-spiritual atau jiwa, melalui yang dikisahkan Rumi adalah cermin tempat paras manusia dipancarkan.

Jiwa yang bagai cermin tidak dengan sendirinya terbentuk. Manusia adalah mahluk yang diliputi segala macam persoalan. Pikirannya seluas masalah yang dihadapinya. Jiwanya sesempit apa yang dirasakannya. Itulah sebabnya manusia butuh refleksi, suatu usaha penjarakan terhadap problem yang dihadapi. Atau dengan kata lain, manusia harus bisa menengok ke dalam cermin dirinya, melihat tepat di hadapannya, tiada lain untuk membersihkan tubuh-spiritualnya. Tiada lain kalau bukan dengan cara permenungan.

Minus Permenungan

Kisah cermin Rumi adalah kisah agar manusia menjadikan cermin-jiwa sebagai pantulan refleksi kehidupannya. Bukan cermin-material yang hanya mampu memancarkan tubuh-material yang selama ini diutamakan sebagai poros perhatian. Namun malang, kebanyakan manusia lebih banyak memerhatikan tubuh-materialnya dengan cara memoles, menyuntik, mempermak, dan memotong agar nampak lebih estetik di hadapan cermin-cermin-material di sekitarnya.

Cermin-material, pada akhirnya menjadi benda kosmetik paling berharga demi menunjang eksistensi tubuh-material dibandingkan tubuh-spiritual. Di atas cermin-material, tubuh-material menemukan keseluruhan eksistensinya. Melalui cermin-material, tubuh-material menjadi organ tontonan yang dipresentasikan agar sempurna ketika tampil di tengah masyarakat. Juga dengan cermin-material, tubuh-material diharapkan mampu menggandakan kepercayaan dirinya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...