20 Juni 2016

mercon

Petasan meletus di manamana. Tidak di sekitar masjid, tidak di pinggir jalan. Hampir semua tempat bunyi letusan bekejaran.

Bila magrib tiba anakanak sudah siap berhamburan di pekarangan masjid. Turut meramaikan malammalam ramadan. Bergerombolan membunyikan petasan. Sekali bakar bikin kaget siapa saja.

Sebelumnya mereka berbaris di saf paling belakang. Ikut sholat sembari mengerjai kawannya yang lain. Jika imam berkata amin, koor panjang pasti ikut: aaamiiiin.

Sebelum imam tuntas mengucap salam, mereka sudah berlari mirip semut disiram minyak tanah. Bikin ramai masjid. Sandal jamaah dinjak. Bikin berhamburan. Berlari menuju jalan raya.

Petasan sudah di tangan. Korek tinggal setengah. Tapi lumayan masih bisa dipakai satu malam. Bila habis besok tinggal beli. Jalan sudah ramai. Cari waktu yang tepat. Butuh momen yang pas. Korek dinyalakan. Duaar! Satu petasan menggema. Bunyinya bikin jengkel satu masjid.

Yang menarik jika petasan punya bunyi yang dahsyat. Kalau bunyinya kecil dianggap belum pas. Apalagi bikin puas. Karena itu butuh petasan yang besar. Bunyinya juga pasti besar.

Bagi anakanak, petasan wajib dipunyai kala ramadan tiba. Pasalnya tidak semarak tanpa petasan. Tempat yang paling sering dibikin arena bermain, ya di pekarangan masjid. Kalau bosan, ya di pinggirpinggir jalan.

Bagi ibuibu, petasan bikin kempis dompet. Anakanak merengek minta dibelikan petasan. Jika tidak bakal ngambek. Karena itu mau tak mau harus dibelikan. Namanya juga anakanak.

Anakanak yang lebih besar tak perlu minta uang. Banyak cara mendapatkan uang buat beli petasan. Kerja paru waktu di pasarpasar, malamnya sudah sekantung petasan. Kalau belum cukup jadi tukang parkir. Sepuluh duapuluh motor, petasan sudah pasti dibawa pulang.

Di atas mimbar tukang khotbah megapmegap. Nafasnya memburu. Suaranya kalah saing. Di luar satu petasan meledak. Satu gang di buat jantungan.

Jamaah kurang fokus. Pikiran jadi kacau. Antara suara petasan dengan khotbah katib. Sayupsayup satu hadis sudah dikutip. Tapi apa lacur sudah gagal fokus. Lewat lagi satu pesan mulia.

Jelang khotbah mengucap tutup, sebagaian yang lain sudah memacu motor. Mondarmandir dari satu gang ke gang lain. Bunyi knalpot meraungraung. Bikin bensin habis. Yang penting bisa cari muka sama gadisgadis gang sebelah.

Dalam masjid ibuibu paruh baya, juga bapakbapak dibuat kaget. Bikin sholat tidak tenang. Tibatiba, satu lagi petasan meledak. Bikin jantung tinggal setengah. Hampir mati berdiri.

Pengendara terlebih lagi. Di buat kesal. Belum lama berbuka puasa, petasan sudah seperti perang, bunyi sana bunyi sini. Kadang bikin tidak fokus berkendara. Letusannya buat degdegan.

13 Juni 2016

motor

Sudah hampir sebulan motor saya mirip rongsokan. Tergeletak begitu saja. Apa pasal jika tungkai persenelennya dol.

Sekarang jika kemanamana saya menggunakan motor kepunyaan Fajar, adik saya. Kebetulan belakangan dia lebih banyak di rumah. Nongkrong seharian penuh. Apalagi jelang hari keempat puasa dia pulang kampung.

Praktis saya jadi penguasa tunggal motor matik bermerk Honda Beat itu. Selama menggunakan motor matik, besokbesok saya juga ingin punya motor yang sama. Pasalnya motor matik tidak ribet. Tinggal menarik gas saya sudah berada di tengah jalan.

Tapi bicara nilai sejarah, motor saya banyak kesannya. Yamaha Jupiter tahun 2005 itu sulit tergantikan. Hampir sepanjang usia saya di ibu kota Makassar selalu menggunakan motor berwarna biru putih ini.

Dulu kala pertama kali masih kinclong saya sudah memacunya sampai Polewali. Setelah itu tak terhitung berapa kabupaten di Sulawesi selatan yang pernah dipacunya.

Pernah juga motor saya dibikin ceper. Maklum dimodifikasi. Jadi kala menungganginya saya dibuat nungging. Apalagi ditambah sadelnya yang dipapas.

Akibatnya tak ada yang mau saya boncengi. Terutama cewekcewek. Ogah. Nanti dikira seperti cewekcewek di kalender otomotif.

Lama motor saya jadi begitu. Selama berjalan motor saya harus di aspal yang mulus. Kalau melintas polisi tidur jangan dikira polisinya harus bangun dulu. Maaf, maksudnya saya yang harus berhatihati.

Kalau jalan berlubang tentu saya putar balik. Cari jalan lain. Soalnya, jalan berlubang bikin bahaya. Motor saya bisa rusak shockbreakernya.

Motor saya juga kala itu mirip keramik kaca. Anti debu. Ini agar motor mengkilap bersih. Jika ada sedikit debu tunggu saja pasti bakal lenyap secepat kilat. Dilap pakai kit. Hilang sudah.

Yang dibenci saat motor kinclong sekinclongnya adalah hujan. Kalau sudah begitu jangan harap motor berpindah tempat. Sebisa mungkin jangan tersentuh air hujan. Apalagi air genangan jalan yang cokelat itu. Ogah.

Tapi akhirnya semua berubah total. Suatu waktu saya mengalami kecelakaan. Karena ingin mendahului petepete, tak disangka muncul pengendara lain dari arah berlawanan. Brakk. Saya jatuh beberapa meter. Motor sosor. Bambu depannya bengkok. Akibatnya, ban motor saya jadi rapat dengan spakbornya.

Shockbreaker yang semula ceper harus dikembalikan ke keadaan semula. Mulai saat itu motor saya kembali normal. Saya mengembalikannya seperti keadaan pabrik. Kecuali sadelnya yang sudah dibikin tipis.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...